RSS

Kekerasan terhadap umat yang beribadah

02 Jun

Saya membaca berita kekerasan terhadap umat yang sedang beribadah di Yogyakarta dan merasa miris. Pola yang sama kembali berulang, dan kali ini lebih memilukan karena terjadi di Yogyakarta yang acap kali ditonjolkan sebagai “kota toleransi dan harmoni” (terutama oleh warganya dan sebagian pendatang yang pernah tinggal di Yogyakarta). Dengan penduduk yang majemuk dari berbagai suku, dari pelosok Indonesia, Yogyakarta memang relatif miskin konflik identitas. Inilah yang menyebabkan kekerasan lalu menjadi mengundang banyak penyesalan.

Kekerasan terhadap umat yang beribadah merupakan pola yang berulang di Indonesia. Tidak hanya menimpa kelompok minoritas, kekerasan ini juga harus ditanggung oleh masyarakat Muslim. Menjadi mayoritas ternyata tidak melindungi umat Islam dari tindakan tidak menyenangkan saat akan beribadah. Lihat saja betapa banyak oknum yang melarang Muslimah mengenakan jilbab. Mulai dari pelajar di Bali yang dilarang oleh perangkat sekolah [1], pekerja yang berhadapan dengan atasan, sampai para polwan yang sampai saat ini belum mendapat aturan yang mengizinkan mereka mengenakan seragam berjilbab.

Saya melihat ada beberapa kepentingan dalam kasus-kasus semacam ini. Yang pertama adalah hak individu untuk beribadah menurut ajaran agamanya. Ini merupakan hak yang didamba setiap orang dan telah dilindungi oleh UUD 1945 pasal 29. Yang kedua adalah hak masyarakat untuk tenang dan nyaman. Masyarakat di sini dapat berupa piranti sosial (Tetangga, Desa, Banjar, Kelurahan, dan sebagainya) ataupun institusi profesional (Rumoah Sakit, Sekolah, Perguruan Tinggi, Polri, dan sebagainya).

Dalam masyarakat yang homogen, hak individu dan hak masyarakat bisa jadi seiring sejalan, atau bahkan identik sama. Di kampung yang penduduknya homogen Muslim, aktivitas membangunkan orang untuk beribadah sahur dengan jalan keliling kampung sambil memukul kentongan mungkin dianggap sebagai hiburan, bukan gangguan. Di kampung yang penduduknya homogen pecinta musik cadas, pentas musik cadas semalam suntuk adalah momen kebersamaan yang dinantikan.

Dalam masyarakat yang heterogen, perbedaan kepentingan antara individu dan masyarakat bisa saja terjadi. Bagi seorang Muslim yang tinggal di daerah mayoritas berpenduduk Hindu, mengumandangkan adzan saat Nyepi merupakan hal yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat. Mengenakan jilbab bisa dianggap mengganggu solidaritas dan persatuan. Bagi seorang Kristen yang tinggal di daerah mayoritas berpenduduk Muslim, melakukan kebaktian di rumah bisa jadi bertentangan dengan kenyamanan tetangganya. Hal inilah yang berulang terjadi di Indonesia. Seharusnya, konflik-konflik semacam ini dapat diselesaikan dengan komunikasi. Jika proses komunikasi gagal, maka yang ditempuh adalah jalur hukum [2].

Proses komunikasi inilah yang acapkali gagal terjadi di Indonesia, saat kepentingan individu terkalahkan oleh kepentingan masyarakat. Pada kasus umat yang beribadah ini, jika ada individu minoritas yang menginginkan beribadah dan masyarakat menolaknya, maka bisa jadi berujung pada intimidasi atau kekerasan fisik. Kasus-kasus yang saya sebutkan di atas adalah contoh nyatanya. Jikapun dibawa ke ranah hukum, maka proses hukum pun tidak akan dapat membantu banyak.

Apakah harus selamanya demikian? Tentu tidak. Hak untuk menjalankan ibadah adalah hak asasi bagi semua individu. Meski demikian, hak masyarakat juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Untuk itu, proses hukum lah yang seharusnya diutamakan. Hukum di Indonesia harus memberikan jaminan terhadap ekspresi keagamaan seseorang. Di saat yang sama, hukum harus memberikan saluran bagi individu atau masyarakat untuk menyuarakan keberatannya. Yang terpenting, hukum harus berlaku sama bagi semua kasus dengan karakteristik yang sama. Jika aturan untuk mendirikan gereja di Jawa dan Sumatera dipermudah, maka aturan untuk mendirikan masjid di Indonesia Timur pun dipermudah. Jika kebaktian harus dihormati masyarakat, maka mengenakan jilbab pun harus dihormati masyarakat.

Sedikit banyak, inilah yang saya amati selama di Inggris. Inggris adalah negara yang liberal dan sekuler. Hak individu untuk memeluk agama, untuk tidak memeluk agama dan mengekspresikan pandangan itu dijamin hukum. Masyarakat pun mendapatkan perlindungan dari diskriminasi akibat identitasnya. Jika ada seorang Muslimah yang dipecat dari kerja karena mengenakan jilbab, kemungkinan besar pengadilan akan melindunginya. Namun di saat yang sama, mendirikan masjid di sini tidak mudah. Ada serangkaian izin yang harus dipenuhi sehingga city council bisa menerbitkan izin pendirian masjid. Itupun masyarakat masih dapat memprotes pendirian masjid.

Peletakan batu pertama di Masjid At Tauhid, Newcastle, UK (dekat rumah). Alhamdulillah tidak ada yang menentang 🙂

Terakhir, saya sangat berharap bahwa kekerasan di Yogyakarta ini dapat ditanggapi dengan bijak. Apalagi, mengingat saat ini Indonesia sedang memasuki “musim panas” menjelang Pilpres. Beberapa kali terjadi, kekerasan di Indonesia terjadi di sekitaran pelaksanaan hajat politik negara, sebagaimana bom di JW Mariott dan Ritz Carlton di tahun 2009 lalu (kemudian ada aktor politik yang mengaitkan bom JW Mariott dan Ritz Carlton dengan pilpres 2009. Artikel di blog berikut menyatakan ketidak setujuannya dengan pengaitan tersebut). Semoga proses komunikasi dan hukum di Indonesia berjalan semakin matang, dan kita semua menjadi insan yang lebih dewasa.

 

 

[1] Silahkan dukung petisi teman-teman PII Bali yang memperjuangkan hak pelajar di Bali untuk mengenakan jilbab di sekolah di sini.

[2] Kebiasaan di Indonesia mungkin mengedepankan proses komunikasi dan pendekatan informal. Kebiasaan di Inggris sepaham saya, jika ada perbedaan kepentingan antara individu dan masyarakat, maka jalan utama adalah mengajukan ke proses hukum.

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2014 in Renungan

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: