RSS

#1. Dimulai dari “Kenapa”

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

#0. Viva yang Misterius

Dalam tradisi Inggris, perjalanan riset seorang PhD student akan diakhiri dengan viva voce. Viva voce, biasa disingkat viva, arti harfiahnya adalah “menggunakan suara”. Selama viva, student akan diminta untuk menjelaskan thesisnya kepada dua orang examiners (penguji). Para penguji kemudian akan bertanya dan menguji pengetahuan sang student, sampai akhirnya penguji akan memutuskan apakah student tersebut layak mendapat gelar Doctor of Philosophy atau tidak.

Nampaknya sederhana namun viva acap kali menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam diri para PhD students (termasuk dalam diri saya!). Setidaknya ada dua hal yang membuat viva nampak mencekam. Pertama, ini adalah kesempatan pertama thesis yang sudah dikerjakan dengan susah payah selama bertahun-tahun, penuh air mata, keringat dan darah itu akan dikritisi oleh pihak lain. Meskipun PhD students didorong untuk mengikuti conference dan menerbitkan jurnal [1], serta setiap akhir tahun ada evaluasi bersama panel, namun viva adalah pertama kalinya seluruh thesis itu dibaca, dibedah dan diobok-obok oleh orang lain, selain sang student dan para supervisors. Sebagaimana lagunya Joshua, kalau airnya diobok-obok, pasti ikannya mabok. Dalam hal viva, saat thesis mereka diobok-obok, maboklah para PhD students ini.

[1] terkait penerbitan jurnal, ada supervisor yang mendorong agar sang student menerbitkan jurnal, ada yang melarang dan meminta dijadikan buku saja. Pembimbing saya tipe kedua.

Alasan kedua kenapa viva nampak menakutkan adalah karena tidak ada aturan yang jelas. Secara umum, seorang PhD student harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang orisinal, menguji ide atau hipotesa dan memberikan sumbangsih pada pengetahuan. Viva bertujuan untuk menguji kemampuan tersebut secara lisan. Tapi, bagaimana pertanyaan yang akan muncul, bagaimana examiners menilai kemampuan sang kandidat dan bagaimana keputusan akhir diambil itu penuh misteri dan sangat tergantung pada banyak hal: bidang studi, tema yang diambil dan tentu saja, karakter pengujinya.

Karena itu, sebagian besar PhD students yang saya kenal akan menghadapi viva dengan H2C kuadrat. Harap-harap cemas standar tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Di satu sisi lega karena perjalanan panjang ini akan segera berakhir. Di sisi lain, cemas karena misteri viva yang penuh desas-desus ini. Di sisi lain lagi, ada harapan untuk meraih gelar doktor dan membuka babak baru kehidupan.

Di saat ini, peran supervisor menjadi sangat vital. Supervisor yang berpengalaman akan mampu membimbing student-nya menghadapi viva. Biasanya, supervisor sudah dapat menilai kelayakan thesis sejak awal dan bimbingannya akan membantu menutupi kekurangan-kekurangan thesis tersebut. Menjelang viva, supervisor juga akan membantu dengan melakukan latihan, yang biasanya disebut mock viva. Di mock viva ini, supervisor akan berperan sebagai penguji, menanyakan hal-hal yang mungkin ditanyakan dan memberikan masukan terkait cara student menjawab.

Saya beruntung memiliki supervisors yang penuh perhatian. Setelah Professor Piscatori, pembimbing utama saya, pensiun dari Durham University dan pindah ke ANU, beliau masih terus membimbing saya dengan telaten. Sepekan sebelum viva, beliau menelpon dari Australia dan kami menghabiskan waktu satu jam untuk melakukan mock viva. Pembimbing kedua, yang sekarang menjadi pembimbing pertama, Professor Clive Jones juga mengajak saya bertemu dan menyampaikan masukan terkait thesis. Di akhir mock viva, kedua supervisor menyatakan puas dengan performa saya. Meski demikian, mereka berpesan: viva is unpredictable. Be prepared but have faith in yourself.

Hari H, detik D. Viva pun dimulai dan ucapan supervisors pun terbukti. Dari sekian banyak pertanyaan yang sudah kami latih, hanya satu yang ditanyakan penguji. Selainnya menguap entah ke mana, digantikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya aneh, absurd, tidak ada kaitannya dengan thesis. Supervisor sempat berpesan, mungkin penguji akan membuka satu halaman dan menanyakan apa yang saya tulis di halaman itu. Nope, zilch, nada. Kedua penguji sama sekali tidak membuka thesis saya. Kedua penguji bersikap hangat dan ramah namun setiap pertanyaan mereka merupakan tantangan yang membuat saya harus memeras otak.

Waktu itu relatif. Tak terasa, viva berakhir dan saya pun keluar dari ruangan, menuju lobby tempat istri saya menunggu. Ketika duduk dan menengok ke jam dinding, masya Allah, ternyata viva memakan waktu dua jam! Padahal kata supervisor saya, kalau lancar, viva berjalan satu jam. Kembali H2C kuadrat muncul. Saya pun menyalurkan kegelisahan dengan menggerutu ke istri saya tentang proses viva yang menurut saya kacau, tidak terstruktur dan (ini alasan yang paling besar sih) di luar dugaan saya dan supervisors. Saya pun sudah menyiapkan diri dengan hasil yang tidak maksimal [2]; pass with major correction seakan sudah melambaikan tangan.

[2] Di Durham University, ada beberapa kemungkinan hasil viva: (1) pass with no revision; (2) pass with minor revision; (3) pass with major correction; (4) referral – thesis perlu diperbaiki besar-besaran dan di-submit ulang; (5) turun mendapat M. Phil; (6) tidak lulus.

Sepuluh menit berlalu. Dr. Jutta Bakonyi, staf pengajar di SGIA yang menjadi Chair muncul dan meminta saya kembali ke ruangan. Saya mencoba menerka apa keputusan para penguji dari raut muka Jutta tapi nihil. Wajahnya nampak datar. Dengan H2C pangkat sepuluh, saya pun membuka pintu. Di dalam ruangan, kedua penguji berdiri. Professor Paul Luft, honorary professor in Persian Studies dari Durham University, dan Dr. Mohammad Talib dari Oxford University.

Saya mendekat.

Keduanya mengulurkan tangan dan mengatakan: “Congratulations!”

Gamang, saya sambut uluran tangan mereka. Lambaian “major correction” yang di pelupuk mata membuat jabat tangan saya tidak sepenuh hati. Saya pun menoleh ke Jutta, kali ini melihatnya tertawa. “I am pleased to announce that you have passed the viva with no correction,” ujarnya.

Seketika saya berpaling ke para penguji. “Really? Are you serious?”

Ketika Professor Luft dan Dr. Talib mengangguk, baru hati ini rasanya lega. Saya pun terduduk di kursi, mengucapkan terima kasih pada para penguji dan Chair. Alhamdulillah, viva yang misterius itu kini tinggal kenangan.

Belakangan, saya menerima laporan pelaksanaan viva dari Research Office. Di dalamnya, kedua penguji menuliskan bahwa mereka puas dengan thesis saya. Jika hanya melihat thesis, saya sudah dinyatakan lulus. Performa ketika viva menguatkan penilaian itu sehingga beliau berdua memberikan keputusan pass with no correction. Ketika Professor Piscatori menelpon, menanyakan kabar selepas viva dan saya curhat tentang absurdnya proses viva itu di mata saya, beliau tertawa dan berucap, “That's what I mean by viva is unpredictable!”

Meski viva memang tak terduga, dari pengalaman kemarin ada beberapa tips yang saya dapatkan dan insya Allah akan saya tulis di artikel-artikel mendatang. Yang pertama: diawali dari “kenapa”.

kiri ke kanan: Dr. Jutta Bakonyi, saya, Dr. Mohammad Talib, Professor Paul Luft.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

Gambar Profil Facebook, Apa yang Anda Inginkan?

Segera setelah tragedi di Paris terjadi, facebook menawarkan filter untuk menambahkan bendera Perancis ke gambar profil kita. Banyak teman yang menggunakan tawaran itu. Namun kemudian, saya lihat banyak juga yang menyatakan protes, kenapa facebook hanya memasang filter bendera Perancis, tapi tidak bendera Palestina, Irak, Suriah? Beberapa pun kemudian mengganti gambar profil dengan foto berfilter bendera Palestina. Entah dari mana mendapatkannya.

Apalah arti sebuah gambar? Mungkin itu gumam yang dulu, atau bahkan kemarin lusa, terbetik. Gambar seakan tidak penting dan menjadi bagian biasa keseharian kita. Namun gambar sejatinya memiliki kekuatan simbolis yang dahsyat. A picture paints a thousand words. Satu gambar dapat mewakili ribuan kata, demikian idiom dalam bahasa Inggris berucap. Satu gambar mewakili ide, identitas dan rangkaian konteks sejarah yang mengikat gambar tersebut pada keseharian kita.

Gambar (atau foto) di facebook pun menjadi simbol akan identitas kita, akan keberadaan dan kenyataan diri kita di dunia maya. Sejak pertama kali membuka akun, facebook mengarahkan kita untuk memilih gambar yang dapat mewakili diri kita. Ketika facebook menawarkan filter bendera Perancis, ia tidak sedang menawarkan fitur estetik untuk mempercantik gambar kita, melainkan menawarkan ide “turut berduka, mendukung, bersimpati pada korban tragedi di Paris.” Itulah sejatinya yang ditawarkan.

Masalah muncul ketika ada seleksi (yang disengaja atau tidak?) dari facebook terkait ide mana yang dianggap layak untuk mendapatkan perlakuan khusus ini. Gay marriage? Facebook memasang filter pelangi. Tragedi Paris? Facebook memasang filter bendera Perancis.

Pembantaian di Palestina? Facebook diam. Warga sipil terbunuh di Afghanistan, Irak dan Suriah? Facebook diam. Bencana asap di Indonesia? Saya tidak menemukan filter haze atau filter Merah Putih untuk gambar profil saya. Alhasil, diskriminasi tragedi ini ada dan nyata. Tidak hanya di facebook tapi juga di sebagian besar media-media Barat. Sudah banyak blog, status dan sebagainya yang mengungkap itu.

Namun, kepada rekan-rekan yang memprotes diskriminasi facebook ini, saya ingin sampaikan, janganlah protes ini mengecilkan tragedi yang terjadi di Paris. Berucap, “di Paris hanya sekian korbannya, sementara di Suriah sekian kali lipat, di Palestina ratusan kali lipat” termasuk yang mengecilkan atau bahkan menafikan tragedi yang terjadi di Paris. Bukankah seharusnya kita mengagungkan kehidupan dan bersedih atas gugurnya satu korban tak berdosa pun? Bukankah al Qur’an berpesan barang siapa membunuh satu manusia, hakekatnya ia membunuh kemanusiaan itu sendiri? Proporsionallah dalam menyampaikan protes.

Kepada teman-teman yang baru peduli pada tragedi kemanusiaan setelah membaca berita tentang tragedi di Paris, selamat datang. Mari terus menyuarakan dukungan terhadap kemanusiaan. Jangan hanya berhenti pada hari ini, karena krisis kemanusiaan masih terus terjadi dan mengancam anak-anak manusia di belahan penjuru dunia esok, lusa dan selanjutnya. Saya ajak rekan-rekan untuk berbuat lebih dari menambahkan filter ke gambar profil anda. Hari-hari ini musim dingin menjelang, banyak pengungsi membutuhkan bantuan makanan. Warga Gaza kesulitan air minum. Anak-anak Indonesia tidak punya akses ke sekolah. Mari berjuang bersama untuk kemanusiaan.

Kepada teman-teman yang abai, mencemooh ketika ada yang peduli tentang Palestina, Suriah dan Rohingya dan tetap tidak akan peduli, saya kasihan terhadap anda.

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2015 in Renungan

 

Tags: ,

Sahabat Membaca: sebuah babak baru

Sahabat Membaca: sebuah babak baru

Sudah lama sebenarnya saya ingin membangun sebuah rumah virtual sebagai rujukan gerakan cinta membaca di Indonesia. Awalnya saya melakukannya melalui halaman facebook, namun lama-kelamaan terasa ada keterbatasan dalam platform ini. Saya pun memutuskan untuk membangun sebuah website mandiri.

Alhamdulillah, Allah Mudahkan jalannya. Saya bertemu dengan rekan-rekan yang dinamis, enerjik dan kreatif. Kami ngebut bekerja maraton untuk mempersiapkan website ini. Kendala pasti ada, mulai dari jam tayang yang berbeda antara tim di WIB dan saya di BST (sekarang sudah mundur ke GMT) sampai kesulitan teknis yang memaksa server pindah ke Singapura.

Tapi, semua terasa manis melihat antusiasme pengunjung web. Web yang baru diluncurkan hari ini, 3 November 2015, alhamdulillah sudah melampaui 1,000 page views. Awal yang baik menurut saya!

So, without further ado, tanpa banyak bicara lagi, saya kenalkan website Sahabat Membaca untuk teman-teman semua!

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2015 in Aktivisme, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

#SedekahOksigen Laporan UK

#SedekahOksigen Laporan UK

Laporan donasi untuk #SedekahOksigen simpul donasi UK:

Gelombang III (diterima sd 01 November 2015, 5 pm GMT)

 
 
 
Liputan tentang #SedekahOksigen di MetroTV
Untuk foto-foto kegiatan #SedekahOnline, silahkan berkunjung ke facebook Bu Fanny (Bendahara).
 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2015 in Aktivisme

 

Tags:

#SedekahOksigen

Kepada rekan-rekan semua:

 

Mengingat bencana asap masih melanda beberapa kawasan di Indonesia dan korban sakit/meninggal karena ISPA terus bertambah, kami Warga Negara Indonesia yang di UK ingin menggalang dana untuk disalurkan ke gerakan #sedekahoksigen.

Jika berkenan, mohon rekan-rekan di UK dapat menggalang dana untuk kita serahkan bersama. Kami juga mengajak organisasi-organisasi lain seperti KIBAR, Karyasiswa Dikti UK, PPI UK dll untuk turut dalam penggalangan dana ini.

 

Dana dapat dikirim ke:

— Rupiah

BSM cabang Klaten no rek 7006249293 a/n Lusi Nuryanti

— GBP

sort code 309893 no acc. 58472960 a/n Mrs. Lusi Nuryanti

 

Konfirmasi donasi dan info lebih lanjut:

Ganjar (+447745034831/ganjar.widhiyoga@gmail.com)

 

Laporan donasi akan diunggah tiap hari di ganjarwy.com

 

Terima kasih dan salam,

Ganjar Widhiyoga (PhD student, Durham University)

Lusi Nuryanti (PhD student, Leeds Beckett University)

 

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2015 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Islam, Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Moderat…

Saat ini ada banyak tulisan terkait wacana “Islam Nusantara”. Saya membaca sebatas link/foto yang dikirim teman-teman dari Indonesia. Namun ini tema yang sangat menarik karena thesis saya tentang konsep “umat” sebagai konsep masyarakat global tentu bersinggungan dengan penafsiran Muslim terhadap Islam dan aplikasi kontemporernya.

Wacana ini jadi semakin menarik ketika ada artikel resmi dari pemerintah yang saya tautkan di status ini. Di sana disebutkan “Islam Indonesia” yang dinyatakan sebagai “Islam moderat”.

Saat ini memang terjadi proses redefinisi tentang Islam dan kehidupan Muslim. Tentang ini juga menjadi bahan diskusi pekan lalu di panel evaluasi saya. Menurut saya, proses redefinisi ini sesuatu yang alami, sebagaimana ada upaya definisi Islam oleh “mu’tazillah-syiah-ahlu sunnah” dan kontestasi akan definisi tersebut yang belum berakhir sampai sekarang. Pada tingkatan yang lebih memungkinkan kompromi ada redefinisi mazhab fiqh, yang juga masih berjalan sampai sekarang.

Beberapa tahun terakhir, dinamika berkembang lagi dengan pemikiran Islam dari Arab Saudi (yang sering disebut “Wahabbi”), dari Mesir (Ikhwanul Muslimin), Turki (Gulen movement), Eropa (Tariq Ramadhan, iERA), Amerika Serikat (Hamza Yusuf, Nouman Ali Khan) dan sebagainya.

Untuk “sisi gelapnya” kita melihat fenomena ISIS yang memberikan definisi tentang “Islam”, yang secara intelektual menantang definisi ulama-ulama lain di luar gerakannya dan secara praktis gerakan “Islam” ala mereka dapat dinilai sebagai perbuatan-perbuatan tidak Islami oleh yang lain.

Dalam dinamika ini, “Islam” adalah sebuah term/istilah, sedangkan “Islam adalah….” merupakan definisi yang sedang “diperebutkan” oleh penafsiran gerakan-gerakan di atas. Posisi sebuah term memang vital dalam kehidupan manusia, karena melalui term, manusia membangun realitas sosialnya. Sebuah term menjadi simbol, satu kata yang mewakili sekian panjang definisi, aplikasi dan dinamikanya.

Kontestasi terhadap term akan memakan waktu dan energi yang panjang dan membutuhkan ruang dialog. Ketika ruang dialog itu tidak ada, misal karena salah satu pihak tidak mau berdialog dan memilih menggunakan kekerasan, maka upaya lain yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak sepakat adalah membuat term baru, yang menggerus otoritas term lama.

“Islam moderat”, “Islam Indonesia”, “Islam Nusantara” dan sebagainya mungkin merupakan respon terhadap kebuntuan dialog dalam membicarakan definisi term “Islam”. Namun, perlu dicermati bahwa “Islam moderat” dan sebagainya itu merupakan term baru, yang mau-tidak mau menggerus otoritas “Islam” sebagai sebuah term yang satu. Salah satu respon terhadap penggerusan otoritas ini adalah dengan menuduh “Islam moderat” dan sebagainya itu memecah “Islam”. Kalau ada “Islam Indonesia” maka ada “Islam Arab”, “Islam Eropa” dsb. Kalau ada “Islam Moderat”, tentu ada “Islam tidak moderat”.

Saya membaca beberapa opini di media massa terkait wacana ini, baik dari pengusung maupun yang merespon, dan melihat tidak ada niatan untuk menggerus otoritas term “Islam”. Yang diinginkan adalah, mengusung definisi baru tentang Islam, yang berkembang dari ekspresi Muslim di Nusantara.

Untuk itu, menurut saya lebih pas jika alih-alih mengkonstruksi term baru, cendekiawan Muslim di Indonesia berkontribusi dalam redefinisi Islam di tataran global.

Kaitannya dengan artikel ini, kalau memang universitas ini akan berdiri, semoga bisa menjadi salah satu pelaku tersebut.


 



http://setkab.go.id/ingin-bangun-universitas-islam-moderat-presiden-undang-para-rektor-dan-mui/

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2015 in Renungan

 

Tags: , ,

Ketika Tablet (akan) Masuk Sekolah

Saya tertarik membaca berita online tentang rencana Mendikbud Anies Baswedan untuk menggantikan buku pelajaran dengan tablet. Argumennya, penggunaan tablet akan menekan biaya, menghemat kertas sekaligus menjaga kualitas bahan ajar. Menurut Anies, pemakaian tablet bisa memperkaya proses belajar mengajar dengan menyediakan kuis dan aktivitas interaktif lainnya.

Penggunaan tablet memang telah dikenalkan di sekolah-sekolah di luar negeri. BBC memberitakan bahwa pada Desember 2014, sekitar 70% sekolah dasar dan menengah di UK menggunakan iPad untuk aktivitas belajar-mengajar. Namun menurut artikel tersebut, rasio tablet : siswa ternyata tidak 1 : 1. Artinya, iPad tersebut digunakan secara berjamaah. Satu tablet untuk sekian orang siswa. Hanya 9% sekolah yang memiliki satu tablet untuk setiap siswa. Pun, BBC di artikel yang sama mengutip penelitian yang menyatakan belum ada kaitan pasti antara penggunaan tablet dengan peningkatan kualitas belajar siswa [1].

Di Amerika Serikat, penggunaan tablet di sekolah-sekolah juga jamak ditemukan. Pada caturwulan ketiga 2014 saja, tercatat ada 702,000 iPad yang terjual ke sekolah-sekolah. Sebelumnya di tahun 2013, pemerintah Los Angeles berniat untuk membelikan iPad bagi setiap siswa di wilayah tersebut, berjumlah 640,000 siswa dengan nilai anggaran melebihi $30 juta, namun rencana itu ditunda setelah siswa-siswa SMA di LA meng-hack iPad dari sekolah mereka dan menggunakannya untuk mengakses Facebook.

 

Dari dua ilustrasi di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dijelaskan lebih lanjut oleh Mendikbud dan jajarannya. Pertama, masalah anggaran dan status kepemilikan tablet. Siapa yang akan membayar biaya pengadaan tablet dan content-nya? Apakah orang tua siswa atau negara? Jika negara, siapa pemilik tablet tersebut? Apakah negara, sekolah ataukah siswa? Jika negara yang menanggung, berapa besar yang dianggarkan untuk proyek ini? Apakah program ini akan merata untuk seluruh wilayah Indonesia dan bagaimana dukungan terkait pembangunan infrastruktur dan jaringan internet di wilayah tertinggal?

Kedua, masalah keamanan. Ada beberapa aspek keamanan yang harus diperhatikan. Pertama, aspek keamanan fisik dari tablet tersebut. Bagaimana menjaga agar tablet tidak dicuri? Apakah ada aplikasi semacam Find my iPad dan Lost Mode yang dapat melacak dan mengunci tablet sehingga tidak dapat digunakan oleh pencuri? Bagaimana menjaga tablet tersebut dari kerusakan akibat penggunaan (jatuh, kena air, tergores?). Tanpa perhatian pada aspek keamanan fisik ini, maka investasi yang dilakukan pemerintah bisa jadi hilang dalam sekejap (tablet hilang atau cepat rusak) [2].

Kedua, keamanan content dan software. Sebagaimana berita di Los Angeles di atas, ternyata siswa-siswa SMA di sana cukup cerdas membongkar kode pengaman yang dipasang di iPad mereka dan menggunakan iPad di luar tujuan: untuk akses Facebook. Bagaimana dengan tablet di Indonesia? Apakah memiliki tingkat keamanan yang memadai sehingga siswa-siswa hanya dapat mengakses konten yang diizinkan? Apakah pihak ketiga mudah memasukkan unauthorised contents ke tablet-tablet tersebut? Mungkin cara termudah adalah menjadikan tablet murni sebagai ebook reader (offline) selagi berada di tangan siswa.

Poin ketiga yang perlu diperhatikan adalah content. Tablet tanpa isi ebook dan software edukasi tentu tidak akan memberi manfaat banyak. Karena itu perlu juga diperhatikan isi tablet tersebut. Saya pribadi melihat beberapa tahun terakhir pemerintah sudah memiliki itikad yang baik untuk mengadakan bacaan berkualitas melalui Sayembara Puskurbuk namun masih saja ada satu-dua buku yang mengandung isi bermasalah [3].

Perhatian Keempat adalah pendidikan guru dan orang tua. Kita perlu ingat bahwa sejatinya, tablet dan buku pelajaran adalah alat bantu. Guru dan orang tua murid lah pelaku pendidikan yang utama. Tanpa bimbingan guru dan orang tua, seorang anak sulit untuk mencapai titik pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, kebijakan pengadaan tablet ini seyogyanya tidak menjadi substitusi dari kebijakan peningkatan kualitas guru. Seyogyanya pula, pemerintah perlu mewajibkan orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anaknya sehingga proses pendidikan anak berlangsung komprehensif, di rumah dan di sekolah.

Terakhir, menurut saya perlu ada pengkajian mendalam (jika perlu disertai dengan percobaan dan pilot project) tentang efektivitas proses pembelajaran melalui tablet. Hasil penelitian yang dikutip BBC di atas menyatakan bahwa belum ditemukan adanya korelasi positif antara penggunaan tablet dan peningkatan kualitas belajar siswa. Perlu juga ada pengkajian mengenai efek penggunaan tablet di sekolah terhadap perkembangan anak, terutama pada aspek psikologi dan kemampuan komunikasinya. Ini tema yang masih baru dan hangat diperbincangkan oleh para peneliti. Pengalaman pribadi sih, tablet kurang efektif untuk mengajak anak membaca.

 

[1] laporan lengkap penelitian yang dikutip BBC dapat anda akses di sini.

[2] iPad unggul di UK, AS dan banyak negara lain karena memiliki aspek keamanan fisik yang cukup tinggi.

[3] Saya jadi ingat heboh di Kota Yogyakarta pada tahun 2006-an ketika ada kumpulan cerpen berisi necrophilia dan sadisme yang dibagikan sebagai buku pengayaan ke SMP/MTs. I was there. It was very disturbing. No one took the responsibility, iirc. Sigh.

 

 

 

 

 

 
4 Comments

Posted by on January 8, 2015 in Renungan, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Buku atau eBook?

Kemajuan teknologi saat ini membuat aktivitas membaca menjadi lebih mudah. Tidak perlu membawa buku setumpuk; cukup dengan satu iPad/Android/tablet lain, anda sudah dapat membawa ratusan buku dan menikmatinya dengan nyaman. Sungguh, sebagai pembaca kelas berat, saya merasa sangat terbantu dengan adanya ebook dan ebook reader yang beraneka rupa. Bahkan sekarang, ketika sedang mengerjakan disertasi pun saya lebih suka menggunakan ebook daripada buku.

 

Tapi kalau untuk mengenalkan budaya baca pada anak saya, rasanya menggunakan buku jauh lebih pas. Saya dulu mencoba menggunakan interactive ebook sebagai teman membaca untuk anak saya tapi hasilnya tidak optimal. Dia justru terganggu dengan fungsi-fungsi sekunder (animasi, game jika ada, suara/musik) sehingga tidak khusyuk membaca. Bahkan membolak-balik halaman sepertinya lebih menarik daripada menyimak isi halaman itu sendiri.

Setelah merasa gagal menggunakan ebook untuk anak, saya pun banting setir, kembali pada buku untuk sahabat membaca. Hasilnya, dia lebih fokus. Kalau pun membolak-balik halaman, dia tetap berinteraksi dengan buku, tulisan dan gambar. Tidak tiba-tiba berubah menjadi game atau animasi. Sekarang, dia lebih suka membaca buku daripada ebook. Mungkin akan tiba saatnya bagi anak saya untuk menggunakan ebook; kelak, ketika dia sudah bisa menikmati membaca tanpa tergoda oleh animasi, game dan aksesoris lainnya yang ada pada sebuah ebook.

Bagaimana dengan pengalaman anda? Pilih buku atau ebook?

 

Disclaimer: anak saya tetap menggunakan iPad dengan jadwal maksimal dua jam sehari, biasanya untuk menonton Youtube. Acara semacam Charlie and Lola, Octonouts, Super Why dan Numberjacks menurut saya bagus untuk anak. Atau bermain edugames seperti Quarrel yang memadukan merangkai huruf dengan perang-perangan. Jika sudah menggunakan iPad atau komputer di sekolah, tidak lagi menggunakan iPad di rumah.

 

 

 
3 Comments

Posted by on December 30, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Reading Diary

Satu hal yang saya rasakan menarik di sistem pendidikan di England adalah keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak. Selain program Family Learning yang sifatnya suka rela (dan gratis), ada juga program Reading Diary. Anak akan dipinjami buku untuk dibaca di rumah pada akhir pekan. Mereka juga akan membawa semacam buku harian untuk mencatat kemajuan membaca mereka atau untuk orang tua memberi komentar.

Untuk anak saya, karena masih Reception atau TK nol besar, maka buku-buku cerita yang dibawa pulang biasanya sangat sederhana. Satu buku terdiri dari sekitar 16-20 halaman. Tiap halaman penuh gambar warna-warni dan dua sampai tiga kalimat saja. Reading diary-nya juga sederhana. Hanya lingkaran tempat orang tua menggambar wajah smile, jika anak suka membaca buku itu, atau sad, jika anak tidak suka atau mengalami kesulitan. Kemudian ada kolom keterangan tempat kami menuliskan apa yang anak suka atau kesulitan apa yang ia dapatkan saat mencoba membaca bukunya.

Sederhana namun sangat membantu anak untuk menjaga budaya membaca di akhir pekan. Ini juga membantu mengingatkan orang tua, bahwa orang tua tetap bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sudah selayaknya orang tua terlibat dalam proses belajar anak mereka. Mungkin cara yang sama perlu dilaksanakan di Indonesia? Atau, mungkin malah sudah ada sekolah di Indonesia yang memberikan bacaan akhir pekan dan reading diary seperti ini?

 

 
1 Comment

Posted by on December 17, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , ,