RSS

Category Archives: Perjalanan

Perjalanan

#SedekahOksigen

Kepada rekan-rekan semua:

 

Mengingat bencana asap masih melanda beberapa kawasan di Indonesia dan korban sakit/meninggal karena ISPA terus bertambah, kami Warga Negara Indonesia yang di UK ingin menggalang dana untuk disalurkan ke gerakan #sedekahoksigen.

Jika berkenan, mohon rekan-rekan di UK dapat menggalang dana untuk kita serahkan bersama. Kami juga mengajak organisasi-organisasi lain seperti KIBAR, Karyasiswa Dikti UK, PPI UK dll untuk turut dalam penggalangan dana ini.

 

Dana dapat dikirim ke:

— Rupiah

BSM cabang Klaten no rek 7006249293 a/n Lusi Nuryanti

— GBP

sort code 309893 no acc. 58472960 a/n Mrs. Lusi Nuryanti

 

Konfirmasi donasi dan info lebih lanjut:

Ganjar (+447745034831/ganjar.widhiyoga@gmail.com)

 

Laporan donasi akan diunggah tiap hari di ganjarwy.com

 

Terima kasih dan salam,

Ganjar Widhiyoga (PhD student, Durham University)

Lusi Nuryanti (PhD student, Leeds Beckett University)

 

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2015 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Indonesian Presidential Candidates: Pre-debate Commentary

Contemporary international politics have been marked with increasing connections and networks between various actors. States, posing as a central actors in international politics, have been faced with various issues in their negotiation table, raging from economic cooperation, environmental issues to security and the threat of terrorism. Any government administrations then, should juggle not only between these various issue but also between the international/global issues and national/local demands.

Indonesia is a key player in international politics, or at least, it has the potentials to be one. Not only it has tremendous national resources, it also lies in a strategic geographical position, cradling Malaysia, Singapore and Brunei and effectively connecting Australia to the rest of the world. It also has biggest Muslim population in the world, and with conflicts plague Middle east and various Muslim communities, Indonesia might be the right actor to mediate these conflicts. Or, again, at least it has the potentials to be one.

Indonesia’s next president will have his plate full. Economic growth and stability will be the main concern, especially facing the economic integration through ASEAN Economic Community in 2015. Both Prabowo and Jokowi had stated in the second debate that they will maintain economic growth and stability, but how to fulfill this promise while being integrated in AEC is still unclear. There is also the everpresent problem of protecting Indonesia’s migrant workers, which become the gripes of many migrant care activists. Again, both Prabowo and Jokowi put the protection of migrant workers in their platform but have not yet elaborated the mechanism to do so.

On the security issues, the main issue perhaps how the government should deal with the separation movement in Papua. The candidates have not provided their strategies in dealing with this issue, but Prabowo has the upper hand in this since he had participated in military operations in Papua during his time in the military. Jokowi, on the other hand, might have to rely on his parter, Jusuf Kalla, who had successfully deal with GAM in Aceh.

Indonesia’s archipelagic territory provides great challenges to the country. Not only there are illegal fishing by foreign nationals, there were also the cases of asylum seekers passing through Indonesian waters to Australia, an issue that put strains to the diplomatic relations between the two countries. Prabowo, with his background as a military general, will have better experience in handling this issue. Jokowi might be at disadvantage here, but at least he puts priority to this issue, by promising 1,5% annual increase for military budget and commits to the development Indonesian navy.

Looking beyond the territorial security, both candidates should also answer concerns on human security. There are human right cases that tarnish Prabowo’s background and become the main source of uneasiness among certain groups in Indonesia. But apparently, voters might have to be wary to Jokowi’s platform, since he seeks to strengthen Indonesian intelligence agency (BIN). In time where critics question various intelligence agencies on their surveillance methods that breach privacy and put citizens into anxiety, increasing Indonesian intelligence agency is a policy that should never been taken into granted.

To make the task more daunting, the next Indonesian president also have to contend with his predecessor’s legacy. President Yudhoyono’s achievements in international politics might overshadow him. President Yudhoyono, after all, is the third person ever to be awarded the title of Global Statesman by the World Economic Forum on East Asia.

It is in this context that tonight’s Indonesian presidential debate takes place. Up until the second debate, the candidates have not provided clear standing on the previously mentioned issues. Tonight debate might provide the necessary opportunity to both candidates to elaborate their vision and strategies for Indonesia’s foreign policy.

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2014 in Perjalanan, Renungan

 

Tags: ,

Laskar Pelangi: Live from Indonesia

 

September 2011, saya harus ke Jakarta. Saya harus menunaikan tugas mulia : mengantar berkas akreditasi untuk prodi tempat saya mengajar. Pukul 18.00, saya menaiki pesawat ke Yogya, siap pulang ke kampung halaman tercinta. Tanpa diduga, Allah Memberikan saya kursi tepat di samping Bapak Rochmat, Guru Fisika saya di SMU 3 dulu. Sekarang beliau menjadi penilik sekolah untuk proses akreditasi SMA di Indonesia.

Sepanjang jalan, Pak Rochmat menceritakan pengalaman beliau berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya takjub mendengar kisah-kisah beliau. Betapa, Indonesia negeri yang kaya ini, ternyata memiliki daerah-daerah yang harus berjibaku untuk menegakkan pendidikan. Jangan berbicara kualitas yang diukur dengan Ujian Akhir. Berhasil menyelenggarakan pendidikan pun sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri menurut saya.

Kisah pertama tentang sebuah daerah di Sulawesi Utara. Menurut saya, ini daerah sudah pantas dicoret dari daftar “anak” provinsi Sulawesi Utara sebab jauhnya jarak dari ibukota. Setelah tiba di Ibukota, Pak Rochmat harus menempuh perjalanan darat selama tujuh jam, kemudian ditambah perjalanan laut dua jam dengan perahu kecil. Sampai di pantai seberang, masih harus dilanjutkan dengan lima belas menit berjalan kaki untuk mencapai sekolah di kaki bukit itu. Di daerah ini, ada sebuah SMA yang rutin menyelenggarakan pendidikan. Jangan samakan pendidikan di sana dengan Yogyakarta, di mana fasilitas pendukung pendidikan begitu mantap. Atau Jakarta yang memiliki sekian banyak sekolah berstandar internasional. Pendidikan di daerah Sulawesi Utara coret ini berjalan dengan sangat bersahaja…

Kisah kedua, sebuah sekolah di pinggiran Bangka Belitung. Sebagai sebuah provinsi kepulauan, wajar jika transportasi utama yang menghubungkan antar pulau di Bangka Belitung adalah perahu. Namun, kisah Pak Rochmat tentang sekolah di daerah ini dan para gurunya mengenalkan bayang kepahlawanan tersendiri dalam benak saya. Betapa, para guru yang kebanyakan dari pulau lain, harus menempuh dua jam naik perahu kecil ke sekolah tempat mereka mengabdi. Jika cuaca buruk, mereka tidak bisa sampai ke tujuan; entah berputar, entah berhenti di mana. Semoga tidak ada dan tidak akan pernah ada kecelakaan kapal yang membawa guru-guru mulia ini. Jika cuaca buruk terjadi selepas jam kerja, mereka tidak dapat pulang ke rumah; bertahan tinggal di sekolah yang apa adanya itu. Jelas, tidak ada fasilitas macam boarding school yang jamak kita temui di Jawa.

Saya lupa kisah ketiga berasal dari daerah mana. Rasa kantuk sudah menyergap saat itu :D. Yang saya ingat dengan pasti adalah betapa di daerah ini, listrik hanya menyala pukul 8-14, DUA HARI SEKALI! Berarti, dalam sepekan hanya 18 jam listrik menyapa masyarakat di daerah ini. Lalu belajarnya? Para pelajar harus memaksakan diri untuk belajar dengan penerangan tradisional. Untuk penerangan saja susah. Apalagi untuk mengakses bahan-bahan tambahan dari internet, nge-print makalah, membuat powerpoint atau film. Mereka tidak mengenal itu semua.

Keterbatasan demi keterbatasan ini membuat saya tercenung. Seakan sedang mendengarkan penuturan kisah lain dalam buku Laskar Pelangi. Perjuangan para guru, perjuangan para murid, perjuangan masyarakat. Sekaligus ignorancy kita. Mereka memanfaatkan apa yang ada untuk belajar, sementara kita seringkali tidak memanfaatkan fasilitas yang kita miliki secara maksimal. Bisa jadi, kalau adu kemampuan alami otak, rekan-rekan di sana tidak kalah dengan kita. Namun akibat minimnya sarana dan prasarana itu, mereka tidak dapat berkembang sebagaimana seharusnya. Sementara, kita yang memiliki sarana dan prasarana, enggan mengembangkan wawasan dan pengetahuan.

Untuk menyelesaikan masalah ini tentu tidak segampang mengetikkannya di lembar catatan facebook. Tapi setidaknya, kita bisa memulai perubahan dengan mensyukuri fasilitas pendidikan yang kita miliki dan mencerdaskan diri sendiri dengannya. Setelah itu, ketika kita sudah bekerja, mari sisihkan sebagian penghasilan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Saya kagum dengan inisiatif beberapa teman. Mereka mengumpulkan sebagian penghasilan untuk membantu para pelajar membayar biaya sekolahnya. Ini dilakukan bukan oleh sebuah perusahaan ternama, bukan oleh seorang tokoh di Indonesia yang telah mapan dalam kehidupannya. Tapi, ini dilakukan oleh sekelompok anak-anak muda yang baru saja lulus dan mulai bekerja. Subhanallah, jika ada banyak orang seperti mereka, mungkin masalah pendidikan di Indonesia bisa teratasi dengan lebih mudah.

Wallahu’alam.

~tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah!~

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2013 in Perjalanan, Renungan

 

Tags:

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis 😉 Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk letter of offer di tahun 2011 dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan letter of offer tersebut ke Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam Offer tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya 😀 [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April. No worries, saya sudah menyiapkan essay 10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”  Barry menarik nafas dalam. “I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,”  celetuk saya.

“Well, I know…” Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok: changing supervisor is the academic equivalent of a divorce100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati 😛

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi. Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui Postgraduate Director untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi second supervisor saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans. Absolutely overdressed! Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah, first year gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian Postgraduate Research Project (menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya. He was a great teacher, and I really, really miss him, hiks… Buku Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh postgraduate students di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka. Not even once. Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana Three Musketeers yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya: state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam. You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di School of Government and International Affairs.  Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda: British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening 😛

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi second supervisor saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema North-east Doctoral Training Centre* yang melibatkan Durham University dan Newcastle University. Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. 😛

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……”  Atau ada gambar setetes air raksasa. You get the point lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. 😛

[6] I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans… (Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang: I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful. (Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara induction pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada 😛

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Di Jalan Simpang

IMG_0648

jalan simpang

Barangkali,

Kawan,

Kita sedang berada di

Jalan Simpang.

Saat dirimu anggap

Ke sini lebih dekat.

Sementara, aku enggan menempuhnya.

Justru dekat yang kuhindari.

Saat diriku usulkan

Ke sana yang lebih jauh.

Kuyakin, lebih berarti.

Perjalanan sejati,

Sebagaimana cita-cita kita dulu.

Tapi menurutmu,

Ke sana tak lagi mampu

menjawab tantangan zaman

dan rentan kekalahan.

Barangkali,

Kawan,

Kita berada di

Jalan Simpang

yang menjadi tanda

akhir kebersamaan.

Tribute to: Naruto-Sasuke (Naruto), Varn-Beld (Record of Lodoss War), Nash-Rhavi (Ledgard)

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2013 in Perjalanan, Renungan

 

Tags:

Bertualang ke Museum

Beberapa kali datang ke museum di UK ini, saya melihat museum-museum tersebut memberikan perhatian khusus pada anak-anak. Selalu ada ruang bermain untuk batita. Museum juga menerjemahkan koleksinya ke aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak.

Di Discovery Museum, Newcastle, ada ruang khusus anak dengan tiruan sungai Tyne, lengkap dengan jembatan, kapal plastik dsb. Anak-anak dianjurkan (bahkan didorong!) bermain air di tiruan sungai itu. Dzakka sangat senang dan mengajak bermain ke sana lagi.

IMG_0612

Bermain air di miniatur sungai Tyne

IMG_0586

Peragaan gaya hidup di masa Romawi

IMG_0596

Naik kuda-kudaan ala Ksatria Berbaju Besi!

IMG_0588

melihat foto-foto perkembangan kota Newcastle

Hari ini kami alhamdulillah berkesempatan berkunjung ke Museum of Science and Technology (MOSI) di Manchester. Kalau mendengar namanya, Museum Sains gitu loh, saya awalnya membayangkan suasana yang suram, kaku dan … membosankan. Ternyata, dugaan saya salah 😀

MOSI sangat ramai. Cat warna-warni menghiasi dinding. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari foto-foto :P, sampai uji coba bagaimana gerakan tubuh bisa menghasilkan suara (saya masih takjub dengan uji coba ini!) sampai cerita mesin uap yang bertemakan Thomas (y). Konsep ilmiah seperti magnet, cahaya, listrik ditampilkan dalam bentuk permainan yang sangat menyenangkan.

Oh ya, satu hal yang juga menarik, di MOSI ini ada unsur sejarahnya juga. Jadi saat membahas tekstil, ada eksperimen merajut tempoe doeloe, lengkap dengan instruktur berkostum seperti kostum little house on the prairie ;). Asyik sekali, belajar secara integratif antara sains dan sosial.

IMG_0752

Bapaknya ikut main merry-go-round 😀

170220133577

Kereta uap masih bisa jalan keliling arena museum

IMG_0739

Dzakka bergaya ala Englishmen tempoe doeloe.

IMG_0750

Praktek merajut (?), pengenalan industri tempoe doeloe yang marak di Manchester

Di Indonesia, konsep ini ada di Taman Pintar Yogyakarta. Seandainya ada pusat-pusat sains yang seseru ini, mungkin pelajaran Fisika bukan lagi pelajaran yang angker dan menjemukan 😛

Ah iya, kata teman saya yang orang Irlandia, kondisi museum yang “ramah-anak” ini baru satu dekade terakhir (kurang-lebih lah…). Dulu, sewaktu dia kecil, museum di UK juga terkesan menjemukan. Tapi segalanya berubah seiring pemahaman tentang konsep pendidikan yang berubah (saya jadi ingin wawancara petugas museum, tanya kapan dan bagaimana konsep museum ramah anak ini muncul dan berkembang). Jadi… Insha Allah pengelolaan museum di Indonesia juga bisa menjadi lebih baik! Kondisi “museum yang asyik” ini dibangun bersama, bukan “mak bedhundhuk” muncul begitu saja tanpa usaha, kok.

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Mencari Jodoh Sehati

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu 😉 Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius 😉

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman 😀

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan 😦

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana 🙂

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca 😀 EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Awal Perjalanan

The beginning of a journey. A small step to explore the limitless horizon.

Alhamdulillah, akhirnya segala keperluan untuk berangkat ke Newcastle telah siap. Insha Allah, saya akan memulai belajar di Newcastle University pekan depan. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, mengingat belum pernah sekali pun anak Yogya ini keluar negeri :p

Proses mendapatkan beasiswa ini membutuhkan waktu cukup panjang. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari supervisor. Membuka akun email, ternyata saya mengirimkan email pertama pada calon Guru pada 04 September 2011; bulan ini, setahun yang lalu. Beliau membalas pada 29 September 2011 [1].

Setelah mendapatkan email dari calon Guru, langkah kedua adalah mendaftar secara resmi. Saya memulai proses korespondensi dengan Postgraduate Director of Politics Program, Newcastle University [2]. Setelah itu, mendaftar online ke Newcastle University [3]. Proses pendaftaran dari mendaftar online sampai terbit Letter of Acceptance sekitar empat bulan [4]. Waktu yang panjang ini karena saya memasukkan berkas di akhir bulan Oktober sehingga harus menunggu winter vacation, Tahun Baru dan sebagainya.

Begitu mendapatkan LOA, saya langsung mendaftar beasiswa. Ini langkah ketiga yang sangat, sangat, sangat penting (kecuali bagi yang cukup beruntung mendapatkan Beasiswa Ayah Bunda/turunannya untuk mendukung kuliah :D). Saya mendaftar Beasiswa Luar Negeri DIKTI yang diperuntukkan bagi dosen dan calon dosen. Pilihan beasiswa lain ada banyak, dapat memilih sesuai panggilan hati nurani 😀 [5]

Rasa bahagia kembali membuncah ketika pada bulan Mei 2012, sekitar delapan bulan dari pertama kali saya mengirim email ke calon Guru, nama saya tercantum sebagai penerima BLN DIKTI 2012 Gelombang II. Alhamdulillah, keinginan berangkat ke negerinya Harry Potter semakin dekat! [6] Hasil menggembirakan ini tentu tidak lepas dari doa restu Bapak dan Ibu, dukungan keluarga dan sokongan Bu Rektor dan rekan-rekan di Prodi HI Unisri.

Setelah pasti mendapatkan Guarantee Letter dari DIKTI, saya pun mendaftar visa. Ini langkah keempat, yang hasilnya saya dapatkan sekarang [7]. Di passport saya, sekarang sudah mejeng stiker dengan foto saya tersenyum malu-malu. Alhamdulillah, keluarga juga mendapatkan visa, sehingga bisa menemani petualangan ini.

Empat langkah yang panjang, memakan waktu satu tahun. Namun empat langkah ini hanyalah ingsutan kecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun mendatang saat menempuh studi; lebih lagi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya, insha Allah.

It’s time to spread your wings, and fly, little one.

It is time for you to learn, tasting many winds blowing through the horizon.

[1] Saya ingat betapa galaunya hati ini saat sang calon Guru belum juga membalas email. Saya membuka email tiap hari, dan melakukan refresh tiap lima menit sekali. Sungguh. Masuk pekan kedua, harapan mendapat email dari calon Guru makin menipis, karena menurut teman-teman, batas waktu seorang profesor membalas adalah dua pekan. Lebih dari dua pekan, lupakan. Maka, betapa bahagia membuncah saat email dari calon Guru masuk inbox hampir sebulan kemudian.

[2] Sebenarnya, secara formal tidak perlu kontak Postgraduate Director untuk mendaftar formal, tapi komunikasi awal akan sangat membantu proses registrasi jika ternyata ada kendala di kemudian hari.

[3] Tip of the day: pastikan membaca terlebih dahulu laman petunjuk pendaftaran di situs universitas terkait. Siapkan dokumen yang diperlukan (scan passport, scan skor IELTS/iBT, scan ijiazah+transkrip dan scan terjemahannya, dll). Beberapa universitas meminta esay/jurnal dsb, beberapa yang lain tidak.

[4] Untuk lebih jelasnya lihat di sini,

[5] Untuk detail tentang beasiswa Dikti, dapat lihat di sini. Untuk beasiswa LPDP, bisa lihat ini.

[6] Ini mulai ketahuan niat sebenarnya apaaa XD

[7] Untuk proses pembuatan visa UK, silahkan baca sini.

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,