RSS

#0. Viva yang Misterius

22 Jun

Dalam tradisi Inggris, perjalanan riset seorang PhD student akan diakhiri dengan viva voce. Viva voce, biasa disingkat viva, arti harfiahnya adalah “menggunakan suara”. Selama viva, student akan diminta untuk menjelaskan thesisnya kepada dua orang examiners (penguji). Para penguji kemudian akan bertanya dan menguji pengetahuan sang student, sampai akhirnya penguji akan memutuskan apakah student tersebut layak mendapat gelar Doctor of Philosophy atau tidak.

Nampaknya sederhana namun viva acap kali menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam diri para PhD students (termasuk dalam diri saya!). Setidaknya ada dua hal yang membuat viva nampak mencekam. Pertama, ini adalah kesempatan pertama thesis yang sudah dikerjakan dengan susah payah selama bertahun-tahun, penuh air mata, keringat dan darah itu akan dikritisi oleh pihak lain. Meskipun PhD students didorong untuk mengikuti conference dan menerbitkan jurnal [1], serta setiap akhir tahun ada evaluasi bersama panel, namun viva adalah pertama kalinya seluruh thesis itu dibaca, dibedah dan diobok-obok oleh orang lain, selain sang student dan para supervisors. Sebagaimana lagunya Joshua, kalau airnya diobok-obok, pasti ikannya mabok. Dalam hal viva, saat thesis mereka diobok-obok, maboklah para PhD students ini.

[1] terkait penerbitan jurnal, ada supervisor yang mendorong agar sang student menerbitkan jurnal, ada yang melarang dan meminta dijadikan buku saja. Pembimbing saya tipe kedua.

Alasan kedua kenapa viva nampak menakutkan adalah karena tidak ada aturan yang jelas. Secara umum, seorang PhD student harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang orisinal, menguji ide atau hipotesa dan memberikan sumbangsih pada pengetahuan. Viva bertujuan untuk menguji kemampuan tersebut secara lisan. Tapi, bagaimana pertanyaan yang akan muncul, bagaimana examiners menilai kemampuan sang kandidat dan bagaimana keputusan akhir diambil itu penuh misteri dan sangat tergantung pada banyak hal: bidang studi, tema yang diambil dan tentu saja, karakter pengujinya.

Karena itu, sebagian besar PhD students yang saya kenal akan menghadapi viva dengan H2C kuadrat. Harap-harap cemas standar tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Di satu sisi lega karena perjalanan panjang ini akan segera berakhir. Di sisi lain, cemas karena misteri viva yang penuh desas-desus ini. Di sisi lain lagi, ada harapan untuk meraih gelar doktor dan membuka babak baru kehidupan.

Di saat ini, peran supervisor menjadi sangat vital. Supervisor yang berpengalaman akan mampu membimbing student-nya menghadapi viva. Biasanya, supervisor sudah dapat menilai kelayakan thesis sejak awal dan bimbingannya akan membantu menutupi kekurangan-kekurangan thesis tersebut. Menjelang viva, supervisor juga akan membantu dengan melakukan latihan, yang biasanya disebut mock viva. Di mock viva ini, supervisor akan berperan sebagai penguji, menanyakan hal-hal yang mungkin ditanyakan dan memberikan masukan terkait cara student menjawab.

Saya beruntung memiliki supervisors yang penuh perhatian. Setelah Professor Piscatori, pembimbing utama saya, pensiun dari Durham University dan pindah ke ANU, beliau masih terus membimbing saya dengan telaten. Sepekan sebelum viva, beliau menelpon dari Australia dan kami menghabiskan waktu satu jam untuk melakukan mock viva. Pembimbing kedua, yang sekarang menjadi pembimbing pertama, Professor Clive Jones juga mengajak saya bertemu dan menyampaikan masukan terkait thesis. Di akhir mock viva, kedua supervisor menyatakan puas dengan performa saya. Meski demikian, mereka berpesan: viva is unpredictable. Be prepared but have faith in yourself.

