RSS

Apalah Arti Sebuah Golput?

22 Oct

Komen seorang sahabat di note saya terdahulu menggelitik saya untuk membuat tulisan tentang Golput πŸ˜›

Dalam pilihan strategi, ada strategi yang sifatnya aktif (contending, mediating, problem solving) ada pula yang tidak aktif. Strategi inaction (tidak melakukan apapun) dan withdrawl (mundur dari medan negosiasi) merupakan dua strategi yang pelakunya secara sengaja tidak bergerak aktif. Dalam perhitungan pelaku, dengan bersikap pasif, ia akan mampu menciptakan alternatif perolehan baru yang lebih bagus daripada peluang-peluang perolehan di meja perundingan.

Dalam “medan” pemilu, pemilih dihadapkan pada beberapa opsi tindakan, yang secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok: memilih (aktif) dan tidak (pasif). Masing-masing opsi diyakini mampu menyuarakan kepentingan sang pemilih, sehingga memilih atau golput dianggap sebagai strategi yang “viable” untuk dilakukan.

Dalam tulisan ini, saya berpendapat bahwa golput bukanlah strategi yang viable untuk dilakukan. Syarat strategi agar viable, adalah:

  1. mampu menyuarakan kepentingan pelakunya
  2. mampu menghadirkan posisi yang berbeda

Dalam kasus pemilu, golput menjadi “mandul” dalam menyuarakan kepentingan dan posisi pelakunya karena ada satu cacat besar dalam sistem pemilu: tidak ada batas minimum partisipasi untuk menentukan keabsahan pemilu.

Dalam pemilu, suara golput adalah suara yang terbuang. Misal dalam sebuah pemilu 99% golput pun, pemilu tetap akan sah dan pemenangnya ditentukan oleh 1% yang memilih.

Ini jelas berbeda dengan sidang parlemen, yang memiliki batas minimum partisipasi sehingga dinyatakan sah. Dalam sidang parlemen, langkah satu kelompok politik untuk memboikot sidang (tidak hadir, keluar dari forum, protes dsb) menjadi penting. Jika jumlah mereka cukup banyak, kelompok protes ini dapat memaksa terjadinya deadlock dengan terus-menerus menunda sidang. Sikap withdrawl mereka ini secara lantang menyuarakan kepentingan mereka sekaligus memberikan peluang perolehan baru; pada satu titik pihak lawan akan tidak bisa menerima penundaan, dan “terpaksa” berkompromi.

Ini kisah nyata di Indonesia; saya teringat ada beberapa kelompok politik yang “menyandera” rapat di parlemen dengan berulang kali tidak hadir, sebagai bentuk protes terhadap kelompok politik lain yang dinilai “terlalu keras” dalam mengawal anggaran πŸ˜›

Nah, ketiadaan batas minimum partisipasi dalam pemilu tentu harus diperhatikan oleh pemilih. Alih-alih menjadi sikap protes dan “menyandera” pihak lawan, golput justru secara tidak langsung mengukuhkan status quo. Jika niatnya memang ingin “menghukum” status quo, maka memilih lawan yang paling berpeluang menjadi oposisi adalah protest vote yang paling tepat (menurut saya). Tidak seperti golput, suara protes ini masuk dalam rekap perhitungan dan akhirnya akan menentukan hasil pemilu.

Misalnya, dalam sebuah tempat ada 1000 orang dengan tiga partai yang bertarung di pemilu.

Partai A adalah partai berwatak jahat. Pendukungnya 350 orang.
Partai B adalah partai hura-hura. Pendukungnya 300 orang.
Partai C adalah partai anak bawang. Pendukungnya 250 orang.
Masih ada suara yang protes, 100 orang.

Idealnya 100 orang itu buat Partai D. Tapi jika tidak bisa, apa pilihan mereka?

Jika golput, maka yang akan menang adalah Partai A berwatak jahat yang musuh masyarakat (setidaknya, musuh 100 orang itu). Partai A akan mendapatkan 350 dari 900 suara (~40%). Bisa menguasai parlemen!

Tapi jika 100 orang itu memilih Partai B hura-hura, maka mereka bisa menghukum A dengan mengalahkan A dan memenangkan B (40%)! Perolehan suara Partai A akan 350 dari 1000 suara (35%).

Bahkan jika misalnya protest vote itu tidak sepenuhnya ke Partai B, namun terbagi ke B dan C, maka tetap saja A akan “terhukum” dengan turunnya prosentase suaranya (dan ini bisa berakibat pada hilangnya kursi di suatu dapil etc dll).

Perhitungan semacam ini menjadi sangat penting untuk dipahami. Parpol status quonjika menghadapi resistensi yang terlalu kuat, bisa menawarkan alternatif golput ke masyarakat. Dengan demikian, suara masyarakat akan terbuang, tidak menggemukkan lawan parpol status quo tersebut. Inti strateginya : golput is better than voting the others.

Sebaliknya, beberapa parpol yang ingin menggulingkan status quo akan berjuang untuk menyelamatkan setiap suara. Jangan sampai ada yanb golput. Karena itulah dulu pernah ada kampanye bersama PDIP-PPP demi membendung Golkar. Demokrat dan Partai Hijau pun sempat kampanye bersama untuk membendung Republik. Lebih baik memilih partai (non-status quo) lawan, daripada golput atau memilih status quo. Inilah hakekat aliansi antar-parpol, atau melimpahkan suara sisa ke parpol lain (masih boleh ga ya?)

Karena itu, rekan-rekan, saya kembali menggarisbawahi: selagi tidak ada batas minimum partisipasi dalam sistem pemilu/pilkada/pilpres kita, golput merupakan strategi yang tidak layak guna. Golput tidak akan mampu menyuarakan protes kita, dan setiap suara yang golput berarti akan terbuang sia-sia. Lebih parah lagi, bisa saja suara golput itu tanpa sengaja memenangkan suara Partai A berwatak jahat yang dibenci masyarakat.

Jadi, apalah arti sebuah golput? Banyak artinya, tapi bukan sebagai protest vote!

Advertisements
 
88 Comments

Posted by on October 22, 2013 in Renungan

 

Tags:

88 responses to “Apalah Arti Sebuah Golput?

  1. Iwan Yuliyanto

    October 22, 2013 at 6:27 am

    Saya sependapat bahwa golput memang merupakan strategi yang tidak layak guna. Bukan bagian dari agen perubahan kalo bersikap golput.

     
    • GanjarWY

      October 22, 2013 at 10:52 am

      Karena sistem pemilu tidak memperhatikan jumlah suara golput, jadi ya memang tidak bermanfaat Pak, bahkan sbg protest vote pun tidak. Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

       
  2. sulfie

    October 22, 2013 at 11:02 am

    tantangan bagi parpol Islam utk mendidik ummat agar sadar politik .. πŸ˜€

     
    • GanjarWY

      October 22, 2013 at 11:06 am

      tantangan bg parpol utk menunjukkan kredibilitas dan kapabilitas, biar rakyat semangat memilih πŸ˜€

       
  3. rizki

    October 22, 2013 at 12:10 pm

    Buat pencerahan, bagus! =)

     
    • GanjarWY

      October 22, 2013 at 12:43 pm

      terima kasih, Mas Rizki πŸ™‚

       
  4. kangridwan

    October 23, 2013 at 1:30 am

    Contoh itung2an suaranya memudahkan memahami inti dari tulisan ini, Pak Guru.
    Mantab!

     
    • GanjarWY

      October 23, 2013 at 10:09 am

      Terima kasih, Mas Ridwan!

       
  5. Lilo

    October 23, 2013 at 3:46 am

    Biasanya yg golput itu, mereka sudah terlanjur alergi terhadap politik, dan bilang: “halah, siapa yg memimpin sama saja. Semua korupsi, semua lupa sama rakyat.”
    Alih2 mencari info mengenai sosok pemimpin/partai terbaik di antara calon2 yang ditawarkan, mereka justru tidak peduli dgn siapapun yang memimpin.
    Padahal kondisi ini menunjukkan bahwa mereka yg tidak berkontribusi terhadap perbaikan wajah pemerintahan ya.
    Selain itu, suara hati mereka (yg seperti di atas tadi), tidak terdengar pula.
    Sayang sekali ya.

     
    • GanjarWY

      October 23, 2013 at 10:10 am

      Betul sekali, Mbak (Mas?) Lilo. Ini diperburuk dengan media yang lebih suka menampilkan sisi buruk (oknum) politisi daripada menampilkan sisi baik (oknum) politisi (yang lain).

       
  6. Irul

    October 23, 2013 at 3:49 am

    Hehe… Orang golput tidak selalu mengusung satu alasan yang sama. Sangat mungkin bila seluruh populasi orang golput dipetakan, akan nampak bahwa ada sederet pertimbangan yang berbeda dan bahkan antara satu pertimbangan dengan pertimbangan yang lain adalah saling berlawanan–meskipun sama-sama berstatus golput.

    Membaca tulisan ini, saya berpendapat bahwa pertimbangan rekan Ganjar Widhiyoga masih berkisar di wilayah politik saja. Lalu bagaimana bila kacamata politik-agama melihat fenomena “pemilihan umum” (atau bahasa Inggrisnya “election)?

    Saya menawarkan tulisan berikut ini untuk disimak dan ditelaah. Tidak menutup kemungkinan untuk dikaji dan dikritisi, karena pada dasarnya ini adalah diskursus ilmiah. Jadi sah-sah saja untuk membedah hasil “ijtihad” orang lain.

    Bila berkenan mengajak diskusi lebih jauh, saya bisa dihubungi via email: ieroel.m4r71n@gmail.com

    Tulisannya bisa dirujuk di:

    http://www.imranhosein.org/articles/islam-and-politics/85-can-muslims-vote-in-elections-of-the-modern-secular-state.html

     
    • GanjarWY

      October 23, 2013 at 10:11 am

      Terima kasih link-nya Mas. Saya menulis dari sisi ilmu strategi ^_^

       
      • Irul

        October 24, 2013 at 1:40 am

        Dan semoga sisi ilmu strategi yang Anda gunakan sebagai pendekatan bukan bermaksud men-sekulerisasi-kan agama dari dunia muamalah kita (ekonomi, pendidikan, hankam, termasuk juga politik). Sehingga mengukuhkan kedudukan agama sebagai bagian integral yang mengatur keseluruhan peri kehidupan manusia. πŸ™‚

         
  7. shin

    October 23, 2013 at 4:36 am

    Bagus tulisannya mas, tentang golput karena protes. Jadi penasaran, ada tulisan yang bahas golpot karena memang tidak mau memilih?

     
    • GanjarWY

      October 23, 2013 at 10:13 am

      “Enggan memilih” bisa jadi bentuk protes (karena menganggap politisi yang ada tidak mampu mewakili aspirasinya). Tapi bisa jadi “enggan memilih” adalah bentuk malas.

       
      • shin

        October 23, 2013 at 1:25 pm

        Emm.. Maksudnya enggan bukan karena malas maupun karena politisinya. Misal seperti sistem seperti komen dibawah ini.

        Jadi ya, seperti membahas komentar masnya lebih dalam, dalam bentuk artikel. Ehehe..

         
      • GanjarWY

        October 23, 2013 at 3:47 pm

        Oh, golput dan sistem yang buruk, begitu? Insha Allah semoga bisa saya tulis artikelnya πŸ™‚

         
  8. wigiyanto (@wigiyantz)

    October 23, 2013 at 5:57 am

    bagiku tetap golput is the best choice.
    memang tidak akan berarti dalam hasil pemilu, namun setidaknya berarti dalam tidak mensuport jalannya sistem yang busuk ini.

     
    • GanjarWY

      October 23, 2013 at 10:17 am

      Kalau menggunakan ilmu strategi, kita perlu lakukan analisis: apakah kandidat yang maju pemilu semua jelek?

      Jika YA, maka secara strategi golput dan memilih sama peluangnya utk mengubah sistem.

      Jika TIDAK, jika masih ada kandidat yang berkualitas seorang saja, maka berarti peluang perbaikan tidak sama dengan nol. Secara strategi, “memilih” berarti meningkatkan peluang perbaikan sementara “golput” berarti peluang perbaikan pada titik nol.

      Jadi, justru golput lah yang menyumbang terhadap bertahannya status quo.

       
    • shin

      October 23, 2013 at 1:21 pm

      Itu tidak akan berarti dalam jalannya sistem yang β€”menurut andaβ€” busuk ini. Toh, anda golput pun sistemnya masih akan jalan..

       
  9. eren

    October 24, 2013 at 12:52 am

    Pikiran Mudah Ditipu!
    Pernahkah Anda memperhatikan apa yg saat ini terjadi di Mesir?!
    <>
    lalu, menurut Anda siapa pemenangnya?
    Saya Tdk Golput tapi Saya Waspada,
    Ingat Revolusi Mesir!

     
    • GanjarWY

      October 24, 2013 at 1:05 pm

      Revolusi Mesir sepaham saya tidak terjadi karena golput, tapi karena kekuatan anti-demokrasi menumbangkan presiden terpilih. Silahkan baca beberapa tulisan saya di blog ini tentang Mesir (tag: Mesir)

       
      • eren

        October 27, 2013 at 2:28 am

        Ingat Revolusi Mesir…maksud saya suara minor/yg kalah mampu menghadang pemenang/terpilih, mengapa itu terjadi…?! kalo di Indonesia, msh Ingat Miss World atau gulat Sumo yg ajang pamer aurat..? Anda kemungkinan besar sdh mengetahui bhw mayoritas terbesar muslim tdk bisa mencegahnya…mengapa suara penolakan tdk berguna atau sama dengan Golput?!

         
  10. satria

    October 24, 2013 at 3:57 am

    golput akan menghimpun kekuatan untuk revolusi, bukan?

     
    • GanjarWY

      October 24, 2013 at 1:02 pm

      Belum tentu, Mas.

       
  11. An Maharani Bluepen

    February 20, 2014 at 9:09 am

    Saya pernah golput dan itu karena sebuah pilihan…

     
    • GanjarWY

      March 5, 2014 at 10:20 pm

      Semoga April mendatang memilih untuk tidak golput πŸ™‚

       
      • An Maharani Bluepen

        March 6, 2014 at 12:51 am

        iyaa, Pak.. terima kasih masukannya πŸ™‚

         
      • GanjarWY

        March 6, 2014 at 11:34 am

        Sama-sama. Semoga bermanfaat πŸ™‚

         
  12. berbagisecangkir

    March 5, 2014 at 4:05 am

    saya izin share catatan ini ya Pak πŸ™‚

     
    • GanjarWY

      March 5, 2014 at 10:21 pm

      Silahkan. Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

       
  13. bimz

    March 5, 2014 at 4:32 pm

    wah sudah sampai sejauh itukah Golput? mungkin kah para golput ini akan bersatu dan terbentuk menjadi sebuah partai Oposisi ?

     
    • GanjarWY

      March 5, 2014 at 10:21 pm

      Bagi saya, lebih bagus kalau membentuk parpol baru πŸ™‚

      Terima kasih sudah mampir.

       
  14. skynet

    March 6, 2014 at 11:14 am

    Apakah jalan untuk membuat perubahan harus lewat pemilu? Untuk pemilu depan kayaknya saya akan GOLPUT.. tidak ada calon wakil rakyat yang saya kenal, apa prestasi yang udah mereka buat bagi rakyat…

     
    • GanjarWY

      March 6, 2014 at 11:33 am

      Apakah ada jalan selain pemilu dalam sistem NKRI? Kalau ada, boleh berbagi?

      Kalau masalahnya belum ada caleg yang anda kenal, menjadi PR anda untuk mengenal caleg yang ada dan prestasi mereka. Hakekat kampanye kan itu πŸ™‚

       
  15. Elzam

    March 7, 2014 at 9:19 am

    Kajiannya lebih dari ini kalo membincangkan golput dalam tinjauan konsep politik-agama (Islam). Secara ringkas, proses rekrutmen memilih pemimpin untuk menduduki kekuasaan/kedaulatan atas rakyat tidak diberikan melalui voting suara terbanyak. Hasilnya relatif sekali dan cenderung beresiko pemegang kekuasaan tsb “cacat” komitmen dan moralitas. Hal demikian sudah banyak terbukti dalam praktik demokrasi dunia.

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:04 pm

      Pak Elzam mungkin bisa memberikan contoh proses regenerasi kepemimpinan tanpa voting suara terbanyak dan menghasilkan pemimpin yang bagus?

       
  16. Erin Cipta.

    March 8, 2014 at 12:35 am

    Seandainya saja orang yang memilih golput mengerti bagaimana rintangan.yang harus kami lalui untuk bisa memilih.
    Saya tidak bermasalah dengan para golput ini, mungkin se-tidak bermasalah-nya mereka dengan hidup mereka sendiri yang sudah baik tanpa perlu menitipkan harapan pada siapapun.
    Saya golongan orang yang harus titip suara bila ingin perbaikan.
    Saya pekerja migran di Taiwan, pekerja rumah tangga, dan terpaksa memilih dengan cara yang beresiko, yaitu mencoblos surat suara tidak di TPS, tapi melalui pos. Opsi ini diberikan oleh PPLN Taipei untuk memberi solusi bagi kami yang tidak bisa libur atau keluar rumah pada tanggal 6 April.
    Saya harus memilih, meski dengan cara yang rawan penyelewengan ini. Karena saya ingin perbaikan sistem yang melindungi pekerja migran di luar negeri.
    Saya percaya, meski politik kita carut marut, pasti ada caleg yang amanah di antara mereka.

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:07 pm

      Salut dengan Bu Erin dan upayanya membawa perbaikan bagi Indonesia!

      Saya juga memilih lewat pos, Bu, karena posisi saya sedang di UK dan tidak mungkin memilih langsung. Kita titipkan saja pada rekan-rekan Panwas agar dapat mengawasi jalan suara kita πŸ™‚

      Bismillah.

       
    • amran

      March 29, 2014 at 7:47 am

      betul sekali bu, simplenya gini, mau kapan lagi perubahan itu akan dimulai kalau tidak sekarang… akankah terpilih pemimpin amanah yang dimpi-impikan mereka yang golput, kalau TIDAK ADA yang mau memilih mereka… sedangkan paradigma masyarakat saat ini adalah golput dan wanipiro.. πŸ˜€ sepertinya impian mereka itu akan tetap jadi impian dan angan belaka.. sebab yang terpilih adalah mereka2 yang mau memberi “pemilih” tadi dengan uang/ampol/sembako.. kalau gak ngasih ya gak akan dipilih..

       
    • laily

      April 5, 2014 at 8:26 am

      Barokallahufim

       
      • GanjarWY

        June 2, 2014 at 1:16 pm

        Wa iyyaki

         
  17. Mulki

    March 11, 2014 at 8:39 am

    tulisannya bagus, untuk strategi pergantian rezim. tapi tidak untuk sistem. krn pemilu pada hakekatnya hanya berbicara tentang “siapa yg berkuasa”.

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:10 pm

      Memang konteks pemilu adalah pada pergantian rezim, Pak Mulki.

      Kalau pergantian sistem, ya pemilunya sendiri bagian dari sistem (demokrasi). Mungkin ada saran, sistem seperti apa yang lebih baik?

       
  18. indro

    March 12, 2014 at 12:09 am

    ijin share mas….
    tapi gini mas, opini saya sendiri, jika sudah terbangun pendapat di masyarakat, bahwa semua partai politik itu sama aja, sehingga memilih pun sama saja , tak ada guna sama sekali, akhirnya golput yang dilakukan, ini pengamatan saya langsung di sekitar saya…

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:11 pm

      Silahkan, Pak Indro.

      Masalah terbesar memang pada opini yang berkembang di masyarakat bahwa “semua parpol sama.” Ini terbentuk dari berita di media juga yang kadang “gebyah uyah”, memukul rata semua parpol.

      Harusnya media memiliki peran sebagai pembeda: menunjukkan pada masyarakat mana parpol/caleg yang baik dan mana yang tidak. Bukan justru mengaburkan 😦

       
  19. Jumalan Palvelija

    March 12, 2014 at 6:21 am

    Sederhana. Memilih adalah sebuah hak. Tidak memilih juga sebuah hak. Ada juga orang yang berpandangan: jika ikut serta dalam pemilu maka berarti juga mendukung sistem yang busuk ini.

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:13 pm

      Betul Pak Jumalan, memilih atau tidak memilih adalah hak.

      Saya kemudian mengajak melihat memilih atau tidak memilih dalam kacamata kewajiban sosial dan bernegara, bukan sebagai hak πŸ™‚

      Kalau yang dipilih orang yang baik, jujur dan amanah, bagaimana mungkin itu mendukung sistem yang busuk?

      Kalau ternyata golput tidak memiliki imbas apapun, bukannya tidak memilih justru mendukung sistem yang busuk?

       
      • amran

        March 29, 2014 at 7:52 am

        penceramah sholat jum’at pernah berkhotbah seperti ini :

        pempimpin yang akan hadir, adalah cerminan apa yang diproyeksikan masyarakat sendiri, contoh, bila rakyat meminta2 uang pamrih saat pemilihan, yang terpilih adalah pemimpin yang akan memnfaatkan uang untuk membungkam rakyatnya, masyarakat yang tidak peduli akan pemimpin yang akan terpilih, maka yang hadir adalah pemimpin yang tidak amanah dan tidak peduli dengan rakyatnya..

        diakhir khotbah, ustadz menyampaikan intinya : “Akankah masyarakat peduli untuk berpartisipasi dalam menentukan nasib negara ke depan dengan menyerahkan hasilnya kepada “Ridho” Allah SWT..

        Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu sendiri tidak berniat untuk mengubahnya..

        Wallahualam.. πŸ˜€

         
  20. uulinnuhaz

    March 12, 2014 at 10:04 am

    saya menyayangkan jika masyarakat yang memilih untuk golput seolah dianggap tak punya aspirasi. alangkah bijak ketika orang2 yg memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya dlm pilpres atau pileg ini dipetakan terlebih dahulu, kenapa mereka sampai bersikap demikian. apatis kah, atau sebenarnya mereka memiliki kriteria tersendiri untuk seorang pemimpin. dan ketika apa yang menjadi kriteria mereka ternyata tidak dimiliki oleh satupun parpol atau caleg, ya jangan salahkan orang2 yang tidak memilih tsb, tapi salahkan parpol dan para caleg yang ada, mengapa dari satupun mereka belum/tidak bisa sesuai/memenuhi kriteria yang diinginkan oleh masyarakat.. cmmiw πŸ™‚

     
    • GanjarWY

      March 13, 2014 at 2:15 pm

      Betul, Pak/Bu Uulinnuhaz. Ada yang tidak bisa memilih karena masalah administratif (tidak terdaftar di DPT, sedang keluar kota di hari H dsb). Namun tulisan ini menyoroti rekan-rekan yang sengaja tidak memilih karena menganggap “memilih atau tidak sama saja.” Pada kenyataannya, tidak memilih justru mendukung status quo πŸ™‚

       
  21. uulinnuhaz

    March 12, 2014 at 1:53 pm

    maksud saya ‘cmiiw’ πŸ™‚

     
  22. wachid nugroho

    March 14, 2014 at 9:34 am

    ijin share mas, tambah sukses nih ngejar s3 mpe inggris, dulu kita oernah bersama di masjid mardhiyah…

     
    • GanjarWY

      March 20, 2014 at 10:18 am

      Silahkan, Pak Wachid. Iya ini, bertualang menuntut ilmu. Mohon doanya nggih semoga semua lancar, sd lulus dan bisa terus berkontribusi πŸ™‚

       
  23. gendonesia

    March 14, 2014 at 1:57 pm

    Menurut saya fenomena golput di Indonesia memang bukan sebagai protest vote karena masyarakat bukan mau memboikot pemilu. Melainkan lebih karena masyarakat merasa tak terwakili dan tersakiti dengan pengalaman memilih sebelumnya, ketika sang calon ternyata mengkhianati kepercayan yang diberikan.

    Kalo ikut logika tulisan mas Ganjar, siapa yang bisa menjamin partai anak bawang (PAB) ga kalah busuk dengan partai lainnya? kursi partai lain berkurang juga ga ngefek-ngefek amat karena manuver parpol yang jumlahnya lebih dari jari tangan kita hanya para elit partai itu dan Tuhan yang tahu. pada akhirnya memilih atau tidak memilih negeri ini akan tetap dalam status quo selama sistemnya di Indonesia belum beres.

    akhirnnya dengan pikiran sederhana saya (dan mungkin jutaan warga Indonesia lainnya), sama-sama tidak mengubah keadaan mending saya datang dan melakukan praktik merusak surat suara biar surat suara saya ga dipermainkan oknum tak bertanggungjawab daripada saya ikutan nyoblos yang akhirnya cuma bikin sakit hati ketika tahu calon/partai yang saya coblos ternyata serigala berbulu domba…

     
    • GanjarWY

      March 20, 2014 at 10:17 am

      Memilih serigala berbulu domba memang resiko, Pak. Untuk itu kita sebagai pemilih perlu menelisik lebih dahulu rekam jejak caleg. Jangan patah semangat, insha Allah masih banyak domba sungguhan kok! πŸ˜€

       
    • amran

      March 29, 2014 at 7:56 am

      pertanyaan saya sedikit aja pak? apakah ada orang yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan? akan kah kita menyalahi Qodho dan Qadar? akankah kita mendahului keputusan Allah??? πŸ˜€

       
      • GanjarWY

        June 22, 2014 at 6:52 pm

        Tidak ada yang bisa memastikan takdir Allah, Pak. Tapi kita bisa melakukan educated guess, tebakan berbasis data/pola ilmiah. Insha Allah itu tidak melangkahi Qadarullah, jika kita tidak meyakini tebakan kita sebagai sesuatu yang mutlak.

         
  24. Ahmad Rosidi Helmi

    March 16, 2014 at 1:01 am

    izin copas jadi rubrik opini ya mas Ganjar, mencerahkan!

     
    • GanjarWY

      March 20, 2014 at 10:15 am

      Silahkan, Pak. Mohon maaf bahasanya mungkin terlalu ringan dan kurang formal πŸ˜€

       
  25. Kahfi

    March 17, 2014 at 3:21 pm

    Untukmu yang Golput ya silahkan, dan untukmu yang memilih juga silahkan. Kalian sama-sama berkontribusi untuk Indonesia kok. Yang Golput berkontribusi dalam penegakkan huku di Indonesia, karena ada aturannya ttg itu. Yang memilihpun sdh berkontribusi untuk membantu jalannya demokrasi yang baik diIndonesia. So, tentukan pilihanmu sekarang, golput memang bukan masalah tapio ia juga bukan solusi. Jadi mengapa harus memikirkan sesuatu yg bukan solusi sedangkan solusi itu sdh ada didepan mata. Mereka yang golput dan menyalahkan sistem itu sebenarnya mereka itu “malu-malu” saja. Karena mereka hidup berdampingan atau bahkan hidup menjalankan undang-undang yang ada ex PNS, Pernikahan, Lalu Lintas. Kalau mereka mau jujut, seharusnya mereka buat sajalah negara sendiri, cari wilayah sendiri atau bahkan ke pluto aja tuh masih kosong sistemnya .. hhe

    Hukum itu bisa berdiri tanpa “negara” kok … ^_^

    Tulisannya mengedukasi saya, bahasanya sederahana namun penuh makna.
    Salam Ukhuwah dari saya …

     
    • GanjarWY

      March 20, 2014 at 10:13 am

      Terima kasih sudah mampir, Pak Kahfi. Salam ukhuwah πŸ™‚

       
  26. hady

    March 29, 2014 at 3:36 am

    Saya sangat setuju pak Ganjar.. menurut sy, dengan sistem pemilu kita yg seperti ini (tidak ada kursi khusus untuk golput), bagi yg golput jgn anda beranggapan TIDAK MEMILIH SIAPAPUN, NAMUN ANDA SEBENARNYA MEMILIH DAN SETUJU SEMUANYA… karena anda golput, maka anda setuju si bejat jd aleg/presiden, karena ada golput si koruptor jadi aleg dsb.. karena anda tidak punya pilihan maka anda memilih semua… jadi harusnya seorang golput berkata “silahkan siapapun yg menang sy setuju” bukan mempresepsikan “sy tidak setuju dgn anda krn sy tdk memilih”. Sadarlah yg golput.. nasib negara ini ada di tangan anda… tidak mungkin anda tidak mengenal satupun caleg yg ada… krn ketika anda golput maka anda telah memenangkan yg tidak ada kenal bahkan mungkin dia adalah musuh anda”. Bukan begitu Pak Ganjar?

     
  27. rahmatt

    March 29, 2014 at 7:32 am

    setuju sangat, Pak
    kalau ada golput yang terbentuk karena idealisme (menganggap tak ada partai yang bagus), saya lebih mengapresiasi kalau mereka memperjuangkan idealismenya dengan ikut dalam pertarungan politik dengan membentuk partai yang sesuai dengan ideologinya

     
  28. Mas Sunar

    March 29, 2014 at 4:56 pm

    Klo kasus di tempat saya yang tidak memilih memang rata-rata tdk di rumah merantau, karena di desa, jd nggak sempat pulang. tp jk di kota nggak tahu saya.
    justru GOLPUT yang ada malah model baru GOLongan Penerima Uang Tunai.
    juga yang lain GOLPUT : GOLongan PUTus asa, seperti alasan2 di atas, menganggap memilih atau tidak sama saja

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:51 pm

      Waduh, semoga tidak golput untuk Pilpres nanti πŸ™‚

       
  29. Rusli

    March 31, 2014 at 6:21 am

    Golput biasanya klu utk pemilih di kampung2 dan pasar2 biasanya terjadi karena malas datang ke TPS dan tidak melek politik. Tetapi Pilihan Golput secara sadar (biasanya oleh orang terdidik dan melek politik) untuk kondisi darurat seperti di indonesia adalah pilihan orang yg apatis,berlagak pejuang tapi patut dicurigai sebagai komprodor pihak2 tertentu.

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:51 pm

      Bisa jadi, memang ada banyak alasan untuk golput.

       
  30. Reza M Kusuma

    March 31, 2014 at 5:17 pm

    Mengartikan golput dengan pendekatan strategi jelas akan bias, ada paksaan asumsi bahwa mereka yang memilih golput bermaksud untuk melakukan aksi ‘boikot’ ataupun menyuarakan kepentingan berbeda. Padahal belum tentu juga, ada berbagai alasan mengapa memilih golput. Tidak bisa juga gebyah uyah dalam melihat golput, seperti halnya anda mengkritik media.
    Saya membayangkan sebuah kondisi dalam tulisan anda, dimana 99% golput, dan hanya 1% yang memilih. Apa iya benar, bahwa tidak akan terjadi apa-apa? Saya khawatir anda sendiri tidak mampu menunjukan contoh realitasnya..

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:50 pm

      Contoh di Mesir adalah contoh terbaru pemilu dengan tingkat partisipasi yang sangat rendah.

       
  31. Anzar

    April 1, 2014 at 12:40 am

    Karna status masih berupa ‘hak’ ,maka semua dikembalikan ke rakyat.
    Tp ketika ada yg memilih golput (dengan berbagai alasan/faktor) ya itu hak mereka.
    Hehehe

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:50 pm

      Sepakat, itu hak mereka. Saya mengajaknya untuk melihat dari sudut pandang “kewajiban”.

       
  32. hilfans

    April 1, 2014 at 4:27 am

    Wah, terima kasih atas pencerahannya Pak. Dibenak saya sebelumnya dengan banyaknya golput, (anggap 60%) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem salah, sehingga perlu dibenahi dan berarti hasil pemilu tidak valid, namun berarti akan ada kekosongan pimpinan dan bisa berakibat chaos, tapi ternyata 1% pemilih tetap valid ya?

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:49 pm

      Terima kasih sudah mampir, Pak πŸ™‚

       
  33. kemas yakub

    April 1, 2014 at 5:06 am

    izin share ya pak. terima kasih

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:49 pm

      Sama-sama, Pak. Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

       
  34. budi andrianto

    April 1, 2014 at 10:36 pm

    Kasih suara ke pengangguran yg sedang berusaha jadi boss lewat sistem pemilu? Sepertinya pilihan terbaik golput deh, sekalian tanggal 9 April kita anggap saja hari libur, hihihihi

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:48 pm

      Hari pemilu bukannya libur ya?

      Tapi kalau pemilu jadi bisnis, ga bagus juga menurut saya. Nanti jadi seperti artikel ini: http://wp.me/p405wK-1z

       
  35. dedi

    April 2, 2014 at 8:24 am

    Menarik. tapi ada yang masih mengganjal.
    Pertama: Ilustrasi bahwa kalau 99% suara golput maka pemilu tetap sah. Apakah sesederhana itu? Dari pengalaman saat orde baru, golput diposisikan sebagai “musuh negara”. dan bukan rahasia lagi kalau para golput-er akan mendapat perlakuan diskriminatif dari birokrat. Kalau memakai logika tulisan di atas, harusnya pemerintah saat itu, status quo, merasa senang dengan adanya golput. Lebih banyak lebih baik.tapi kenyataannya tidak. Perkiraan saya, setelah melakukan penerawangan, Pemerintah dan DPR tetap butuh legitimasi dari rakyat untuk misalnya minjem duit ke para bannkir dunia dan para bankir akan mikir seribu kali buat ngasih pinjaman ke pemerintah yang dipilih oleh kurang dari 1% pemilih (maksimal 1 % jika dia menang mutlak).
    Kedua Jika golput pilihan yang jelek (mendukung status quo) kenapa partai dibwah IM mesir, dan beberapa partai salafi mesir memutuskan untuk memboikot referendum konstitusi dan pemilu presiden (menjadi golput=mendukung status quo)? bahkan ulama sekelas yusuf qardhawi menyerukan untuk melakukan boikot Perkiraan saya, sekali lagi ini perkiraan, ada dua kemungkinan alasannya. pertama para petinggi partai di mesir belum baca tulisan ini (atau yang sejenisnya) atau kemungkinan kedua Golput tidak selamanya jelek/tidak jelek-jelek amat karena ada banyak tokoh dunia yang emakai strategi itu.
    Jadi saran saya jangan galak-galak sama golput. menyebut mereka sebagai orang malas, Tidak mau berjuang dan sebagainya apalagi menyebut golput haram (berdosa) karena pada kondisi tertentu golput bisa jadi “sunnah” kalau tidak “wajib”.

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:45 pm

      Menggunakan contoh Mesir, IM memboikot pemilu pun, sekarang As-Sisi menjadi pemenang sah pemilu. Jadi logikanya tetap sama.

      Kenapa IM memboikot? Karena IM merasa sudah tidak mungkin berjuang lewat pemilu yang penuh manipulasi. Sementara di Indonesia, insha Allah pemilunya lebih berkualitas.

       
  36. Redma

    April 8, 2014 at 4:14 am

    Klo mau tau kenapa rezim Orde Baru bisa runtuh dan tidak dibela rakyat yang memilihnya… tanya sama para aktivis Golput pada waktu itu.

     
    • GanjarWY

      June 22, 2014 at 6:44 pm

      Sebenarnya Orba dibela oleh pendukungnya… Lihat saja Pam Swakarsa bentukan Jenderal Wiranto saat itu πŸ™‚

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: