RSS

Military Intervention

17 Oct

Pada Kamis, 17 September, SGIA mengadakan seminar tentang Military Intervention di al Qasimi 102. Pembicara tunggal pada seminar ini adalah Lt. Gen. Robin Brims. Beliau terlibat langsung dalam intervensi militer yang dilaksanakan UK ke Bosnia dan Iraq.

Gen. Brims menyampaikan penjelasan di depan forum

Beberapa poin yang beliau sampaikan terkait intervensi militer tersebut adalah:

  1. Militer UK bukan pengambil kebijakan dalam kasus-kasus ini. Yang memegang kebijakan adalah para politisi. Militer diundang untuk menjawab “apakah kita (UK) dapat melakukan ini.”, dan “apa konsekuensinya (secara militer) bagi UK?”
  2. Militer tidak dapat menolak keputusan yang telah diambil oleh politisi. “It is right to not have an opinion,” kata Gen. Brims.
  3. Secara pribadi, Gen. Brims saat itu percaya bahwa pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Keyakinan ini tumbuh karena beliau melihat laporan yang menunjukkan ke sana. Sayang, beliau “tidak bisa” menyampaikan laporan apa dan bagaimana isinya [1].
  4. Untuk saat ini, Gen. Brims tidak lagi meyakini bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah masal. Ketika ada hadirin yang bertanya kenapa, Gen. Brims kembali tidak bersedia menjawab [2].
  5. Gen. Brims mencatat banyak kasus yang menunjukkan kegagalan intervensi militer untuk menegakkan ketertiban di Iraq pasca-intervensi, berbeda dengan di Bosnia. Bahkan, skandal Abu Ghuraib menjadi salah satu skandal memalukan dalam intervensi ini.
  6. Untuk menghindari kegagalan yang terjadi di Iraq, Gen. Brims menyampaikan beberapa poin yang harus diperhatikan jika akan ada intervensi militer lagi di masa mendatang [3] sebagai berikut:
    1. Perlu menjalin kerjasama dengan tokoh setempat untuk menghindari ambruknya tatanan sosial kemasyarakatan [4].
    2. Urusan keamanan harus dipegang oleh polisi [5]. Jika keamanan dipegang oleh militer (tentara pendudukan), maka bisa terjadi kasus keamanan domestik akan ditanggapi dengan naluri dan logika militer. Menurut Gen. Brims, inilah yang membuat kasus macam Abu Ghuraib terjadi [6].
    3. Tentara pendudukan harus mampu mengendalikan diri dengan code of conduct yang ketat untuk mencegah kasus semacam Abu Ghuraib kembali terjadi.
    4. Keamanan fisik baru akan tercipta jika warga setempat menghormati rule of law yang ditegakkan oleh pihak pendudukan. Agar warga bersedia menghormati rule of law pihak pendudukan, maka pihak pendudukan harus menghormati hak warga setempat. Kembali, ini gagal dilakukan pihak pendudukan di Iraq.
    5. Pihak pendudukan harus memikirkan upaya rekonsiliasi pasca-konflik.
Saya tidak sepenuhnya menikmati seminar tadi karena Gen. Brims sejak awal mewanti-wanti bahwa ia tidak akan bicara tentang proses politik yang memutuskan langkah intervensi ke Iraq. Beberapa pertanyaan yang menjurus ke sana pun dijawab dengan lugas: “I can not answer that” atau “I am going to go into the jail if I answer your question.

Meski demikian, di antara penjelasannya saya menemukan muatan politik yang tersirat:

  • Militer Inggris (dan pemerintah Inggris) sama sekali tidak memegang kendali dalam proses intervensi militer ini. Semua kendali dan komando datangnya dari AS. That was an American operation.
  • Ada beberapa hal yang dilakukan AS yang memunculkan perbedaan pendapat, bahkan ketidaksetujuan, dari pihak Inggris. Kasus Abu Ghuraib adalah salah satunya. Kebijakan (person?) militer AS yang cenderung agresif adalah hal lain yang secara halus disinggung Gen. Brims sebagai “kebijakan yang berlebihan”.
  • Sekuat apapun pewacanaan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal, pada akhirnya tidak ada buktinya. Bahkan para pejabat Inggris sendiri kini tidak meyakini hal tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur.

[1] Alex, rekan dari Perancis yang duduk di sebelah saya saat seminar bergumam, “Itu hal yang tidak akan pernah terungkap, apalagi dalam seminar di universitas begini.” Yah, menurut saya, Alex benar. Mustahil rasanya ada petinggi militer yang bicara blak-blakan tentang informasi itu. Meski, ketiadaan bukti yang jelas tentang informasi itu membuat banyak orang meragukan apakah benar Iraq punya senjata pemusnah massal?

[2] Alex bergumam lagi: “Good question, but that will never be answered either.

[3] Kali ini saya yang bergumam: “Na’udzubillah… 😦 ”

[4] Dalam kasus Iraq, AS mengambil kebijakan “tidak berhubungan dengan anggota Partai Ba’ath*.” Masalahnya, di pelosok Iraq, semua pranata sosial adalah anggota Partai Ba’ats. Mereka bisa menjadi pranata sosial karena menjadi anggota Partai Ba’ath**. Sikap ini membuat tentara pendudukan*** mengabaikan total pranata sosial yang sudah ada dan mencoba membangunnya dari nol. Cukup dikata, kekacauan meraja lela. Kondisi ini berbeda dengan Bosnia, di mana tentara NATO menjalin kerjasama dengan pranata sosial Bosnia dan Serbia-Bosnia untuk menjaga ketertiban.

* Partai Ba’ath adalah partai pendukung Saddam Hussein, berhaluan kiri. Bukan partai berbasis Islam.

** Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia di masa Orba; (hampir) semua pranata sosial dan pemimpin masyarakat adalah anggota Golkar.

***saya menggunakan istilah “tentara pendudukan” (tentara yang menduduki) untuk merujuk ke AS, Inggris dan konco-konconya.

[5] Polisi di sini dapat merujuk pada polisi setempat (jika masih ada) maupun polisi internasional, gsbunugan polisi yang dikirim negara penduduk dengan misi khusus menjaga keamanan.

[6] Gen. Brims tidak membuat komparasi dengan Bosnia. Dalam kasus Bosnia, penjagaan keamanan diurus oleh pasukan NATO namun tidak terjadi pelecehan terhadap kemanusiaan sebagaimana di Iraq.

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on October 17, 2013 in Akademik

 

Tags: ,

4 responses to “Military Intervention

  1. tri wiyono

    October 19, 2013 at 7:41 am

    Pembicaraanya berarti cuma basa-basi dong mas (gak mau blak2an, normatif-aman)…

     
    • GanjarWY

      October 19, 2013 at 9:07 am

      Iya, mas Tri… lebih ke basa-basi. Meski demikian, kalau jeli, ketahuan juga beberapa poin rahasianya πŸ™‚

       
  2. Lia Aliyah Zainal

    October 19, 2013 at 12:22 pm

    rajin2 posting ya kegiatan2 seperti ini, sehingga kt di Indonesia semakin bertambah cakrawala keilmuwannya. btw,ambil jurusan HI ya?beasiswanya apa,ganjar?

     
    • GanjarWY

      October 19, 2013 at 12:24 pm

      Insha Allah mbak Lia, terima kasih sudah mau berkunjung. πŸ™‚ Saya pakai BLN DIKTI, lengkapnya ada di http://bit.ly/H2Za0p

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: