RSS

Category Archives: Akademik

Akademik

#1. Dimulai dari “Kenapa”

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

#0. Viva yang Misterius

Dalam tradisi Inggris, perjalanan riset seorang PhD student akan diakhiri dengan viva voce. Viva voce, biasa disingkat viva, arti harfiahnya adalah “menggunakan suara”. Selama viva, student akan diminta untuk menjelaskan thesisnya kepada dua orang examiners (penguji). Para penguji kemudian akan bertanya dan menguji pengetahuan sang student, sampai akhirnya penguji akan memutuskan apakah student tersebut layak mendapat gelar Doctor of Philosophy atau tidak.

Nampaknya sederhana namun viva acap kali menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam diri para PhD students (termasuk dalam diri saya!). Setidaknya ada dua hal yang membuat viva nampak mencekam. Pertama, ini adalah kesempatan pertama thesis yang sudah dikerjakan dengan susah payah selama bertahun-tahun, penuh air mata, keringat dan darah itu akan dikritisi oleh pihak lain. Meskipun PhD students didorong untuk mengikuti conference dan menerbitkan jurnal [1], serta setiap akhir tahun ada evaluasi bersama panel, namun viva adalah pertama kalinya seluruh thesis itu dibaca, dibedah dan diobok-obok oleh orang lain, selain sang student dan para supervisors. Sebagaimana lagunya Joshua, kalau airnya diobok-obok, pasti ikannya mabok. Dalam hal viva, saat thesis mereka diobok-obok, maboklah para PhD students ini.

[1] terkait penerbitan jurnal, ada supervisor yang mendorong agar sang student menerbitkan jurnal, ada yang melarang dan meminta dijadikan buku saja. Pembimbing saya tipe kedua.

Alasan kedua kenapa viva nampak menakutkan adalah karena tidak ada aturan yang jelas. Secara umum, seorang PhD student harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang orisinal, menguji ide atau hipotesa dan memberikan sumbangsih pada pengetahuan. Viva bertujuan untuk menguji kemampuan tersebut secara lisan. Tapi, bagaimana pertanyaan yang akan muncul, bagaimana examiners menilai kemampuan sang kandidat dan bagaimana keputusan akhir diambil itu penuh misteri dan sangat tergantung pada banyak hal: bidang studi, tema yang diambil dan tentu saja, karakter pengujinya.

Karena itu, sebagian besar PhD students yang saya kenal akan menghadapi viva dengan H2C kuadrat. Harap-harap cemas standar tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Di satu sisi lega karena perjalanan panjang ini akan segera berakhir. Di sisi lain, cemas karena misteri viva yang penuh desas-desus ini. Di sisi lain lagi, ada harapan untuk meraih gelar doktor dan membuka babak baru kehidupan.

Di saat ini, peran supervisor menjadi sangat vital. Supervisor yang berpengalaman akan mampu membimbing student-nya menghadapi viva. Biasanya, supervisor sudah dapat menilai kelayakan thesis sejak awal dan bimbingannya akan membantu menutupi kekurangan-kekurangan thesis tersebut. Menjelang viva, supervisor juga akan membantu dengan melakukan latihan, yang biasanya disebut mock viva. Di mock viva ini, supervisor akan berperan sebagai penguji, menanyakan hal-hal yang mungkin ditanyakan dan memberikan masukan terkait cara student menjawab.

Saya beruntung memiliki supervisors yang penuh perhatian. Setelah Professor Piscatori, pembimbing utama saya, pensiun dari Durham University dan pindah ke ANU, beliau masih terus membimbing saya dengan telaten. Sepekan sebelum viva, beliau menelpon dari Australia dan kami menghabiskan waktu satu jam untuk melakukan mock viva. Pembimbing kedua, yang sekarang menjadi pembimbing pertama, Professor Clive Jones juga mengajak saya bertemu dan menyampaikan masukan terkait thesis. Di akhir mock viva, kedua supervisor menyatakan puas dengan performa saya. Meski demikian, mereka berpesan: viva is unpredictable. Be prepared but have faith in yourself.

Hari H, detik D. Viva pun dimulai dan ucapan supervisors pun terbukti. Dari sekian banyak pertanyaan yang sudah kami latih, hanya satu yang ditanyakan penguji. Selainnya menguap entah ke mana, digantikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya aneh, absurd, tidak ada kaitannya dengan thesis. Supervisor sempat berpesan, mungkin penguji akan membuka satu halaman dan menanyakan apa yang saya tulis di halaman itu. Nope, zilch, nada. Kedua penguji sama sekali tidak membuka thesis saya. Kedua penguji bersikap hangat dan ramah namun setiap pertanyaan mereka merupakan tantangan yang membuat saya harus memeras otak.

Waktu itu relatif. Tak terasa, viva berakhir dan saya pun keluar dari ruangan, menuju lobby tempat istri saya menunggu. Ketika duduk dan menengok ke jam dinding, masya Allah, ternyata viva memakan waktu dua jam! Padahal kata supervisor saya, kalau lancar, viva berjalan satu jam. Kembali H2C kuadrat muncul. Saya pun menyalurkan kegelisahan dengan menggerutu ke istri saya tentang proses viva yang menurut saya kacau, tidak terstruktur dan (ini alasan yang paling besar sih) di luar dugaan saya dan supervisors. Saya pun sudah menyiapkan diri dengan hasil yang tidak maksimal [2]; pass with major correction seakan sudah melambaikan tangan.

[2] Di Durham University, ada beberapa kemungkinan hasil viva: (1) pass with no revision; (2) pass with minor revision; (3) pass with major correction; (4) referral – thesis perlu diperbaiki besar-besaran dan di-submit ulang; (5) turun mendapat M. Phil; (6) tidak lulus.

Sepuluh menit berlalu. Dr. Jutta Bakonyi, staf pengajar di SGIA yang menjadi Chair muncul dan meminta saya kembali ke ruangan. Saya mencoba menerka apa keputusan para penguji dari raut muka Jutta tapi nihil. Wajahnya nampak datar. Dengan H2C pangkat sepuluh, saya pun membuka pintu. Di dalam ruangan, kedua penguji berdiri. Professor Paul Luft, honorary professor in Persian Studies dari Durham University, dan Dr. Mohammad Talib dari Oxford University.

Saya mendekat.

Keduanya mengulurkan tangan dan mengatakan: “Congratulations!”

Gamang, saya sambut uluran tangan mereka. Lambaian “major correction” yang di pelupuk mata membuat jabat tangan saya tidak sepenuh hati. Saya pun menoleh ke Jutta, kali ini melihatnya tertawa. “I am pleased to announce that you have passed the viva with no correction,” ujarnya.

Seketika saya berpaling ke para penguji. “Really? Are you serious?”

Ketika Professor Luft dan Dr. Talib mengangguk, baru hati ini rasanya lega. Saya pun terduduk di kursi, mengucapkan terima kasih pada para penguji dan Chair. Alhamdulillah, viva yang misterius itu kini tinggal kenangan.

Belakangan, saya menerima laporan pelaksanaan viva dari Research Office. Di dalamnya, kedua penguji menuliskan bahwa mereka puas dengan thesis saya. Jika hanya melihat thesis, saya sudah dinyatakan lulus. Performa ketika viva menguatkan penilaian itu sehingga beliau berdua memberikan keputusan pass with no correction. Ketika Professor Piscatori menelpon, menanyakan kabar selepas viva dan saya curhat tentang absurdnya proses viva itu di mata saya, beliau tertawa dan berucap, “That's what I mean by viva is unpredictable!”

Meski viva memang tak terduga, dari pengalaman kemarin ada beberapa tips yang saya dapatkan dan insya Allah akan saya tulis di artikel-artikel mendatang. Yang pertama: diawali dari “kenapa”.

kiri ke kanan: Dr. Jutta Bakonyi, saya, Dr. Mohammad Talib, Professor Paul Luft.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

Remaja dan Pahlawan Nasional

Rekan-rekan,

Saya sedang mengadakan survey tentang “Pandangan Remaja terhadap Pahlawan Nasional dan Politik Indonesia”. Mohon sebarkan ke para pelajar SMP dan SMU link survey online berikut ya: http://bit.ly/1bM2Uzk

Survey dibuka sd 20 Februari 2014. Matur nuwun, terima kasih banyak

Salam,
Ganjar

 
3 Comments

Posted by on February 13, 2014 in Akademik, Renungan

 

Tags: , , ,

SCONUL Access

Biasanya, saya pergi ke perpustakaan Newcastle University tiga-empat kali sepekan, ada atau tidak ada jadwal kegiatan. Di perpustakaan, saya membaca, mengetik, atau melakukan perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan seorang PhD student. Godaan membuka facebook, baca komik dan sebagainya menurun karena malu dengan tetangga meja 😛

Setelah pindah ke Durham University, saya kehilangan akses ke perpustakaan. Muncul dilema besar terkait pola kerja. Di satu sisi, kalau saya di rumah saja, maka kemungkinan saya menyelesaikan pekerjaan berada pada titik limit mendekati nol. Tapi jika harus sering ke Durham untuk ngendon di perpus rasanya berat di ongkos [1].

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jalan keluar. Supervisor saya yang baik hati memberitahu bahwa saya, sebagai mahasiswa Durham University, bisa mendapatkan akses ke perpustakaan Newcastle University menggunakan SCONUL Access. SCONUL Access adalah kerjasama antar-perpustakaan universitas di UK dan Irlandia. Melalui program ini, seorang mahasiswa di satu universitas bisa menjadi “anggota terbatas” di perpustakaan universitas lain.

Cara mendapatkan SCONUL Access ini sangat gampang. Saya tinggal mengisi formulir online di laman SCONUL. Pihak SCONUL kemudian akan mengirim email ke pustakawan di Durham University untuk memverifikasi status saya. Begitu pustakawan Durham University menemukan tidak ada yang aneh dari seorang Ganjar, dia mengirimkan email ke saya yang berisi menyetujui aplikasi saya. Saya tinggal mencetak email dari pustakawan tersebut dan membawanya ke perpustakaan Newcastle University.

Proses mendapatkan akses di perpustakaan Newcastle University pun sangat gampang. Saya menunjukkan cetakan email dan kartu mahasiswa. Petugas pun memasukkan data saya ke komputer, kemudian mengambil foto saya saat itu juga [2], dan beberapa detik kemudian saya menerima kartu tanda anggota perpustakaan Newcastle University. Cepat, tanpa biaya lagi!

Bersama kartu tersebut, saya mendapatkan fasilitas-fasilitas berikut:

  1. Akses keluar-masuk perpustakaan Newcastle University.
  2. Boleh meminjam buku maksimal delapan, setiap buku maksimal 30 hari.
  3. Setiap berkunjung dapat meminta password untuk akses WiFi. Password berkaku selama enam jam.

Sayangnya, saya tidak bisa numpang ngeprint dan scan di perpus. Kalau bisa, kan lumayan tidak perlu menunggu ke Durham University untuk print dan scan. Tapi untunglah ada tetangga atas yang bisa dititipi print dan scan di Newcastle University heee…

Adanya fasilitas SCONUL tentu sangat membantu bagi para mahasiswa. Pertama tentu bagi mahasiswa yang tinggal agak jauh dari universitas tempat studi dan ada universitas lain di dekat rumah. Craig, rekan seperjuangan di Durham University, juga kondisinya hampir sama seperti saya. Craig kerja di Manchester namun ambil PhD di Durham karena dia ada jaringan dengan seorang profesor di Durham University. Baginya tentu lebih mudah untuk menggunakan fasiltas perpustakaan Manchester University daripada bolak-balik ke Durham.

Kedua, setiap perpustakaan kampus memiliki fokus/koleksi yang berbeda. Untuk periset dengan tema tertentu, bisa jadi perpustakaan universitas tempat studinya tidak memiliki koleksi yang cukup lengkap terkait tema tersebut. Tentu sangat membantu jika ia dapat menggunakan koleksi dari universitas lain.

Jika mengingat kondisi di tanah air saat saya kuliah dulu, sepertinya berbeda jauh. Pada masa antah-berantah, saat saya kuliah once upon a time, saya tidak bisa mengakses perpustakaan universitas lain. Bahkan kadang untuk akses perpustakaan fakultas sebelah saja sulit. Semoga kondisinya berubah sekarang, sehingga kebutuhan pelajar akan buku dapat terpenuhi tanpa memandang dari universitas mana dia berasal.

Sebagai penutup, berikut pemandangan di pojok favorit saya di perpustakaan Newcastle University:

What a lovely autumn tree

 

 

 

[1] Biaya Newcastle-Durham pp naik train berkisar antara £4.4 sd £8.1, tergantung waktu keberangkatan.

[2] Untung saya mengenakan pakaian yang agak keren jadi fotonya pun agak keren 😛

 

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2013 in Akademik

 

Tags: , ,

Military Intervention

Pada Kamis, 17 September, SGIA mengadakan seminar tentang Military Intervention di al Qasimi 102. Pembicara tunggal pada seminar ini adalah Lt. Gen. Robin Brims. Beliau terlibat langsung dalam intervensi militer yang dilaksanakan UK ke Bosnia dan Iraq.

Gen. Brims menyampaikan penjelasan di depan forum

Beberapa poin yang beliau sampaikan terkait intervensi militer tersebut adalah:

  1. Militer UK bukan pengambil kebijakan dalam kasus-kasus ini. Yang memegang kebijakan adalah para politisi. Militer diundang untuk menjawab “apakah kita (UK) dapat melakukan ini.”, dan “apa konsekuensinya (secara militer) bagi UK?”
  2. Militer tidak dapat menolak keputusan yang telah diambil oleh politisi. “It is right to not have an opinion,” kata Gen. Brims.
  3. Secara pribadi, Gen. Brims saat itu percaya bahwa pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Keyakinan ini tumbuh karena beliau melihat laporan yang menunjukkan ke sana. Sayang, beliau “tidak bisa” menyampaikan laporan apa dan bagaimana isinya [1].
  4. Untuk saat ini, Gen. Brims tidak lagi meyakini bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah masal. Ketika ada hadirin yang bertanya kenapa, Gen. Brims kembali tidak bersedia menjawab [2].
  5. Gen. Brims mencatat banyak kasus yang menunjukkan kegagalan intervensi militer untuk menegakkan ketertiban di Iraq pasca-intervensi, berbeda dengan di Bosnia. Bahkan, skandal Abu Ghuraib menjadi salah satu skandal memalukan dalam intervensi ini.
  6. Untuk menghindari kegagalan yang terjadi di Iraq, Gen. Brims menyampaikan beberapa poin yang harus diperhatikan jika akan ada intervensi militer lagi di masa mendatang [3] sebagai berikut:
    1. Perlu menjalin kerjasama dengan tokoh setempat untuk menghindari ambruknya tatanan sosial kemasyarakatan [4].
    2. Urusan keamanan harus dipegang oleh polisi [5]. Jika keamanan dipegang oleh militer (tentara pendudukan), maka bisa terjadi kasus keamanan domestik akan ditanggapi dengan naluri dan logika militer. Menurut Gen. Brims, inilah yang membuat kasus macam Abu Ghuraib terjadi [6].
    3. Tentara pendudukan harus mampu mengendalikan diri dengan code of conduct yang ketat untuk mencegah kasus semacam Abu Ghuraib kembali terjadi.
    4. Keamanan fisik baru akan tercipta jika warga setempat menghormati rule of law yang ditegakkan oleh pihak pendudukan. Agar warga bersedia menghormati rule of law pihak pendudukan, maka pihak pendudukan harus menghormati hak warga setempat. Kembali, ini gagal dilakukan pihak pendudukan di Iraq.
    5. Pihak pendudukan harus memikirkan upaya rekonsiliasi pasca-konflik.
Saya tidak sepenuhnya menikmati seminar tadi karena Gen. Brims sejak awal mewanti-wanti bahwa ia tidak akan bicara tentang proses politik yang memutuskan langkah intervensi ke Iraq. Beberapa pertanyaan yang menjurus ke sana pun dijawab dengan lugas: “I can not answer that” atau “I am going to go into the jail if I answer your question.

Meski demikian, di antara penjelasannya saya menemukan muatan politik yang tersirat:

  • Militer Inggris (dan pemerintah Inggris) sama sekali tidak memegang kendali dalam proses intervensi militer ini. Semua kendali dan komando datangnya dari AS. That was an American operation.
  • Ada beberapa hal yang dilakukan AS yang memunculkan perbedaan pendapat, bahkan ketidaksetujuan, dari pihak Inggris. Kasus Abu Ghuraib adalah salah satunya. Kebijakan (person?) militer AS yang cenderung agresif adalah hal lain yang secara halus disinggung Gen. Brims sebagai “kebijakan yang berlebihan”.
  • Sekuat apapun pewacanaan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal, pada akhirnya tidak ada buktinya. Bahkan para pejabat Inggris sendiri kini tidak meyakini hal tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur.

[1] Alex, rekan dari Perancis yang duduk di sebelah saya saat seminar bergumam, “Itu hal yang tidak akan pernah terungkap, apalagi dalam seminar di universitas begini.” Yah, menurut saya, Alex benar. Mustahil rasanya ada petinggi militer yang bicara blak-blakan tentang informasi itu. Meski, ketiadaan bukti yang jelas tentang informasi itu membuat banyak orang meragukan apakah benar Iraq punya senjata pemusnah massal?

[2] Alex bergumam lagi: “Good question, but that will never be answered either.

[3] Kali ini saya yang bergumam: “Na’udzubillah… 😦 ”

[4] Dalam kasus Iraq, AS mengambil kebijakan “tidak berhubungan dengan anggota Partai Ba’ath*.” Masalahnya, di pelosok Iraq, semua pranata sosial adalah anggota Partai Ba’ats. Mereka bisa menjadi pranata sosial karena menjadi anggota Partai Ba’ath**. Sikap ini membuat tentara pendudukan*** mengabaikan total pranata sosial yang sudah ada dan mencoba membangunnya dari nol. Cukup dikata, kekacauan meraja lela. Kondisi ini berbeda dengan Bosnia, di mana tentara NATO menjalin kerjasama dengan pranata sosial Bosnia dan Serbia-Bosnia untuk menjaga ketertiban.

* Partai Ba’ath adalah partai pendukung Saddam Hussein, berhaluan kiri. Bukan partai berbasis Islam.

** Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia di masa Orba; (hampir) semua pranata sosial dan pemimpin masyarakat adalah anggota Golkar.

***saya menggunakan istilah “tentara pendudukan” (tentara yang menduduki) untuk merujuk ke AS, Inggris dan konco-konconya.

[5] Polisi di sini dapat merujuk pada polisi setempat (jika masih ada) maupun polisi internasional, gsbunugan polisi yang dikirim negara penduduk dengan misi khusus menjaga keamanan.

[6] Gen. Brims tidak membuat komparasi dengan Bosnia. Dalam kasus Bosnia, penjagaan keamanan diurus oleh pasukan NATO namun tidak terjadi pelecehan terhadap kemanusiaan sebagaimana di Iraq.

 
4 Comments

Posted by on October 17, 2013 in Akademik

 

Tags: ,

Sang Guru (2)

Selain Barry, insha Allah beberapa tahun ke depan saya juga akan berguru pada Professor James Piscatori, dari Durham University. Kondisi saya cukup unik, karena memiliki dua orang supervisor dari dua universitas yang berbeda. Kedua supervisor ini pun orang-orang yang sangat kompeten di bidangnya. Jika sebelumnya saya sudah bercerita tentang Barry Gills, kali ini saya akan mengenalkan sosok James Piscatori, Sang Guru berikutnya.

James Piscatori adalah seorang ilmuwan senior dalam kancah akademik dunia. James menjabat sebagai Head of School di School of Governmental and International Affairs, Durham University. Minat riset beliau adalah Islam dan politik. Bukunya yang berjudul Moslems Politics merupakan salah satu buku yang banyak menjadi rujukan saat membahas dinamika politik umat Islam kontemporer. Profil lengkap James ada di sini.

Sebelum berkiprah di Durham University, James sudah malang-melintang di rimba persilatan. James pernah di Australia. Ia kemudian pindah ke UK, dan menjadi dosen di Oxford. Sejak 2010, James menjadi dosen di Durham University. Selain memiliki rekam jejak akademik yang mendunia, James juga memiliki jaringan yang global pula. James berteman dekat dengan banyak cendekiawan dan tokoh politik Muslim, salah seorangnya adalah Anwar Ibrahim. James juga pernah berkunjung ke Indonesia dan bekerja sama dengan beberapa akademisi Indonesia. He is quite familiar with Indonesia, including how shy we are *blush*

Berikut video saat James berbicara di depan Anwar Ibrahim dan pengurus partai di Malaysia:

 

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,

Sang Guru (1)

Penasaran siapa sosok yang akan menemani saya menjalani hari-hari penuh liku (baca: menyelesaikan PhD :D)?

Nama beliau adalah Professor Barry K. Gills. Beliau adalah salah seorang pakar tentang globalisasi dan world history. Salah satu karya beliau yang menarik saya adalah Globalisation, global histories and historical globalities. Artikel ini sangat pas dengan tema yang akan saya bahas. Buku-buku beliau yang lain pun menarik untuk dikaji. Profil lengkap Barry Gills ada di sini.

Pertama melihat profilnya di website, saya langsung jatuh hati 😀 Setelah membaca beberapa karyanya, saya semakin mantap melamar beliau. Alhamdulillah, setelah mengirimkan email lamaran dan menunggu selama kurang-lebih 25 hari, beliau menerima saya sebagai murid.

Begitu tiba di Newcastle dan menyelesaikan urusan administrasi, saya pun menemui Barry. Sebagai anak Jawa yang lugu, saya memanggilnya “Profesor Gills”. Mungkin satu-satunya yang memanggil beliau demikian 🙂 Jangan khawatir, saya sudah minta izin Barry untuk memanggilnya “Professor Gills” kok 😀

Barry orangnya ramah dan menyenangkan. Kali pertama bertemu, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai dua jam. Beliau ternyata pernah ke Yogyakarta dan berkunjung ke Borobudur. Barry juga mengetahui kisah Mahabharata (versi India) dan kami membicarakan beda Mahabharata India dan Mahabharata Jawa yang sudah mendapat pengaruh Islam.

Bekerja dengan Barry sangat menyenangkan. Barry sangat menghargai pendapat saya, meski mungkin dalam hati gemas dengan saya yang culun banget dan pengetahuannya masih sangat cetek dalam bidang global society. Yang sangat menantang adalah, sekalinya berdiskusi, Barry bisa menyebutkan sepuluh lebih buku (dan semuanya dengan embel-embel: you should read it). Jadi reading list saya beranak pinak tak terkendali (T_T)

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah SWT Mempertemukan saya dengan ilmuwan sekaliber Barry. Saya yang pandir ini mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari Sang Guru 🙂

Berikut cuplikan wawancara Barry:

 

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,