RSS

Debat Ketiga Capres: Politik Internasional dan Keamanan

22 Jun
Debat Ketiga Capres: Politik Internasional dan Keamanan

Debat calon presiden RI malam ini menghadirkan tema tentang politik internasional dan keamanan. Menarik mencermati bagaimana kedua calon presiden mengutarakan gagasan mereka, sebagai bagian dari evaluasi kita selaku warga masyarakat terhadap para calon pemimpin kita. Untuk kutipan pendapat saya sebelum debat (dimuat di ANTARA), silahkan klik ini. Untuk komentar lengkapnya, silahkan klik ini.

 

Di dalam visi dan misinya, Prabowo memberikan pernyataan singkat terkait politik luar negeri yang ia rencanakan:

“Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif, tegas dalam melindungi kepentingan nasional dan menjaga keselamatan rakyat Indonesia di seluruh dunia, dan meningkatkan peran serta Indonesia dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.”

Visi tersebut dalam hemat saya adalah visi yang standar bagi seorang calon Presiden RI. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Terlebih, penjabaran visi tersebut terserak ke beberapa bagian lainnya. Misal point perlindungan TKI masuk ke pembahasan Ekonomi Kerakyatan. Pengaturan demikian ini menimbulkan pertanyaan: “bagaimana semua itu akan dicapai?”

Visi Jokowi tersusun berdasarkan bidang bahasan, dan masalah politik luar negeri masuk ke sub-pembahasan di Bidang Politik. Jokowi merumuskan rencana politik luar negerinya dengan cukup jelas, disertai dengan penjelasan mengenai apa yang ia maksudkan dan bagaimana secara umum strategi itu akan ia capai.

Pada debat 22 Juni 2014 ini, kedua kandidat presiden mengawali debat dengan menyampaikan paparan singkat terkait visi mereka dalam bidang politik internasional dan keamanan. Prabowo menyampaikan konsepnya sebagai berikut:

1) mengukuhkan nasionalisme dan kedaulatan teritorial Indonesia2) ketahanan nasional dimulai dari kesejahteraan dalam negeri3) penjagaan sumber daya alam Indonesia4) meneruskan politik thousand friends zero enemy

Sementara, Jokowi menyampaikan konsepnya sebagai berikut:

1) melindungi hak-hak TKI2) penjagaan sumber daya alam3) keamanan dan ketertiban regional.4) memperjuangkan kemerdekaan Palestina5) ketahanan nasional

Melihat visi kedua kandidat dan bagaimana kedua kandidat menyampaikan argumentasinya lebih jauh selama debat, saya memiliki beberapa penilaian yang hendak saya bagi di sini:

Prabowo

Prabowo mengemukakan visi ketahanan nasional yang di luar dugaan saya. Dalam benak saya, Prabowo akan menyampaikan visi ketahanan nasional ala wawasan nusantara, hankamrata dan sebagainya, di mana rakyat berkewajiban menjaga teritori dan menjadi bagian pengamanan nusantara. Ini sebuah visi yang standar akan dikeluarkan Prabowo, menurut saya, mengingat latar belakangnya sebagai jenderal di masa Orde Baru. Namun, ternyata Prabowo mengambil sudut pandang lain, yakni mengaitkan ketahanan nasional dengan kesejahteraan rakyat, sehingga meletakkan wacana ketahanan nasional sebagai hak rakyat dan kewajiban negara.

Ini sepaham saya justru wacana liberal citizenship yang banyak dianut negara-negara Barat, yang cukup jauh dari budaya militeristik, bukan wacana civic-republican citizenship yang menekankan pada kewajiban warga negara yang dulu Indonesia anut di masa Orde Baru. Kurang lebih perbedaan keduanya ada di gambar berikut [1]:

Image

Terlepas dari ketertarikan saya, ada kritik terhadap Prabowo. Selama debat, Prabowo berulang kali menekankan kesejahteraan ekonomi sebagai pangkal ketahanan nasional, sampai pada titik mengganggu menurut saya. Prabowo seharusnya cukup menyampaikan itu sekali di awal, kemudian menekankan lagi di tengah dengan perincian bagaimana mencapai kesejahteraan ekonomi itu. Ada dua kemungkinan menurut saya kenapa Prabowo menekankan ini berulang kali: karena itu merupakan passion-nya saat ini atau karena ia ingin menaikkan citranya sebagai negarawan sipil (sehingga sengaja mengurangi detail militer di pembahasannya). Apapun itu, pengaitan ketahanan nasional dan kemapanan ekonomi, serta penggunaan kata “bocor” saya nilai terlalu berlebihan di debat ini.

Jokowi

Visi Jokowi secara umum menurut saya standar, namun ia menyampaikan hal yang mengejukan bagi saya, yakni secara eksplisit mendukung kemerdekaan Palestina dan status Palestina sebagai anggota tetap PBB [2]. Ini tentu nilai plus besar bagi Jokowi, mengingat selama ini, saya pribadi khawatir terhadap komitmen Jokowi terhadap kemerdekaan Palestina.

Selama debat, Jokowi menyampaikan hal-hal yang menarik bagi saya, yakni: 1) penggunaan drone [3] untuk memantau perairan Indonesia, menjaga keamanan teritorial sekaligus keamanan sumber daya alam karena dapat memantau illegal fishing dan illegal logging [4]. Ini merupakan ide yang sangat bagus menurut saya karena bersemangat untuk menggunakan teknologi canggih dalam menjawab tantangan bangsa. Ide lain yang menarik dari Jokowi adalah penguatan industri militer dalam negeri untuk memproduksi alutsista. Tentu ini sangat penting mengingat alutsista adalah salah satu elemen utama militer kita dan sejatinya, Indonesia mampu memproduksi alat-alat militer canggih.

Meski demikian, saya memiliki kritik terhadap implementasi ide-ide Jokowi ini. Pertama, drone membutuhkan biaya besar [5], sementara Jokowi sempat menyatakan biaya drone murah. Kedua, drone membutuhkan satelit untuk menjalankannya. Namun Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia dapat membeli drone terlebih dahulu dan menggunakan satelit milik asing. Ini memang doable, namun justru membawa potensi bobolnya keamanan Indonesia. Ibaratnya mungkin seperti anak saya punya mobil-mobilan namun remote controlnya dipegang temannya. Begitu.

Untuk penguatan industri militer, pertanyaan moderator di awal debat tentang bagaimana Jokowi membangun industri militer nasional tanpa membuat panik negara tetangga juga belum dijawab. Ini penting, karena salah satu casus belli (sebab perang) adalah proses perlombaan senjata; saat satu negara meningkatkan kualitas/kuantitas senjatanya dan memicu kekhawatiran negara lain, yang kmudian meningkatkan kualitas/kuantitas senjatanya, dan memicu kekhawatiran negara pertama dan seterusnya.

Titik menarik dalam debat

Dalam debat, ada titik-titik yang menarik bagi saya:

Bagaimana mengambil kebijakan agar Indonesia disegani di kawasan; menjadi pemimpin di ASEAN?

Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia pernah jaya ketika memimpin KAA. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan poros maritim dunia akan membawa posisi Indonesia sebagai aktor penting di politik global.

Prabowo tidak setuju dengan strategi Jokowi menggunakan konferensi internasional (semacam KAA) sebagai sarana untuk meningkatkan wibawa Indonesia di dunia internasional.

Untuk poin ini, saya sependapat dengan Jokowi bahwa menggunakan konferensi, atau soft diplomacy, memang dapat menaikkan wibawa Indonesia di mata internasional. Inilah yang selama ini Indonesia lakukan dengan menggelar Bali Democracy Forum [6]. Pun, ketika Prabowo mengejar Jokowi dengan pertanyaan terkait sikapnya terhadap kekuatan asing yang mengklaim atau hendak menduduki wilayah Indonesia, Jokowi dengan tegas menyatakan akan melakukan segala cara dan “dibuat jadi rame.” Jawaban ini seakan menegasi pandangan sebagian masyarakat yang menilai Jokowi tidak bisa bersikap tegas.

Konflik di Laut China Selatan.

Jokowi berpendapat bahwa Indonesia tidak perlu terlibat pada konflik tersebut. Ketika Prabowo mengejar, Jokowi tetap menyatakan Indonesia tidak perlu terlibat.

Padahal, sebenarnya ada kepentingan Indonesia di sengketa ini, karena China telah memasukkan laut di wilayah Natuna sebagai wilayahnya. Meski ini tidak berarti serta-merta China akan menduduki Natuna, namun klaim semacam ini patut diwaspadai oleh pemerintah Indonesia. Bahkan Panglima TNI pun menulis tentang kasus ini sebagai bentuk kepedulian beliau. Menurut saya, respon Jokowi kurang kuat dalam kasus ini.

Pembelian tank Leopard.

Prabowo menyatakan bahwa pembelian tank Leopard adalah bagian dari perencanaan TNI AD, dan ada manfaat tank tersebut bagi Indonesia. Menurut Prabowo, tank tersebut dapat digunakan di sebagian wilayah Indonesia. Tank tersebut juga penting bagi Pasukan Garuda yang menjadi wakil Indonesia dalam misi perdamaian PBB. Jokowi menolak pendapat Prabowo dan menyatakan bahwa dalam pandangannya, Indonesia tidak perlu membeli tank Leopard.

Dalam hal ini, saya sependapat dengan Prabowo bahwa tank Leopard dapat bermanfaat untuk TNI AD. Yang lebih penting, sepaham saya Prabowo tidak ada hubungannya dengan kebijakan pembelian ini, jadi tidak relevan untuk ditanyakan ke Prabowo [7]

 

Kata Akhir

Yang saya sesalkan dalam debat ini adalah, tidak ada pandangan dan pertanyaan dari panelis. Dengan demikian, debat “terjebak” dalam struktur dialog Prabowo-Jokowi, tidak ada yang memberikan masukan yang berbeda pendapat atau dari sudut pandang yang lain sama sekali.

Sebagai contoh, ketika Prabowo menanyakan tentang apakah Indonesia perlu tentara cadangan dan Jokowi mengiyakan dengan menyatakan akan melatih menwa dan hansip, diskusi selesai sampai di sana. Jika saja ada tokoh yang peduli dengan human security atau hubungan sipil/militer, maka mungkin tokoh tersebut dapat menelisik lebih lanjut konsep kedua kandidat terkait “tentara cadangan” ini. Bagi saya pribadi, konsep “tentara cadangan” atau paramiliter perlu kita kaji dengan serius karena pada masa konflik, para anggota paramiliter ini dapat menjadi bola panas yang berbahaya. Tentu kita masih ingat bagaimana pembentukan Pamswakarsa di masa Wiranto menuai kekhawatiran, karena Pamswakarsa di satu sisi memiliki kewenangan “lebih” dibandingkan warga sipil biasa, di sisi lain tidak memiliki kode etik, disiplin dan alur komando yang jelas sebagaimana tentara profesional.

 

—-

[1] Gambar ini intisari dari thesis master saya, berjudul: Analisis Discourse terhadap Perkembangan Ide Kewarganegaraan.

[2] Saya banyak kaget malam ini 😀 Tapi kaget yang menyenangkan kok.

[3] Drone adalah pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jauh.

[4] Drone digunakan untuk memantau ya… hanya memantau. Eksekusi tetap harus menggunakan personel tentara. Kecuali kalau drone-nya mau di-kamikaze-kan, ditubrukkan ke perahu nelayan ilegal gitu. Tapi nanti biayanya membengkak..

Tambahan dari rekan yang bekerja di Taman Nasional Pulau Komodo:

Illegal fishing dipantau dgn drone membutuhkan biaya mahal krn luasnya perairan Indonesia..bagi kami pemangku kawasan di instansi (TN Komodo) yg bergumul lgs dengan pelaku illegal fishing..pendekatan preventif (penyuluhan, menciptakan alternatif pekerjaan) akan lebih rasional..political will dari Pemda, TNI, Polri dan multi stake holder terkait hal tsb sangat menentukan hasil nantinya..Sebagai contoh : adanya peredaran peluru tajam dari para pemburu itu dari mana? khan gak mungkin bikin manual dari rakyat sipil.

[Kalau drone untuk memantau illegal fishing yang dilakukan nelayan asing] itu lebih efisien mas (barangkali utk prioritas dalam penganggaran di APBN) demi keutuhan perairan NKRI terutama di perbatasan di Laut Cina Selatan krn disana sbg pintu masuk nelayan2 dari Vietnam, Thailand,dsb..Kalo di perbatasan dng Australia cenderung minim krn WN Australi jarang yg berprofesi sbg Nelayan…justru yg lebih banyak pelaku illegal fishing orang WNI..pemerintah Aus sangat konsen memperhatikan konservasi Biodiversitas di perairannya..beda klo rakyat kita..pokoknya apa yg bisa di ambil..disikat semua”

[5] Omong-omong masalah biaya, perlu dikaji juga berapa luas wilayah yang akan diawasi oleh drone ini, sebab daya jangkau drone terbatas. Ada drone yang hanya bisa berjarak dua kilometer dari pengontrolnya, ada drone yang lebih mumpuni dari itu (tapi tentu harga lebih mahal).

[6] Terlepas dari beberapa kritik yang menyatakan bahwa BDF tidak bermanfaat bagi Indonesia, saya berpendapat bahwa BDF penting dalam membangun citra Indonesia sekaligus sebagai internalisasi nilai demokrasi itu ke dalam diri pemerintah Indonesia. Dengan melakukan BDF, pemerintah tentu malu jika harus melakukan hal-hal yang melanggar nilai-nilai demokrasi. Inilah tahap internalisation of norms yang dikemukakan Berger dan Luckmann (1966), Finnemore dan Sikkink (1998) dan Risse dan Sikkink (1999).

[7] Menurut rekan yang suka belajar masalah persenjataan dan militer, pro-kontra tank Leopard ini sudah merebak sejak 2012. Bukan barang baru. Saking ramainya perdebatan, muncul istilah jamaah amblesiyah untuk mereka yang yakin bahwa geografis Indonesia akan ambles kalau tank Leopard lewat. Google it. You know you want to 🙂

 

 

 

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on June 22, 2014 in Renungan

 

Tags: , ,

3 responses to “Debat Ketiga Capres: Politik Internasional dan Keamanan

  1. Ngudi

    June 23, 2014 at 8:23 am

    Drone lebih murah pak, dari pesawat apapun.
    1 pesawat bisa beli 10 drone

     
  2. herlina

    June 25, 2014 at 5:15 am

    klo soal palestina insyaa allaah pak prabowo bukan sekedar slogan pak ganjar…tapi sudah ke aksi nyata, dan setau saya salah satu isi kontrak politik pak prabowo dgn PKS adalah ttg kemerdekaan Palestina 🙂

    http://www.rmol.co/read/2014/06/24/160770/Dubes-Palestina:-Prabowo-Pernah-Nyumbang-Rp-500-Juta-Ketika-Israel-Invasi-Gaza

    salam #IndONEsiaSatu

     
  3. Sri Dewi Djaja

    July 5, 2014 at 4:51 pm

    Masalah agama atau apapun di suatu negara itu tergantung pada / menjadi tangung jawab Bapak dan Ibu Negara tersebut karena Rakyat adalah anak2 dari mereka. Maka sebenarnya para pejabat harusnya tidak tunggu mau jadi president baru menjanjikan atau mau melakukan perbaikan atau mau menolong rakyatnya harusnya bisa di mulai saat /sebelum mereka manjabat apapun. Lihat Haji Yusuf Kalla saat beliau tidak lagi menjabat sebagai Waklil President beliau menyumbang diri ke PMI dan bearada di tengah rakyat saat menderita. Berapa lama Pak Prabowo sudah menjabat? Apa saja yang sudah beliau sumbangkan untuk Rakyat kenapa tidak dari dulu beliau perduli Nyawa Rakyat Indonesia. Kenapa baru sekarang perduli. Coba saja beliau mau bantu rakyat dari dulu dengan kekayaannya, yakin tidaik usah diminta Rakyat yang sudah membuktikan / melihat pasti mendukung dengan sendirinya. Tidak semua bisa di beli dengan uang, termasuk hati nurani. Terutama mereka yang sudah kehilangan buah hati nya karena diculik dan ditembak termasuk kekerasan umat beribadah apapun agama/kepercayaan nya. Tuhan yang Maha Esa dan Maha Tahu yang akan memilih siapa SOSOK yang paling cocok utk President 2014 – 2019. Merdeka Reformasi, terima kasih para korban dan keluarga atas perjuangannya yang kami bisa nikmati sekarang.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: