RSS

Laskar Pelangi: Live from Indonesia

19 Oct

 

September 2011, saya harus ke Jakarta. Saya harus menunaikan tugas mulia : mengantar berkas akreditasi untuk prodi tempat saya mengajar. Pukul 18.00, saya menaiki pesawat ke Yogya, siap pulang ke kampung halaman tercinta. Tanpa diduga, Allah Memberikan saya kursi tepat di samping Bapak Rochmat, Guru Fisika saya di SMU 3 dulu. Sekarang beliau menjadi penilik sekolah untuk proses akreditasi SMA di Indonesia.

Sepanjang jalan, Pak Rochmat menceritakan pengalaman beliau berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya takjub mendengar kisah-kisah beliau. Betapa, Indonesia negeri yang kaya ini, ternyata memiliki daerah-daerah yang harus berjibaku untuk menegakkan pendidikan. Jangan berbicara kualitas yang diukur dengan Ujian Akhir. Berhasil menyelenggarakan pendidikan pun sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri menurut saya.

Kisah pertama tentang sebuah daerah di Sulawesi Utara. Menurut saya, ini daerah sudah pantas dicoret dari daftar “anak” provinsi Sulawesi Utara sebab jauhnya jarak dari ibukota. Setelah tiba di Ibukota, Pak Rochmat harus menempuh perjalanan darat selama tujuh jam, kemudian ditambah perjalanan laut dua jam dengan perahu kecil. Sampai di pantai seberang, masih harus dilanjutkan dengan lima belas menit berjalan kaki untuk mencapai sekolah di kaki bukit itu. Di daerah ini, ada sebuah SMA yang rutin menyelenggarakan pendidikan. Jangan samakan pendidikan di sana dengan Yogyakarta, di mana fasilitas pendukung pendidikan begitu mantap. Atau Jakarta yang memiliki sekian banyak sekolah berstandar internasional. Pendidikan di daerah Sulawesi Utara coret ini berjalan dengan sangat bersahaja…

Kisah kedua, sebuah sekolah di pinggiran Bangka Belitung. Sebagai sebuah provinsi kepulauan, wajar jika transportasi utama yang menghubungkan antar pulau di Bangka Belitung adalah perahu. Namun, kisah Pak Rochmat tentang sekolah di daerah ini dan para gurunya mengenalkan bayang kepahlawanan tersendiri dalam benak saya. Betapa, para guru yang kebanyakan dari pulau lain, harus menempuh dua jam naik perahu kecil ke sekolah tempat mereka mengabdi. Jika cuaca buruk, mereka tidak bisa sampai ke tujuan; entah berputar, entah berhenti di mana. Semoga tidak ada dan tidak akan pernah ada kecelakaan kapal yang membawa guru-guru mulia ini. Jika cuaca buruk terjadi selepas jam kerja, mereka tidak dapat pulang ke rumah; bertahan tinggal di sekolah yang apa adanya itu. Jelas, tidak ada fasilitas macam boarding school yang jamak kita temui di Jawa.

Saya lupa kisah ketiga berasal dari daerah mana. Rasa kantuk sudah menyergap saat itu :D. Yang saya ingat dengan pasti adalah betapa di daerah ini, listrik hanya menyala pukul 8-14, DUA HARI SEKALI! Berarti, dalam sepekan hanya 18 jam listrik menyapa masyarakat di daerah ini. Lalu belajarnya? Para pelajar harus memaksakan diri untuk belajar dengan penerangan tradisional. Untuk penerangan saja susah. Apalagi untuk mengakses bahan-bahan tambahan dari internet, nge-print makalah, membuat powerpoint atau film. Mereka tidak mengenal itu semua.

Keterbatasan demi keterbatasan ini membuat saya tercenung. Seakan sedang mendengarkan penuturan kisah lain dalam buku Laskar Pelangi. Perjuangan para guru, perjuangan para murid, perjuangan masyarakat. Sekaligus ignorancy kita. Mereka memanfaatkan apa yang ada untuk belajar, sementara kita seringkali tidak memanfaatkan fasilitas yang kita miliki secara maksimal. Bisa jadi, kalau adu kemampuan alami otak, rekan-rekan di sana tidak kalah dengan kita. Namun akibat minimnya sarana dan prasarana itu, mereka tidak dapat berkembang sebagaimana seharusnya. Sementara, kita yang memiliki sarana dan prasarana, enggan mengembangkan wawasan dan pengetahuan.

Untuk menyelesaikan masalah ini tentu tidak segampang mengetikkannya di lembar catatan facebook. Tapi setidaknya, kita bisa memulai perubahan dengan mensyukuri fasilitas pendidikan yang kita miliki dan mencerdaskan diri sendiri dengannya. Setelah itu, ketika kita sudah bekerja, mari sisihkan sebagian penghasilan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Saya kagum dengan inisiatif beberapa teman. Mereka mengumpulkan sebagian penghasilan untuk membantu para pelajar membayar biaya sekolahnya. Ini dilakukan bukan oleh sebuah perusahaan ternama, bukan oleh seorang tokoh di Indonesia yang telah mapan dalam kehidupannya. Tapi, ini dilakukan oleh sekelompok anak-anak muda yang baru saja lulus dan mulai bekerja. Subhanallah, jika ada banyak orang seperti mereka, mungkin masalah pendidikan di Indonesia bisa teratasi dengan lebih mudah.

Wallahu’alam.

~tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah!~

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2013 in Perjalanan, Renungan

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: