RSS

Kemanusiaan yang Terbelah

15 Aug
1185138_551216218276338_1703446693_n

Seorang pria menangisi jenazah istrinya yang meninggal di Raba’a.

Militer Mesir kembali melakukan tindak kekerasan terhadap para pendukung Presiden Mursi. Pada 14 Agustus, dengan dalih melawan teroris, militer menyerbu Nahdah Square dan Raba’a al Adawiyah. Di dua daerah ini, berkumpul ratusan ribu demonstran dari berbagai elemen masyarakat Mesir yang menentang kudeta militer. Militer menutup akses ke dua kawasan ini dengan tank dan kawat berduri, menembaki para demonstran dan membakar tenda-tenda yang menjadi tempat tinggal mereka. Selama lebih dari delapan jam aksi kekerasan terjadi. BBC menyampaikan dua ratus korban meninggal dan ribuan lainnya luka-luka [1]. Sementara, Gehad el-Haddad, juru bicara Ikhwanul Muslimin menyampaikan dalam twitternya, jumlah korban meninggal mencapai dua ribu orang [2].

Para wartawan media internasional melaporkan secara langsung kondisi di lapangan. Jamal El Shayyal [3] melaporkan untuk Al Jazeera [4]. Abigail Hauslohner [5] melaporkan untuk Washington Post [6]. Mereka hanyalah dua dari sekian banyak jurnalis internasional yang berada di lapangan dan turut merasakan sendiri ancaman peluru tajam yang dilontarkan militer Mesir. Bahkan para wartawan ini pun menjadi korban. Mick Deane dari SkyNews [7], Habibah Abdulaziz dari Gulf News [8] dan Ahmed Abdelgawat dari Al Ahram News merupakan tiga jurnalis yang meninggal akibat tembakan polisi [9].

Namun di tengah tragedi kemanusiaan ini, masih ada segelintir orang yang berusaha menafikan pembantaian. Alih-alih berbela sungkawa terhadap pelanggaran HAM, mereka justru berusaha untuk mengecilkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat sipil di Mesir. Artikel ini akan mengupas argumen yang sering diajukan mereka dan menunjukkan kelemahan argumen tersebut.

Pertama, mereka menyatakan bahwa tindakan militer sah karena para demonstran memiliki senjata api. Ini merupakan argumen yang tidak berdasar. Para wartawan internasional yang ada di lapangan menyatakan, bahwa sepengamatan mereka, demonstran di Raba’a dan Nahdah tidak memiliki senjata. (Mike Gioglio dari Newsweek [10], Bel Trew jurnalis independen [11]). Hanya ada satu foto yang menunjukkan sebuah peti berisi amunisi yang ditemukan militer dan diklaim sebagai amunisi pendukung Mursi. Namun, video ini menunjukkan bahwa militer diam-diam memasukkan amunisi ke dalam peti tersebut: http://t.co/ksr47LK6kT [12]

Kedua, mereka menyatakan bahwa tindakan militer sah karena sudah memberikan ultimatum. Salah para demonstran, mereka “mencari mati” dengan menentang militer. Tentu ini komentar yang menyedihkan. Militer adalah aparat negara, yang memiliki fungsi untuk melindungi negara dari ancaman asing. Polisi adalah aparat negara yang bertguas melindungi warganya dari tindak kriminal domestik. Baik militer maupun polisi, tidak berhak menggunakan kekerasan pada warga negara yang sedang menggunakan hak politik mereka dengan melakukan demonstrasi. Terlebih, demonstrasi yang dilakukan pendukung Mursi adalah demonstrasi damai. Tidak ada hak militer dan polisi untuk melakukan kekerasan pada para demonstran. Jika masih ada pihak yang beranggapan bahwa ini adalah “salah demonstran,” maka pihak tersebut secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kudeta dan diktaktor militeristik. Tentu, pihak dengan pandangan seperti ini berbahaya bagi demokrasi dan penegakan HAM.

Ketiga, segelintir orang ini merestui pembantaian terhadap pendukung Mursi, dengan alasan bahwa pendukung Mursi telah melakukan kekerasan terhadap komunitas Koptik dengan membakar gereja, toko dan rumah-rumah milik warga Koptik.

Argumen ini merupakan pengalihan issue sekaligus taktik belah bambu. Pertama, benar terjadi pengrusakan terhadap gereja-gereja dan toko-toko milik warga Koptik. Namun, tidak ada bukti bahwa pelaku adalah anggota Ikhwanul Muslimin atau pendukung Mursi. Perlu kita ingat, bahwa Presiden Mursi menghormati kelompok Koptik. Mursi bahkan mengangkat wakil kelompok Koptik untuk duduk di parlemen dan mewakili aspirasi masyarakat Koptik [13].

Pada masa pemerintahan Mursi, memang terjadi kekerasan terhadap masyarakat Koptik dan gereja. Namun itu semua dilakukan oleh kelompok tak dikenal. Polisi saat itu menyatakan tidak mampu mengusut dan menangkap pelaku, sehingga pemuda Ikhwan secara suka rela membantu mengamankan gereja-gereja menjelang perayaan Natal [14]. Tapi tanpa polisi menjalankan fungsi mereka sebagai pelindung masyarakat dari tindakan kriminal, aksi kriminal terhadap gereja dan masyarakat Koptik menimbulkan ketakutan di kalangan Koptik. Mereka merasa pemerintahan Mursi gagal melindungi keamanan mereka. Karena itu, komunitas Koptik pun mendukung kudeta.

Namun sayang, selepas kudeta, keamanan masyarakat Koptik tidak menjadi prioritas bagi rezim penguasa. Tentu kita wajib mempertanyakan, kenapa polisi Mesir saat itu dan kemarin tidak melindungi gereja-gereja Koptik? Apakah mereka sengaja membiarkan gereja-gereja Koptik dalam posisi yang lemah? Jika ya, maka sungguh sangat disayangkan. Komunitas Koptik telah menjadi korban permainan politik militer dan pihak anti-Mursi. Alih-alih mendapatkan perlindungan keamanan, komunitas Koptik justru membantu menggulingkan seorang presiden yang menghormati dan menghargai mereka sebagai manusia seutuhnya.

Melihat betapa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap komunitas Koptik dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin, anggota FJP atau pendukung Mursi, maka kita harus melihat argumen segelintir orang ini sebagai upaya belah bambu dan pengalihan issue semata. Orang-orang yang menggunakan argumen ini tidak lebih dari manusia yang telah terbelah kemanusiaannya. Mereka tidak mampu melihat dengan jernih betapa mengerikannya pembantaian di Mesir.

Mereka menerapkan standar ganda: di satu sisi mempersoalkan kekerasan yang terjadi pada komunitas Koptik, namun di sisi lain membenarkan kekerasan yang terjadi pada ribuan orang pendukung Mursi. Inilah bukti kemanusiaan yang terbelah.

Sebagai manusia sejati, kita harus mengutuk kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada siapapun. Kekerasan pada komunitas Koptik dan kekerasan pada pendukung Mursi adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. Keduanya tidak perlu saling dipertentangkan. Keduanya tidak saling meniadakan, apalagi salah satu menjadi alasan pembenar bagi yang lainnya. Keduanya harus kita hapuskan dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal.

[1] http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-23705532

[2] https://twitter.com/gelhaddad/status/367614170029502465

[3] https://twitter.com/JamalsNews

[4] http://blogs.aljazeera.com/liveblog/topic/egypt-21121https://twitter.com/soltanlife/status/367904956612739072

[5] https://twitter.com/ahauslohner

[6] http://www.washingtonpost.com/world/egyptian-security-forces-move-against-protesters-camps/2013/08/14/bc079750-04a7-11e3-9259-e2aafe5a5f84_story.html

[7] http://www.theguardian.com/world/2013/aug/14/egypt-media-cameraman-muslim-brotherhood

[8] http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2013/08/20138141715620312.html

[9] https://twitter.com/JamalsNews/status/367752023414165504

[10] https://twitter.com/mike_giglio/status/367522730524278784

[11] https://twitter.com/Beltrew/status/367739761387393024

[12] http://t.co/ksr47LK6kT

[13] http://www.thecordobafoundation.com/news.php?id=3&art=150

[14] http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/30427/Egypt/Politics-/Muslim-Brotherhood-to-protect-churches-on-Coptic-C.aspx

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2013 in Renungan

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: