RSS

Monthly Archives: August 2012

Fragmen Kue Pisang

Perempuan tua,

perlahan menapak trotoar kota.

Debu dan bising kendaraan

menemaninya yang sendiri.

Menjelang maghrib.

Satu-persatu kendaraan menepi.

Penumpangnya masuk restoran

dan memilih menu hari ini.

Bedug berkumandang.

Masakan telah terhidang.

Di tepi jalan, perempuan tua menelan ludah.

Seteguk air putih menunya berbuka.

Hari ini, dan juga hari-hari sebelumnya.

Ketika santap malam usai,

sepasang anak muda keluar restoran.

Perempuan tua pun mendekat.

Ia tawarkan sekeranjang kue pisang,

sambil menahan lapar melilit.

“Sebungkus (isi empat) lima ribu,”

jaja sang perempuan tua.

Hatinya berharap, namun pikirannya menata.

Bisa jadi, mereka terlalu kenyang

untuk membeli kue penyambung hidupnya.

“Beli lima, Bu.”

Perempuan tua terdiam tak percaya.

Tentu pendengarannya yang berkurang.

Tapi apa penglihatannya ikut

termakan usia?

Karena ia melihat uang dua puluh lima ribu terangsur!

“Alhamdulillah…” gumam sepenuh jiwa

mewakili seru hatinya.

Hanya¬†“Alhamdulillah!”.

Lima bungkus kue pisang berpindah tangan.

Si pemudi menatap heran.

“Buat ibu di sebelah,” si pemuda menjawab ringan.

Ia teringat perempuan lain, yang tinggal di samping kosnya.

Bersama anak-anak, tanpa suami.

Tak punya pula sumber penghasilan.

Mereka berpisah.

Kue-kue pisang sekeranjang,

dibawa seorang perempuan tua yang tertatih melangkah.

Kue-kue yang menjadi penyambung hidup,

entah kapan akan terjual laku.

Lima bungkus kue pisang (masing-masing berisi empat),

akan menemui perempuan lain dan anak-anaknya.

Lima bungkus kue pisang itu,

akan menyambung hidup mereka

entah untuk berapa hari lamanya.

Perempuan tua,

perlahan menapak trotoar kota.

Ia membawa sekeranjang kue pisang

dan lapar yang menemani perutnya.

 

190046_394286503969311_427164867_n

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2012 in Renungan

 

Tags: ,