RSS

Tag Archives: newcastle

Harga BBM tinggi? Boleh!

Hari ini (18/11/2014), pemerintah akan menaikkan harga BBM [1]. Sebagaimana biasa, ada pro-kontra terkait kebijakan ini. Salah satu argumen yang pro-kenaikan harga BBM adalah: kenaikan harga BBM merupakan hal yang tak terelakkan karena harga minyak dunia yang tinggi. Bahkan harga BBM di Indonesia itu masih termasuk murah jika dibandingkan dengan harga BBM di negara-negara lain.

Sebagai orang yang saat ini sedang tinggal di UK, saya bersaksi bahwa harga BBM di UK memang lebih mahal daripada di Indonesia. Setelah berkunjung ke Mbah Gugel, saya tahu bahwa harga bensin di pom bensin dekat rumah senilai £1.3/liter, setara dengan Rp. 26.000/liter. Luar biasa mahal, bukan?

Namun, menyoroti harga BBM di UK dan membandingkannya dengan harga BBM di Indonesia saja tidak tepat menurut saya. Kalau mau menyoroti dan membandingkan UK dan Indonesia, mari kita soroti juga aspek-aspek sosial lainnya.

  1. Biaya kesehatan di UK bagi anak sampai berusia18 tahun gratis. Demikian juga bagi ibu hamil. Bagi yang di atas 18 tahun dan tidak hamil, kunjungan ke dokter tetap gratis tapi ada biaya resep senilai £8/resep (Rp. 160.000/resep). Tapi kalau penghasilan anda rendah (di bawah £16,000 per tahun, atau Rp. 320.000.000/tahun), anda berhak mendapatkan sertifikat HC2. Dengan sertifikat HC2 ini, biaya kesehatan anda akan kembali gratis.
  2. Biaya pendidikan di UK gratis, mulai dari TK sampai tingkat SMA, jika sang anak sekolah di sekolah negeri. Bahkan untuk anak-anak sampai kelas 2 SD, ada makan siang gratis di sekolah. Memang orang tua harus beli seragam sendiri atau harus membayar iuran jika ada program ekskul atau darmawisata, tapi selain itu tidak ada uang pangkal, uang gedung, uang LKS dan sebagainya.
  3. Jika anda warga UK (atau warga Uni Eropa), anda berhak mendapatkan benefits atau tunjangan. Ada banyak sekali tunjangan yang dapat anda dapatkan, tergantung pada status pernikahan, jumlah anak, status pekerjaan dan jumlah gaji, dan sebagainya.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on November 17, 2014 in Renungan

 

Tags: , ,

SCONUL Access

Biasanya, saya pergi ke perpustakaan Newcastle University tiga-empat kali sepekan, ada atau tidak ada jadwal kegiatan. Di perpustakaan, saya membaca, mengetik, atau melakukan perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan seorang PhD student. Godaan membuka facebook, baca komik dan sebagainya menurun karena malu dengan tetangga meja 😛

Setelah pindah ke Durham University, saya kehilangan akses ke perpustakaan. Muncul dilema besar terkait pola kerja. Di satu sisi, kalau saya di rumah saja, maka kemungkinan saya menyelesaikan pekerjaan berada pada titik limit mendekati nol. Tapi jika harus sering ke Durham untuk ngendon di perpus rasanya berat di ongkos [1].

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jalan keluar. Supervisor saya yang baik hati memberitahu bahwa saya, sebagai mahasiswa Durham University, bisa mendapatkan akses ke perpustakaan Newcastle University menggunakan SCONUL Access. SCONUL Access adalah kerjasama antar-perpustakaan universitas di UK dan Irlandia. Melalui program ini, seorang mahasiswa di satu universitas bisa menjadi “anggota terbatas” di perpustakaan universitas lain.

Cara mendapatkan SCONUL Access ini sangat gampang. Saya tinggal mengisi formulir online di laman SCONUL. Pihak SCONUL kemudian akan mengirim email ke pustakawan di Durham University untuk memverifikasi status saya. Begitu pustakawan Durham University menemukan tidak ada yang aneh dari seorang Ganjar, dia mengirimkan email ke saya yang berisi menyetujui aplikasi saya. Saya tinggal mencetak email dari pustakawan tersebut dan membawanya ke perpustakaan Newcastle University.

Proses mendapatkan akses di perpustakaan Newcastle University pun sangat gampang. Saya menunjukkan cetakan email dan kartu mahasiswa. Petugas pun memasukkan data saya ke komputer, kemudian mengambil foto saya saat itu juga [2], dan beberapa detik kemudian saya menerima kartu tanda anggota perpustakaan Newcastle University. Cepat, tanpa biaya lagi!

Bersama kartu tersebut, saya mendapatkan fasilitas-fasilitas berikut:

  1. Akses keluar-masuk perpustakaan Newcastle University.
  2. Boleh meminjam buku maksimal delapan, setiap buku maksimal 30 hari.
  3. Setiap berkunjung dapat meminta password untuk akses WiFi. Password berkaku selama enam jam.

Sayangnya, saya tidak bisa numpang ngeprint dan scan di perpus. Kalau bisa, kan lumayan tidak perlu menunggu ke Durham University untuk print dan scan. Tapi untunglah ada tetangga atas yang bisa dititipi print dan scan di Newcastle University heee…

Adanya fasilitas SCONUL tentu sangat membantu bagi para mahasiswa. Pertama tentu bagi mahasiswa yang tinggal agak jauh dari universitas tempat studi dan ada universitas lain di dekat rumah. Craig, rekan seperjuangan di Durham University, juga kondisinya hampir sama seperti saya. Craig kerja di Manchester namun ambil PhD di Durham karena dia ada jaringan dengan seorang profesor di Durham University. Baginya tentu lebih mudah untuk menggunakan fasiltas perpustakaan Manchester University daripada bolak-balik ke Durham.

Kedua, setiap perpustakaan kampus memiliki fokus/koleksi yang berbeda. Untuk periset dengan tema tertentu, bisa jadi perpustakaan universitas tempat studinya tidak memiliki koleksi yang cukup lengkap terkait tema tersebut. Tentu sangat membantu jika ia dapat menggunakan koleksi dari universitas lain.

Jika mengingat kondisi di tanah air saat saya kuliah dulu, sepertinya berbeda jauh. Pada masa antah-berantah, saat saya kuliah once upon a time, saya tidak bisa mengakses perpustakaan universitas lain. Bahkan kadang untuk akses perpustakaan fakultas sebelah saja sulit. Semoga kondisinya berubah sekarang, sehingga kebutuhan pelajar akan buku dapat terpenuhi tanpa memandang dari universitas mana dia berasal.

Sebagai penutup, berikut pemandangan di pojok favorit saya di perpustakaan Newcastle University:

What a lovely autumn tree

 

 

 

[1] Biaya Newcastle-Durham pp naik train berkisar antara £4.4 sd £8.1, tergantung waktu keberangkatan.

[2] Untung saya mengenakan pakaian yang agak keren jadi fotonya pun agak keren 😛

 

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2013 in Akademik

 

Tags: , ,

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis 😉 Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk letter of offer di tahun 2011 dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan letter of offer tersebut ke Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam Offer tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya 😀 [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April. No worries, saya sudah menyiapkan essay 10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”  Barry menarik nafas dalam. “I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,”  celetuk saya.

“Well, I know…” Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok: changing supervisor is the academic equivalent of a divorce100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati 😛

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi. Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui Postgraduate Director untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi second supervisor saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans. Absolutely overdressed! Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah, first year gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian Postgraduate Research Project (menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya. He was a great teacher, and I really, really miss him, hiks… Buku Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh postgraduate students di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka. Not even once. Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana Three Musketeers yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya: state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam. You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di School of Government and International Affairs.  Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda: British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening 😛

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi second supervisor saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema North-east Doctoral Training Centre* yang melibatkan Durham University dan Newcastle University. Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. 😛

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……”  Atau ada gambar setetes air raksasa. You get the point lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. 😛

[6] I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans… (Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang: I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful. (Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara induction pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada 😛

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Bertualang ke Museum

Beberapa kali datang ke museum di UK ini, saya melihat museum-museum tersebut memberikan perhatian khusus pada anak-anak. Selalu ada ruang bermain untuk batita. Museum juga menerjemahkan koleksinya ke aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak.

Di Discovery Museum, Newcastle, ada ruang khusus anak dengan tiruan sungai Tyne, lengkap dengan jembatan, kapal plastik dsb. Anak-anak dianjurkan (bahkan didorong!) bermain air di tiruan sungai itu. Dzakka sangat senang dan mengajak bermain ke sana lagi.

IMG_0612

Bermain air di miniatur sungai Tyne

IMG_0586

Peragaan gaya hidup di masa Romawi

IMG_0596

Naik kuda-kudaan ala Ksatria Berbaju Besi!

IMG_0588

melihat foto-foto perkembangan kota Newcastle

Hari ini kami alhamdulillah berkesempatan berkunjung ke Museum of Science and Technology (MOSI) di Manchester. Kalau mendengar namanya, Museum Sains gitu loh, saya awalnya membayangkan suasana yang suram, kaku dan … membosankan. Ternyata, dugaan saya salah 😀

MOSI sangat ramai. Cat warna-warni menghiasi dinding. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari foto-foto :P, sampai uji coba bagaimana gerakan tubuh bisa menghasilkan suara (saya masih takjub dengan uji coba ini!) sampai cerita mesin uap yang bertemakan Thomas (y). Konsep ilmiah seperti magnet, cahaya, listrik ditampilkan dalam bentuk permainan yang sangat menyenangkan.

Oh ya, satu hal yang juga menarik, di MOSI ini ada unsur sejarahnya juga. Jadi saat membahas tekstil, ada eksperimen merajut tempoe doeloe, lengkap dengan instruktur berkostum seperti kostum little house on the prairie ;). Asyik sekali, belajar secara integratif antara sains dan sosial.

IMG_0752

Bapaknya ikut main merry-go-round 😀

170220133577

Kereta uap masih bisa jalan keliling arena museum

IMG_0739

Dzakka bergaya ala Englishmen tempoe doeloe.

IMG_0750

Praktek merajut (?), pengenalan industri tempoe doeloe yang marak di Manchester

Di Indonesia, konsep ini ada di Taman Pintar Yogyakarta. Seandainya ada pusat-pusat sains yang seseru ini, mungkin pelajaran Fisika bukan lagi pelajaran yang angker dan menjemukan 😛

Ah iya, kata teman saya yang orang Irlandia, kondisi museum yang “ramah-anak” ini baru satu dekade terakhir (kurang-lebih lah…). Dulu, sewaktu dia kecil, museum di UK juga terkesan menjemukan. Tapi segalanya berubah seiring pemahaman tentang konsep pendidikan yang berubah (saya jadi ingin wawancara petugas museum, tanya kapan dan bagaimana konsep museum ramah anak ini muncul dan berkembang). Jadi… Insha Allah pengelolaan museum di Indonesia juga bisa menjadi lebih baik! Kondisi “museum yang asyik” ini dibangun bersama, bukan “mak bedhundhuk” muncul begitu saja tanpa usaha, kok.

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Sang Guru (1)

Penasaran siapa sosok yang akan menemani saya menjalani hari-hari penuh liku (baca: menyelesaikan PhD :D)?

Nama beliau adalah Professor Barry K. Gills. Beliau adalah salah seorang pakar tentang globalisasi dan world history. Salah satu karya beliau yang menarik saya adalah Globalisation, global histories and historical globalities. Artikel ini sangat pas dengan tema yang akan saya bahas. Buku-buku beliau yang lain pun menarik untuk dikaji. Profil lengkap Barry Gills ada di sini.

Pertama melihat profilnya di website, saya langsung jatuh hati 😀 Setelah membaca beberapa karyanya, saya semakin mantap melamar beliau. Alhamdulillah, setelah mengirimkan email lamaran dan menunggu selama kurang-lebih 25 hari, beliau menerima saya sebagai murid.

Begitu tiba di Newcastle dan menyelesaikan urusan administrasi, saya pun menemui Barry. Sebagai anak Jawa yang lugu, saya memanggilnya “Profesor Gills”. Mungkin satu-satunya yang memanggil beliau demikian 🙂 Jangan khawatir, saya sudah minta izin Barry untuk memanggilnya “Professor Gills” kok 😀

Barry orangnya ramah dan menyenangkan. Kali pertama bertemu, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai dua jam. Beliau ternyata pernah ke Yogyakarta dan berkunjung ke Borobudur. Barry juga mengetahui kisah Mahabharata (versi India) dan kami membicarakan beda Mahabharata India dan Mahabharata Jawa yang sudah mendapat pengaruh Islam.

Bekerja dengan Barry sangat menyenangkan. Barry sangat menghargai pendapat saya, meski mungkin dalam hati gemas dengan saya yang culun banget dan pengetahuannya masih sangat cetek dalam bidang global society. Yang sangat menantang adalah, sekalinya berdiskusi, Barry bisa menyebutkan sepuluh lebih buku (dan semuanya dengan embel-embel: you should read it). Jadi reading list saya beranak pinak tak terkendali (T_T)

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah SWT Mempertemukan saya dengan ilmuwan sekaliber Barry. Saya yang pandir ini mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari Sang Guru 🙂

Berikut cuplikan wawancara Barry:

 

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,

Mencari Jodoh Sehati

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu 😉 Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius 😉

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman 😀

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan 😦

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana 🙂

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca 😀 EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Awal Perjalanan

The beginning of a journey. A small step to explore the limitless horizon.

Alhamdulillah, akhirnya segala keperluan untuk berangkat ke Newcastle telah siap. Insha Allah, saya akan memulai belajar di Newcastle University pekan depan. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, mengingat belum pernah sekali pun anak Yogya ini keluar negeri :p

Proses mendapatkan beasiswa ini membutuhkan waktu cukup panjang. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari supervisor. Membuka akun email, ternyata saya mengirimkan email pertama pada calon Guru pada 04 September 2011; bulan ini, setahun yang lalu. Beliau membalas pada 29 September 2011 [1].

Setelah mendapatkan email dari calon Guru, langkah kedua adalah mendaftar secara resmi. Saya memulai proses korespondensi dengan Postgraduate Director of Politics Program, Newcastle University [2]. Setelah itu, mendaftar online ke Newcastle University [3]. Proses pendaftaran dari mendaftar online sampai terbit Letter of Acceptance sekitar empat bulan [4]. Waktu yang panjang ini karena saya memasukkan berkas di akhir bulan Oktober sehingga harus menunggu winter vacation, Tahun Baru dan sebagainya.

Begitu mendapatkan LOA, saya langsung mendaftar beasiswa. Ini langkah ketiga yang sangat, sangat, sangat penting (kecuali bagi yang cukup beruntung mendapatkan Beasiswa Ayah Bunda/turunannya untuk mendukung kuliah :D). Saya mendaftar Beasiswa Luar Negeri DIKTI yang diperuntukkan bagi dosen dan calon dosen. Pilihan beasiswa lain ada banyak, dapat memilih sesuai panggilan hati nurani 😀 [5]

Rasa bahagia kembali membuncah ketika pada bulan Mei 2012, sekitar delapan bulan dari pertama kali saya mengirim email ke calon Guru, nama saya tercantum sebagai penerima BLN DIKTI 2012 Gelombang II. Alhamdulillah, keinginan berangkat ke negerinya Harry Potter semakin dekat! [6] Hasil menggembirakan ini tentu tidak lepas dari doa restu Bapak dan Ibu, dukungan keluarga dan sokongan Bu Rektor dan rekan-rekan di Prodi HI Unisri.

Setelah pasti mendapatkan Guarantee Letter dari DIKTI, saya pun mendaftar visa. Ini langkah keempat, yang hasilnya saya dapatkan sekarang [7]. Di passport saya, sekarang sudah mejeng stiker dengan foto saya tersenyum malu-malu. Alhamdulillah, keluarga juga mendapatkan visa, sehingga bisa menemani petualangan ini.

Empat langkah yang panjang, memakan waktu satu tahun. Namun empat langkah ini hanyalah ingsutan kecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun mendatang saat menempuh studi; lebih lagi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya, insha Allah.

It’s time to spread your wings, and fly, little one.

It is time for you to learn, tasting many winds blowing through the horizon.

[1] Saya ingat betapa galaunya hati ini saat sang calon Guru belum juga membalas email. Saya membuka email tiap hari, dan melakukan refresh tiap lima menit sekali. Sungguh. Masuk pekan kedua, harapan mendapat email dari calon Guru makin menipis, karena menurut teman-teman, batas waktu seorang profesor membalas adalah dua pekan. Lebih dari dua pekan, lupakan. Maka, betapa bahagia membuncah saat email dari calon Guru masuk inbox hampir sebulan kemudian.

[2] Sebenarnya, secara formal tidak perlu kontak Postgraduate Director untuk mendaftar formal, tapi komunikasi awal akan sangat membantu proses registrasi jika ternyata ada kendala di kemudian hari.

[3] Tip of the day: pastikan membaca terlebih dahulu laman petunjuk pendaftaran di situs universitas terkait. Siapkan dokumen yang diperlukan (scan passport, scan skor IELTS/iBT, scan ijiazah+transkrip dan scan terjemahannya, dll). Beberapa universitas meminta esay/jurnal dsb, beberapa yang lain tidak.

[4] Untuk lebih jelasnya lihat di sini,

[5] Untuk detail tentang beasiswa Dikti, dapat lihat di sini. Untuk beasiswa LPDP, bisa lihat ini.

[6] Ini mulai ketahuan niat sebenarnya apaaa XD

[7] Untuk proses pembuatan visa UK, silahkan baca sini.

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,