RSS

Monthly Archives: September 2012

Sang Guru (1)

Penasaran siapa sosok yang akan menemani saya menjalani hari-hari penuh liku (baca: menyelesaikan PhD :D)?

Nama beliau adalah Professor Barry K. Gills. Beliau adalah salah seorang pakar tentang globalisasi dan world history. Salah satu karya beliau yang menarik saya adalah Globalisation, global histories and historical globalities. Artikel ini sangat pas dengan tema yang akan saya bahas. Buku-buku beliau yang lain pun menarik untuk dikaji. Profil lengkap Barry Gills ada di sini.

Pertama melihat profilnya di website, saya langsung jatuh hati ๐Ÿ˜€ Setelah membaca beberapa karyanya, saya semakin mantap melamar beliau. Alhamdulillah, setelah mengirimkan email lamaran dan menunggu selama kurang-lebih 25 hari, beliau menerima saya sebagai murid.

Begitu tiba di Newcastle dan menyelesaikan urusan administrasi, saya pun menemui Barry. Sebagai anak Jawa yang lugu, saya memanggilnya “Profesor Gills”. Mungkin satu-satunya yang memanggil beliau demikian ๐Ÿ™‚ Jangan khawatir, saya sudah minta izin Barry untuk memanggilnya “Professor Gills” kok ๐Ÿ˜€

Barry orangnya ramah dan menyenangkan. Kali pertama bertemu, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai dua jam. Beliau ternyata pernah ke Yogyakarta dan berkunjung ke Borobudur. Barry juga mengetahui kisah Mahabharata (versi India) dan kami membicarakan beda Mahabharata India dan Mahabharata Jawa yang sudah mendapat pengaruh Islam.

Bekerja dengan Barry sangat menyenangkan. Barry sangat menghargai pendapat saya, meski mungkin dalam hati gemas dengan saya yang culun banget dan pengetahuannya masih sangat cetek dalam bidang global society. Yang sangat menantang adalah, sekalinya berdiskusi, Barry bisa menyebutkan sepuluh lebih buku (dan semuanya dengan embel-embel: you should read it). Jadi reading list saya beranak pinak tak terkendali (T_T)

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah SWT Mempertemukan saya dengan ilmuwan sekaliber Barry. Saya yang pandir ini mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari Sang Guru ๐Ÿ™‚

Berikut cuplikan wawancara Barry:

 

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,

Mencari Jodoh Sehati

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu ๐Ÿ˜‰ Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius ๐Ÿ˜‰

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman ๐Ÿ˜€

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan ๐Ÿ˜ฆ

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana ๐Ÿ™‚

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca ๐Ÿ˜€ EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Awal Perjalanan

The beginning of a journey. A small step to explore the limitless horizon.

Alhamdulillah, akhirnya segala keperluan untuk berangkat ke Newcastle telah siap. Insha Allah, saya akan memulai belajar di Newcastle University pekan depan. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, mengingat belum pernah sekali pun anak Yogya ini keluar negeri :p

Proses mendapatkan beasiswa ini membutuhkan waktu cukup panjang. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari supervisor. Membuka akun email, ternyata saya mengirimkan email pertama pada calon Guru pada 04 September 2011; bulan ini, setahun yang lalu. Beliau membalas pada 29 September 2011 [1].

Setelah mendapatkan email dari calon Guru, langkah kedua adalah mendaftar secara resmi. Saya memulai proses korespondensi dengan Postgraduate Director of Politics Program, Newcastle University [2]. Setelah itu, mendaftar online ke Newcastle University [3]. Proses pendaftaran dari mendaftar online sampai terbit Letter of Acceptance sekitar empat bulan [4]. Waktu yang panjang ini karena saya memasukkan berkas di akhir bulan Oktober sehingga harus menunggu winter vacation, Tahun Baru dan sebagainya.

Begitu mendapatkan LOA, saya langsung mendaftar beasiswa. Ini langkah ketiga yang sangat, sangat, sangat penting (kecuali bagi yang cukup beruntung mendapatkan Beasiswa Ayah Bunda/turunannya untuk mendukung kuliah :D). Saya mendaftar Beasiswa Luar Negeri DIKTI yang diperuntukkan bagi dosen dan calon dosen. Pilihan beasiswa lain ada banyak, dapat memilih sesuai panggilan hati nurani ๐Ÿ˜€ [5]

Rasa bahagia kembali membuncah ketika pada bulan Mei 2012, sekitar delapan bulan dari pertama kali saya mengirim email ke calon Guru, nama saya tercantum sebagai penerima BLN DIKTI 2012 Gelombang II. Alhamdulillah, keinginan berangkat ke negerinya Harry Potter semakin dekat! [6] Hasil menggembirakan ini tentu tidak lepas dari doa restu Bapak dan Ibu, dukungan keluarga dan sokongan Bu Rektor dan rekan-rekan di Prodi HI Unisri.

Setelah pasti mendapatkan Guarantee Letter dari DIKTI, saya pun mendaftar visa. Ini langkah keempat, yang hasilnya saya dapatkan sekarang [7]. Di passport saya, sekarang sudah mejeng stiker dengan foto saya tersenyum malu-malu. Alhamdulillah, keluarga juga mendapatkan visa, sehingga bisa menemani petualangan ini.

Empat langkah yang panjang, memakan waktu satu tahun. Namun empat langkah ini hanyalah ingsutan kecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun mendatang saat menempuh studi; lebih lagi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya, insha Allah.

It’s time to spread your wings, and fly, little one.

It is time for you to learn, tasting many winds blowing through the horizon.

[1] Saya ingat betapa galaunya hati ini saat sang calon Guru belum juga membalas email. Saya membuka email tiap hari, dan melakukan refresh tiap lima menit sekali. Sungguh. Masuk pekan kedua, harapan mendapat email dari calon Guru makin menipis, karena menurut teman-teman, batas waktu seorang profesor membalas adalah dua pekan. Lebih dari dua pekan, lupakan. Maka, betapa bahagia membuncah saat email dari calon Guru masuk inbox hampir sebulan kemudian.

[2] Sebenarnya, secara formal tidak perlu kontak Postgraduate Director untuk mendaftar formal, tapi komunikasi awal akan sangat membantu proses registrasi jika ternyata ada kendala di kemudian hari.

[3] Tip of the day: pastikan membaca terlebih dahulu laman petunjuk pendaftaran di situs universitas terkait. Siapkan dokumen yang diperlukan (scan passport, scan skor IELTS/iBT, scan ijiazah+transkrip dan scan terjemahannya, dll). Beberapa universitas meminta esay/jurnal dsb, beberapa yang lain tidak.

[4] Untuk lebih jelasnya lihat di sini,

[5] Untuk detail tentang beasiswa Dikti, dapat lihat di sini. Untuk beasiswa LPDP, bisa lihat ini.

[6] Ini mulai ketahuan niat sebenarnya apaaa XD

[7] Untuk proses pembuatan visa UK, silahkan baca sini.

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,