RSS

Tag Archives: Indonesia

Gambar Profil Facebook, Apa yang Anda Inginkan?

Segera setelah tragedi di Paris terjadi, facebook menawarkan filter untuk menambahkan bendera Perancis ke gambar profil kita. Banyak teman yang menggunakan tawaran itu. Namun kemudian, saya lihat banyak juga yang menyatakan protes, kenapa facebook hanya memasang filter bendera Perancis, tapi tidak bendera Palestina, Irak, Suriah? Beberapa pun kemudian mengganti gambar profil dengan foto berfilter bendera Palestina. Entah dari mana mendapatkannya.

Apalah arti sebuah gambar? Mungkin itu gumam yang dulu, atau bahkan kemarin lusa, terbetik. Gambar seakan tidak penting dan menjadi bagian biasa keseharian kita. Namun gambar sejatinya memiliki kekuatan simbolis yang dahsyat. A picture paints a thousand words. Satu gambar dapat mewakili ribuan kata, demikian idiom dalam bahasa Inggris berucap. Satu gambar mewakili ide, identitas dan rangkaian konteks sejarah yang mengikat gambar tersebut pada keseharian kita.

Gambar (atau foto) di facebook pun menjadi simbol akan identitas kita, akan keberadaan dan kenyataan diri kita di dunia maya. Sejak pertama kali membuka akun, facebook mengarahkan kita untuk memilih gambar yang dapat mewakili diri kita. Ketika facebook menawarkan filter bendera Perancis, ia tidak sedang menawarkan fitur estetik untuk mempercantik gambar kita, melainkan menawarkan ide “turut berduka, mendukung, bersimpati pada korban tragedi di Paris.” Itulah sejatinya yang ditawarkan.

Masalah muncul ketika ada seleksi (yang disengaja atau tidak?) dari facebook terkait ide mana yang dianggap layak untuk mendapatkan perlakuan khusus ini. Gay marriage? Facebook memasang filter pelangi. Tragedi Paris? Facebook memasang filter bendera Perancis.

Pembantaian di Palestina? Facebook diam. Warga sipil terbunuh di Afghanistan, Irak dan Suriah? Facebook diam. Bencana asap di Indonesia? Saya tidak menemukan filter haze atau filter Merah Putih untuk gambar profil saya. Alhasil, diskriminasi tragedi ini ada dan nyata. Tidak hanya di facebook tapi juga di sebagian besar media-media Barat. Sudah banyak blog, status dan sebagainya yang mengungkap itu.

Namun, kepada rekan-rekan yang memprotes diskriminasi facebook ini, saya ingin sampaikan, janganlah protes ini mengecilkan tragedi yang terjadi di Paris. Berucap, “di Paris hanya sekian korbannya, sementara di Suriah sekian kali lipat, di Palestina ratusan kali lipat” termasuk yang mengecilkan atau bahkan menafikan tragedi yang terjadi di Paris. Bukankah seharusnya kita mengagungkan kehidupan dan bersedih atas gugurnya satu korban tak berdosa pun? Bukankah al Qur’an berpesan barang siapa membunuh satu manusia, hakekatnya ia membunuh kemanusiaan itu sendiri? Proporsionallah dalam menyampaikan protes.

Kepada teman-teman yang baru peduli pada tragedi kemanusiaan setelah membaca berita tentang tragedi di Paris, selamat datang. Mari terus menyuarakan dukungan terhadap kemanusiaan. Jangan hanya berhenti pada hari ini, karena krisis kemanusiaan masih terus terjadi dan mengancam anak-anak manusia di belahan penjuru dunia esok, lusa dan selanjutnya. Saya ajak rekan-rekan untuk berbuat lebih dari menambahkan filter ke gambar profil anda. Hari-hari ini musim dingin menjelang, banyak pengungsi membutuhkan bantuan makanan. Warga Gaza kesulitan air minum. Anak-anak Indonesia tidak punya akses ke sekolah. Mari berjuang bersama untuk kemanusiaan.

Kepada teman-teman yang abai, mencemooh ketika ada yang peduli tentang Palestina, Suriah dan Rohingya dan tetap tidak akan peduli, saya kasihan terhadap anda.

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2015 in Renungan

 

Tags: ,

Sahabat Membaca: sebuah babak baru

Sahabat Membaca: sebuah babak baru

Sudah lama sebenarnya saya ingin membangun sebuah rumah virtual sebagai rujukan gerakan cinta membaca di Indonesia. Awalnya saya melakukannya melalui halaman facebook, namun lama-kelamaan terasa ada keterbatasan dalam platform ini. Saya pun memutuskan untuk membangun sebuah website mandiri.

Alhamdulillah, Allah Mudahkan jalannya. Saya bertemu dengan rekan-rekan yang dinamis, enerjik dan kreatif. Kami ngebut bekerja maraton untuk mempersiapkan website ini. Kendala pasti ada, mulai dari jam tayang yang berbeda antara tim di WIB dan saya di BST (sekarang sudah mundur ke GMT) sampai kesulitan teknis yang memaksa server pindah ke Singapura.

Tapi, semua terasa manis melihat antusiasme pengunjung web. Web yang baru diluncurkan hari ini, 3 November 2015, alhamdulillah sudah melampaui 1,000 page views. Awal yang baik menurut saya!

So, without further ado, tanpa banyak bicara lagi, saya kenalkan website Sahabat Membaca untuk teman-teman semua!

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2015 in Aktivisme, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

#SedekahOksigen Laporan UK

#SedekahOksigen Laporan UK

Laporan donasi untuk #SedekahOksigen simpul donasi UK:

Gelombang III (diterima sd 01 November 2015, 5 pm GMT)

 
 
 
Liputan tentang #SedekahOksigen di MetroTV
Untuk foto-foto kegiatan #SedekahOnline, silahkan berkunjung ke facebook Bu Fanny (Bendahara).
 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2015 in Aktivisme

 

Tags:

#SedekahOksigen

Kepada rekan-rekan semua:

 

Mengingat bencana asap masih melanda beberapa kawasan di Indonesia dan korban sakit/meninggal karena ISPA terus bertambah, kami Warga Negara Indonesia yang di UK ingin menggalang dana untuk disalurkan ke gerakan #sedekahoksigen.

Jika berkenan, mohon rekan-rekan di UK dapat menggalang dana untuk kita serahkan bersama. Kami juga mengajak organisasi-organisasi lain seperti KIBAR, Karyasiswa Dikti UK, PPI UK dll untuk turut dalam penggalangan dana ini.

 

Dana dapat dikirim ke:

— Rupiah

BSM cabang Klaten no rek 7006249293 a/n Lusi Nuryanti

— GBP

sort code 309893 no acc. 58472960 a/n Mrs. Lusi Nuryanti

 

Konfirmasi donasi dan info lebih lanjut:

Ganjar (+447745034831/ganjar.widhiyoga@gmail.com)

 

Laporan donasi akan diunggah tiap hari di ganjarwy.com

 

Terima kasih dan salam,

Ganjar Widhiyoga (PhD student, Durham University)

Lusi Nuryanti (PhD student, Leeds Beckett University)

 

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2015 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Islam, Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Moderat…

Saat ini ada banyak tulisan terkait wacana “Islam Nusantara”. Saya membaca sebatas link/foto yang dikirim teman-teman dari Indonesia. Namun ini tema yang sangat menarik karena thesis saya tentang konsep “umat” sebagai konsep masyarakat global tentu bersinggungan dengan penafsiran Muslim terhadap Islam dan aplikasi kontemporernya.

Wacana ini jadi semakin menarik ketika ada artikel resmi dari pemerintah yang saya tautkan di status ini. Di sana disebutkan “Islam Indonesia” yang dinyatakan sebagai “Islam moderat”.

Saat ini memang terjadi proses redefinisi tentang Islam dan kehidupan Muslim. Tentang ini juga menjadi bahan diskusi pekan lalu di panel evaluasi saya. Menurut saya, proses redefinisi ini sesuatu yang alami, sebagaimana ada upaya definisi Islam oleh “mu’tazillah-syiah-ahlu sunnah” dan kontestasi akan definisi tersebut yang belum berakhir sampai sekarang. Pada tingkatan yang lebih memungkinkan kompromi ada redefinisi mazhab fiqh, yang juga masih berjalan sampai sekarang.

Beberapa tahun terakhir, dinamika berkembang lagi dengan pemikiran Islam dari Arab Saudi (yang sering disebut “Wahabbi”), dari Mesir (Ikhwanul Muslimin), Turki (Gulen movement), Eropa (Tariq Ramadhan, iERA), Amerika Serikat (Hamza Yusuf, Nouman Ali Khan) dan sebagainya.

Untuk “sisi gelapnya” kita melihat fenomena ISIS yang memberikan definisi tentang “Islam”, yang secara intelektual menantang definisi ulama-ulama lain di luar gerakannya dan secara praktis gerakan “Islam” ala mereka dapat dinilai sebagai perbuatan-perbuatan tidak Islami oleh yang lain.

Dalam dinamika ini, “Islam” adalah sebuah term/istilah, sedangkan “Islam adalah….” merupakan definisi yang sedang “diperebutkan” oleh penafsiran gerakan-gerakan di atas. Posisi sebuah term memang vital dalam kehidupan manusia, karena melalui term, manusia membangun realitas sosialnya. Sebuah term menjadi simbol, satu kata yang mewakili sekian panjang definisi, aplikasi dan dinamikanya.

Kontestasi terhadap term akan memakan waktu dan energi yang panjang dan membutuhkan ruang dialog. Ketika ruang dialog itu tidak ada, misal karena salah satu pihak tidak mau berdialog dan memilih menggunakan kekerasan, maka upaya lain yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak sepakat adalah membuat term baru, yang menggerus otoritas term lama.

“Islam moderat”, “Islam Indonesia”, “Islam Nusantara” dan sebagainya mungkin merupakan respon terhadap kebuntuan dialog dalam membicarakan definisi term “Islam”. Namun, perlu dicermati bahwa “Islam moderat” dan sebagainya itu merupakan term baru, yang mau-tidak mau menggerus otoritas “Islam” sebagai sebuah term yang satu. Salah satu respon terhadap penggerusan otoritas ini adalah dengan menuduh “Islam moderat” dan sebagainya itu memecah “Islam”. Kalau ada “Islam Indonesia” maka ada “Islam Arab”, “Islam Eropa” dsb. Kalau ada “Islam Moderat”, tentu ada “Islam tidak moderat”.

Saya membaca beberapa opini di media massa terkait wacana ini, baik dari pengusung maupun yang merespon, dan melihat tidak ada niatan untuk menggerus otoritas term “Islam”. Yang diinginkan adalah, mengusung definisi baru tentang Islam, yang berkembang dari ekspresi Muslim di Nusantara.

Untuk itu, menurut saya lebih pas jika alih-alih mengkonstruksi term baru, cendekiawan Muslim di Indonesia berkontribusi dalam redefinisi Islam di tataran global.

Kaitannya dengan artikel ini, kalau memang universitas ini akan berdiri, semoga bisa menjadi salah satu pelaku tersebut.


 



http://setkab.go.id/ingin-bangun-universitas-islam-moderat-presiden-undang-para-rektor-dan-mui/

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2015 in Renungan

 

Tags: , ,

Ketika Tablet (akan) Masuk Sekolah

Saya tertarik membaca berita online tentang rencana Mendikbud Anies Baswedan untuk menggantikan buku pelajaran dengan tablet. Argumennya, penggunaan tablet akan menekan biaya, menghemat kertas sekaligus menjaga kualitas bahan ajar. Menurut Anies, pemakaian tablet bisa memperkaya proses belajar mengajar dengan menyediakan kuis dan aktivitas interaktif lainnya.

Penggunaan tablet memang telah dikenalkan di sekolah-sekolah di luar negeri. BBC memberitakan bahwa pada Desember 2014, sekitar 70% sekolah dasar dan menengah di UK menggunakan iPad untuk aktivitas belajar-mengajar. Namun menurut artikel tersebut, rasio tablet : siswa ternyata tidak 1 : 1. Artinya, iPad tersebut digunakan secara berjamaah. Satu tablet untuk sekian orang siswa. Hanya 9% sekolah yang memiliki satu tablet untuk setiap siswa. Pun, BBC di artikel yang sama mengutip penelitian yang menyatakan belum ada kaitan pasti antara penggunaan tablet dengan peningkatan kualitas belajar siswa [1].

Di Amerika Serikat, penggunaan tablet di sekolah-sekolah juga jamak ditemukan. Pada caturwulan ketiga 2014 saja, tercatat ada 702,000 iPad yang terjual ke sekolah-sekolah. Sebelumnya di tahun 2013, pemerintah Los Angeles berniat untuk membelikan iPad bagi setiap siswa di wilayah tersebut, berjumlah 640,000 siswa dengan nilai anggaran melebihi $30 juta, namun rencana itu ditunda setelah siswa-siswa SMA di LA meng-hack iPad dari sekolah mereka dan menggunakannya untuk mengakses Facebook.

 

Dari dua ilustrasi di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dijelaskan lebih lanjut oleh Mendikbud dan jajarannya. Pertama, masalah anggaran dan status kepemilikan tablet. Siapa yang akan membayar biaya pengadaan tablet dan content-nya? Apakah orang tua siswa atau negara? Jika negara, siapa pemilik tablet tersebut? Apakah negara, sekolah ataukah siswa? Jika negara yang menanggung, berapa besar yang dianggarkan untuk proyek ini? Apakah program ini akan merata untuk seluruh wilayah Indonesia dan bagaimana dukungan terkait pembangunan infrastruktur dan jaringan internet di wilayah tertinggal?

Kedua, masalah keamanan. Ada beberapa aspek keamanan yang harus diperhatikan. Pertama, aspek keamanan fisik dari tablet tersebut. Bagaimana menjaga agar tablet tidak dicuri? Apakah ada aplikasi semacam Find my iPad dan Lost Mode yang dapat melacak dan mengunci tablet sehingga tidak dapat digunakan oleh pencuri? Bagaimana menjaga tablet tersebut dari kerusakan akibat penggunaan (jatuh, kena air, tergores?). Tanpa perhatian pada aspek keamanan fisik ini, maka investasi yang dilakukan pemerintah bisa jadi hilang dalam sekejap (tablet hilang atau cepat rusak) [2].

Kedua, keamanan content dan software. Sebagaimana berita di Los Angeles di atas, ternyata siswa-siswa SMA di sana cukup cerdas membongkar kode pengaman yang dipasang di iPad mereka dan menggunakan iPad di luar tujuan: untuk akses Facebook. Bagaimana dengan tablet di Indonesia? Apakah memiliki tingkat keamanan yang memadai sehingga siswa-siswa hanya dapat mengakses konten yang diizinkan? Apakah pihak ketiga mudah memasukkan unauthorised contents ke tablet-tablet tersebut? Mungkin cara termudah adalah menjadikan tablet murni sebagai ebook reader (offline) selagi berada di tangan siswa.

Poin ketiga yang perlu diperhatikan adalah content. Tablet tanpa isi ebook dan software edukasi tentu tidak akan memberi manfaat banyak. Karena itu perlu juga diperhatikan isi tablet tersebut. Saya pribadi melihat beberapa tahun terakhir pemerintah sudah memiliki itikad yang baik untuk mengadakan bacaan berkualitas melalui Sayembara Puskurbuk namun masih saja ada satu-dua buku yang mengandung isi bermasalah [3].

Perhatian Keempat adalah pendidikan guru dan orang tua. Kita perlu ingat bahwa sejatinya, tablet dan buku pelajaran adalah alat bantu. Guru dan orang tua murid lah pelaku pendidikan yang utama. Tanpa bimbingan guru dan orang tua, seorang anak sulit untuk mencapai titik pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, kebijakan pengadaan tablet ini seyogyanya tidak menjadi substitusi dari kebijakan peningkatan kualitas guru. Seyogyanya pula, pemerintah perlu mewajibkan orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anaknya sehingga proses pendidikan anak berlangsung komprehensif, di rumah dan di sekolah.

Terakhir, menurut saya perlu ada pengkajian mendalam (jika perlu disertai dengan percobaan dan pilot project) tentang efektivitas proses pembelajaran melalui tablet. Hasil penelitian yang dikutip BBC di atas menyatakan bahwa belum ditemukan adanya korelasi positif antara penggunaan tablet dan peningkatan kualitas belajar siswa. Perlu juga ada pengkajian mengenai efek penggunaan tablet di sekolah terhadap perkembangan anak, terutama pada aspek psikologi dan kemampuan komunikasinya. Ini tema yang masih baru dan hangat diperbincangkan oleh para peneliti. Pengalaman pribadi sih, tablet kurang efektif untuk mengajak anak membaca.

 

[1] laporan lengkap penelitian yang dikutip BBC dapat anda akses di sini.

[2] iPad unggul di UK, AS dan banyak negara lain karena memiliki aspek keamanan fisik yang cukup tinggi.

[3] Saya jadi ingat heboh di Kota Yogyakarta pada tahun 2006-an ketika ada kumpulan cerpen berisi necrophilia dan sadisme yang dibagikan sebagai buku pengayaan ke SMP/MTs. I was there. It was very disturbing. No one took the responsibility, iirc. Sigh.

 

 

 

 

 

 
4 Comments

Posted by on January 8, 2015 in Renungan, Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Usia dan keahlian membaca

Kadang orang tua galau, anaknya usia segini kok belum bisa baca ya? Anak yang itu usianya sama tapi sudah bisa baca. Tidak hanya di Indonesia kok, di UK sini juga ada sentimen semacam itu. Namun sebenarnya, kita tidak perlu khawatir. Jika kita sudah tumbuhkan budaya membaca yang menyenangkan, insha Allah, anak kita akan tertarik membaca dengan sendirinya.

 

Kalau di UK, kita dapat mengetahui ketrampilan membaca yang pas untuk anak di usia tertentu melalui website pendidikan, salah satunya Oxford Owl yang dikelola oleh University of Oxford ini. Panduan ini tidak sepenuhnya cocok untuk kita di Indonesia karena bahasa yang berbeda, namun setidaknya dapat menjadi gambaran bagi kita.

Untuk anak usia 3-4 tahun:

Awali dengan mengenalkan bentuk huruf dan cara bacanya pada anak. Kaitkan satu huruf dengan satu benda yang sering ia jumpai, seperti “G” dengan “gelas”.

Jika anak sudah mengenal semua huruf, coba rangkai beberapa huruf dalam satu kata singkat, seperti “Kaki”, “Kakak” dan sebagainya.

Untuk anak usia 4-5 tahun:

Mulai kenalkan buku pada anak dengan membacakannya cerita sebelum tidur.

Ajak anak untuk bermain mencari huruf atau kata di halaman yang anda baca. Minta anak untuk membunyikan huruf-huruf di kata tersebut sehingga membentuk satu kata. Misal “emmmm-aaaa-ennnnn-aaaa” untuk “mana”.

Jika anak sudah mahir mencari huruf dan kata, ajak anak untuk memulai membaca bukunya sendiri.

Untuk anak usia 5-6 tahun:

Terus ajak anak membaca dengan menyenangkan. Ajak ia untuk menceritakan kembali buku yang anda baca atau buku favoritnya. Ajak pula ia menulis kata-kata sederhana seperti nama panggilannya, “Ayah”, “Ibu” dan sebagainya.

Ingat, anak akan senang membaca jika ia merasa nyaman. Jangan paksa anak untuk langsung membaca dengan benar. Kesalahan-kesalahan saat membaca itu wajar bagi anak-anak. Nikmati proses anak belajar.

Untuk buku, pilih buku dengan satu atau dua kalimat pendek per halaman. Buku dengan kalimat yang banyak dan panjang lebih cocok untuk anak yang sudah lebih nyaman membaca.

Untuk anak usia 6-7 tahun:

Jika anak sudah nyaman membaca, mulai minta ia membaca lebih banyak buku. Kenalkan buku-buku dengan kalimat yang lebih banyak (2-4 kalimat per halaman). Sediakan waktu khusus untuk menemaninya membaca.

Beri penghargaan jika anak sudah menyelesaikan satu buku. Bacaan yang belum sempurna tidak apa selagi anak nyaman dan merasa dihargai kemampuannya.

Untuk anak usia 7-9 tahun:

Kembangkan minat baca dan kemampuan penalaran anak. Tanyakan beberapa hal dari buku yang ia baca, semisal “Bagaimana perasaan ibu Malin Kundang?” atau “Kalau menurut Kakak, Malin Kundang salahnya di mana?” Minta ia untuk menebak kelanjutan cerita agar daya imajinasinya berkembang.

Jika anak terlihat enggan untuk membaca, jangan paksa.

Anda dapat menyegarkan minat baca anak dengan bermain scrabble, teka-teki silang atau permainan kata lain yang menarik bagi anak anda.

Ingat: lebih baik membaca sedikit tapi sering daripada membaca banyak namun jarang.

Untuk anak usia 9-11 tahun:

Pada usia ini, anak wajarnya telah dapat membaca dengan mandiri. Anda dapat membantu anak anda untuk mengembangkan kemampuan analitiknya dengan menanyakan konsekuensi (misal: “Kalau si pencurinya tidak tertangkap, lalu bagaimana?”) atau membaca hal yang tersurat dalam sebuah cerita (misal: “Kenapa Elsa pergi dari istana?”).

Kenali minat anak anda dan kembangkan minat bacanya dengan memberikan jenis buku yang ia suka. Meski demikian, sesekali berikan jenis buku yang lain untuk menambah pengetahuannya.

Dorong anak anda untuk pergi ke perpustakaan, menjadi anggota book club atau mengikuti lomba yang berhubungan dengan buku. Semakin banyak sahabatnya dalam membaca, akan semakin semangat pula ia!

 

Berikut video Dzakka berlatih membaca setelah tiga bulan di Reception atau nol besar. Sedikit terbata-bata namun menemaninya membaca menjadi pengalaman mengasyikkan buat saya 🙂

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , , ,

Belajar Membaca yang Menyenangkan

Belajar membaca itu menyenangkan, kok! Betul! Itu yang saya alami selama kanak-kanak belasan tahun silam. Hal yang sama bisa kita terapkan untuk anak-anak kita. Berikut kiat-kiat belajar membaca yang menyenangkan yang saya sarikan dari pengalaman saya pribadi dan dari Oxford Owl [1] :

1. Niatkan untuk membaca dengan gembira

Innama a’malu bi an-niyah. Perbuatan itu ditentukan oleh niatnya. Jika kita ingin anak suka membaca, maka kita harus meniatkan diri kita sendiri untuk suka membaca bersama anak. Tanpa niat baik dan positif dari ayah-bunda, bagaimana anak dapat menyukai membaca?

Jangan pernah mengajak anak membaca dengan niat negatif (takut dia tertinggal di kelas) atau beban (agar sudah bisa membaca bulan depan). Meski anda menutupnya dalam hati, anak akan merasakannya dan tidak nyaman membaca. Percayalah, anak anda akan lancar membaca ketika waktunya sudah tiba.

2. Biasakan membaca bersama anak

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya.

Ada banyak kata-kata bijak dalam budaya kita yang mencerminkan betapa perilaku dan kebiasaan anak itu akan mencontoh orang tuanya. Jika kita ingin anak pandai membaca maka sebagai orang tua kita harus memberi contoh pada anak dengan membiasakan diri membaca pula. Yang paling seru: biasakan membaca bersama anak.

Tidak membutuhkan waktu lama, cukup biasakan membacakan satu cerita sebelum tidur pada anak. Insha Allah ini akan menjadi awal kebiasaan membaca yang baik untuk putra-putri anda.

3. Bercerita dan bernyanyi

Ketika anak masih kecil, sesekali selingi bacaan cerita dengan bernyanyi. Ayah dan Bunda dapat memilih lagu-lagu anak yang sederhana dan cocok untuk cerita tersebut atau mengarang sendiri lagu-lagunya on the spot. Percayalah, anak anda pasti akan gembira mendengar nyanyian anda. Tak perlu jadi juara Indonesia Mencari Bakat dulu sebelum bernyanyi bagi anak anda! 😉

4. Menceritakan kembali

Untuk anak yang sudah cukup besar (4-5 tahun), sesekali berhentilah di tengah cerita dan beri satu pertanyaan sederhana pada anak anda terkait cerita tadi. Misal, saat membaca cerita tentang “Kura-kura dan Kelinci”, anda bisa berhenti dan bertanya, “Kenapa kura-kura mengajak kelinci lomba lari?”

Biarkan anak anda menjawab, meski hanya satu kata. Ini akan merangsang daya imajinasi dan penalarannya, sehingga membuat dia lebih menikmati membaca.

Untuk anak yang sudah besar (7-10 tahun), minta dia untuk menceritakan kembali buku yang sudah dibaca pada anda. Agar lebih asyik, bisa menggunakan boneka jari atau kostum yang anda buat bersamanya. Ini insha Allah akan menumbuhkan kepercayaan dirinya sekaligus menumbuhkan minat baca dan penalarannya.

Berikut video Dzakka memceritakan kembali buku Serial Thomas. Apa yang ia ceritakan tidak sama persis dengan bukunya tapi kepercayaan dirinya bercerita layak dihargai! 🙂

 

 

 

[1] Oxford Owl adalah website yang diluncurkan oleh Oxford University untuk membantu orang tua mendampingi anak mereka belajar membaca.

[2] Kura-kura dan kelinci adalah dongeng Aesop dengan judul asli The Tortoise and the Hare.

 

 
1 Comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , ,

Anak kecil jangan belajar membaca?

Ingin anak anda bisa segera membaca?

Eh, anak kecil dilarang belajar membaca…

Belakangan ini, seiring dengan usia teman-teman saya yang beranjak dewasa (halah!) saya sering menemukan dua jenis berita di atas. Yang pertama cenderung “memotivasi” orang tua agar anaknya belajar membaca sedini mungkin (kadang disertai ancaman bahwa masuk SD harus bisa membaca, masuk TK harus sudah hafal huruf dan sebagainya tralala). Yang kedua sebaliknya, mencegah orang tua untuk mengajar anak-anaknya membaca (kadang disertai, yah, ancaman juga bahwa terlalu dini membaca akan berakibat a, b, c pada anak nanti).

Saya bukan psikolog. Anak saya baru masuk Reception (setara TK nol kecil) di sebuah sekolah di Newcastle sini, bulan September 2014 lalu. Jadi bukan orang tua dengan jam terbang tinggi. Namun, saya bercermin pada diri sendiri. Saya alhamdulillah sudah bisa membaca sejak TK. SD kelas 1 bukan lagi membaca Ini Ibu Budi [1] tapi membaca majalah anak dan buku cerita anak. Kelas 3 SD saya sudah membaca novel karangan Enid Blyton semacam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga dan sebagainya.

Alhamdulillah, sampai sekarang usia 20++ ini (halah lagi!), saya tidak pernah mengalami efek buruk seperti yang diancamkan artikel anti-membaca dini. Saya tidak pernah bosan membaca dan belajar. Kalau ada efek buruknya, mungkin pada kesehatan mata. Sejak Kelas 3 SD saya sudah harus berkacamata [2]. Mungkin ini karena kebiasaan membaca yang salah (kurang cahaya dan sebagainya) atau genetik atau kurang makan wortel, wallahu’alam.

Kembali ke membaca sejak dini. Saya tidak pernah dikejar-kejar Bapak dan Ibu untuk membaca. Saya tidak pernah diancam-ancam, “ayo belajar membaca, kalau enggak nanti digondol pocong lho,” atau sebangsanya. Bagi saya, membaca itu kegiatan yang asyik. Bercermin dari pengalaman, saya merasa oke saja mengajak anak untuk membaca sejak dini. Syaratnya satu: membaca itu menyenangkan.


[1] semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurah pada Ibu Siti Rahmani Rauf sebagai penulis buku belajar membaca dan metode “Ini Ibu Budi” tersebut. Semoga menjadi amal kebaikan bagi beliau, aamiin.

[2] Tapi, katanya*, orang berkacamata itu tambah cakep kok.

*minimal kata istri saya, huehehe.

 
5 Comments

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Harga BBM tinggi? Boleh!

Hari ini (18/11/2014), pemerintah akan menaikkan harga BBM [1]. Sebagaimana biasa, ada pro-kontra terkait kebijakan ini. Salah satu argumen yang pro-kenaikan harga BBM adalah: kenaikan harga BBM merupakan hal yang tak terelakkan karena harga minyak dunia yang tinggi. Bahkan harga BBM di Indonesia itu masih termasuk murah jika dibandingkan dengan harga BBM di negara-negara lain.

Sebagai orang yang saat ini sedang tinggal di UK, saya bersaksi bahwa harga BBM di UK memang lebih mahal daripada di Indonesia. Setelah berkunjung ke Mbah Gugel, saya tahu bahwa harga bensin di pom bensin dekat rumah senilai £1.3/liter, setara dengan Rp. 26.000/liter. Luar biasa mahal, bukan?

Namun, menyoroti harga BBM di UK dan membandingkannya dengan harga BBM di Indonesia saja tidak tepat menurut saya. Kalau mau menyoroti dan membandingkan UK dan Indonesia, mari kita soroti juga aspek-aspek sosial lainnya.

  1. Biaya kesehatan di UK bagi anak sampai berusia18 tahun gratis. Demikian juga bagi ibu hamil. Bagi yang di atas 18 tahun dan tidak hamil, kunjungan ke dokter tetap gratis tapi ada biaya resep senilai £8/resep (Rp. 160.000/resep). Tapi kalau penghasilan anda rendah (di bawah £16,000 per tahun, atau Rp. 320.000.000/tahun), anda berhak mendapatkan sertifikat HC2. Dengan sertifikat HC2 ini, biaya kesehatan anda akan kembali gratis.
  2. Biaya pendidikan di UK gratis, mulai dari TK sampai tingkat SMA, jika sang anak sekolah di sekolah negeri. Bahkan untuk anak-anak sampai kelas 2 SD, ada makan siang gratis di sekolah. Memang orang tua harus beli seragam sendiri atau harus membayar iuran jika ada program ekskul atau darmawisata, tapi selain itu tidak ada uang pangkal, uang gedung, uang LKS dan sebagainya.
  3. Jika anda warga UK (atau warga Uni Eropa), anda berhak mendapatkan benefits atau tunjangan. Ada banyak sekali tunjangan yang dapat anda dapatkan, tergantung pada status pernikahan, jumlah anak, status pekerjaan dan jumlah gaji, dan sebagainya.

Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on November 17, 2014 in Renungan

 

Tags: , ,