RSS

Tag Archives: durham

Remaja dan Pahlawan Nasional

Rekan-rekan,

Saya sedang mengadakan survey tentang “Pandangan Remaja terhadap Pahlawan Nasional dan Politik Indonesia”. Mohon sebarkan ke para pelajar SMP dan SMU link survey online berikut ya:¬†http://bit.ly/1bM2Uzk

Survey dibuka sd 20 Februari 2014. Matur nuwun, terima kasih banyak

Salam,
Ganjar

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on February 13, 2014 in Akademik, Renungan

 

Tags: , , ,

SCONUL Access

Biasanya, saya pergi ke perpustakaan Newcastle University tiga-empat kali sepekan, ada atau tidak ada jadwal kegiatan. Di perpustakaan, saya membaca, mengetik, atau melakukan perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan seorang PhD student. Godaan membuka facebook, baca komik dan sebagainya menurun karena malu dengan tetangga meja ūüėõ

Setelah pindah ke Durham University, saya kehilangan akses ke perpustakaan. Muncul dilema besar terkait pola kerja. Di satu sisi, kalau saya di rumah saja, maka kemungkinan saya menyelesaikan pekerjaan berada pada titik limit mendekati nol. Tapi jika harus sering ke Durham untuk ngendon di perpus rasanya berat di ongkos [1].

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jalan keluar. Supervisor saya yang baik hati memberitahu bahwa saya, sebagai mahasiswa Durham University, bisa mendapatkan akses ke perpustakaan Newcastle University menggunakan SCONUL Access. SCONUL Access adalah kerjasama antar-perpustakaan universitas di UK dan Irlandia. Melalui program ini, seorang mahasiswa di satu universitas bisa menjadi “anggota terbatas” di perpustakaan universitas lain.

Cara mendapatkan SCONUL Access ini sangat gampang. Saya tinggal mengisi formulir online di laman SCONUL. Pihak SCONUL kemudian akan mengirim email ke pustakawan di Durham University untuk memverifikasi status saya. Begitu pustakawan Durham University menemukan tidak ada yang aneh dari seorang Ganjar, dia mengirimkan email ke saya yang berisi menyetujui aplikasi saya. Saya tinggal mencetak email dari pustakawan tersebut dan membawanya ke perpustakaan Newcastle University.

Proses mendapatkan akses di perpustakaan Newcastle University pun sangat gampang. Saya menunjukkan cetakan email dan kartu mahasiswa. Petugas pun memasukkan data saya ke komputer, kemudian mengambil foto saya saat itu juga [2], dan beberapa detik kemudian saya menerima kartu tanda anggota perpustakaan Newcastle University. Cepat, tanpa biaya lagi!

Bersama kartu tersebut, saya mendapatkan fasilitas-fasilitas berikut:

  1. Akses keluar-masuk perpustakaan Newcastle University.
  2. Boleh meminjam buku maksimal delapan, setiap buku maksimal 30 hari.
  3. Setiap berkunjung dapat meminta password untuk akses WiFi. Password berkaku selama enam jam.

Sayangnya, saya tidak bisa numpang ngeprint dan scan di perpus. Kalau bisa, kan lumayan tidak perlu menunggu ke Durham University untuk print dan scan. Tapi untunglah ada tetangga atas yang bisa dititipi print dan scan di Newcastle University heee…

Adanya fasilitas SCONUL tentu sangat membantu bagi para mahasiswa. Pertama tentu bagi mahasiswa yang tinggal agak jauh dari universitas tempat studi dan ada universitas lain di dekat rumah. Craig, rekan seperjuangan di Durham University, juga kondisinya hampir sama seperti saya. Craig kerja di Manchester namun ambil PhD di Durham karena dia ada jaringan dengan seorang profesor di Durham University. Baginya tentu lebih mudah untuk menggunakan fasiltas perpustakaan Manchester University daripada bolak-balik ke Durham.

Kedua, setiap perpustakaan kampus memiliki fokus/koleksi yang berbeda. Untuk periset dengan tema tertentu, bisa jadi perpustakaan universitas tempat studinya tidak memiliki koleksi yang cukup lengkap terkait tema tersebut. Tentu sangat membantu jika ia dapat menggunakan koleksi dari universitas lain.

Jika mengingat kondisi di tanah air saat saya kuliah dulu, sepertinya berbeda jauh. Pada masa antah-berantah, saat saya kuliah once upon a time, saya tidak bisa mengakses perpustakaan universitas lain. Bahkan kadang untuk akses perpustakaan fakultas sebelah saja sulit. Semoga kondisinya berubah sekarang, sehingga kebutuhan pelajar akan buku dapat terpenuhi tanpa memandang dari universitas mana dia berasal.

Sebagai penutup, berikut pemandangan di pojok favorit saya di perpustakaan Newcastle University:

What a lovely autumn tree

 

 

 

[1] Biaya Newcastle-Durham pp naik train berkisar antara £4.4 sd £8.1, tergantung waktu keberangkatan.

[2] Untung saya mengenakan pakaian yang agak keren jadi fotonya pun agak keren ūüėõ

 

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2013 in Akademik

 

Tags: , ,

Military Intervention

Pada Kamis, 17 September, SGIA mengadakan seminar tentang Military Intervention di al Qasimi 102. Pembicara tunggal pada seminar ini adalah Lt. Gen. Robin Brims. Beliau terlibat langsung dalam intervensi militer yang dilaksanakan UK ke Bosnia dan Iraq.

Gen. Brims menyampaikan penjelasan di depan forum

Beberapa poin yang beliau sampaikan terkait intervensi militer tersebut adalah:

  1. Militer UK bukan pengambil kebijakan dalam kasus-kasus ini. Yang memegang kebijakan adalah para politisi. Militer diundang untuk menjawab “apakah kita (UK) dapat melakukan ini.”, dan “apa konsekuensinya (secara militer) bagi UK?”
  2. Militer tidak dapat menolak keputusan yang telah diambil oleh politisi. “It is right to not have an opinion,” kata Gen. Brims.
  3. Secara pribadi, Gen. Brims saat itu percaya bahwa pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Keyakinan ini tumbuh karena beliau melihat laporan yang menunjukkan ke sana. Sayang, beliau “tidak bisa” menyampaikan laporan apa dan bagaimana isinya [1].
  4. Untuk saat ini, Gen. Brims tidak lagi meyakini bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah masal. Ketika ada hadirin yang bertanya kenapa, Gen. Brims kembali tidak bersedia menjawab [2].
  5. Gen. Brims mencatat banyak kasus yang menunjukkan kegagalan intervensi militer untuk menegakkan ketertiban di Iraq pasca-intervensi, berbeda dengan di Bosnia. Bahkan, skandal Abu Ghuraib menjadi salah satu skandal memalukan dalam intervensi ini.
  6. Untuk menghindari kegagalan yang terjadi di Iraq, Gen. Brims menyampaikan beberapa poin yang harus diperhatikan jika akan ada intervensi militer lagi di masa mendatang [3] sebagai berikut:
    1. Perlu menjalin kerjasama dengan tokoh setempat untuk menghindari ambruknya tatanan sosial kemasyarakatan [4].
    2. Urusan keamanan harus dipegang oleh polisi [5]. Jika keamanan dipegang oleh militer (tentara pendudukan), maka bisa terjadi kasus keamanan domestik akan ditanggapi dengan naluri dan logika militer. Menurut Gen. Brims, inilah yang membuat kasus macam Abu Ghuraib terjadi [6].
    3. Tentara pendudukan harus mampu mengendalikan diri dengan code of conduct yang ketat untuk mencegah kasus semacam Abu Ghuraib kembali terjadi.
    4. Keamanan fisik baru akan tercipta jika warga setempat menghormati rule of law yang ditegakkan oleh pihak pendudukan. Agar warga bersedia menghormati rule of law pihak pendudukan, maka pihak pendudukan harus menghormati hak warga setempat. Kembali, ini gagal dilakukan pihak pendudukan di Iraq.
    5. Pihak pendudukan harus memikirkan upaya rekonsiliasi pasca-konflik.
Saya tidak sepenuhnya menikmati seminar tadi karena Gen. Brims sejak awal mewanti-wanti bahwa ia tidak akan bicara tentang proses politik yang memutuskan langkah intervensi ke Iraq. Beberapa pertanyaan yang menjurus ke sana pun dijawab dengan lugas: “I can not answer that” atau “I am going to go into the jail if I answer your question.

Meski demikian, di antara penjelasannya saya menemukan muatan politik yang tersirat:

  • Militer Inggris (dan pemerintah Inggris) sama sekali tidak memegang kendali dalam proses intervensi militer ini. Semua kendali dan komando datangnya dari AS. That was an American operation.
  • Ada beberapa hal yang dilakukan AS yang memunculkan perbedaan pendapat, bahkan ketidaksetujuan, dari pihak Inggris. Kasus Abu Ghuraib adalah salah satunya. Kebijakan (person?) militer AS yang cenderung agresif adalah hal lain yang secara halus disinggung Gen. Brims sebagai “kebijakan yang berlebihan”.
  • Sekuat apapun pewacanaan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal, pada akhirnya tidak ada buktinya. Bahkan para pejabat Inggris sendiri kini tidak meyakini hal tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur.

[1] Alex, rekan dari Perancis yang duduk di sebelah saya saat seminar bergumam, “Itu hal yang tidak akan pernah terungkap, apalagi dalam seminar di universitas begini.” Yah, menurut saya, Alex benar. Mustahil rasanya ada petinggi militer yang bicara blak-blakan tentang informasi itu. Meski, ketiadaan bukti yang jelas tentang informasi itu membuat banyak orang meragukan apakah benar Iraq punya senjata pemusnah massal?

[2] Alex bergumam lagi: “Good question, but that will never be answered either.

[3] Kali ini saya yang bergumam: “Na’udzubillah… ūüė¶ ”

[4] Dalam kasus Iraq, AS mengambil kebijakan “tidak berhubungan dengan anggota Partai Ba’ath*.” Masalahnya, di pelosok Iraq, semua pranata sosial adalah anggota Partai Ba’ats. Mereka bisa menjadi pranata sosial karena menjadi anggota Partai Ba’ath**. Sikap ini membuat tentara pendudukan*** mengabaikan total pranata sosial yang sudah ada dan mencoba membangunnya dari nol. Cukup dikata, kekacauan meraja lela. Kondisi ini berbeda dengan Bosnia, di mana tentara NATO menjalin kerjasama dengan pranata sosial Bosnia dan Serbia-Bosnia untuk menjaga ketertiban.

* Partai Ba’ath adalah partai pendukung Saddam Hussein, berhaluan kiri. Bukan partai berbasis Islam.

** Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia di masa Orba; (hampir) semua pranata sosial dan pemimpin masyarakat adalah anggota Golkar.

***saya menggunakan istilah “tentara pendudukan” (tentara yang menduduki) untuk merujuk ke AS, Inggris dan konco-konconya.

[5] Polisi di sini dapat merujuk pada polisi setempat (jika masih ada) maupun polisi internasional, gsbunugan polisi yang dikirim negara penduduk dengan misi khusus menjaga keamanan.

[6] Gen. Brims tidak membuat komparasi dengan Bosnia. Dalam kasus Bosnia, penjagaan keamanan diurus oleh pasukan NATO namun tidak terjadi pelecehan terhadap kemanusiaan sebagaimana di Iraq.

 
4 Comments

Posted by on October 17, 2013 in Akademik

 

Tags: ,

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis ūüėČ Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk¬†letter of offer¬†di tahun 2011¬†dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan¬†letter of offer¬†tersebut ke¬†Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam¬†Offer¬†tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya ūüėÄ [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April.¬†No worries, saya sudah menyiapkan¬†essay¬†10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”¬†¬†Barry menarik nafas dalam.¬†“I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship¬†dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di¬†Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,” ¬†celetuk saya.

“Well, I know…”¬†Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok:¬†changing supervisor is the academic equivalent of a divorce.¬†100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati ūüėõ

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi.¬†Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui¬†Postgraduate Director¬†untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi¬†second supervisor¬†saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans.¬†Absolutely overdressed!¬†Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah,¬†first year¬†gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian¬†Postgraduate Research Project¬†(menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya.¬†He was a great teacher, and I really, really miss him,¬†hiks… Buku¬†Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law¬†menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh¬†postgraduate students¬†di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia¬†missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka.¬†Not even once.¬†Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana¬†Three Musketeers¬†yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya:¬†state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema¬†comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam.¬†You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di¬†School of Government and International Affairs. ¬†Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda:¬†British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang¬†civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening ūüėõ

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi¬†second supervisor¬†saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema¬†North-east Doctoral Training Centre*¬†yang melibatkan Durham University dan Newcastle University.¬†Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre¬†adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. ūüėõ

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……” ¬†Atau ada gambar setetes air raksasa.¬†You get the point¬†lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. ūüėõ

[6]¬†I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans…¬†(Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang:¬†I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful.¬†(Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara¬†induction¬†pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan¬†sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction¬†beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada ūüėõ

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Sang Guru (2)

Selain Barry, insha Allah beberapa tahun ke depan saya juga akan berguru pada Professor James Piscatori, dari Durham University. Kondisi saya cukup unik, karena memiliki dua orang supervisor dari dua universitas yang berbeda. Kedua supervisor ini pun orang-orang yang sangat kompeten di bidangnya. Jika sebelumnya saya sudah bercerita tentang Barry Gills, kali ini saya akan mengenalkan sosok James Piscatori, Sang Guru berikutnya.

James Piscatori adalah seorang ilmuwan senior dalam kancah akademik dunia. James menjabat sebagai Head of School di School of Governmental and International Affairs, Durham University. Minat riset beliau adalah Islam dan politik. Bukunya yang berjudul Moslems Politics merupakan salah satu buku yang banyak menjadi rujukan saat membahas dinamika politik umat Islam kontemporer. Profil lengkap James ada di sini.

Sebelum berkiprah di Durham University, James sudah malang-melintang di rimba persilatan. James pernah di Australia. Ia kemudian pindah ke UK, dan menjadi dosen di Oxford. Sejak 2010, James menjadi dosen di Durham University. Selain memiliki rekam jejak akademik yang mendunia, James juga memiliki jaringan yang global pula. James berteman dekat dengan banyak cendekiawan dan tokoh politik Muslim, salah seorangnya adalah Anwar Ibrahim. James juga pernah berkunjung ke Indonesia dan bekerja sama dengan beberapa akademisi Indonesia. He is quite familiar with Indonesia, including how shy we are *blush*

Berikut video saat James berbicara di depan Anwar Ibrahim dan pengurus partai di Malaysia:

 

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,