RSS

#1. Dimulai dari “Kenapa”

22 Jun

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: