RSS

Monthly Archives: January 2015

Ketika Tablet (akan) Masuk Sekolah

Saya tertarik membaca berita online tentang rencana Mendikbud Anies Baswedan untuk menggantikan buku pelajaran dengan tablet. Argumennya, penggunaan tablet akan menekan biaya, menghemat kertas sekaligus menjaga kualitas bahan ajar. Menurut Anies, pemakaian tablet bisa memperkaya proses belajar mengajar dengan menyediakan kuis dan aktivitas interaktif lainnya.

Penggunaan tablet memang telah dikenalkan di sekolah-sekolah di luar negeri. BBC memberitakan bahwa pada Desember 2014, sekitar 70% sekolah dasar dan menengah di UK menggunakan iPad untuk aktivitas belajar-mengajar. Namun menurut artikel tersebut, rasio tablet : siswa ternyata tidak 1 : 1. Artinya, iPad tersebut digunakan secara berjamaah. Satu tablet untuk sekian orang siswa. Hanya 9% sekolah yang memiliki satu tablet untuk setiap siswa. Pun, BBC di artikel yang sama mengutip penelitian yang menyatakan belum ada kaitan pasti antara penggunaan tablet dengan peningkatan kualitas belajar siswa [1].

Di Amerika Serikat, penggunaan tablet di sekolah-sekolah juga jamak ditemukan. Pada caturwulan ketiga 2014 saja, tercatat ada 702,000 iPad yang terjual ke sekolah-sekolah. Sebelumnya di tahun 2013, pemerintah Los Angeles berniat untuk membelikan iPad bagi setiap siswa di wilayah tersebut, berjumlah 640,000 siswa dengan nilai anggaran melebihi $30 juta, namun rencana itu ditunda setelah siswa-siswa SMA di LA meng-hack iPad dari sekolah mereka dan menggunakannya untuk mengakses Facebook.

 

Dari dua ilustrasi di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dijelaskan lebih lanjut oleh Mendikbud dan jajarannya. Pertama, masalah anggaran dan status kepemilikan tablet. Siapa yang akan membayar biaya pengadaan tablet dan content-nya? Apakah orang tua siswa atau negara? Jika negara, siapa pemilik tablet tersebut? Apakah negara, sekolah ataukah siswa? Jika negara yang menanggung, berapa besar yang dianggarkan untuk proyek ini? Apakah program ini akan merata untuk seluruh wilayah Indonesia dan bagaimana dukungan terkait pembangunan infrastruktur dan jaringan internet di wilayah tertinggal?

Kedua, masalah keamanan. Ada beberapa aspek keamanan yang harus diperhatikan. Pertama, aspek keamanan fisik dari tablet tersebut. Bagaimana menjaga agar tablet tidak dicuri? Apakah ada aplikasi semacam Find my iPad dan Lost Mode yang dapat melacak dan mengunci tablet sehingga tidak dapat digunakan oleh pencuri? Bagaimana menjaga tablet tersebut dari kerusakan akibat penggunaan (jatuh, kena air, tergores?). Tanpa perhatian pada aspek keamanan fisik ini, maka investasi yang dilakukan pemerintah bisa jadi hilang dalam sekejap (tablet hilang atau cepat rusak) [2].

Kedua, keamanan content dan software. Sebagaimana berita di Los Angeles di atas, ternyata siswa-siswa SMA di sana cukup cerdas membongkar kode pengaman yang dipasang di iPad mereka dan menggunakan iPad di luar tujuan: untuk akses Facebook. Bagaimana dengan tablet di Indonesia? Apakah memiliki tingkat keamanan yang memadai sehingga siswa-siswa hanya dapat mengakses konten yang diizinkan? Apakah pihak ketiga mudah memasukkan unauthorised contents ke tablet-tablet tersebut? Mungkin cara termudah adalah menjadikan tablet murni sebagai ebook reader (offline) selagi berada di tangan siswa.

Poin ketiga yang perlu diperhatikan adalah content. Tablet tanpa isi ebook dan software edukasi tentu tidak akan memberi manfaat banyak. Karena itu perlu juga diperhatikan isi tablet tersebut. Saya pribadi melihat beberapa tahun terakhir pemerintah sudah memiliki itikad yang baik untuk mengadakan bacaan berkualitas melalui Sayembara Puskurbuk namun masih saja ada satu-dua buku yang mengandung isi bermasalah [3].

Perhatian Keempat adalah pendidikan guru dan orang tua. Kita perlu ingat bahwa sejatinya, tablet dan buku pelajaran adalah alat bantu. Guru dan orang tua murid lah pelaku pendidikan yang utama. Tanpa bimbingan guru dan orang tua, seorang anak sulit untuk mencapai titik pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, kebijakan pengadaan tablet ini seyogyanya tidak menjadi substitusi dari kebijakan peningkatan kualitas guru. Seyogyanya pula, pemerintah perlu mewajibkan orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anaknya sehingga proses pendidikan anak berlangsung komprehensif, di rumah dan di sekolah.

Terakhir, menurut saya perlu ada pengkajian mendalam (jika perlu disertai dengan percobaan dan pilot project) tentang efektivitas proses pembelajaran melalui tablet. Hasil penelitian yang dikutip BBC di atas menyatakan bahwa belum ditemukan adanya korelasi positif antara penggunaan tablet dan peningkatan kualitas belajar siswa. Perlu juga ada pengkajian mengenai efek penggunaan tablet di sekolah terhadap perkembangan anak, terutama pada aspek psikologi dan kemampuan komunikasinya. Ini tema yang masih baru dan hangat diperbincangkan oleh para peneliti. Pengalaman pribadi sih, tablet kurang efektif untuk mengajak anak membaca.

 

[1] laporan lengkap penelitian yang dikutip BBC dapat anda akses di sini.

[2] iPad unggul di UK, AS dan banyak negara lain karena memiliki aspek keamanan fisik yang cukup tinggi.

[3] Saya jadi ingat heboh di Kota Yogyakarta pada tahun 2006-an ketika ada kumpulan cerpen berisi necrophilia dan sadisme yang dibagikan sebagai buku pengayaan ke SMP/MTs. I was there. It was very disturbing. No one took the responsibility, iirc. Sigh.

 

 

 

 

 

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on January 8, 2015 in Renungan, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,