RSS

Tag Archives: kisah

#1. Dimulai dari “Kenapa”

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

Buku atau eBook?

Kemajuan teknologi saat ini membuat aktivitas membaca menjadi lebih mudah. Tidak perlu membawa buku setumpuk; cukup dengan satu iPad/Android/tablet lain, anda sudah dapat membawa ratusan buku dan menikmatinya dengan nyaman. Sungguh, sebagai pembaca kelas berat, saya merasa sangat terbantu dengan adanya ebook dan ebook reader yang beraneka rupa. Bahkan sekarang, ketika sedang mengerjakan disertasi pun saya lebih suka menggunakan ebook daripada buku.

 

Tapi kalau untuk mengenalkan budaya baca pada anak saya, rasanya menggunakan buku jauh lebih pas. Saya dulu mencoba menggunakan interactive ebook sebagai teman membaca untuk anak saya tapi hasilnya tidak optimal. Dia justru terganggu dengan fungsi-fungsi sekunder (animasi, game jika ada, suara/musik) sehingga tidak khusyuk membaca. Bahkan membolak-balik halaman sepertinya lebih menarik daripada menyimak isi halaman itu sendiri.

Setelah merasa gagal menggunakan ebook untuk anak, saya pun banting setir, kembali pada buku untuk sahabat membaca. Hasilnya, dia lebih fokus. Kalau pun membolak-balik halaman, dia tetap berinteraksi dengan buku, tulisan dan gambar. Tidak tiba-tiba berubah menjadi game atau animasi. Sekarang, dia lebih suka membaca buku daripada ebook. Mungkin akan tiba saatnya bagi anak saya untuk menggunakan ebook; kelak, ketika dia sudah bisa menikmati membaca tanpa tergoda oleh animasi, game dan aksesoris lainnya yang ada pada sebuah ebook.

Bagaimana dengan pengalaman anda? Pilih buku atau ebook?

 

Disclaimer: anak saya tetap menggunakan iPad dengan jadwal maksimal dua jam sehari, biasanya untuk menonton Youtube. Acara semacam Charlie and Lola, Octonouts, Super Why dan Numberjacks menurut saya bagus untuk anak. Atau bermain edugames seperti Quarrel yang memadukan merangkai huruf dengan perang-perangan. Jika sudah menggunakan iPad atau komputer di sekolah, tidak lagi menggunakan iPad di rumah.

 

 

 
3 Comments

Posted by on December 30, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Usia dan keahlian membaca

Kadang orang tua galau, anaknya usia segini kok belum bisa baca ya? Anak yang itu usianya sama tapi sudah bisa baca. Tidak hanya di Indonesia kok, di UK sini juga ada sentimen semacam itu. Namun sebenarnya, kita tidak perlu khawatir. Jika kita sudah tumbuhkan budaya membaca yang menyenangkan, insha Allah, anak kita akan tertarik membaca dengan sendirinya.

 

Kalau di UK, kita dapat mengetahui ketrampilan membaca yang pas untuk anak di usia tertentu melalui website pendidikan, salah satunya Oxford Owl yang dikelola oleh University of Oxford ini. Panduan ini tidak sepenuhnya cocok untuk kita di Indonesia karena bahasa yang berbeda, namun setidaknya dapat menjadi gambaran bagi kita.

Untuk anak usia 3-4 tahun:

Awali dengan mengenalkan bentuk huruf dan cara bacanya pada anak. Kaitkan satu huruf dengan satu benda yang sering ia jumpai, seperti “G” dengan “gelas”.

Jika anak sudah mengenal semua huruf, coba rangkai beberapa huruf dalam satu kata singkat, seperti “Kaki”, “Kakak” dan sebagainya.

Untuk anak usia 4-5 tahun:

Mulai kenalkan buku pada anak dengan membacakannya cerita sebelum tidur.

Ajak anak untuk bermain mencari huruf atau kata di halaman yang anda baca. Minta anak untuk membunyikan huruf-huruf di kata tersebut sehingga membentuk satu kata. Misal “emmmm-aaaa-ennnnn-aaaa” untuk “mana”.

Jika anak sudah mahir mencari huruf dan kata, ajak anak untuk memulai membaca bukunya sendiri.

Untuk anak usia 5-6 tahun:

Terus ajak anak membaca dengan menyenangkan. Ajak ia untuk menceritakan kembali buku yang anda baca atau buku favoritnya. Ajak pula ia menulis kata-kata sederhana seperti nama panggilannya, “Ayah”, “Ibu” dan sebagainya.

Ingat, anak akan senang membaca jika ia merasa nyaman. Jangan paksa anak untuk langsung membaca dengan benar. Kesalahan-kesalahan saat membaca itu wajar bagi anak-anak. Nikmati proses anak belajar.

Untuk buku, pilih buku dengan satu atau dua kalimat pendek per halaman. Buku dengan kalimat yang banyak dan panjang lebih cocok untuk anak yang sudah lebih nyaman membaca.

Untuk anak usia 6-7 tahun:

Jika anak sudah nyaman membaca, mulai minta ia membaca lebih banyak buku. Kenalkan buku-buku dengan kalimat yang lebih banyak (2-4 kalimat per halaman). Sediakan waktu khusus untuk menemaninya membaca.

Beri penghargaan jika anak sudah menyelesaikan satu buku. Bacaan yang belum sempurna tidak apa selagi anak nyaman dan merasa dihargai kemampuannya.

Untuk anak usia 7-9 tahun:

Kembangkan minat baca dan kemampuan penalaran anak. Tanyakan beberapa hal dari buku yang ia baca, semisal “Bagaimana perasaan ibu Malin Kundang?” atau “Kalau menurut Kakak, Malin Kundang salahnya di mana?” Minta ia untuk menebak kelanjutan cerita agar daya imajinasinya berkembang.

Jika anak terlihat enggan untuk membaca, jangan paksa.

Anda dapat menyegarkan minat baca anak dengan bermain scrabble, teka-teki silang atau permainan kata lain yang menarik bagi anak anda.

Ingat: lebih baik membaca sedikit tapi sering daripada membaca banyak namun jarang.

Untuk anak usia 9-11 tahun:

Pada usia ini, anak wajarnya telah dapat membaca dengan mandiri. Anda dapat membantu anak anda untuk mengembangkan kemampuan analitiknya dengan menanyakan konsekuensi (misal: “Kalau si pencurinya tidak tertangkap, lalu bagaimana?”) atau membaca hal yang tersurat dalam sebuah cerita (misal: “Kenapa Elsa pergi dari istana?”).

Kenali minat anak anda dan kembangkan minat bacanya dengan memberikan jenis buku yang ia suka. Meski demikian, sesekali berikan jenis buku yang lain untuk menambah pengetahuannya.

Dorong anak anda untuk pergi ke perpustakaan, menjadi anggota book club atau mengikuti lomba yang berhubungan dengan buku. Semakin banyak sahabatnya dalam membaca, akan semakin semangat pula ia!

 

Berikut video Dzakka berlatih membaca setelah tiga bulan di Reception atau nol besar. Sedikit terbata-bata namun menemaninya membaca menjadi pengalaman mengasyikkan buat saya 🙂

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , , ,

Belajar Membaca yang Menyenangkan

Belajar membaca itu menyenangkan, kok! Betul! Itu yang saya alami selama kanak-kanak belasan tahun silam. Hal yang sama bisa kita terapkan untuk anak-anak kita. Berikut kiat-kiat belajar membaca yang menyenangkan yang saya sarikan dari pengalaman saya pribadi dan dari Oxford Owl [1] :

1. Niatkan untuk membaca dengan gembira

Innama a’malu bi an-niyah. Perbuatan itu ditentukan oleh niatnya. Jika kita ingin anak suka membaca, maka kita harus meniatkan diri kita sendiri untuk suka membaca bersama anak. Tanpa niat baik dan positif dari ayah-bunda, bagaimana anak dapat menyukai membaca?

Jangan pernah mengajak anak membaca dengan niat negatif (takut dia tertinggal di kelas) atau beban (agar sudah bisa membaca bulan depan). Meski anda menutupnya dalam hati, anak akan merasakannya dan tidak nyaman membaca. Percayalah, anak anda akan lancar membaca ketika waktunya sudah tiba.

2. Biasakan membaca bersama anak

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya.

Ada banyak kata-kata bijak dalam budaya kita yang mencerminkan betapa perilaku dan kebiasaan anak itu akan mencontoh orang tuanya. Jika kita ingin anak pandai membaca maka sebagai orang tua kita harus memberi contoh pada anak dengan membiasakan diri membaca pula. Yang paling seru: biasakan membaca bersama anak.

Tidak membutuhkan waktu lama, cukup biasakan membacakan satu cerita sebelum tidur pada anak. Insha Allah ini akan menjadi awal kebiasaan membaca yang baik untuk putra-putri anda.

3. Bercerita dan bernyanyi

Ketika anak masih kecil, sesekali selingi bacaan cerita dengan bernyanyi. Ayah dan Bunda dapat memilih lagu-lagu anak yang sederhana dan cocok untuk cerita tersebut atau mengarang sendiri lagu-lagunya on the spot. Percayalah, anak anda pasti akan gembira mendengar nyanyian anda. Tak perlu jadi juara Indonesia Mencari Bakat dulu sebelum bernyanyi bagi anak anda! 😉

4. Menceritakan kembali

Untuk anak yang sudah cukup besar (4-5 tahun), sesekali berhentilah di tengah cerita dan beri satu pertanyaan sederhana pada anak anda terkait cerita tadi. Misal, saat membaca cerita tentang “Kura-kura dan Kelinci”, anda bisa berhenti dan bertanya, “Kenapa kura-kura mengajak kelinci lomba lari?”

Biarkan anak anda menjawab, meski hanya satu kata. Ini akan merangsang daya imajinasi dan penalarannya, sehingga membuat dia lebih menikmati membaca.

Untuk anak yang sudah besar (7-10 tahun), minta dia untuk menceritakan kembali buku yang sudah dibaca pada anda. Agar lebih asyik, bisa menggunakan boneka jari atau kostum yang anda buat bersamanya. Ini insha Allah akan menumbuhkan kepercayaan dirinya sekaligus menumbuhkan minat baca dan penalarannya.

Berikut video Dzakka memceritakan kembali buku Serial Thomas. Apa yang ia ceritakan tidak sama persis dengan bukunya tapi kepercayaan dirinya bercerita layak dihargai! 🙂

 

 

 

[1] Oxford Owl adalah website yang diluncurkan oleh Oxford University untuk membantu orang tua mendampingi anak mereka belajar membaca.

[2] Kura-kura dan kelinci adalah dongeng Aesop dengan judul asli The Tortoise and the Hare.

 

 
1 Comment

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , , ,

Anak kecil jangan belajar membaca?

Ingin anak anda bisa segera membaca?

Eh, anak kecil dilarang belajar membaca…

Belakangan ini, seiring dengan usia teman-teman saya yang beranjak dewasa (halah!) saya sering menemukan dua jenis berita di atas. Yang pertama cenderung “memotivasi” orang tua agar anaknya belajar membaca sedini mungkin (kadang disertai ancaman bahwa masuk SD harus bisa membaca, masuk TK harus sudah hafal huruf dan sebagainya tralala). Yang kedua sebaliknya, mencegah orang tua untuk mengajar anak-anaknya membaca (kadang disertai, yah, ancaman juga bahwa terlalu dini membaca akan berakibat a, b, c pada anak nanti).

Saya bukan psikolog. Anak saya baru masuk Reception (setara TK nol kecil) di sebuah sekolah di Newcastle sini, bulan September 2014 lalu. Jadi bukan orang tua dengan jam terbang tinggi. Namun, saya bercermin pada diri sendiri. Saya alhamdulillah sudah bisa membaca sejak TK. SD kelas 1 bukan lagi membaca Ini Ibu Budi [1] tapi membaca majalah anak dan buku cerita anak. Kelas 3 SD saya sudah membaca novel karangan Enid Blyton semacam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga dan sebagainya.

Alhamdulillah, sampai sekarang usia 20++ ini (halah lagi!), saya tidak pernah mengalami efek buruk seperti yang diancamkan artikel anti-membaca dini. Saya tidak pernah bosan membaca dan belajar. Kalau ada efek buruknya, mungkin pada kesehatan mata. Sejak Kelas 3 SD saya sudah harus berkacamata [2]. Mungkin ini karena kebiasaan membaca yang salah (kurang cahaya dan sebagainya) atau genetik atau kurang makan wortel, wallahu’alam.

Kembali ke membaca sejak dini. Saya tidak pernah dikejar-kejar Bapak dan Ibu untuk membaca. Saya tidak pernah diancam-ancam, “ayo belajar membaca, kalau enggak nanti digondol pocong lho,” atau sebangsanya. Bagi saya, membaca itu kegiatan yang asyik. Bercermin dari pengalaman, saya merasa oke saja mengajak anak untuk membaca sejak dini. Syaratnya satu: membaca itu menyenangkan.


[1] semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurah pada Ibu Siti Rahmani Rauf sebagai penulis buku belajar membaca dan metode “Ini Ibu Budi” tersebut. Semoga menjadi amal kebaikan bagi beliau, aamiin.

[2] Tapi, katanya*, orang berkacamata itu tambah cakep kok.

*minimal kata istri saya, huehehe.

 
5 Comments

Posted by on December 16, 2014 in Sahabat Membaca

 

Tags: , , ,

Dokter, Kriminalisasi dan Hak Pasien

Indonesia saat ini sedang ramai dengan pemberitaan aksi mogok para dokter yang dilakukan Rabu (27 November 2013). Aksi yang dilatarbelakangi keprihatian terhadap vonis yang dijatuhkan pada dr. Ayu ini mendapat tanggapan yang mengkristal pada dua kubu. Kubu pertama, yang dalam generalisasi berlebih saya, sebagian besar adalah rekan-rekan dokter, tenaga medis dan keluarga dokter/tenaga medis. Mereka mendukung aksi tersebut sebagai bentuk penolakan mereka atas upaya “kriminalisasi dokter”. Kubu kedua, kembali, menurut generalisasi berlebih saya, sebagian besar adalah pasien atau keluarga pasien yang pernah memiliki pengalaman tidak mengenakkan dengan dokter atau tenaga medis. Kubu kedua menganggap bahwa mogok tersebut berlebihan. Vonis terhadap dokter Ayu dipandang wajar oleh kubu kedua, bahkan perlu untuk melindungi pasien dari peluang malpraktek oleh dokter. Pengalaman pribadi atau keluarga di masa lalu menjadi penguat argumen kubu kedua ini.

Saya pribadi berusaha menjadi kubu ketiga 🙂

Saya memiliki pendapat bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan keinginan mereka. Semakin penting keinginan tersebut dalam skala prioritas mereka, semakin kuat pula ekspresi yang mereka lakukan. Protes bisa jadi merupakan salah satu bentuk ekspresi. Mogok kerja pun demikian. Masalah protes dan mogok kerja seharusnya diatur sebagai hak pekerja, sebagaimana cuti hamil/sakit dan liburan.

Di UK, bulan lalu juga terjadi aksi mogok mengajar yang dilaksanakan oleh sebagian guru. Aksi ini dipicu oleh rencana pemerintah hendak memotong subsidi pendidikan. Akibat aksi ini, sekolah-sekolah pun libur. Apa merugikan siswa? Bisa jadi ya. Tapi bagi saya, itu wajar. Para guru sedang memperjuangkan hak mereka.

Kembali pada rekan-rekan dokter di Indonesia: silahkan mogok. Saya dukung rekan-rekan menyuarakan aspirasi rekan-rekan semua. Jangan berhenti di mogok hari Rabu lalu! Suarakan terus aspirasi dengan menyewa pengacara, menemui DPR-RI, menemui Menteri Kesehatan, galang petisi dan sebagainya. Menurut saya, ini hak anda sebagai manusia dan warga negara.

Di saat yang sama, saya juga ingin mengajak rekan-rekan dokter, tenaga medis dan masyarakat Indonesia untuk melihat kasus tersebut dari sudut pandang yang lain: hak pasien dan keluarga pasien.

Secara pribadi, saya dan keluarga saya sudah berkali-kali mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari dokter, tenaga medis atau rumah sakit sebagai institusi medis.

Pertama, nenek saya dulu pernah mengalami gejala stroke. Kami bawa nenek ke UGD sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Nenek terlantar di sana sampai satu jam lebih, tanpa ada dokter yang melakukan penanganan. Tidak ada info apa yang terjadi, ke mana dokter jaga UGD dan sebagainya. Perawat pun lenyap dari UGD tersebut. Akhirnya, kakak saya menelpon salah seorang direktur rumah sakit tersebut, yang kebetulan teman keluarga kami. Mak bedhundhug (istilah Yogya untuk “tiada angin tiada hujan, tiba-tiba sesuatu terjadi) tergopoh-gopoh datang dokter dan perawat ke UGD, memeriksa Nenek dan membawa Nenek ke rawat inap. Sambil jalan ke rawat inap, seorang perawat berbasa-basi, “Ternyata keluarga Pak XYZ (direktur yang tadi kami telpon) ya? Blablablablablaaaa syalalalaaaaa…”

Kedua, keponakan saya memiliki riwayat kesehatan yang tidak terlalu bagus saat masih kecil dulu. Suatu ketika, ia dirawat di sebuah rumah sakit. Saat itu akhir Ramadhan. Selepas sholat Ied, saya dan keluarga menjenguk dan mendapati mbak saya sendirian di kamar, sementara keponakan kejang. Mas ipar keluar mencari dokter jaga dan perawat namun kemudian kembali ke kamar tanpa mereka. Selidik punya selidik, para perawat dan dokter jaga sholat Ied semua! What the…!? Benar lapangan cuma sepelemparan batu dari rumah sakit, tapi semua sholat Ied tanpa ada yang jaga!? Apa maksudnya!? Lagipula, saya dan keluarga yang sholat Ied di tempat agak jauh saja sudah selesai. Mereka belum!? Sungkeman dulu kali ya? Ironis, ketika saya mencoba menuntut permintaan maaf dari salah seorang dokter, kata dia itu hak perawat untuk beribadah. Wow, mana hak keponakan saya untuk mendapat perawatan segera?

Ketiga dan keempat dan kelima banyak kasusnya.

Yang terakhir, fresh from ER: bapak saya saat ini sedang di UGD. Rabu malam waktu Indonesia, Bapak nyaris kehilangan kesadaran. Ketika sudah UGD, dokter langganan Bapak yang sedang berada di luar kota mengirim sms, menanyakan apa obat yang diberikan dokter jaga UGD ke Bapak. Ibu menanyakan hal tersebut pada dokter jaga dan dibalas dengan hentakan kasar: “Kan bisa lihat sendiri obatnya apa!? Begitu saja kok tanya!?”

Waktu itu, Ibu saya sih balas menyentak: “Kalau dokter tidak mau jawab, ya bilang saja! Saya sampaikan ke dokter suami saya kalau dokter jaga tidak mau jawab!”

Well done! Gogogo, Mom!

Halo Pak Dokter, bagaimana SOP menjawab pertanyaan keluarga pasien ya? Apa anda waktu kuliah tidak pernah belajar tentang itu?

Bagi saya, jawaban dokter tersebut bodoh sekali. Daripada keluar energi dan udara (abab, istilah Jawanya) untuk menjawab ketus, bukankah energi dan udara yang sama dapat dikeluarkan dalam bentuk jawaban yang halus dan menghargai? Saya rasa itu lebih mulia.

Tentu, ini sikap oknum. Tapi oknum kok banyak ya? 🙂

Oke, saya juga menemukan dokter-dokter yang sangat menghargai dan memanusiakan saya dan keluarga, sebagai pasien dan keluarga. Ada dr. Probo, dokter almarhumah Nenek yang setiap kali berkunjung selalu mengajak Nenek dan keluarga berdoa, menguatkan kami akan apapun keputusan Allah SWT. Ada dr. Luthfan, dokter langganan Bapak yang tidak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, termasuk melalui sms. Ada dr. Kartika, dokter langganan Ibu yang selalu full senyum saat bertemu kami, meski saya sering melihat beliau sebenarnya sudah lelah. Ada dr. Bambang, dokter anak saya yang pelit obat dan murah guyonan. Ada dr. Cholis, dokter keluarga yang telaten mengirim sms mengingatkan jadwal kontrol Bapak dan Ibu. Ada dr. Paulus, dokter Nenek sebelum kami (terpaksa) pindah ke dr. Probo, yang setiap akan periksa selalu berkata, “nuwun sewu nggih, Eyang” (permisi, Eyang). Semua dokter itu dokter-dokter yang hebat di mata saya dan keluarga. Kalau sudah ketemu dokter yang seperti beliau, ogah rasanya saya lepaskan. Jarak yang membentang bukan halangan, Yogya pun akan kubelah untukmu /eaaa /malahpuisi 😉 [1]

Nah. Sebagai kubu ketiga yang mencoba proporsional dalam melihat mogok dokter kemarin, saya mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan hak-hak pasien, khususnya hak untuk mendapatkan informasi yang tepat dan komunikasi yang simpatik dari dokter dan tenaga medis lainnya.

Lucu, ketika permintaan informasi tersebut berujung pada status seseorang di fb (yang mungkin dokter) sebagai berikut:

dr: dari semua hasil pemeriksaan, anda terkena dbd.

pasien: jd bgmn selanjutnya dok??

dr: saya rawat, pasang infus ya.
pasien: ok dok
dr: resiko pemasangan infus bla… bla…. walau tdk kita inginkan bisa berbahaya.
pasien: mksdnya?
dr: bisa ada resiko emboli, saya upayakan terbaiklah, walau sulit diselamatkan.
pasien: jgn infus dok!!!
dr: itu hak anda, nanti bisa pendarahan, gawat juga.
pasien: jd dok, psg infus ada resiko emboli, ngak infus bisa perdarahan?
dr: iya, jadi??
pasien: gelaaap dok,

Bagi saya kok ilustrasi di atas berlebihan ya? Lebih pada kesan menakut-nakuti pasien: Lo jangan tanya! Kalau lo tanya, hidup lo gak tenang!

Seharusnya peran dokter adalah memberikan pendidikan pada pasien, sehingga ketika pasien ketakutan, dokter dapat meredakan rasa takutnya itu dengan informasi yang wajar, syukur jika mampu mengajak sang pasien untuk mengembalikan semua pada Tuhan YME. Lha, ini kok kesannya dialog dengan robot, yang menjawab apa adanya dan dingin? [2]

Menurut saya, ada dua instrumen penting yang dapat membantu dokter dan pasien merasa nyaman: hukum dan komunikasi. Aturan hukum yang jelas dan sanksi yang tegas akan membantu menciptakan ketertiban dalam interaksi dokter-pasien. Hukum kesehatan perlu mendefinisikan dengan jelas apa itu malpraktek, bagaimana pencegahannya, bagaimana penyelesaiannya, siapa yang bertanggung jawab, apa sanksinya, siapa yang menjatuhkan sanksi, apa bentuk kompensasinya, siapa yang membayar kompensasi dan sebagainya. Hukum ini juga perlu ditegakkan, dan menurut saya penegakan hukum kesehatan harus dilaksanakan di pengadilan umum yang terbuka dan transparan. Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat pribadi dan menyangkut hak hidup, sesuatu yang paling mendasar dari kemanusiaan. Untuk itu, kemungkinan pelanggaran terhadap hak hidup harus disidangkan secara terbuka dan mendapatkan pemberitaan jelas sehingga tidak ada keraguan sekaligus menjadi sarana peningkatan kesadaran bersama. Tidak pada tempatnya masalah malpraktek dibahas oleh asosiasi profesi dan dibahasakan dalam arcane language yang hanya dipahami oleh segelintir orang. Penegakan hukum oleh organisasi profesi juga dapat menimbulkan kesan, dugaan atau praktek kolusi karena kepentingan ganda (sebagai penegak hukum dan sebagai rekan satu profesi).

Komunikasi menjadi instrumen kedua yang sama pentingnya dalam menciptakan kenyamanan dokter dan pasien. Seorang teman tadi menyampaikan sebuah artikel di New York Times kepada saya [3]. Artikel ini membahas sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa dokter-dokter yang tidak santun dalam berkomunikasi dengan pasien, memiliki peluang yang lebih besar untuk menerima tuntutan dari pasien. Saya sepakat dengan artikel ini.

Jika dokter merasa perlu ketenangan dalam bekerja, tidak dihantui kecemasan akan berujung pada tuntutan malprakter, maka pasien merasa perlu ketenangan dalam berobat, tidak dihantui kecemasan akan menjadi korban malpraktek. Komunikasi menjadi jembatan antara dokter dan pasien.

Jika dokter merasa dirinya berhak untuk diperlakukan secara terhormat, maka pasien pun berhak untuk diperlakukan dengan terhormat pula. Komunikasi kembali menjadi jembatan antara dokter dan pasien.

Pada akhirnya, dokter dan pasien sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Dokter memiliki harkat dan martabat sebagai manusia yang harus dihargai pasien. Pasien pun memiliki harkat dan martabat sebagai manusia yang harus dihargai dokter. Fenomena kasus dr. Ayu, mogok para dokter dan berita-berita yang mengikutinya merupakan awalan yang baik bagi upaya mewujudkan hubungan yang sehat antara dokter dan pasien. Jika dialog ini dapat terus berjalan dengan sehat, tidak gaya anak-anak yang selalu mengucap pokokmen aku [4], maka saya optimis kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia akan meningkat.

[1] Serius, saat akan berangkat ke UK dulu, salah satu hal yang membuat saya paling cemas adalah bagaimana ketika anak saya sakit, soalnya kami sudah sangat nyaman dengan dr. Bambang.

[2] “robot”-nya Apple, SIRI, saja tidak sedingin dan sekaku ini. :p

[3] Untuk jurnalnya, baca di sini. Kesimpulan dari jurnal tersebut sebagai berikut:

RESULTS: Significant differences in communication behaviors of no-claims and claims physicians were identified in primary care physicians but not in surgeons. Compared with claims primary care physicians, no-claims primary care physicians used more statements of orientation (educating patients about what to expect and the flow of a visit), laughed and used humor more, and tended to use more facilitation (soliciting patients' opinions, checking understanding, and encouraging patients to talk). No-claims primary care physicians spent longer in routine visits than claims primary care physicians (mean, 18.3 vs 15.0 minutes), and the length of the visit had an independent effect in predicting claims status. The multivariable model for primary care improved the prediction of claims status by 57% above chance (90% confidence interval, 33%-73%). Multivariable models did not significantly improve prediction of claims status for surgeons.

 

[4] Pokokmen aku adalah gaya bahasa saya di masa kanak-kanak dulu yang ingin dunia mendengar apa ucapan saya, apa keinginan saya dan mengikutinya tanpa kecuali 🙂

 

 
34 Comments

Posted by on November 28, 2013 in Renungan

 

Tags: ,

Scholarship Hunting (2): Beasiswa LPDP

Alhamdulillah, beberapa waktu silam saya mendapatkan kabar bahagia. Kakak saya memperoleh beasiswa dari LPDP. Insha Allah pada September mendatang, kakak dan keluarga akan berangkat ke Australia. Kakak insha Allah akan mengambil program PhD di Monash University.

Saya cukup mengikuti proses kakak sampai memperoleh Beasiswa LPDP ini. Meski tidak mengalami sendiri, namun informasi saya insha Allah sahin dan bersanad kuat lah 😀 Untuk itu, saya ingin berbagi informasi tentang beasiswa ini, sebagai pelengkap informasi tentang BLN DIKTI yang sudah saya share sebelumnya.

LPDP adalah beasiswa yang diperuntukkan bagi warga negara Indonesia, apapun latar belakangnya [1]. Sumber dananya dari keuntungan (dan bunga?) dana abadi pendidikan yang dikelola oleh Kementrian Keuangan. Detailnya saya kurang tahu, tapi kurang lebih demikian.

LPDP memberikan beasiswa Magister dan Doktoral untuk dalam dan luar negeri, serta beasiswa Tesis dan Disertasi. Komponen beasiswa semua ada di buku panduan Beasiswa LPDP. Anda dapat mengunduh buku panduan tersebut di sini.

Untuk mendaftar Beasiswa LPDP, ada syarat-syarat dokumen yang harus dipenuhi. Semua tercantum lengkap di laman Beasiswa LPDP. Namun, berbeda dengan beasiswa lain, Beasiswa LPDP ini memberikan titik tekan pada kepemimpinan dan kontribusi pada masyarakat/negara. LPDP mencari kandidat yang memiliki jiwa kepemimpinan dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Kandidat juga diharapkan telah memiliki kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia dan akan kembali berkontribusi selepas kuliah nanti. Dalam briefing, pengelola Beasiswa LPDP menyatakan bahwa LPDP tidak memiliki batasan maksimal berapa orang yang akan diberangkatkan per periode. Jika semua pendaftar memenuhi kriteria, maka semua berangkat! [2]

Nah, dua variabel inilah yang menurut saya menarik, dan wajib disiapkan oleh anda jika ingin mendaftar Beasiswa LPDP. Dua variabel ini dinilai berdasarkan pada esay dan performa kandidat saat wawancara. Berdasarkan pengamatan saya pada esay yang ditulis kakak saya, serta obrolan dengan beberapa rekan penerima Beasiswa LPDP, berikut tips-tips yang saya harapkan dapat membantu anda menyusun esay untuk aplikasi Beasiswa LPDP:

  1. Visi. Anda perlu memiliki visi yang kuat terkait masa depan anda. Visi yang kuat menurut saya tidak harus berskala besar seperti menjadi presiden. Toh, Presiden RI hanya seorang dalam lima tahun (dan bisa jadi tetap orang tersebut selama lima tahun berikutnya, :D). Visi yang kuat menurut saya adalah visi yang terukur, aplikatif dan anda percaya kalau anda mampu meraihnya!
  2. Kontribusi. Visi yang kuat tapi berorientasi pribadi tidak cukup. Anda harus mengaitkan visi tersebut dengan kontribusi. Apa yang akan (atau sudah) anda sumbangkan untuk bangsa dan negara? Bagaimana keberhasilan anda memberikan imbas positif pada masyarakat di sekitar anda? Untuk kontribusi, pilihlah sesuatu yang unik, yang khas. Misalnya, jika anda dosen, maka “kontribusi saya akan mengajar mahasiswa” itu tidak cukup unik. Semua dosen akan menjawab demikian. Anda perlu berpikir, apa kontribusi yang hanya anda yang dapat melakukannya? Lebih lanjut, renungkan bagaimana beasiswa LPDP ini dapat membantu anda untuk berkontribusi lebih banyak?
  3. Sukses dalam hidup. Salah satu esay yang harus anda tulis adalah sukses dalam hidup anda. Definisi sukses tentu sangat bervariasi, tergantung pada setiap individu. Menurut saya, anda perlu mengangkat keunikan sukses anda. Bukan masalah apa yang anda sebut sebagai sukses, namun jelaskan mengapa anda menyebutnya sebagai sukses! Apa pengaruh keberhasilan tersebut pada diri anda? Pada lingkungan anda? Pada masyarakat yang lebih luas? Kembali, semakin rinci anda menyampaikan sukses ini, akan semakin baik.

Tahapan seleksi Beasiswa LPDP serupa dengan beasiswa-beasiswa lain. Anda harus mendaftar online dan mengirimkan scan dokumen pendukung. Jika lolos, anda akan diminta hadir wawancara. Yang menarik, pengelola Beasiswa LPDP membuka layanan wawancara via skype bagi kandidat yang berada di luar negeri.

Materi wawancara berkisar pada latar belakang anda dan dua esay yang sudah anda tulis. Seorang rekan awardee menyampaikan: just be yourself during the interview! Kembali saya tegaskan, tunjukkan prestasi, cita-cita dan kontribusi yang khas diri anda. Yakinlah pada visi hidup anda dan jelaskan bagaimana visi itu akan menghasilkan kontribusi untuk masyarakat dan bangsa.

Setelah itu, anda menunggu pengumuman apakah anda lolos sebagai calon awardee. Jika anda lolos sebagai calon awardee, anda akan diminta mengikuti pembekalan selama sepekan lebih. Di akhir pembekalan anda akan menandatangani kontrak dan resmi sebagai penerima Beasiswa LPDP.

Demikian beberapa tips yang saya susun. Kembali, ini berdasarkan pada pengalaman kakak saya dan obrolan dengan beberapa awardee Beasiswa LPDP yang lain. Saya tentu berharap apa yang and tuliskan bukan sekedar “tulisan bisu”, yang disusun demi mendapatkan beasiswa. Saya berharap, tulisan itu menjadi prasasti anda, sumber kekuatan, pengingat dan janji yang akan anda tepati di kemudian hari. Selamat berkarya! 🙂

 

 

 

[1] Kabar terbaru, Beasiswa LPDP tidak dapat diakses oleh para dosen yang telah memiliki NIDN 😉

[2] Adanya Beasiswa LPDP dan Beasiswa DIKTI sebenarnya membuka peluang yang sangat besar bagi warga Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Beasiswa LPDP siap memberangkatkan berapa pun, selama awardee memenuhi syarat. Beasiswa DIKTI setiap tahun menarget 800 awardee. Jadi, jangan merasa kecil hati atau tidak memiliki peluang!

 

 
1 Comment

Posted by on August 21, 2013 in Beasiswa

 

Tags:

Scholarship Hunting (1): Beasiswa DIKTI

Jika anda seorang dosen ber-NIDN atau calon dosen yang bersedia menempuh ikatan dinas dengan DIKTI, maka anda memiliki peluang untuk mendapatkan Beasiswa DIKTI. DIKTI menyediakan beasiswa untuk program Master dan Doktoral dalam dan luar negeri. Saya alhamdulillah mendapatkan Beasiswa Luar Negeri (BLN) DIKTI untuk program doktoral saya di United Kingdom. Untuk BLN, beasiswa ini meliputi komponen sebagai berikut:

  1. Tuition fee/SPP (at cost)
  2. Monthly living allowance/Tunjangan hidup bulanan (besarnya sesuai standar DIKTI)
  3. Insurance cost/Biaya asuransi (at cost)
  4. Book allowance/Tunjangan buku (diberikan per semester, besarnya sesuai standar DIKTI)
  5. Settlement allowance/Tunjangan awal (besarnya satu kali monthly allowance)
  6. Ticket fare/Tiket Jakarta-kota tujuan (satu kali, tiket pulang diberikan di akhir beasiswa)

Beasiswa Luar Negeri (BLN) DIKTI berlaku untuk dua tahun untuk program Master dan tiga tahun untuk program PhD. Ada perpanjangan di semester ketujuh bagi program PhD, namun mekanisme perpajangan ini belum jelas sampai sekarang. BLN DIKTI juga secara eksplisit menyatakan tidak memberi tunjangan keluarga, tiket keluarga, asuransi keluarga dan lain-lain. Intinya, hal-hal yang muncul jika awardee memutuskan membawa keluarga menjadi tanggungan awardee sepenuhnya. Jka awardee harus pulang karena alasan apapun (bahkan pulang untuk melakukan penelitian atau ambil data), biaya tiket ditanggung oleh awardee. DIKTI hanya menanggung komponen-komponen di atas.

Untuk proses pendaftaran, bagi dosen mendaftar online melalui laman ini. Sementara, calon dosen dapat mendaftar melalui laman ini. Syarat-syarat lengkap BLN DIKTI dapat dilihat di dokumen resmi berikut.

Setelah anda mendaftar secara online, anda akan diminta untuk menghadiri wawancara. Sebaiknya, anda membawa semua dokumen yang anda gunakan unfuk mendaftar. Anda juga perlu membawa surat izin mengikuti wawancara dari Rektor. Jika anda dosen pegawai Yayasan (dosen swasta) maka anda perlu membawa surat izin mengikuti wawancara dari Kopertis. Untuk mendapatkan surat izin Kopertis ini, anda membawa surat pengantar dari Rektor ke Kopertis dan print out surat undangan dari DIKTI [1] [2].

Pengalaman saya, wawancara BLN DIKTI fokus pada:

  1. Kemampuan akademik anda: dibuktikan dengan transkrip pendidikan sebelumnya, aktivitas ilmiah (jurnal, research grant) dsb.
  2. Kemampuan bahasa: yang diukur memang bahasa Inggris. Sejak pendaftaran, nilai IELTS/iBT sudah menjadi syarat mutlak. Wawancara pun menggunakan bahasa Inggris. Mungkin tidak adil bagi pendaftar denga tujuan negara berbahasa selain Inggris, tapi menurut saya ini masih cukup wajar. Bagaimana pun juga, komunikasi di dunia akademik tingkat global lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.
  3. Universitas tujuan: anda perlu mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari universitas yang anda tuju. Daftar universitas yang disetujui DIKTI ada di dokumen resmi berikut. Harap diperhatikan bahwa DIKTI membutuhkan unconditional Letter of Acceptance, tanda bahwa anda sudah diterima di universitas tersebut tanpa syarat tambahan yang masih harus anda penuhi. Dokumen Letter of Offer (tanda bahwa anda mendapat tawaran tempat dari universitas) dan conditional Letter of Acceptance (pernyataan bahwa anda diterima namun masih harus melengkapi syarat tertentu seperti nilai IELTS harus diperbaiki dsb) tidak diterima DIKTI.
  4. Komunikasi dengan (calon) supervisor: jika anda calon mahasiswa PhD, anda perlu menjelaskan kenapa anda memilih beliau sebagai (calon) supervisor. Argumen anda akan bertambah kuat jika anda menggunakan buku/artikel (calon) supervisor sebagai landasan proposal riset anda. Anda juga perlu menunjukkan korespondensi dengan (calon) supervisor. Poin penting dalam korespondensi tersebut adalah:
    1. (Calon) supervisor setuju membimbing anda.
    2. (Calon) supervisor setuju, atau minimal bisa menerima, proposal riset anda.
Jika anda berhasil meyakinkan pewawancara, maka anda akan masuk daftar penerima BLN DIKTI. Anda perlu mengumpulkan dokumen resmi (berkas fisik), sesuai yang tercantum di surat pengumuman hasil wawancara. Pastikan berkas anda terkirim melalui pos tercatat, dan cek ke DIKTI jika anda belum mendapatkan guarantee letter dan/atau surat Setneg sampai pembekalan tiba [3].

Setelah mendapatkan GL dam surat Setneg, anda dapat mengurus visa. GL menjadi komponen penting pada saat mengurus visa karena GL adalah jaminan anda akan dibiayai oleh negara selama studi nanti. Tanpa GL, biasanya anda harus memiliki sejumlah besar uang (sekian untuk biaya hidup ditambah sekian untuk SPP). Jika visa sudah di tangan, maka anda tinggal satu langkah lagi menuju keberangkatan.

Selamat menempuh hidup baru! ^_^

[1] Bagi dosen swasta, semua tahap pendaftaran BLN akan membutuhkan surat pengantar dari Kopertis. Untuk mendaftar online pun harus melampirkan pindaian surat pengantar dari Kopertis.

[2] Pengalaman saya mengurus surat ini di Kopertis VI, surat bisa jadi dalam sehari asalkan pejabat yang berwenang untuk tanda tangan ada. Namun kakak saya mencoba mengurus di kopertis lain dan perlu waktu lebih dari sepekan. Your mileage may vary.

[3] Pengalaman pribadi: saya kirim dengan pos tercatat dan simpan resinya. Sebulan sebelum keberangkatan, saya belum mendapatkan guarantee letter dan surat Setneg. Ketika staf kampus datang ke DIKTI menanyakan itu, petugas mengatakan kalau saya belum mengirimkan berkas. Untung staf membawa resi pengiriman. Setelah dilacak, ternyata berkas saya “nyelip“. Sad, but true.

 
4 Comments

Posted by on October 29, 2012 in Beasiswa

 

Tags: ,

Mencari Jodoh Sehati

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu 😉 Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius 😉

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman 😀

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan 😦

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana 🙂

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca 😀 EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Awal Perjalanan

The beginning of a journey. A small step to explore the limitless horizon.

Alhamdulillah, akhirnya segala keperluan untuk berangkat ke Newcastle telah siap. Insha Allah, saya akan memulai belajar di Newcastle University pekan depan. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, mengingat belum pernah sekali pun anak Yogya ini keluar negeri :p

Proses mendapatkan beasiswa ini membutuhkan waktu cukup panjang. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari supervisor. Membuka akun email, ternyata saya mengirimkan email pertama pada calon Guru pada 04 September 2011; bulan ini, setahun yang lalu. Beliau membalas pada 29 September 2011 [1].

Setelah mendapatkan email dari calon Guru, langkah kedua adalah mendaftar secara resmi. Saya memulai proses korespondensi dengan Postgraduate Director of Politics Program, Newcastle University [2]. Setelah itu, mendaftar online ke Newcastle University [3]. Proses pendaftaran dari mendaftar online sampai terbit Letter of Acceptance sekitar empat bulan [4]. Waktu yang panjang ini karena saya memasukkan berkas di akhir bulan Oktober sehingga harus menunggu winter vacation, Tahun Baru dan sebagainya.

Begitu mendapatkan LOA, saya langsung mendaftar beasiswa. Ini langkah ketiga yang sangat, sangat, sangat penting (kecuali bagi yang cukup beruntung mendapatkan Beasiswa Ayah Bunda/turunannya untuk mendukung kuliah :D). Saya mendaftar Beasiswa Luar Negeri DIKTI yang diperuntukkan bagi dosen dan calon dosen. Pilihan beasiswa lain ada banyak, dapat memilih sesuai panggilan hati nurani 😀 [5]

Rasa bahagia kembali membuncah ketika pada bulan Mei 2012, sekitar delapan bulan dari pertama kali saya mengirim email ke calon Guru, nama saya tercantum sebagai penerima BLN DIKTI 2012 Gelombang II. Alhamdulillah, keinginan berangkat ke negerinya Harry Potter semakin dekat! [6] Hasil menggembirakan ini tentu tidak lepas dari doa restu Bapak dan Ibu, dukungan keluarga dan sokongan Bu Rektor dan rekan-rekan di Prodi HI Unisri.

Setelah pasti mendapatkan Guarantee Letter dari DIKTI, saya pun mendaftar visa. Ini langkah keempat, yang hasilnya saya dapatkan sekarang [7]. Di passport saya, sekarang sudah mejeng stiker dengan foto saya tersenyum malu-malu. Alhamdulillah, keluarga juga mendapatkan visa, sehingga bisa menemani petualangan ini.

Empat langkah yang panjang, memakan waktu satu tahun. Namun empat langkah ini hanyalah ingsutan kecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun mendatang saat menempuh studi; lebih lagi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya, insha Allah.

It’s time to spread your wings, and fly, little one.

It is time for you to learn, tasting many winds blowing through the horizon.

[1] Saya ingat betapa galaunya hati ini saat sang calon Guru belum juga membalas email. Saya membuka email tiap hari, dan melakukan refresh tiap lima menit sekali. Sungguh. Masuk pekan kedua, harapan mendapat email dari calon Guru makin menipis, karena menurut teman-teman, batas waktu seorang profesor membalas adalah dua pekan. Lebih dari dua pekan, lupakan. Maka, betapa bahagia membuncah saat email dari calon Guru masuk inbox hampir sebulan kemudian.

[2] Sebenarnya, secara formal tidak perlu kontak Postgraduate Director untuk mendaftar formal, tapi komunikasi awal akan sangat membantu proses registrasi jika ternyata ada kendala di kemudian hari.

[3] Tip of the day: pastikan membaca terlebih dahulu laman petunjuk pendaftaran di situs universitas terkait. Siapkan dokumen yang diperlukan (scan passport, scan skor IELTS/iBT, scan ijiazah+transkrip dan scan terjemahannya, dll). Beberapa universitas meminta esay/jurnal dsb, beberapa yang lain tidak.

[4] Untuk lebih jelasnya lihat di sini,

[5] Untuk detail tentang beasiswa Dikti, dapat lihat di sini. Untuk beasiswa LPDP, bisa lihat ini.

[6] Ini mulai ketahuan niat sebenarnya apaaa XD

[7] Untuk proses pembuatan visa UK, silahkan baca sini.

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,