Hari H, detik D. Viva pun dimulai dan ucapan supervisors pun terbukti. Dari sekian banyak pertanyaan yang sudah kami latih, hanya satu yang ditanyakan penguji. Selainnya menguap entah ke mana, digantikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya aneh, absurd, tidak ada kaitannya dengan thesis. Supervisor sempat berpesan, mungkin penguji akan membuka satu halaman dan menanyakan apa yang saya tulis di halaman itu. Nope, zilch, nada. Kedua penguji sama sekali tidak membuka thesis saya. Kedua penguji bersikap hangat dan ramah namun setiap pertanyaan mereka merupakan tantangan yang membuat saya harus memeras otak.

Waktu itu relatif. Tak terasa, viva berakhir dan saya pun keluar dari ruangan, menuju lobby tempat istri saya menunggu. Ketika duduk dan menengok ke jam dinding, masya Allah, ternyata viva memakan waktu dua jam! Padahal kata supervisor saya, kalau lancar, viva berjalan satu jam. Kembali H2C kuadrat muncul. Saya pun menyalurkan kegelisahan dengan menggerutu ke istri saya tentang proses viva yang menurut saya kacau, tidak terstruktur dan (ini alasan yang paling besar sih) di luar dugaan saya dan supervisors. Saya pun sudah menyiapkan diri dengan hasil yang tidak maksimal [2]; pass with major correction seakan sudah melambaikan tangan.

[2] Di Durham University, ada beberapa kemungkinan hasil viva: (1) pass with no revision; (2) pass with minor revision; (3) pass with major correction; (4) referral – thesis perlu diperbaiki besar-besaran dan di-submit ulang; (5) turun mendapat M. Phil; (6) tidak lulus.

Sepuluh menit berlalu. Dr. Jutta Bakonyi, staf pengajar di SGIA yang menjadi Chair muncul dan meminta saya kembali ke ruangan. Saya mencoba menerka apa keputusan para penguji dari raut muka Jutta tapi nihil. Wajahnya nampak datar. Dengan H2C pangkat sepuluh, saya pun membuka pintu. Di dalam ruangan, kedua penguji berdiri. Professor Paul Luft, honorary professor in Persian Studies dari Durham University, dan Dr. Mohammad Talib dari Oxford University.

Saya mendekat.

Keduanya mengulurkan tangan dan mengatakan: “Congratulations!”

Gamang, saya sambut uluran tangan mereka. Lambaian “major correction” yang di pelupuk mata membuat jabat tangan saya tidak sepenuh hati. Saya pun menoleh ke Jutta, kali ini melihatnya tertawa. “I am pleased to announce that you have passed the viva with no correction,” ujarnya.

Seketika saya berpaling ke para penguji. “Really? Are you serious?”

Ketika Professor Luft dan Dr. Talib mengangguk, baru hati ini rasanya lega. Saya pun terduduk di kursi, mengucapkan terima kasih pada para penguji dan Chair. Alhamdulillah, viva yang misterius itu kini tinggal kenangan.

Belakangan, saya menerima laporan pelaksanaan viva dari Research Office. Di dalamnya, kedua penguji menuliskan bahwa mereka puas dengan thesis saya. Jika hanya melihat thesis, saya sudah dinyatakan lulus. Performa ketika viva menguatkan penilaian itu sehingga beliau berdua memberikan keputusan pass with no correction. Ketika Professor Piscatori menelpon, menanyakan kabar selepas viva dan saya curhat tentang absurdnya proses viva itu di mata saya, beliau tertawa dan berucap, “That's what I mean by viva is unpredictable!”

Meski viva memang tak terduga, dari pengalaman kemarin ada beberapa tips yang saya dapatkan dan insya Allah akan saya tulis di artikel-artikel mendatang. Yang pertama: diawali dari “kenapa”.

kiri ke kanan: Dr. Jutta Bakonyi, saya, Dr. Mohammad Talib, Professor Paul Luft.

 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: