RSS

Monthly Archives: August 2013

Scholarship Hunting (2): Beasiswa LPDP

Alhamdulillah, beberapa waktu silam saya mendapatkan kabar bahagia. Kakak saya memperoleh beasiswa dari LPDP. Insha Allah pada September mendatang, kakak dan keluarga akan berangkat ke Australia. Kakak insha Allah akan mengambil program PhD di Monash University.

Saya cukup mengikuti proses kakak sampai memperoleh Beasiswa LPDP ini. Meski tidak mengalami sendiri, namun informasi saya insha Allah sahin dan bersanad kuat lah 😀 Untuk itu, saya ingin berbagi informasi tentang beasiswa ini, sebagai pelengkap informasi tentang BLN DIKTI yang sudah saya share sebelumnya.

LPDP adalah beasiswa yang diperuntukkan bagi warga negara Indonesia, apapun latar belakangnya [1]. Sumber dananya dari keuntungan (dan bunga?) dana abadi pendidikan yang dikelola oleh Kementrian Keuangan. Detailnya saya kurang tahu, tapi kurang lebih demikian.

LPDP memberikan beasiswa Magister dan Doktoral untuk dalam dan luar negeri, serta beasiswa Tesis dan Disertasi. Komponen beasiswa semua ada di buku panduan Beasiswa LPDP. Anda dapat mengunduh buku panduan tersebut di sini.

Untuk mendaftar Beasiswa LPDP, ada syarat-syarat dokumen yang harus dipenuhi. Semua tercantum lengkap di laman Beasiswa LPDP. Namun, berbeda dengan beasiswa lain, Beasiswa LPDP ini memberikan titik tekan pada kepemimpinan dan kontribusi pada masyarakat/negara. LPDP mencari kandidat yang memiliki jiwa kepemimpinan dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Kandidat juga diharapkan telah memiliki kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia dan akan kembali berkontribusi selepas kuliah nanti. Dalam briefing, pengelola Beasiswa LPDP menyatakan bahwa LPDP tidak memiliki batasan maksimal berapa orang yang akan diberangkatkan per periode. Jika semua pendaftar memenuhi kriteria, maka semua berangkat! [2]

Nah, dua variabel inilah yang menurut saya menarik, dan wajib disiapkan oleh anda jika ingin mendaftar Beasiswa LPDP. Dua variabel ini dinilai berdasarkan pada esay dan performa kandidat saat wawancara. Berdasarkan pengamatan saya pada esay yang ditulis kakak saya, serta obrolan dengan beberapa rekan penerima Beasiswa LPDP, berikut tips-tips yang saya harapkan dapat membantu anda menyusun esay untuk aplikasi Beasiswa LPDP:

  1. Visi. Anda perlu memiliki visi yang kuat terkait masa depan anda. Visi yang kuat menurut saya tidak harus berskala besar seperti menjadi presiden. Toh, Presiden RI hanya seorang dalam lima tahun (dan bisa jadi tetap orang tersebut selama lima tahun berikutnya, :D). Visi yang kuat menurut saya adalah visi yang terukur, aplikatif dan anda percaya kalau anda mampu meraihnya!
  2. Kontribusi. Visi yang kuat tapi berorientasi pribadi tidak cukup. Anda harus mengaitkan visi tersebut dengan kontribusi. Apa yang akan (atau sudah) anda sumbangkan untuk bangsa dan negara? Bagaimana keberhasilan anda memberikan imbas positif pada masyarakat di sekitar anda? Untuk kontribusi, pilihlah sesuatu yang unik, yang khas. Misalnya, jika anda dosen, maka “kontribusi saya akan mengajar mahasiswa” itu tidak cukup unik. Semua dosen akan menjawab demikian. Anda perlu berpikir, apa kontribusi yang hanya anda yang dapat melakukannya? Lebih lanjut, renungkan bagaimana beasiswa LPDP ini dapat membantu anda untuk berkontribusi lebih banyak?
  3. Sukses dalam hidup. Salah satu esay yang harus anda tulis adalah sukses dalam hidup anda. Definisi sukses tentu sangat bervariasi, tergantung pada setiap individu. Menurut saya, anda perlu mengangkat keunikan sukses anda. Bukan masalah apa yang anda sebut sebagai sukses, namun jelaskan mengapa anda menyebutnya sebagai sukses! Apa pengaruh keberhasilan tersebut pada diri anda? Pada lingkungan anda? Pada masyarakat yang lebih luas? Kembali, semakin rinci anda menyampaikan sukses ini, akan semakin baik.

Tahapan seleksi Beasiswa LPDP serupa dengan beasiswa-beasiswa lain. Anda harus mendaftar online dan mengirimkan scan dokumen pendukung. Jika lolos, anda akan diminta hadir wawancara. Yang menarik, pengelola Beasiswa LPDP membuka layanan wawancara via skype bagi kandidat yang berada di luar negeri.

Materi wawancara berkisar pada latar belakang anda dan dua esay yang sudah anda tulis. Seorang rekan awardee menyampaikan: just be yourself during the interview! Kembali saya tegaskan, tunjukkan prestasi, cita-cita dan kontribusi yang khas diri anda. Yakinlah pada visi hidup anda dan jelaskan bagaimana visi itu akan menghasilkan kontribusi untuk masyarakat dan bangsa.

Setelah itu, anda menunggu pengumuman apakah anda lolos sebagai calon awardee. Jika anda lolos sebagai calon awardee, anda akan diminta mengikuti pembekalan selama sepekan lebih. Di akhir pembekalan anda akan menandatangani kontrak dan resmi sebagai penerima Beasiswa LPDP.

Demikian beberapa tips yang saya susun. Kembali, ini berdasarkan pada pengalaman kakak saya dan obrolan dengan beberapa awardee Beasiswa LPDP yang lain. Saya tentu berharap apa yang and tuliskan bukan sekedar “tulisan bisu”, yang disusun demi mendapatkan beasiswa. Saya berharap, tulisan itu menjadi prasasti anda, sumber kekuatan, pengingat dan janji yang akan anda tepati di kemudian hari. Selamat berkarya! 🙂

 

 

 

[1] Kabar terbaru, Beasiswa LPDP tidak dapat diakses oleh para dosen yang telah memiliki NIDN 😉

[2] Adanya Beasiswa LPDP dan Beasiswa DIKTI sebenarnya membuka peluang yang sangat besar bagi warga Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Beasiswa LPDP siap memberangkatkan berapa pun, selama awardee memenuhi syarat. Beasiswa DIKTI setiap tahun menarget 800 awardee. Jadi, jangan merasa kecil hati atau tidak memiliki peluang!

 

 
1 Comment

Posted by on August 21, 2013 in Beasiswa

 

Tags:

You Have to Live! [1]

A Griefing Man [2]

“You have to live,”

She prayed for me.

“Not because I am old,

and you are my beloved son.”

“You have to live,”

He said to me.

“Not because I am blind,

and you are my eyes.”

“You have to live,”

He pushed me into safety.

“Not because you are my blood

and my brother.”

“You have to live,”

She shielded me.

“Not because you are my love,

eventhough I love you enough.”

I have to live!

I told to myself repeatedly.

When I saw my father died,

when I saw my mother died,

when I saw my brother died,

when I saw my beloved wife died…

All I witnessed behind my camera.

I have to live!

My mother had prayed for me.

Not because I am her son,

but because I am

the son of this land.

I have to live!

My father had said that to me.

Not because I am his eyes,

but because I am

the world’s eyes.

I have to live!

My brother had guarded me.

Not because I am his brother,

but because I am

the brother of humanity.

I have to live!

My wife had sacrificed herself for me.

Not because she loved me,

But because I am married to truth

Even before I met her.

I have to live,

I whispered to myself.

As much as I want to die

and be with those that I love…

As much as this pain

is killing me…

But I have to live…

Just to tell the world

about this massacre.

[1] A tribute to: all citizens, journalists and news crews who have embraced the danger of death, left their loved ones, and are feeling terrible physical and emotional pains to open the world’s eyes.

[2] Photo was taken from: Mosa’ab Elshamy’s collection http://www.flickr.com/photos/mosaaberising/9516276089/sizes/m/in/set-72157635071774090/

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2013 in Renungan

 

Tags: ,

Kemanusiaan yang Terbelah

1185138_551216218276338_1703446693_n

Seorang pria menangisi jenazah istrinya yang meninggal di Raba’a.

Militer Mesir kembali melakukan tindak kekerasan terhadap para pendukung Presiden Mursi. Pada 14 Agustus, dengan dalih melawan teroris, militer menyerbu Nahdah Square dan Raba’a al Adawiyah. Di dua daerah ini, berkumpul ratusan ribu demonstran dari berbagai elemen masyarakat Mesir yang menentang kudeta militer. Militer menutup akses ke dua kawasan ini dengan tank dan kawat berduri, menembaki para demonstran dan membakar tenda-tenda yang menjadi tempat tinggal mereka. Selama lebih dari delapan jam aksi kekerasan terjadi. BBC menyampaikan dua ratus korban meninggal dan ribuan lainnya luka-luka [1]. Sementara, Gehad el-Haddad, juru bicara Ikhwanul Muslimin menyampaikan dalam twitternya, jumlah korban meninggal mencapai dua ribu orang [2].

Para wartawan media internasional melaporkan secara langsung kondisi di lapangan. Jamal El Shayyal [3] melaporkan untuk Al Jazeera [4]. Abigail Hauslohner [5] melaporkan untuk Washington Post [6]. Mereka hanyalah dua dari sekian banyak jurnalis internasional yang berada di lapangan dan turut merasakan sendiri ancaman peluru tajam yang dilontarkan militer Mesir. Bahkan para wartawan ini pun menjadi korban. Mick Deane dari SkyNews [7], Habibah Abdulaziz dari Gulf News [8] dan Ahmed Abdelgawat dari Al Ahram News merupakan tiga jurnalis yang meninggal akibat tembakan polisi [9].

Namun di tengah tragedi kemanusiaan ini, masih ada segelintir orang yang berusaha menafikan pembantaian. Alih-alih berbela sungkawa terhadap pelanggaran HAM, mereka justru berusaha untuk mengecilkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat sipil di Mesir. Artikel ini akan mengupas argumen yang sering diajukan mereka dan menunjukkan kelemahan argumen tersebut.

Pertama, mereka menyatakan bahwa tindakan militer sah karena para demonstran memiliki senjata api. Ini merupakan argumen yang tidak berdasar. Para wartawan internasional yang ada di lapangan menyatakan, bahwa sepengamatan mereka, demonstran di Raba’a dan Nahdah tidak memiliki senjata. (Mike Gioglio dari Newsweek [10], Bel Trew jurnalis independen [11]). Hanya ada satu foto yang menunjukkan sebuah peti berisi amunisi yang ditemukan militer dan diklaim sebagai amunisi pendukung Mursi. Namun, video ini menunjukkan bahwa militer diam-diam memasukkan amunisi ke dalam peti tersebut: http://t.co/ksr47LK6kT [12]

Kedua, mereka menyatakan bahwa tindakan militer sah karena sudah memberikan ultimatum. Salah para demonstran, mereka “mencari mati” dengan menentang militer. Tentu ini komentar yang menyedihkan. Militer adalah aparat negara, yang memiliki fungsi untuk melindungi negara dari ancaman asing. Polisi adalah aparat negara yang bertguas melindungi warganya dari tindak kriminal domestik. Baik militer maupun polisi, tidak berhak menggunakan kekerasan pada warga negara yang sedang menggunakan hak politik mereka dengan melakukan demonstrasi. Terlebih, demonstrasi yang dilakukan pendukung Mursi adalah demonstrasi damai. Tidak ada hak militer dan polisi untuk melakukan kekerasan pada para demonstran. Jika masih ada pihak yang beranggapan bahwa ini adalah “salah demonstran,” maka pihak tersebut secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kudeta dan diktaktor militeristik. Tentu, pihak dengan pandangan seperti ini berbahaya bagi demokrasi dan penegakan HAM.

Ketiga, segelintir orang ini merestui pembantaian terhadap pendukung Mursi, dengan alasan bahwa pendukung Mursi telah melakukan kekerasan terhadap komunitas Koptik dengan membakar gereja, toko dan rumah-rumah milik warga Koptik.

Argumen ini merupakan pengalihan issue sekaligus taktik belah bambu. Pertama, benar terjadi pengrusakan terhadap gereja-gereja dan toko-toko milik warga Koptik. Namun, tidak ada bukti bahwa pelaku adalah anggota Ikhwanul Muslimin atau pendukung Mursi. Perlu kita ingat, bahwa Presiden Mursi menghormati kelompok Koptik. Mursi bahkan mengangkat wakil kelompok Koptik untuk duduk di parlemen dan mewakili aspirasi masyarakat Koptik [13].

Pada masa pemerintahan Mursi, memang terjadi kekerasan terhadap masyarakat Koptik dan gereja. Namun itu semua dilakukan oleh kelompok tak dikenal. Polisi saat itu menyatakan tidak mampu mengusut dan menangkap pelaku, sehingga pemuda Ikhwan secara suka rela membantu mengamankan gereja-gereja menjelang perayaan Natal [14]. Tapi tanpa polisi menjalankan fungsi mereka sebagai pelindung masyarakat dari tindakan kriminal, aksi kriminal terhadap gereja dan masyarakat Koptik menimbulkan ketakutan di kalangan Koptik. Mereka merasa pemerintahan Mursi gagal melindungi keamanan mereka. Karena itu, komunitas Koptik pun mendukung kudeta.

Namun sayang, selepas kudeta, keamanan masyarakat Koptik tidak menjadi prioritas bagi rezim penguasa. Tentu kita wajib mempertanyakan, kenapa polisi Mesir saat itu dan kemarin tidak melindungi gereja-gereja Koptik? Apakah mereka sengaja membiarkan gereja-gereja Koptik dalam posisi yang lemah? Jika ya, maka sungguh sangat disayangkan. Komunitas Koptik telah menjadi korban permainan politik militer dan pihak anti-Mursi. Alih-alih mendapatkan perlindungan keamanan, komunitas Koptik justru membantu menggulingkan seorang presiden yang menghormati dan menghargai mereka sebagai manusia seutuhnya.

Melihat betapa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap komunitas Koptik dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin, anggota FJP atau pendukung Mursi, maka kita harus melihat argumen segelintir orang ini sebagai upaya belah bambu dan pengalihan issue semata. Orang-orang yang menggunakan argumen ini tidak lebih dari manusia yang telah terbelah kemanusiaannya. Mereka tidak mampu melihat dengan jernih betapa mengerikannya pembantaian di Mesir.

Mereka menerapkan standar ganda: di satu sisi mempersoalkan kekerasan yang terjadi pada komunitas Koptik, namun di sisi lain membenarkan kekerasan yang terjadi pada ribuan orang pendukung Mursi. Inilah bukti kemanusiaan yang terbelah.

Sebagai manusia sejati, kita harus mengutuk kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada siapapun. Kekerasan pada komunitas Koptik dan kekerasan pada pendukung Mursi adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. Keduanya tidak perlu saling dipertentangkan. Keduanya tidak saling meniadakan, apalagi salah satu menjadi alasan pembenar bagi yang lainnya. Keduanya harus kita hapuskan dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal.

[1] http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-23705532

[2] https://twitter.com/gelhaddad/status/367614170029502465

[3] https://twitter.com/JamalsNews

[4] http://blogs.aljazeera.com/liveblog/topic/egypt-21121https://twitter.com/soltanlife/status/367904956612739072

[5] https://twitter.com/ahauslohner

[6] http://www.washingtonpost.com/world/egyptian-security-forces-move-against-protesters-camps/2013/08/14/bc079750-04a7-11e3-9259-e2aafe5a5f84_story.html

[7] http://www.theguardian.com/world/2013/aug/14/egypt-media-cameraman-muslim-brotherhood

[8] http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2013/08/20138141715620312.html

[9] https://twitter.com/JamalsNews/status/367752023414165504

[10] https://twitter.com/mike_giglio/status/367522730524278784

[11] https://twitter.com/Beltrew/status/367739761387393024

[12] http://t.co/ksr47LK6kT

[13] http://www.thecordobafoundation.com/news.php?id=3&art=150

[14] http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/30427/Egypt/Politics-/Muslim-Brotherhood-to-protect-churches-on-Coptic-C.aspx

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2013 in Renungan

 

Tags: