RSS

Monthly Archives: October 2013

Apalah Arti Sebuah Golput?

Komen seorang sahabat di note saya terdahulu menggelitik saya untuk membuat tulisan tentang Golput ūüėõ

Dalam pilihan strategi, ada strategi yang sifatnya aktif (contending, mediating, problem solving) ada pula yang tidak aktif. Strategi inaction (tidak melakukan apapun) dan withdrawl (mundur dari medan negosiasi) merupakan dua strategi yang pelakunya secara sengaja tidak bergerak aktif. Dalam perhitungan pelaku, dengan bersikap pasif, ia akan mampu menciptakan alternatif perolehan baru yang lebih bagus daripada peluang-peluang perolehan di meja perundingan.

Dalam “medan” pemilu, pemilih dihadapkan pada beberapa opsi tindakan, yang secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok: memilih (aktif) dan tidak (pasif). Masing-masing opsi diyakini mampu menyuarakan kepentingan sang pemilih, sehingga memilih atau golput dianggap sebagai strategi yang “viable” untuk dilakukan.

Dalam tulisan ini, saya berpendapat bahwa golput bukanlah strategi yang viable untuk dilakukan. Syarat strategi agar viable, adalah:

  1. mampu menyuarakan kepentingan pelakunya
  2. mampu menghadirkan posisi yang berbeda

Dalam kasus pemilu, golput menjadi “mandul” dalam menyuarakan kepentingan dan posisi pelakunya karena ada satu cacat besar dalam sistem pemilu: tidak ada batas minimum partisipasi untuk menentukan keabsahan pemilu.

Dalam pemilu, suara golput adalah suara yang terbuang. Misal dalam sebuah pemilu 99% golput pun, pemilu tetap akan sah dan pemenangnya ditentukan oleh 1% yang memilih.

Ini jelas berbeda dengan sidang parlemen, yang memiliki batas minimum partisipasi sehingga dinyatakan sah. Dalam sidang parlemen, langkah satu kelompok politik untuk memboikot sidang (tidak hadir, keluar dari forum, protes dsb) menjadi penting. Jika jumlah mereka cukup banyak, kelompok protes ini dapat memaksa terjadinya deadlock dengan terus-menerus menunda sidang. Sikap withdrawl mereka ini secara lantang menyuarakan kepentingan mereka sekaligus memberikan peluang perolehan baru; pada satu titik pihak lawan akan tidak bisa menerima penundaan, dan “terpaksa” berkompromi.

Ini kisah nyata di Indonesia; saya teringat ada beberapa kelompok politik yang “menyandera” rapat di parlemen dengan berulang kali tidak hadir, sebagai bentuk protes terhadap kelompok politik lain yang dinilai “terlalu keras” dalam mengawal anggaran ūüėõ

Nah, ketiadaan batas minimum partisipasi dalam pemilu tentu harus diperhatikan oleh pemilih. Alih-alih menjadi sikap protes dan “menyandera” pihak lawan, golput justru secara tidak langsung mengukuhkan status quo. Jika niatnya memang ingin “menghukum” status quo, maka memilih lawan yang paling berpeluang menjadi oposisi adalah protest vote yang paling tepat (menurut saya). Tidak seperti golput, suara protes ini masuk dalam rekap perhitungan dan akhirnya akan menentukan hasil pemilu.

Misalnya, dalam sebuah tempat ada 1000 orang dengan tiga partai yang bertarung di pemilu.

Partai A adalah partai berwatak jahat. Pendukungnya 350 orang.
Partai B adalah partai hura-hura. Pendukungnya 300 orang.
Partai C adalah partai anak bawang. Pendukungnya 250 orang.
Masih ada suara yang protes, 100 orang.

Idealnya 100 orang itu buat Partai D. Tapi jika tidak bisa, apa pilihan mereka?

Jika golput, maka yang akan menang adalah Partai A berwatak jahat yang musuh masyarakat (setidaknya, musuh 100 orang itu). Partai A akan mendapatkan 350 dari 900 suara (~40%). Bisa menguasai parlemen!

Tapi jika 100 orang itu memilih Partai B hura-hura, maka mereka bisa menghukum A dengan mengalahkan A dan memenangkan B (40%)! Perolehan suara Partai A akan 350 dari 1000 suara (35%).

Bahkan jika misalnya protest vote itu tidak sepenuhnya ke Partai B, namun terbagi ke B dan C, maka tetap saja A akan “terhukum” dengan turunnya prosentase suaranya (dan ini bisa berakibat pada hilangnya kursi di suatu dapil etc dll).

Perhitungan semacam ini menjadi sangat penting untuk dipahami. Parpol status quonjika menghadapi resistensi yang terlalu kuat, bisa menawarkan alternatif golput ke masyarakat. Dengan demikian, suara masyarakat akan terbuang, tidak menggemukkan lawan parpol status quo tersebut. Inti strateginya : golput is better than voting the others.

Sebaliknya, beberapa parpol yang ingin menggulingkan status quo akan berjuang untuk menyelamatkan setiap suara. Jangan sampai ada yanb golput. Karena itulah dulu pernah ada kampanye bersama PDIP-PPP demi membendung Golkar. Demokrat dan Partai Hijau pun sempat kampanye bersama untuk membendung Republik. Lebih baik memilih partai (non-status quo) lawan, daripada golput atau memilih status quo. Inilah hakekat aliansi antar-parpol, atau melimpahkan suara sisa ke parpol lain (masih boleh ga ya?)

Karena itu, rekan-rekan, saya kembali menggarisbawahi: selagi tidak ada batas minimum partisipasi dalam sistem pemilu/pilkada/pilpres kita, golput merupakan strategi yang tidak layak guna. Golput tidak akan mampu menyuarakan protes kita, dan setiap suara yang golput berarti akan terbuang sia-sia. Lebih parah lagi, bisa saja suara golput itu tanpa sengaja memenangkan suara Partai A berwatak jahat yang dibenci masyarakat.

Jadi, apalah arti sebuah golput? Banyak artinya, tapi bukan sebagai protest vote!

 
88 Comments

Posted by on October 22, 2013 in Renungan

 

Tags:

Laskar Pelangi: Live from Indonesia

 

September 2011, saya harus ke Jakarta. Saya harus menunaikan tugas mulia : mengantar berkas akreditasi untuk prodi tempat saya mengajar. Pukul 18.00, saya menaiki pesawat ke Yogya, siap pulang ke kampung halaman tercinta. Tanpa diduga, Allah Memberikan saya kursi tepat di samping Bapak Rochmat, Guru Fisika saya di SMU 3 dulu. Sekarang beliau menjadi penilik sekolah untuk proses akreditasi SMA di Indonesia.

Sepanjang jalan, Pak Rochmat menceritakan pengalaman beliau berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya takjub mendengar kisah-kisah beliau. Betapa, Indonesia negeri yang kaya ini, ternyata memiliki daerah-daerah yang harus berjibaku untuk menegakkan pendidikan. Jangan berbicara kualitas yang diukur dengan Ujian Akhir. Berhasil menyelenggarakan pendidikan pun sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri menurut saya.

Kisah pertama tentang sebuah daerah di Sulawesi Utara. Menurut saya, ini daerah sudah pantas dicoret dari daftar “anak” provinsi Sulawesi Utara sebab jauhnya jarak dari ibukota. Setelah tiba di Ibukota, Pak Rochmat harus menempuh perjalanan darat selama tujuh jam, kemudian ditambah perjalanan laut dua jam dengan perahu kecil. Sampai di pantai seberang, masih harus dilanjutkan dengan lima belas menit berjalan kaki untuk mencapai sekolah di kaki bukit itu. Di daerah ini, ada sebuah SMA yang rutin menyelenggarakan pendidikan. Jangan samakan pendidikan di sana dengan Yogyakarta, di mana fasilitas pendukung pendidikan begitu mantap. Atau Jakarta yang memiliki sekian banyak sekolah berstandar internasional. Pendidikan di daerah Sulawesi Utara coret ini berjalan dengan sangat bersahaja…

Kisah kedua, sebuah sekolah di pinggiran Bangka Belitung. Sebagai sebuah provinsi kepulauan, wajar jika transportasi utama yang menghubungkan antar pulau di Bangka Belitung adalah perahu. Namun, kisah Pak Rochmat tentang sekolah di daerah ini dan para gurunya mengenalkan bayang kepahlawanan tersendiri dalam benak saya. Betapa, para guru yang kebanyakan dari pulau lain, harus menempuh dua jam naik perahu kecil ke sekolah tempat mereka mengabdi. Jika cuaca buruk, mereka tidak bisa sampai ke tujuan; entah berputar, entah berhenti di mana. Semoga tidak ada dan tidak akan pernah ada kecelakaan kapal yang membawa guru-guru mulia ini. Jika cuaca buruk terjadi selepas jam kerja, mereka tidak dapat pulang ke rumah; bertahan tinggal di sekolah yang apa adanya itu. Jelas, tidak ada fasilitas macam boarding school yang jamak kita temui di Jawa.

Saya lupa kisah ketiga berasal dari daerah mana. Rasa kantuk sudah menyergap saat itu :D. Yang saya ingat dengan pasti adalah betapa di daerah ini, listrik hanya menyala pukul 8-14, DUA HARI SEKALI! Berarti, dalam sepekan hanya 18 jam listrik menyapa masyarakat di daerah ini. Lalu belajarnya? Para pelajar harus memaksakan diri untuk belajar dengan penerangan tradisional. Untuk penerangan saja susah. Apalagi untuk mengakses bahan-bahan tambahan dari internet, nge-print makalah, membuat powerpoint atau film. Mereka tidak mengenal itu semua.

Keterbatasan demi keterbatasan ini membuat saya tercenung. Seakan sedang mendengarkan penuturan kisah lain dalam buku Laskar Pelangi. Perjuangan para guru, perjuangan para murid, perjuangan masyarakat. Sekaligus ignorancy kita. Mereka memanfaatkan apa yang ada untuk belajar, sementara kita seringkali tidak memanfaatkan fasilitas yang kita miliki secara maksimal. Bisa jadi, kalau adu kemampuan alami otak, rekan-rekan di sana tidak kalah dengan kita. Namun akibat minimnya sarana dan prasarana itu, mereka tidak dapat berkembang sebagaimana seharusnya. Sementara, kita yang memiliki sarana dan prasarana, enggan mengembangkan wawasan dan pengetahuan.

Untuk menyelesaikan masalah ini tentu tidak segampang mengetikkannya di lembar catatan facebook. Tapi setidaknya, kita bisa memulai perubahan dengan mensyukuri fasilitas pendidikan yang kita miliki dan mencerdaskan diri sendiri dengannya. Setelah itu, ketika kita sudah bekerja, mari sisihkan sebagian penghasilan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Saya kagum dengan inisiatif beberapa teman. Mereka mengumpulkan sebagian penghasilan untuk membantu para pelajar membayar biaya sekolahnya. Ini dilakukan bukan oleh sebuah perusahaan ternama, bukan oleh seorang tokoh di Indonesia yang telah mapan dalam kehidupannya. Tapi, ini dilakukan oleh sekelompok anak-anak muda yang baru saja lulus dan mulai bekerja. Subhanallah, jika ada banyak orang seperti mereka, mungkin masalah pendidikan di Indonesia bisa teratasi dengan lebih mudah.

Wallahu’alam.

~tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah!~

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2013 in Perjalanan, Renungan

 

Tags:

SCONUL Access

Biasanya, saya pergi ke perpustakaan Newcastle University tiga-empat kali sepekan, ada atau tidak ada jadwal kegiatan. Di perpustakaan, saya membaca, mengetik, atau melakukan perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan seorang PhD student. Godaan membuka facebook, baca komik dan sebagainya menurun karena malu dengan tetangga meja ūüėõ

Setelah pindah ke Durham University, saya kehilangan akses ke perpustakaan. Muncul dilema besar terkait pola kerja. Di satu sisi, kalau saya di rumah saja, maka kemungkinan saya menyelesaikan pekerjaan berada pada titik limit mendekati nol. Tapi jika harus sering ke Durham untuk ngendon di perpus rasanya berat di ongkos [1].

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jalan keluar. Supervisor saya yang baik hati memberitahu bahwa saya, sebagai mahasiswa Durham University, bisa mendapatkan akses ke perpustakaan Newcastle University menggunakan SCONUL Access. SCONUL Access adalah kerjasama antar-perpustakaan universitas di UK dan Irlandia. Melalui program ini, seorang mahasiswa di satu universitas bisa menjadi “anggota terbatas” di perpustakaan universitas lain.

Cara mendapatkan SCONUL Access ini sangat gampang. Saya tinggal mengisi formulir online di laman SCONUL. Pihak SCONUL kemudian akan mengirim email ke pustakawan di Durham University untuk memverifikasi status saya. Begitu pustakawan Durham University menemukan tidak ada yang aneh dari seorang Ganjar, dia mengirimkan email ke saya yang berisi menyetujui aplikasi saya. Saya tinggal mencetak email dari pustakawan tersebut dan membawanya ke perpustakaan Newcastle University.

Proses mendapatkan akses di perpustakaan Newcastle University pun sangat gampang. Saya menunjukkan cetakan email dan kartu mahasiswa. Petugas pun memasukkan data saya ke komputer, kemudian mengambil foto saya saat itu juga [2], dan beberapa detik kemudian saya menerima kartu tanda anggota perpustakaan Newcastle University. Cepat, tanpa biaya lagi!

Bersama kartu tersebut, saya mendapatkan fasilitas-fasilitas berikut:

  1. Akses keluar-masuk perpustakaan Newcastle University.
  2. Boleh meminjam buku maksimal delapan, setiap buku maksimal 30 hari.
  3. Setiap berkunjung dapat meminta password untuk akses WiFi. Password berkaku selama enam jam.

Sayangnya, saya tidak bisa numpang ngeprint dan scan di perpus. Kalau bisa, kan lumayan tidak perlu menunggu ke Durham University untuk print dan scan. Tapi untunglah ada tetangga atas yang bisa dititipi print dan scan di Newcastle University heee…

Adanya fasilitas SCONUL tentu sangat membantu bagi para mahasiswa. Pertama tentu bagi mahasiswa yang tinggal agak jauh dari universitas tempat studi dan ada universitas lain di dekat rumah. Craig, rekan seperjuangan di Durham University, juga kondisinya hampir sama seperti saya. Craig kerja di Manchester namun ambil PhD di Durham karena dia ada jaringan dengan seorang profesor di Durham University. Baginya tentu lebih mudah untuk menggunakan fasiltas perpustakaan Manchester University daripada bolak-balik ke Durham.

Kedua, setiap perpustakaan kampus memiliki fokus/koleksi yang berbeda. Untuk periset dengan tema tertentu, bisa jadi perpustakaan universitas tempat studinya tidak memiliki koleksi yang cukup lengkap terkait tema tersebut. Tentu sangat membantu jika ia dapat menggunakan koleksi dari universitas lain.

Jika mengingat kondisi di tanah air saat saya kuliah dulu, sepertinya berbeda jauh. Pada masa antah-berantah, saat saya kuliah once upon a time, saya tidak bisa mengakses perpustakaan universitas lain. Bahkan kadang untuk akses perpustakaan fakultas sebelah saja sulit. Semoga kondisinya berubah sekarang, sehingga kebutuhan pelajar akan buku dapat terpenuhi tanpa memandang dari universitas mana dia berasal.

Sebagai penutup, berikut pemandangan di pojok favorit saya di perpustakaan Newcastle University:

What a lovely autumn tree

 

 

 

[1] Biaya Newcastle-Durham pp naik train berkisar antara £4.4 sd £8.1, tergantung waktu keberangkatan.

[2] Untung saya mengenakan pakaian yang agak keren jadi fotonya pun agak keren ūüėõ

 

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2013 in Akademik

 

Tags: , ,

Military Intervention

Pada Kamis, 17 September, SGIA mengadakan seminar tentang Military Intervention di al Qasimi 102. Pembicara tunggal pada seminar ini adalah Lt. Gen. Robin Brims. Beliau terlibat langsung dalam intervensi militer yang dilaksanakan UK ke Bosnia dan Iraq.

Gen. Brims menyampaikan penjelasan di depan forum

Beberapa poin yang beliau sampaikan terkait intervensi militer tersebut adalah:

  1. Militer UK bukan pengambil kebijakan dalam kasus-kasus ini. Yang memegang kebijakan adalah para politisi. Militer diundang untuk menjawab “apakah kita (UK) dapat melakukan ini.”, dan “apa konsekuensinya (secara militer) bagi UK?”
  2. Militer tidak dapat menolak keputusan yang telah diambil oleh politisi. “It is right to not have an opinion,” kata Gen. Brims.
  3. Secara pribadi, Gen. Brims saat itu percaya bahwa pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Keyakinan ini tumbuh karena beliau melihat laporan yang menunjukkan ke sana. Sayang, beliau “tidak bisa” menyampaikan laporan apa dan bagaimana isinya [1].
  4. Untuk saat ini, Gen. Brims tidak lagi meyakini bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah masal. Ketika ada hadirin yang bertanya kenapa, Gen. Brims kembali tidak bersedia menjawab [2].
  5. Gen. Brims mencatat banyak kasus yang menunjukkan kegagalan intervensi militer untuk menegakkan ketertiban di Iraq pasca-intervensi, berbeda dengan di Bosnia. Bahkan, skandal Abu Ghuraib menjadi salah satu skandal memalukan dalam intervensi ini.
  6. Untuk menghindari kegagalan yang terjadi di Iraq, Gen. Brims menyampaikan beberapa poin yang harus diperhatikan jika akan ada intervensi militer lagi di masa mendatang [3] sebagai berikut:
    1. Perlu menjalin kerjasama dengan tokoh setempat untuk menghindari ambruknya tatanan sosial kemasyarakatan [4].
    2. Urusan keamanan harus dipegang oleh polisi [5]. Jika keamanan dipegang oleh militer (tentara pendudukan), maka bisa terjadi kasus keamanan domestik akan ditanggapi dengan naluri dan logika militer. Menurut Gen. Brims, inilah yang membuat kasus macam Abu Ghuraib terjadi [6].
    3. Tentara pendudukan harus mampu mengendalikan diri dengan code of conduct yang ketat untuk mencegah kasus semacam Abu Ghuraib kembali terjadi.
    4. Keamanan fisik baru akan tercipta jika warga setempat menghormati rule of law yang ditegakkan oleh pihak pendudukan. Agar warga bersedia menghormati rule of law pihak pendudukan, maka pihak pendudukan harus menghormati hak warga setempat. Kembali, ini gagal dilakukan pihak pendudukan di Iraq.
    5. Pihak pendudukan harus memikirkan upaya rekonsiliasi pasca-konflik.
Saya tidak sepenuhnya menikmati seminar tadi karena Gen. Brims sejak awal mewanti-wanti bahwa ia tidak akan bicara tentang proses politik yang memutuskan langkah intervensi ke Iraq. Beberapa pertanyaan yang menjurus ke sana pun dijawab dengan lugas: “I can not answer that” atau “I am going to go into the jail if I answer your question.

Meski demikian, di antara penjelasannya saya menemukan muatan politik yang tersirat:

  • Militer Inggris (dan pemerintah Inggris) sama sekali tidak memegang kendali dalam proses intervensi militer ini. Semua kendali dan komando datangnya dari AS. That was an American operation.
  • Ada beberapa hal yang dilakukan AS yang memunculkan perbedaan pendapat, bahkan ketidaksetujuan, dari pihak Inggris. Kasus Abu Ghuraib adalah salah satunya. Kebijakan (person?) militer AS yang cenderung agresif adalah hal lain yang secara halus disinggung Gen. Brims sebagai “kebijakan yang berlebihan”.
  • Sekuat apapun pewacanaan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal, pada akhirnya tidak ada buktinya. Bahkan para pejabat Inggris sendiri kini tidak meyakini hal tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur.

[1] Alex, rekan dari Perancis yang duduk di sebelah saya saat seminar bergumam, “Itu hal yang tidak akan pernah terungkap, apalagi dalam seminar di universitas begini.” Yah, menurut saya, Alex benar. Mustahil rasanya ada petinggi militer yang bicara blak-blakan tentang informasi itu. Meski, ketiadaan bukti yang jelas tentang informasi itu membuat banyak orang meragukan apakah benar Iraq punya senjata pemusnah massal?

[2] Alex bergumam lagi: “Good question, but that will never be answered either.

[3] Kali ini saya yang bergumam: “Na’udzubillah… ūüė¶ ”

[4] Dalam kasus Iraq, AS mengambil kebijakan “tidak berhubungan dengan anggota Partai Ba’ath*.” Masalahnya, di pelosok Iraq, semua pranata sosial adalah anggota Partai Ba’ats. Mereka bisa menjadi pranata sosial karena menjadi anggota Partai Ba’ath**. Sikap ini membuat tentara pendudukan*** mengabaikan total pranata sosial yang sudah ada dan mencoba membangunnya dari nol. Cukup dikata, kekacauan meraja lela. Kondisi ini berbeda dengan Bosnia, di mana tentara NATO menjalin kerjasama dengan pranata sosial Bosnia dan Serbia-Bosnia untuk menjaga ketertiban.

* Partai Ba’ath adalah partai pendukung Saddam Hussein, berhaluan kiri. Bukan partai berbasis Islam.

** Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia di masa Orba; (hampir) semua pranata sosial dan pemimpin masyarakat adalah anggota Golkar.

***saya menggunakan istilah “tentara pendudukan” (tentara yang menduduki) untuk merujuk ke AS, Inggris dan konco-konconya.

[5] Polisi di sini dapat merujuk pada polisi setempat (jika masih ada) maupun polisi internasional, gsbunugan polisi yang dikirim negara penduduk dengan misi khusus menjaga keamanan.

[6] Gen. Brims tidak membuat komparasi dengan Bosnia. Dalam kasus Bosnia, penjagaan keamanan diurus oleh pasukan NATO namun tidak terjadi pelecehan terhadap kemanusiaan sebagaimana di Iraq.

 
4 Comments

Posted by on October 17, 2013 in Akademik

 

Tags: ,

Kekayaan Teladan di Indonesia

Ketika mencoba mengurai benang kusut bertajuk Indonesia, selama ini saya selalu melontarkan bahwa dasar peliknya masalah di Indonesia adalah miskinnya teladan di Indonesia. Bagaimana tidak, para pemimpin yang seharusnya memberi teladan pada masyarakat ternyata satu demi satu terkena masalah. Mulai dari anggota dewan yang mengkhianati suara konstituennya, hakim yang menerima suap, sampai pemangku eksekutif yang alih-alih membangun negeri, malah membangun dinasti politik. Kerajaan Republik Indonesia, demikian seloroh pahit saya saat menyebutkan fenomena dinasti politik itu. Praktek yang sudah terjadi sejak lama, dan jamak di berbagai penjuru nusantara. Akhir-akhir ini saja media menyorot, itu pun terbatas di Banten. Bagaimana kabar dinasti politik di Jakarta?

Miskinnya keteladanan, menjadi penjelasan sekaligus alasan ketika saya tidak mampu berbuat apapun untuk Indonesia. Saya pun mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan, betapa si A yang seharusnya begini ternyata begitu. Betapa si B yang saya harapkan demikian ternyata tidak. Betapa si C, D dan seterusnya bertubi-tubi tidak mampu menjadi teladan bagi saya, dan masyarakat Indonesia.

Tapi betulkah Indonesia negeri yang miskin keteladanan?

Ternyata tidak. Hari-hari ini, banyak berita tentang sosok-sosok inspiratif yang layak untuk saya jadikan teladan.

Ada seorang nenek yang bekerja sebagai pemulung, giat menabung tujuh tahun untuk menunaikan Qurban.

Ada seorang pria yang tidak menerima gaji selama setahun, kontraknya tidak jelas, namun tekun membina pesepak bola muda. Dari tangan dinginnya, para pemuda tersebut berhasil memenangkan piala AFF.

Ada banyak gubernur/walikota/bupati yang bekerja serius membangun daerahnya; Herry Zudianto, Jokowi, Nur Mahmudi, Aher, Tuan Guru Bajang, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil adalah sedikit nama yang saya tahu. Saya yakin, insha Allah ada lagi kepala daerah penuh prestasi yang tidak saya ketahui nama dan prestasinya.

Ada Ibu Guru yang tekun mengajar sambil menggendong putranya yang lumpuh. Beliau insha Allah satu dari ratusan guru yang serius memikirkan pendidikan di negeri ini.

Ah, tapi itu “di luar sana”. Bagaimana “di dekat saya”?

Ternyata sama. Ada banyak sosok yang menginspirasi, layak saya jadikan teladan.

Saya kenal dokter-dokter muda yang tidak mata duitan, yang benar-benar mengabdi untuk menyehatkan warga. Mereka melakukan itu baik di semua tempat yang memungkinkan: rumah sakit besar, puskesmas, layanan kesehatan gratis…

Saya kenal para fresh graduate yang alih-alih meniti karir pribadi, memilih mengajar di pelosok Indonesia dan berbagi ilmu bersama adik-adik mereka. Mereka melakukan itu bukan karena tidak laku cari kerja; tapi karena pengabdian.

Saya kenal rekan-rekan yang penuh ketekunan merajut kembali makna “menjadi Indonesia”; mengajarkan toleransi, saling menghormati, proses politik yang sehat, pendidikan anti-korupsi, mencintai budaya sendiri, menggaungkan produk lokal… Mereka masih muda, namun saya iri dengan binar semangat di mata mereka ketika berbicara masa depan Indonesia.

Saya kenal para penulis yang setia menyampaikan nilai kebenaran dan budi luhur, alih-alih menghamba pada syahwat dan popularitas yang didapat melalui sensasi.

Saya pun sampai pada kesimpulan: Ah, ternyata, masih banyak teladan di Indonesia.

Jika selama ini saya merasa Indonesia itu miskin teladan, mungkin saya mencari keteladanan di tempat yang salah.

Jika selama ini saya merasa pemimpin Indonesia tidak mampu memberi teladan, mungkin saya meletakkan kepemimpinan di tangan orang yang salah.

Jika selama ini saya merasa tidak ada yang layak ditiru, mungkin karena saya tidak mau meniru mereka yang bekerja nyata!

Saatnya saya berubah.

Saatnya saya melihat dan mengakui semua tindakan positif di sekitar saya sebagai sesuatu yang layak menjadi teladan. Tidak lagi mencari keteladanan di tempat yang sempit dan menuntutnya dari orang-orang tertentu saja.

Saatnya saya menjadikan orang-orang yang giat bekerja sebagai pemimpin. Tidak lagi menjual suara pada janji kosong, tidak juga apatis dan masa bodoh pada proses regenerasi kepemimpinan di Indonesia.

Saatnya saya ikut berkontribusi, menyumbangkan apa yang saya bisa untuk membangun Indonesia. Tidak lagi menjadikan “miskin keteladanan” sebagai alasan dan tabir bagi kemalasan saya untuk bekerja. Tidak lagi menjadikan “miskin keteladanan” sebagai pembenar atas perilaku merusak bangsa.

Saatnya saya menjadi bagian dari keteladanan, dan bersama-sama memperkaya teladan di Indonesia.

 
Leave a comment

Posted by on October 16, 2013 in Renungan

 

Tags:

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis ūüėČ Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk¬†letter of offer¬†di tahun 2011¬†dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan¬†letter of offer¬†tersebut ke¬†Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam¬†Offer¬†tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya ūüėÄ [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April.¬†No worries, saya sudah menyiapkan¬†essay¬†10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”¬†¬†Barry menarik nafas dalam.¬†“I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship¬†dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di¬†Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,” ¬†celetuk saya.

“Well, I know…”¬†Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok:¬†changing supervisor is the academic equivalent of a divorce.¬†100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati ūüėõ

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi.¬†Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui¬†Postgraduate Director¬†untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi¬†second supervisor¬†saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans.¬†Absolutely overdressed!¬†Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah,¬†first year¬†gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian¬†Postgraduate Research Project¬†(menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya.¬†He was a great teacher, and I really, really miss him,¬†hiks… Buku¬†Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law¬†menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh¬†postgraduate students¬†di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia¬†missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka.¬†Not even once.¬†Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana¬†Three Musketeers¬†yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya:¬†state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema¬†comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam.¬†You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di¬†School of Government and International Affairs. ¬†Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda:¬†British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang¬†civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening ūüėõ

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi¬†second supervisor¬†saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema¬†North-east Doctoral Training Centre*¬†yang melibatkan Durham University dan Newcastle University.¬†Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre¬†adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. ūüėõ

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……” ¬†Atau ada gambar setetes air raksasa.¬†You get the point¬†lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. ūüėõ

[6]¬†I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans…¬†(Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang:¬†I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful.¬†(Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara¬†induction¬†pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan¬†sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction¬†beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada ūüėõ

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,