RSS

Tag Archives: Islam

Islam, Islam Indonesia, Islam Nusantara, Islam Moderat…

Saat ini ada banyak tulisan terkait wacana “Islam Nusantara”. Saya membaca sebatas link/foto yang dikirim teman-teman dari Indonesia. Namun ini tema yang sangat menarik karena thesis saya tentang konsep “umat” sebagai konsep masyarakat global tentu bersinggungan dengan penafsiran Muslim terhadap Islam dan aplikasi kontemporernya.

Wacana ini jadi semakin menarik ketika ada artikel resmi dari pemerintah yang saya tautkan di status ini. Di sana disebutkan “Islam Indonesia” yang dinyatakan sebagai “Islam moderat”.

Saat ini memang terjadi proses redefinisi tentang Islam dan kehidupan Muslim. Tentang ini juga menjadi bahan diskusi pekan lalu di panel evaluasi saya. Menurut saya, proses redefinisi ini sesuatu yang alami, sebagaimana ada upaya definisi Islam oleh “mu’tazillah-syiah-ahlu sunnah” dan kontestasi akan definisi tersebut yang belum berakhir sampai sekarang. Pada tingkatan yang lebih memungkinkan kompromi ada redefinisi mazhab fiqh, yang juga masih berjalan sampai sekarang.

Beberapa tahun terakhir, dinamika berkembang lagi dengan pemikiran Islam dari Arab Saudi (yang sering disebut “Wahabbi”), dari Mesir (Ikhwanul Muslimin), Turki (Gulen movement), Eropa (Tariq Ramadhan, iERA), Amerika Serikat (Hamza Yusuf, Nouman Ali Khan) dan sebagainya.

Untuk “sisi gelapnya” kita melihat fenomena ISIS yang memberikan definisi tentang “Islam”, yang secara intelektual menantang definisi ulama-ulama lain di luar gerakannya dan secara praktis gerakan “Islam” ala mereka dapat dinilai sebagai perbuatan-perbuatan tidak Islami oleh yang lain.

Dalam dinamika ini, “Islam” adalah sebuah term/istilah, sedangkan “Islam adalah….” merupakan definisi yang sedang “diperebutkan” oleh penafsiran gerakan-gerakan di atas. Posisi sebuah term memang vital dalam kehidupan manusia, karena melalui term, manusia membangun realitas sosialnya. Sebuah term menjadi simbol, satu kata yang mewakili sekian panjang definisi, aplikasi dan dinamikanya.

Kontestasi terhadap term akan memakan waktu dan energi yang panjang dan membutuhkan ruang dialog. Ketika ruang dialog itu tidak ada, misal karena salah satu pihak tidak mau berdialog dan memilih menggunakan kekerasan, maka upaya lain yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak sepakat adalah membuat term baru, yang menggerus otoritas term lama.

“Islam moderat”, “Islam Indonesia”, “Islam Nusantara” dan sebagainya mungkin merupakan respon terhadap kebuntuan dialog dalam membicarakan definisi term “Islam”. Namun, perlu dicermati bahwa “Islam moderat” dan sebagainya itu merupakan term baru, yang mau-tidak mau menggerus otoritas “Islam” sebagai sebuah term yang satu. Salah satu respon terhadap penggerusan otoritas ini adalah dengan menuduh “Islam moderat” dan sebagainya itu memecah “Islam”. Kalau ada “Islam Indonesia” maka ada “Islam Arab”, “Islam Eropa” dsb. Kalau ada “Islam Moderat”, tentu ada “Islam tidak moderat”.

Saya membaca beberapa opini di media massa terkait wacana ini, baik dari pengusung maupun yang merespon, dan melihat tidak ada niatan untuk menggerus otoritas term “Islam”. Yang diinginkan adalah, mengusung definisi baru tentang Islam, yang berkembang dari ekspresi Muslim di Nusantara.

Untuk itu, menurut saya lebih pas jika alih-alih mengkonstruksi term baru, cendekiawan Muslim di Indonesia berkontribusi dalam redefinisi Islam di tataran global.

Kaitannya dengan artikel ini, kalau memang universitas ini akan berdiri, semoga bisa menjadi salah satu pelaku tersebut.


 



http://setkab.go.id/ingin-bangun-universitas-islam-moderat-presiden-undang-para-rektor-dan-mui/

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2015 in Renungan

 

Tags: , ,