RSS

Mencari Jodoh Sehati

20 Sep

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu πŸ˜‰ Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius πŸ˜‰

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman πŸ˜€

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan 😦

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana πŸ™‚

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca πŸ˜€ EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: