RSS

Tag Archives: budaya

Islam, Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Moderat…

Saat ini ada banyak tulisan terkait wacana “Islam Nusantara”. Saya membaca sebatas link/foto yang dikirim teman-teman dari Indonesia. Namun ini tema yang sangat menarik karena thesis saya tentang konsep “umat” sebagai konsep masyarakat global tentu bersinggungan dengan penafsiran Muslim terhadap Islam dan aplikasi kontemporernya.

Wacana ini jadi semakin menarik ketika ada artikel resmi dari pemerintah yang saya tautkan di status ini. Di sana disebutkan “Islam Indonesia” yang dinyatakan sebagai “Islam moderat”.

Saat ini memang terjadi proses redefinisi tentang Islam dan kehidupan Muslim. Tentang ini juga menjadi bahan diskusi pekan lalu di panel evaluasi saya. Menurut saya, proses redefinisi ini sesuatu yang alami, sebagaimana ada upaya definisi Islam oleh “mu’tazillah-syiah-ahlu sunnah” dan kontestasi akan definisi tersebut yang belum berakhir sampai sekarang. Pada tingkatan yang lebih memungkinkan kompromi ada redefinisi mazhab fiqh, yang juga masih berjalan sampai sekarang.

Beberapa tahun terakhir, dinamika berkembang lagi dengan pemikiran Islam dari Arab Saudi (yang sering disebut “Wahabbi”), dari Mesir (Ikhwanul Muslimin), Turki (Gulen movement), Eropa (Tariq Ramadhan, iERA), Amerika Serikat (Hamza Yusuf, Nouman Ali Khan) dan sebagainya.

Untuk “sisi gelapnya” kita melihat fenomena ISIS yang memberikan definisi tentang “Islam”, yang secara intelektual menantang definisi ulama-ulama lain di luar gerakannya dan secara praktis gerakan “Islam” ala mereka dapat dinilai sebagai perbuatan-perbuatan tidak Islami oleh yang lain.

Dalam dinamika ini, “Islam” adalah sebuah term/istilah, sedangkan “Islam adalah….” merupakan definisi yang sedang “diperebutkan” oleh penafsiran gerakan-gerakan di atas. Posisi sebuah term memang vital dalam kehidupan manusia, karena melalui term, manusia membangun realitas sosialnya. Sebuah term menjadi simbol, satu kata yang mewakili sekian panjang definisi, aplikasi dan dinamikanya.

Kontestasi terhadap term akan memakan waktu dan energi yang panjang dan membutuhkan ruang dialog. Ketika ruang dialog itu tidak ada, misal karena salah satu pihak tidak mau berdialog dan memilih menggunakan kekerasan, maka upaya lain yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak sepakat adalah membuat term baru, yang menggerus otoritas term lama.

“Islam moderat”, “Islam Indonesia”, “Islam Nusantara” dan sebagainya mungkin merupakan respon terhadap kebuntuan dialog dalam membicarakan definisi term “Islam”. Namun, perlu dicermati bahwa “Islam moderat” dan sebagainya itu merupakan term baru, yang mau-tidak mau menggerus otoritas “Islam” sebagai sebuah term yang satu. Salah satu respon terhadap penggerusan otoritas ini adalah dengan menuduh “Islam moderat” dan sebagainya itu memecah “Islam”. Kalau ada “Islam Indonesia” maka ada “Islam Arab”, “Islam Eropa” dsb. Kalau ada “Islam Moderat”, tentu ada “Islam tidak moderat”.

Saya membaca beberapa opini di media massa terkait wacana ini, baik dari pengusung maupun yang merespon, dan melihat tidak ada niatan untuk menggerus otoritas term “Islam”. Yang diinginkan adalah, mengusung definisi baru tentang Islam, yang berkembang dari ekspresi Muslim di Nusantara.

Untuk itu, menurut saya lebih pas jika alih-alih mengkonstruksi term baru, cendekiawan Muslim di Indonesia berkontribusi dalam redefinisi Islam di tataran global.

Kaitannya dengan artikel ini, kalau memang universitas ini akan berdiri, semoga bisa menjadi salah satu pelaku tersebut.


 



http://setkab.go.id/ingin-bangun-universitas-islam-moderat-presiden-undang-para-rektor-dan-mui/

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2015 in Renungan

 

Tags: , ,

Ketika Tablet (akan) Masuk Sekolah

Saya tertarik membaca berita online tentang rencana Mendikbud Anies Baswedan untuk menggantikan buku pelajaran dengan tablet. Argumennya, penggunaan tablet akan menekan biaya, menghemat kertas sekaligus menjaga kualitas bahan ajar. Menurut Anies, pemakaian tablet bisa memperkaya proses belajar mengajar dengan menyediakan kuis dan aktivitas interaktif lainnya.

Penggunaan tablet memang telah dikenalkan di sekolah-sekolah di luar negeri. BBC memberitakan bahwa pada Desember 2014, sekitar 70% sekolah dasar dan menengah di UK menggunakan iPad untuk aktivitas belajar-mengajar. Namun menurut artikel tersebut, rasio tablet : siswa ternyata tidak 1 : 1. Artinya, iPad tersebut digunakan secara berjamaah. Satu tablet untuk sekian orang siswa. Hanya 9% sekolah yang memiliki satu tablet untuk setiap siswa. Pun, BBC di artikel yang sama mengutip penelitian yang menyatakan belum ada kaitan pasti antara penggunaan tablet dengan peningkatan kualitas belajar siswa [1].

Di Amerika Serikat, penggunaan tablet di sekolah-sekolah juga jamak ditemukan. Pada caturwulan ketiga 2014 saja, tercatat ada 702,000 iPad yang terjual ke sekolah-sekolah. Sebelumnya di tahun 2013, pemerintah Los Angeles berniat untuk membelikan iPad bagi setiap siswa di wilayah tersebut, berjumlah 640,000 siswa dengan nilai anggaran melebihi $30 juta, namun rencana itu ditunda setelah siswa-siswa SMA di LA meng-hack iPad dari sekolah mereka dan menggunakannya untuk mengakses Facebook.

 

Dari dua ilustrasi di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dijelaskan lebih lanjut oleh Mendikbud dan jajarannya. Pertama, masalah anggaran dan status kepemilikan tablet. Siapa yang akan membayar biaya pengadaan tablet dan content-nya? Apakah orang tua siswa atau negara? Jika negara, siapa pemilik tablet tersebut? Apakah negara, sekolah ataukah siswa? Jika negara yang menanggung, berapa besar yang dianggarkan untuk proyek ini? Apakah program ini akan merata untuk seluruh wilayah Indonesia dan bagaimana dukungan terkait pembangunan infrastruktur dan jaringan internet di wilayah tertinggal?

Kedua, masalah keamanan. Ada beberapa aspek keamanan yang harus diperhatikan. Pertama, aspek keamanan fisik dari tablet tersebut. Bagaimana menjaga agar tablet tidak dicuri? Apakah ada aplikasi semacam Find my iPad dan Lost Mode yang dapat melacak dan mengunci tablet sehingga tidak dapat digunakan oleh pencuri? Bagaimana menjaga tablet tersebut dari kerusakan akibat penggunaan (jatuh, kena air, tergores?). Tanpa perhatian pada aspek keamanan fisik ini, maka investasi yang dilakukan pemerintah bisa jadi hilang dalam sekejap (tablet hilang atau cepat rusak) [2].

Kedua, keamanan content dan software. Sebagaimana berita di Los Angeles di atas, ternyata siswa-siswa SMA di sana cukup cerdas membongkar kode pengaman yang dipasang di iPad mereka dan menggunakan iPad di luar tujuan: untuk akses Facebook. Bagaimana dengan tablet di Indonesia? Apakah memiliki tingkat keamanan yang memadai sehingga siswa-siswa hanya dapat mengakses konten yang diizinkan? Apakah pihak ketiga mudah memasukkan unauthorised contents ke tablet-tablet tersebut? Mungkin cara termudah adalah menjadikan tablet murni sebagai ebook reader (offline) selagi berada di tangan siswa.

Poin ketiga yang perlu diperhatikan adalah content. Tablet tanpa isi ebook dan software edukasi tentu tidak akan memberi manfaat banyak. Karena itu perlu juga diperhatikan isi tablet tersebut. Saya pribadi melihat beberapa tahun terakhir pemerintah sudah memiliki itikad yang baik untuk mengadakan bacaan berkualitas melalui Sayembara Puskurbuk namun masih saja ada satu-dua buku yang mengandung isi bermasalah [3].

Perhatian Keempat adalah pendidikan guru dan orang tua. Kita perlu ingat bahwa sejatinya, tablet dan buku pelajaran adalah alat bantu. Guru dan orang tua murid lah pelaku pendidikan yang utama. Tanpa bimbingan guru dan orang tua, seorang anak sulit untuk mencapai titik pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, kebijakan pengadaan tablet ini seyogyanya tidak menjadi substitusi dari kebijakan peningkatan kualitas guru. Seyogyanya pula, pemerintah perlu mewajibkan orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anaknya sehingga proses pendidikan anak berlangsung komprehensif, di rumah dan di sekolah.

Terakhir, menurut saya perlu ada pengkajian mendalam (jika perlu disertai dengan percobaan dan pilot project) tentang efektivitas proses pembelajaran melalui tablet. Hasil penelitian yang dikutip BBC di atas menyatakan bahwa belum ditemukan adanya korelasi positif antara penggunaan tablet dan peningkatan kualitas belajar siswa. Perlu juga ada pengkajian mengenai efek penggunaan tablet di sekolah terhadap perkembangan anak, terutama pada aspek psikologi dan kemampuan komunikasinya. Ini tema yang masih baru dan hangat diperbincangkan oleh para peneliti. Pengalaman pribadi sih, tablet kurang efektif untuk mengajak anak membaca.

 

[1] laporan lengkap penelitian yang dikutip BBC dapat anda akses di sini.

[2] iPad unggul di UK, AS dan banyak negara lain karena memiliki aspek keamanan fisik yang cukup tinggi.

[3] Saya jadi ingat heboh di Kota Yogyakarta pada tahun 2006-an ketika ada kumpulan cerpen berisi necrophilia dan sadisme yang dibagikan sebagai buku pengayaan ke SMP/MTs. I was there. It was very disturbing. No one took the responsibility, iirc. Sigh.

 

 

 

 

 

 
4 Comments

Posted by on January 8, 2015 in Renungan, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Buku atau eBook?

Kemajuan teknologi saat ini membuat aktivitas membaca menjadi lebih mudah. Tidak perlu membawa buku setumpuk; cukup dengan satu iPad/Android/tablet lain, anda sudah dapat membawa ratusan buku dan menikmatinya dengan nyaman. Sungguh, sebagai pembaca kelas berat, saya merasa sangat terbantu dengan adanya ebook dan ebook reader yang beraneka rupa. Bahkan sekarang, ketika sedang mengerjakan disertasi pun saya lebih suka menggunakan ebook daripada buku.

 

Tapi kalau untuk mengenalkan budaya baca pada anak saya, rasanya menggunakan buku jauh lebih pas. Saya dulu mencoba menggunakan interactive ebook sebagai teman membaca untuk anak saya tapi hasilnya tidak optimal. Dia justru terganggu dengan fungsi-fungsi sekunder (animasi, game jika ada, suara/musik) sehingga tidak khusyuk membaca. Bahkan membolak-balik halaman sepertinya lebih menarik daripada menyimak isi halaman itu sendiri.

Setelah merasa gagal menggunakan ebook untuk anak, saya pun banting setir, kembali pada buku untuk sahabat membaca. Hasilnya, dia lebih fokus. Kalau pun membolak-balik halaman, dia tetap berinteraksi dengan buku, tulisan dan gambar. Tidak tiba-tiba berubah menjadi game atau animasi. Sekarang, dia lebih suka membaca buku daripada ebook. Mungkin akan tiba saatnya bagi anak saya untuk menggunakan ebook; kelak, ketika dia sudah bisa menikmati membaca tanpa tergoda oleh animasi, game dan aksesoris lainnya yang ada pada sebuah ebook.

Bagaimana dengan pengalaman anda? Pilih buku atau ebook?

 

Disclaimer: anak saya tetap menggunakan iPad dengan jadwal maksimal dua jam sehari, biasanya untuk menonton Youtube. Acara semacam Charlie and Lola, Octonouts, Super Why dan Numberjacks menurut saya bagus untuk anak. Atau bermain edugames seperti Quarrel yang memadukan merangkai huruf dengan perang-perangan. Jika sudah menggunakan iPad atau komputer di sekolah, tidak lagi menggunakan iPad di rumah.

 

 

 
3 Comments

Posted by on December 30, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Reading Diary

Satu hal yang saya rasakan menarik di sistem pendidikan di England adalah keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak. Selain program Family Learning yang sifatnya suka rela (dan gratis), ada juga program Reading Diary. Anak akan dipinjami buku untuk dibaca di rumah pada akhir pekan. Mereka juga akan membawa semacam buku harian untuk mencatat kemajuan membaca mereka atau untuk orang tua memberi komentar.

Untuk anak saya, karena masih Reception atau TK nol besar, maka buku-buku cerita yang dibawa pulang biasanya sangat sederhana. Satu buku terdiri dari sekitar 16-20 halaman. Tiap halaman penuh gambar warna-warni dan dua sampai tiga kalimat saja. Reading diary-nya juga sederhana. Hanya lingkaran tempat orang tua menggambar wajah smile, jika anak suka membaca buku itu, atau sad, jika anak tidak suka atau mengalami kesulitan. Kemudian ada kolom keterangan tempat kami menuliskan apa yang anak suka atau kesulitan apa yang ia dapatkan saat mencoba membaca bukunya.

Sederhana namun sangat membantu anak untuk menjaga budaya membaca di akhir pekan. Ini juga membantu mengingatkan orang tua, bahwa orang tua tetap bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sudah selayaknya orang tua terlibat dalam proses belajar anak mereka. Mungkin cara yang sama perlu dilaksanakan di Indonesia? Atau, mungkin malah sudah ada sekolah di Indonesia yang memberikan bacaan akhir pekan dan reading diary seperti ini?

 

 
1 Comment

Posted by on December 17, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , ,

Usia dan keahlian membaca

Kadang orang tua galau, anaknya usia segini kok belum bisa baca ya? Anak yang itu usianya sama tapi sudah bisa baca. Tidak hanya di Indonesia kok, di UK sini juga ada sentimen semacam itu. Namun sebenarnya, kita tidak perlu khawatir. Jika kita sudah tumbuhkan budaya membaca yang menyenangkan, insha Allah, anak kita akan tertarik membaca dengan sendirinya.

 

Kalau di UK, kita dapat mengetahui ketrampilan membaca yang pas untuk anak di usia tertentu melalui website pendidikan, salah satunya Oxford Owl yang dikelola oleh University of Oxford ini. Panduan ini tidak sepenuhnya cocok untuk kita di Indonesia karena bahasa yang berbeda, namun setidaknya dapat menjadi gambaran bagi kita.

Untuk anak usia 3-4 tahun:

Awali dengan mengenalkan bentuk huruf dan cara bacanya pada anak. Kaitkan satu huruf dengan satu benda yang sering ia jumpai, seperti “G” dengan “gelas”.

Jika anak sudah mengenal semua huruf, coba rangkai beberapa huruf dalam satu kata singkat, seperti “Kaki”, “Kakak” dan sebagainya.

Untuk anak usia 4-5 tahun:

Mulai kenalkan buku pada anak dengan membacakannya cerita sebelum tidur.

Ajak anak untuk bermain mencari huruf atau kata di halaman yang anda baca. Minta anak untuk membunyikan huruf-huruf di kata tersebut sehingga membentuk satu kata. Misal “emmmm-aaaa-ennnnn-aaaa” untuk “mana”.

Jika anak sudah mahir mencari huruf dan kata, ajak anak untuk memulai membaca bukunya sendiri.

Untuk anak usia 5-6 tahun:

Terus ajak anak membaca dengan menyenangkan. Ajak ia untuk menceritakan kembali buku yang anda baca atau buku favoritnya. Ajak pula ia menulis kata-kata sederhana seperti nama panggilannya, “Ayah”, “Ibu” dan sebagainya.

Ingat, anak akan senang membaca jika ia merasa nyaman. Jangan paksa anak untuk langsung membaca dengan benar. Kesalahan-kesalahan saat membaca itu wajar bagi anak-anak. Nikmati proses anak belajar.

Untuk buku, pilih buku dengan satu atau dua kalimat pendek per halaman. Buku dengan kalimat yang banyak dan panjang lebih cocok untuk anak yang sudah lebih nyaman membaca.

Untuk anak usia 6-7 tahun:

Jika anak sudah nyaman membaca, mulai minta ia membaca lebih banyak buku. Kenalkan buku-buku dengan kalimat yang lebih banyak (2-4 kalimat per halaman). Sediakan waktu khusus untuk menemaninya membaca.

Beri penghargaan jika anak sudah menyelesaikan satu buku. Bacaan yang belum sempurna tidak apa selagi anak nyaman dan merasa dihargai kemampuannya.

Untuk anak usia 7-9 tahun:

Kembangkan minat baca dan kemampuan penalaran anak. Tanyakan beberapa hal dari buku yang ia baca, semisal “Bagaimana perasaan ibu Malin Kundang?” atau “Kalau menurut Kakak, Malin Kundang salahnya di mana?” Minta ia untuk menebak kelanjutan cerita agar daya imajinasinya berkembang.

Jika anak terlihat enggan untuk membaca, jangan paksa.

Anda dapat menyegarkan minat baca anak dengan bermain scrabble, teka-teki silang atau permainan kata lain yang menarik bagi anak anda.

Ingat: lebih baik membaca sedikit tapi sering daripada membaca banyak namun jarang.

Untuk anak usia 9-11 tahun:

Pada usia ini, anak wajarnya telah dapat membaca dengan mandiri. Anda dapat membantu anak anda untuk mengembangkan kemampuan analitiknya dengan menanyakan konsekuensi (misal: “Kalau si pencurinya tidak tertangkap, lalu bagaimana?”) atau membaca hal yang tersurat dalam sebuah cerita (misal: “Kenapa Elsa pergi dari istana?”).

Kenali minat anak anda dan kembangkan minat bacanya dengan memberikan jenis buku yang ia suka. Meski demikian, sesekali berikan jenis buku yang lain untuk menambah pengetahuannya.

Dorong anak anda untuk pergi ke perpustakaan, menjadi anggota book club atau mengikuti lomba yang berhubungan dengan buku. Semakin banyak sahabatnya dalam membaca, akan semakin semangat pula ia!

 

Berikut video Dzakka berlatih membaca setelah tiga bulan di Reception atau nol besar. Sedikit terbata-bata namun menemaninya membaca menjadi pengalaman mengasyikkan buat saya 🙂

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , , ,

Belajar Membaca yang Menyenangkan

Belajar membaca itu menyenangkan, kok! Betul! Itu yang saya alami selama kanak-kanak belasan tahun silam. Hal yang sama bisa kita terapkan untuk anak-anak kita. Berikut kiat-kiat belajar membaca yang menyenangkan yang saya sarikan dari pengalaman saya pribadi dan dari Oxford Owl [1] :

1. Niatkan untuk membaca dengan gembira

Innama a’malu bi an-niyah. Perbuatan itu ditentukan oleh niatnya. Jika kita ingin anak suka membaca, maka kita harus meniatkan diri kita sendiri untuk suka membaca bersama anak. Tanpa niat baik dan positif dari ayah-bunda, bagaimana anak dapat menyukai membaca?

Jangan pernah mengajak anak membaca dengan niat negatif (takut dia tertinggal di kelas) atau beban (agar sudah bisa membaca bulan depan). Meski anda menutupnya dalam hati, anak akan merasakannya dan tidak nyaman membaca. Percayalah, anak anda akan lancar membaca ketika waktunya sudah tiba.

2. Biasakan membaca bersama anak

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya.

Ada banyak kata-kata bijak dalam budaya kita yang mencerminkan betapa perilaku dan kebiasaan anak itu akan mencontoh orang tuanya. Jika kita ingin anak pandai membaca maka sebagai orang tua kita harus memberi contoh pada anak dengan membiasakan diri membaca pula. Yang paling seru: biasakan membaca bersama anak.

Tidak membutuhkan waktu lama, cukup biasakan membacakan satu cerita sebelum tidur pada anak. Insha Allah ini akan menjadi awal kebiasaan membaca yang baik untuk putra-putri anda.

3. Bercerita dan bernyanyi

Ketika anak masih kecil, sesekali selingi bacaan cerita dengan bernyanyi. Ayah dan Bunda dapat memilih lagu-lagu anak yang sederhana dan cocok untuk cerita tersebut atau mengarang sendiri lagu-lagunya on the spot. Percayalah, anak anda pasti akan gembira mendengar nyanyian anda. Tak perlu jadi juara Indonesia Mencari Bakat dulu sebelum bernyanyi bagi anak anda! 😉

4. Menceritakan kembali

Untuk anak yang sudah cukup besar (4-5 tahun), sesekali berhentilah di tengah cerita dan beri satu pertanyaan sederhana pada anak anda terkait cerita tadi. Misal, saat membaca cerita tentang “Kura-kura dan Kelinci”, anda bisa berhenti dan bertanya, “Kenapa kura-kura mengajak kelinci lomba lari?”

Biarkan anak anda menjawab, meski hanya satu kata. Ini akan merangsang daya imajinasi dan penalarannya, sehingga membuat dia lebih menikmati membaca.

Untuk anak yang sudah besar (7-10 tahun), minta dia untuk menceritakan kembali buku yang sudah dibaca pada anda. Agar lebih asyik, bisa menggunakan boneka jari atau kostum yang anda buat bersamanya. Ini insha Allah akan menumbuhkan kepercayaan dirinya sekaligus menumbuhkan minat baca dan penalarannya.

Berikut video Dzakka memceritakan kembali buku Serial Thomas. Apa yang ia ceritakan tidak sama persis dengan bukunya tapi kepercayaan dirinya bercerita layak dihargai! 🙂

 

 

 

[1] Oxford Owl adalah website yang diluncurkan oleh Oxford University untuk membantu orang tua mendampingi anak mereka belajar membaca.

[2] Kura-kura dan kelinci adalah dongeng Aesop dengan judul asli The Tortoise and the Hare.

 

 
1 Comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , ,

Anak kecil jangan belajar membaca?

Ingin anak anda bisa segera membaca?

Eh, anak kecil dilarang belajar membaca…

Belakangan ini, seiring dengan usia teman-teman saya yang beranjak dewasa (halah!) saya sering menemukan dua jenis berita di atas. Yang pertama cenderung “memotivasi” orang tua agar anaknya belajar membaca sedini mungkin (kadang disertai ancaman bahwa masuk SD harus bisa membaca, masuk TK harus sudah hafal huruf dan sebagainya tralala). Yang kedua sebaliknya, mencegah orang tua untuk mengajar anak-anaknya membaca (kadang disertai, yah, ancaman juga bahwa terlalu dini membaca akan berakibat a, b, c pada anak nanti).

Saya bukan psikolog. Anak saya baru masuk Reception (setara TK nol kecil) di sebuah sekolah di Newcastle sini, bulan September 2014 lalu. Jadi bukan orang tua dengan jam terbang tinggi. Namun, saya bercermin pada diri sendiri. Saya alhamdulillah sudah bisa membaca sejak TK. SD kelas 1 bukan lagi membaca Ini Ibu Budi [1] tapi membaca majalah anak dan buku cerita anak. Kelas 3 SD saya sudah membaca novel karangan Enid Blyton semacam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga dan sebagainya.

Alhamdulillah, sampai sekarang usia 20++ ini (halah lagi!), saya tidak pernah mengalami efek buruk seperti yang diancamkan artikel anti-membaca dini. Saya tidak pernah bosan membaca dan belajar. Kalau ada efek buruknya, mungkin pada kesehatan mata. Sejak Kelas 3 SD saya sudah harus berkacamata [2]. Mungkin ini karena kebiasaan membaca yang salah (kurang cahaya dan sebagainya) atau genetik atau kurang makan wortel, wallahu’alam.

Kembali ke membaca sejak dini. Saya tidak pernah dikejar-kejar Bapak dan Ibu untuk membaca. Saya tidak pernah diancam-ancam, “ayo belajar membaca, kalau enggak nanti digondol pocong lho,” atau sebangsanya. Bagi saya, membaca itu kegiatan yang asyik. Bercermin dari pengalaman, saya merasa oke saja mengajak anak untuk membaca sejak dini. Syaratnya satu: membaca itu menyenangkan.


[1] semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurah pada Ibu Siti Rahmani Rauf sebagai penulis buku belajar membaca dan metode “Ini Ibu Budi” tersebut. Semoga menjadi amal kebaikan bagi beliau, aamiin.

[2] Tapi, katanya*, orang berkacamata itu tambah cakep kok.

*minimal kata istri saya, huehehe.

 
5 Comments

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,