RSS

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

03 Oct

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis 😉 Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk letter of offer di tahun 2011 dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan letter of offer tersebut ke Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam Offer tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya 😀 [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April. No worries, saya sudah menyiapkan essay 10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”  Barry menarik nafas dalam. “I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,”  celetuk saya.

“Well, I know…” Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok: changing supervisor is the academic equivalent of a divorce100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati 😛

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi. Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui Postgraduate Director untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi second supervisor saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans. Absolutely overdressed! Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah, first year gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian Postgraduate Research Project (menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya. He was a great teacher, and I really, really miss him, hiks… Buku Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh postgraduate students di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka. Not even once. Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana Three Musketeers yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya: state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam. You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di School of Government and International Affairs.  Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda: British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening 😛

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi second supervisor saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema North-east Doctoral Training Centre* yang melibatkan Durham University dan Newcastle University. Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. 😛

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……”  Atau ada gambar setetes air raksasa. You get the point lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. 😛

[6] I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans… (Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang: I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful. (Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara induction pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada 😛

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: