RSS

Tag Archives: phd

#1. Dimulai dari “Kenapa”

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

#0. Viva yang Misterius

Dalam tradisi Inggris, perjalanan riset seorang PhD student akan diakhiri dengan viva voce. Viva voce, biasa disingkat viva, arti harfiahnya adalah “menggunakan suara”. Selama viva, student akan diminta untuk menjelaskan thesisnya kepada dua orang examiners (penguji). Para penguji kemudian akan bertanya dan menguji pengetahuan sang student, sampai akhirnya penguji akan memutuskan apakah student tersebut layak mendapat gelar Doctor of Philosophy atau tidak.

Nampaknya sederhana namun viva acap kali menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam diri para PhD students (termasuk dalam diri saya!). Setidaknya ada dua hal yang membuat viva nampak mencekam. Pertama, ini adalah kesempatan pertama thesis yang sudah dikerjakan dengan susah payah selama bertahun-tahun, penuh air mata, keringat dan darah itu akan dikritisi oleh pihak lain. Meskipun PhD students didorong untuk mengikuti conference dan menerbitkan jurnal [1], serta setiap akhir tahun ada evaluasi bersama panel, namun viva adalah pertama kalinya seluruh thesis itu dibaca, dibedah dan diobok-obok oleh orang lain, selain sang student dan para supervisors. Sebagaimana lagunya Joshua, kalau airnya diobok-obok, pasti ikannya mabok. Dalam hal viva, saat thesis mereka diobok-obok, maboklah para PhD students ini.

[1] terkait penerbitan jurnal, ada supervisor yang mendorong agar sang student menerbitkan jurnal, ada yang melarang dan meminta dijadikan buku saja. Pembimbing saya tipe kedua.

Alasan kedua kenapa viva nampak menakutkan adalah karena tidak ada aturan yang jelas. Secara umum, seorang PhD student harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang orisinal, menguji ide atau hipotesa dan memberikan sumbangsih pada pengetahuan. Viva bertujuan untuk menguji kemampuan tersebut secara lisan. Tapi, bagaimana pertanyaan yang akan muncul, bagaimana examiners menilai kemampuan sang kandidat dan bagaimana keputusan akhir diambil itu penuh misteri dan sangat tergantung pada banyak hal: bidang studi, tema yang diambil dan tentu saja, karakter pengujinya.

Karena itu, sebagian besar PhD students yang saya kenal akan menghadapi viva dengan H2C kuadrat. Harap-harap cemas standar tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Di satu sisi lega karena perjalanan panjang ini akan segera berakhir. Di sisi lain, cemas karena misteri viva yang penuh desas-desus ini. Di sisi lain lagi, ada harapan untuk meraih gelar doktor dan membuka babak baru kehidupan.

Di saat ini, peran supervisor menjadi sangat vital. Supervisor yang berpengalaman akan mampu membimbing student-nya menghadapi viva. Biasanya, supervisor sudah dapat menilai kelayakan thesis sejak awal dan bimbingannya akan membantu menutupi kekurangan-kekurangan thesis tersebut. Menjelang viva, supervisor juga akan membantu dengan melakukan latihan, yang biasanya disebut mock viva. Di mock viva ini, supervisor akan berperan sebagai penguji, menanyakan hal-hal yang mungkin ditanyakan dan memberikan masukan terkait cara student menjawab.

Saya beruntung memiliki supervisors yang penuh perhatian. Setelah Professor Piscatori, pembimbing utama saya, pensiun dari Durham University dan pindah ke ANU, beliau masih terus membimbing saya dengan telaten. Sepekan sebelum viva, beliau menelpon dari Australia dan kami menghabiskan waktu satu jam untuk melakukan mock viva. Pembimbing kedua, yang sekarang menjadi pembimbing pertama, Professor Clive Jones juga mengajak saya bertemu dan menyampaikan masukan terkait thesis. Di akhir mock viva, kedua supervisor menyatakan puas dengan performa saya. Meski demikian, mereka berpesan: viva is unpredictable. Be prepared but have faith in yourself.

Hari H, detik D. Viva pun dimulai dan ucapan supervisors pun terbukti. Dari sekian banyak pertanyaan yang sudah kami latih, hanya satu yang ditanyakan penguji. Selainnya menguap entah ke mana, digantikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya aneh, absurd, tidak ada kaitannya dengan thesis. Supervisor sempat berpesan, mungkin penguji akan membuka satu halaman dan menanyakan apa yang saya tulis di halaman itu. Nope, zilch, nada. Kedua penguji sama sekali tidak membuka thesis saya. Kedua penguji bersikap hangat dan ramah namun setiap pertanyaan mereka merupakan tantangan yang membuat saya harus memeras otak.

Waktu itu relatif. Tak terasa, viva berakhir dan saya pun keluar dari ruangan, menuju lobby tempat istri saya menunggu. Ketika duduk dan menengok ke jam dinding, masya Allah, ternyata viva memakan waktu dua jam! Padahal kata supervisor saya, kalau lancar, viva berjalan satu jam. Kembali H2C kuadrat muncul. Saya pun menyalurkan kegelisahan dengan menggerutu ke istri saya tentang proses viva yang menurut saya kacau, tidak terstruktur dan (ini alasan yang paling besar sih) di luar dugaan saya dan supervisors. Saya pun sudah menyiapkan diri dengan hasil yang tidak maksimal [2]; pass with major correction seakan sudah melambaikan tangan.

[2] Di Durham University, ada beberapa kemungkinan hasil viva: (1) pass with no revision; (2) pass with minor revision; (3) pass with major correction; (4) referral – thesis perlu diperbaiki besar-besaran dan di-submit ulang; (5) turun mendapat M. Phil; (6) tidak lulus.

Sepuluh menit berlalu. Dr. Jutta Bakonyi, staf pengajar di SGIA yang menjadi Chair muncul dan meminta saya kembali ke ruangan. Saya mencoba menerka apa keputusan para penguji dari raut muka Jutta tapi nihil. Wajahnya nampak datar. Dengan H2C pangkat sepuluh, saya pun membuka pintu. Di dalam ruangan, kedua penguji berdiri. Professor Paul Luft, honorary professor in Persian Studies dari Durham University, dan Dr. Mohammad Talib dari Oxford University.

Saya mendekat.

Keduanya mengulurkan tangan dan mengatakan: “Congratulations!”

Gamang, saya sambut uluran tangan mereka. Lambaian “major correction” yang di pelupuk mata membuat jabat tangan saya tidak sepenuh hati. Saya pun menoleh ke Jutta, kali ini melihatnya tertawa. “I am pleased to announce that you have passed the viva with no correction,” ujarnya.

Seketika saya berpaling ke para penguji. “Really? Are you serious?”

Ketika Professor Luft dan Dr. Talib mengangguk, baru hati ini rasanya lega. Saya pun terduduk di kursi, mengucapkan terima kasih pada para penguji dan Chair. Alhamdulillah, viva yang misterius itu kini tinggal kenangan.

Belakangan, saya menerima laporan pelaksanaan viva dari Research Office. Di dalamnya, kedua penguji menuliskan bahwa mereka puas dengan thesis saya. Jika hanya melihat thesis, saya sudah dinyatakan lulus. Performa ketika viva menguatkan penilaian itu sehingga beliau berdua memberikan keputusan pass with no correction. Ketika Professor Piscatori menelpon, menanyakan kabar selepas viva dan saya curhat tentang absurdnya proses viva itu di mata saya, beliau tertawa dan berucap, “That's what I mean by viva is unpredictable!”

Meski viva memang tak terduga, dari pengalaman kemarin ada beberapa tips yang saya dapatkan dan insya Allah akan saya tulis di artikel-artikel mendatang. Yang pertama: diawali dari “kenapa”.

kiri ke kanan: Dr. Jutta Bakonyi, saya, Dr. Mohammad Talib, Professor Paul Luft.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

SCONUL Access

Biasanya, saya pergi ke perpustakaan Newcastle University tiga-empat kali sepekan, ada atau tidak ada jadwal kegiatan. Di perpustakaan, saya membaca, mengetik, atau melakukan perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan seorang PhD student. Godaan membuka facebook, baca komik dan sebagainya menurun karena malu dengan tetangga meja ūüėõ

Setelah pindah ke Durham University, saya kehilangan akses ke perpustakaan. Muncul dilema besar terkait pola kerja. Di satu sisi, kalau saya di rumah saja, maka kemungkinan saya menyelesaikan pekerjaan berada pada titik limit mendekati nol. Tapi jika harus sering ke Durham untuk ngendon di perpus rasanya berat di ongkos [1].

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jalan keluar. Supervisor saya yang baik hati memberitahu bahwa saya, sebagai mahasiswa Durham University, bisa mendapatkan akses ke perpustakaan Newcastle University menggunakan SCONUL Access. SCONUL Access adalah kerjasama antar-perpustakaan universitas di UK dan Irlandia. Melalui program ini, seorang mahasiswa di satu universitas bisa menjadi “anggota terbatas” di perpustakaan universitas lain.

Cara mendapatkan SCONUL Access ini sangat gampang. Saya tinggal mengisi formulir online di laman SCONUL. Pihak SCONUL kemudian akan mengirim email ke pustakawan di Durham University untuk memverifikasi status saya. Begitu pustakawan Durham University menemukan tidak ada yang aneh dari seorang Ganjar, dia mengirimkan email ke saya yang berisi menyetujui aplikasi saya. Saya tinggal mencetak email dari pustakawan tersebut dan membawanya ke perpustakaan Newcastle University.

Proses mendapatkan akses di perpustakaan Newcastle University pun sangat gampang. Saya menunjukkan cetakan email dan kartu mahasiswa. Petugas pun memasukkan data saya ke komputer, kemudian mengambil foto saya saat itu juga [2], dan beberapa detik kemudian saya menerima kartu tanda anggota perpustakaan Newcastle University. Cepat, tanpa biaya lagi!

Bersama kartu tersebut, saya mendapatkan fasilitas-fasilitas berikut:

  1. Akses keluar-masuk perpustakaan Newcastle University.
  2. Boleh meminjam buku maksimal delapan, setiap buku maksimal 30 hari.
  3. Setiap berkunjung dapat meminta password untuk akses WiFi. Password berkaku selama enam jam.

Sayangnya, saya tidak bisa numpang ngeprint dan scan di perpus. Kalau bisa, kan lumayan tidak perlu menunggu ke Durham University untuk print dan scan. Tapi untunglah ada tetangga atas yang bisa dititipi print dan scan di Newcastle University heee…

Adanya fasilitas SCONUL tentu sangat membantu bagi para mahasiswa. Pertama tentu bagi mahasiswa yang tinggal agak jauh dari universitas tempat studi dan ada universitas lain di dekat rumah. Craig, rekan seperjuangan di Durham University, juga kondisinya hampir sama seperti saya. Craig kerja di Manchester namun ambil PhD di Durham karena dia ada jaringan dengan seorang profesor di Durham University. Baginya tentu lebih mudah untuk menggunakan fasiltas perpustakaan Manchester University daripada bolak-balik ke Durham.

Kedua, setiap perpustakaan kampus memiliki fokus/koleksi yang berbeda. Untuk periset dengan tema tertentu, bisa jadi perpustakaan universitas tempat studinya tidak memiliki koleksi yang cukup lengkap terkait tema tersebut. Tentu sangat membantu jika ia dapat menggunakan koleksi dari universitas lain.

Jika mengingat kondisi di tanah air saat saya kuliah dulu, sepertinya berbeda jauh. Pada masa antah-berantah, saat saya kuliah once upon a time, saya tidak bisa mengakses perpustakaan universitas lain. Bahkan kadang untuk akses perpustakaan fakultas sebelah saja sulit. Semoga kondisinya berubah sekarang, sehingga kebutuhan pelajar akan buku dapat terpenuhi tanpa memandang dari universitas mana dia berasal.

Sebagai penutup, berikut pemandangan di pojok favorit saya di perpustakaan Newcastle University:

What a lovely autumn tree

 

 

 

[1] Biaya Newcastle-Durham pp naik train berkisar antara £4.4 sd £8.1, tergantung waktu keberangkatan.

[2] Untung saya mengenakan pakaian yang agak keren jadi fotonya pun agak keren ūüėõ

 

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2013 in Akademik

 

Tags: , ,

Military Intervention

Pada Kamis, 17 September, SGIA mengadakan seminar tentang Military Intervention di al Qasimi 102. Pembicara tunggal pada seminar ini adalah Lt. Gen. Robin Brims. Beliau terlibat langsung dalam intervensi militer yang dilaksanakan UK ke Bosnia dan Iraq.

Gen. Brims menyampaikan penjelasan di depan forum

Beberapa poin yang beliau sampaikan terkait intervensi militer tersebut adalah:

  1. Militer UK bukan pengambil kebijakan dalam kasus-kasus ini. Yang memegang kebijakan adalah para politisi. Militer diundang untuk menjawab “apakah kita (UK) dapat melakukan ini.”, dan “apa konsekuensinya (secara militer) bagi UK?”
  2. Militer tidak dapat menolak keputusan yang telah diambil oleh politisi. “It is right to not have an opinion,” kata Gen. Brims.
  3. Secara pribadi, Gen. Brims saat itu percaya bahwa pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Keyakinan ini tumbuh karena beliau melihat laporan yang menunjukkan ke sana. Sayang, beliau “tidak bisa” menyampaikan laporan apa dan bagaimana isinya [1].
  4. Untuk saat ini, Gen. Brims tidak lagi meyakini bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah masal. Ketika ada hadirin yang bertanya kenapa, Gen. Brims kembali tidak bersedia menjawab [2].
  5. Gen. Brims mencatat banyak kasus yang menunjukkan kegagalan intervensi militer untuk menegakkan ketertiban di Iraq pasca-intervensi, berbeda dengan di Bosnia. Bahkan, skandal Abu Ghuraib menjadi salah satu skandal memalukan dalam intervensi ini.
  6. Untuk menghindari kegagalan yang terjadi di Iraq, Gen. Brims menyampaikan beberapa poin yang harus diperhatikan jika akan ada intervensi militer lagi di masa mendatang [3] sebagai berikut:
    1. Perlu menjalin kerjasama dengan tokoh setempat untuk menghindari ambruknya tatanan sosial kemasyarakatan [4].
    2. Urusan keamanan harus dipegang oleh polisi [5]. Jika keamanan dipegang oleh militer (tentara pendudukan), maka bisa terjadi kasus keamanan domestik akan ditanggapi dengan naluri dan logika militer. Menurut Gen. Brims, inilah yang membuat kasus macam Abu Ghuraib terjadi [6].
    3. Tentara pendudukan harus mampu mengendalikan diri dengan code of conduct yang ketat untuk mencegah kasus semacam Abu Ghuraib kembali terjadi.
    4. Keamanan fisik baru akan tercipta jika warga setempat menghormati rule of law yang ditegakkan oleh pihak pendudukan. Agar warga bersedia menghormati rule of law pihak pendudukan, maka pihak pendudukan harus menghormati hak warga setempat. Kembali, ini gagal dilakukan pihak pendudukan di Iraq.
    5. Pihak pendudukan harus memikirkan upaya rekonsiliasi pasca-konflik.
Saya tidak sepenuhnya menikmati seminar tadi karena Gen. Brims sejak awal mewanti-wanti bahwa ia tidak akan bicara tentang proses politik yang memutuskan langkah intervensi ke Iraq. Beberapa pertanyaan yang menjurus ke sana pun dijawab dengan lugas: “I can not answer that” atau “I am going to go into the jail if I answer your question.

Meski demikian, di antara penjelasannya saya menemukan muatan politik yang tersirat:

  • Militer Inggris (dan pemerintah Inggris) sama sekali tidak memegang kendali dalam proses intervensi militer ini. Semua kendali dan komando datangnya dari AS. That was an American operation.
  • Ada beberapa hal yang dilakukan AS yang memunculkan perbedaan pendapat, bahkan ketidaksetujuan, dari pihak Inggris. Kasus Abu Ghuraib adalah salah satunya. Kebijakan (person?) militer AS yang cenderung agresif adalah hal lain yang secara halus disinggung Gen. Brims sebagai “kebijakan yang berlebihan”.
  • Sekuat apapun pewacanaan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal, pada akhirnya tidak ada buktinya. Bahkan para pejabat Inggris sendiri kini tidak meyakini hal tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur.

[1] Alex, rekan dari Perancis yang duduk di sebelah saya saat seminar bergumam, “Itu hal yang tidak akan pernah terungkap, apalagi dalam seminar di universitas begini.” Yah, menurut saya, Alex benar. Mustahil rasanya ada petinggi militer yang bicara blak-blakan tentang informasi itu. Meski, ketiadaan bukti yang jelas tentang informasi itu membuat banyak orang meragukan apakah benar Iraq punya senjata pemusnah massal?

[2] Alex bergumam lagi: “Good question, but that will never be answered either.

[3] Kali ini saya yang bergumam: “Na’udzubillah… ūüė¶ ”

[4] Dalam kasus Iraq, AS mengambil kebijakan “tidak berhubungan dengan anggota Partai Ba’ath*.” Masalahnya, di pelosok Iraq, semua pranata sosial adalah anggota Partai Ba’ats. Mereka bisa menjadi pranata sosial karena menjadi anggota Partai Ba’ath**. Sikap ini membuat tentara pendudukan*** mengabaikan total pranata sosial yang sudah ada dan mencoba membangunnya dari nol. Cukup dikata, kekacauan meraja lela. Kondisi ini berbeda dengan Bosnia, di mana tentara NATO menjalin kerjasama dengan pranata sosial Bosnia dan Serbia-Bosnia untuk menjaga ketertiban.

* Partai Ba’ath adalah partai pendukung Saddam Hussein, berhaluan kiri. Bukan partai berbasis Islam.

** Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia di masa Orba; (hampir) semua pranata sosial dan pemimpin masyarakat adalah anggota Golkar.

***saya menggunakan istilah “tentara pendudukan” (tentara yang menduduki) untuk merujuk ke AS, Inggris dan konco-konconya.

[5] Polisi di sini dapat merujuk pada polisi setempat (jika masih ada) maupun polisi internasional, gsbunugan polisi yang dikirim negara penduduk dengan misi khusus menjaga keamanan.

[6] Gen. Brims tidak membuat komparasi dengan Bosnia. Dalam kasus Bosnia, penjagaan keamanan diurus oleh pasukan NATO namun tidak terjadi pelecehan terhadap kemanusiaan sebagaimana di Iraq.

 
4 Comments

Posted by on October 17, 2013 in Akademik

 

Tags: ,

Antara “Anyer” dan “Jakarta”

Ini bukan tentang lagu lama itu, juga bukan tentang cerita cinta. Tapi cukup mengharu biru dan romantis ūüėČ Ini tentang dua universitas, di mana saya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu: Newcastle University dan Durham University.

Awal kisah ini adalah sepucuk¬†letter of offer¬†di tahun 2011¬†dari Newcastle University yang menuliskan dua nama supervisor saya: Barry K. Gills (Newcastle University) dan James Piscatori (Durham University). Awalnya saya heran, kok bisa, saya mendapatkan supervisor dari dua universitas yang berbeda? Namun karena beberapa teman mengatakan itu hal yang biasa, maka saya melupakannya. Saya pikir, itu memang biasa di UK. Apalagi, Newcastle University dan Durham University memang punya sejarah; Newcastle University dulu bagian dari Durham University sebelum akhirnya “merdeka”.

Ketika September 2012 tiba di Newcastle, saya pun menunjukkan¬†letter of offer¬†tersebut ke¬†Postgraduate Director. Ternyata, dia merasa tidak pernah menuliskan nama James Piscatori dalam¬†Offer¬†tersebut. Ketika konsultasi ke Barry, ternyata Barry juga tidak pernah menyarankan nama James Piscatori. Lah, lalu siapa yang menuliskan nama itu? Jelas bukan saya ūüėÄ [1]

Terlepas dari keheranan kami, sang Postgraduate Director komitmen untuk mewujudkan janji di Offer tersebut. Setelah menunggu dua bulan, akhirnya kami menerima konfirmasi dari James, bahwa dia bersedia menjadi supervisor kedua saya [2]. Kami pun bertemu di awal November yang dingin.

Pertemuan itu begitu indah. Saya merasa seperti anak bodoh di antara dua begawan. Dua jam pertemuan kami begitu berkesan (dan membuat lapar). Proposal yang sudah saya susun (secara harfiah) dibanjiri tinta merah dan (secara kias) dicacah mentah oleh keduanya. Kata yang paling sering keluar dari kami bertiga dalam pertemuan itu adalah: “Yes, but…” #meringis

Pendek kata, proses supervisi pun berjalan lancar. Interaksi dengan James membawa saya sedikit bersinggungan dengan dunia Durham University. Beberapa kali saya berkunjung ke Durham University untuk menemui James. Saya juga berkesempatan mengambil kursus bahasa Arab yang diselenggarakan bersama antara Durham University dan Newcastle University. Kesan saya ketika berkunjung ke Durham pertama kali: “Ini kota tua. Sepertinya nyaman di sini.” Tak terpungkiri, ada getar di hati. Durham lebih beresonansi dengan hati saya daripada Newcastle.

Bulan berlalu. Salju turun dan kemudian mencair. Memasuki Spring, saya bersiap menempuh first year review. Ini adalah proses yang harus dijalani agar bisa lanjut ke tahun kedua. Di jurusan saya, penilaian dilakukan melalu kombinasi beberapa hal: (1) presentasi di (internal) Postgraduate Seminar, (2) proposal, (3) essay 8.000-kata, (4) diskusi dengan panel, (5) komentar supervisor.

Saya mendapatkan jatah review di 25 Mei 2013. Maret dan April, saya mempersiapkan tulisan akhir untuk panel. Barry sebelumnya bilang, kalau dia akan ke Finlandia dan baru bisa bertemu di akhir April.¬†No worries, saya sudah menyiapkan¬†essay¬†10,000-kata (sedia payung sebelum hujan hee…). Pekan kedua April saya kirim ke Barry, harapannya di akhir April saat kami bertemu, Barry sudah dapat memberikan masukan (kembali: banjir tinta merah mengancam).

Ketika kami bertemu di akhir April, Barry tidak seperti biasa. Dia terlalu lama diam, bahkan obrolan ringan di awal pun terasa garing. Saya kira, dia masih capek. Namun ternyata, bukan lelah yang membuatnya berbeda.

“Ganjar, I have to tell you something important.”¬†¬†Barry menarik nafas dalam.¬†“I am leaving Newcastle.”

Pernah membaca komik yang menunjukkan seorang tokoh terdiam dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan? Seakan waktu terhenti untuknya? [3]

Well, that happened to me. Just like in a comic page, I sat there, stunned for a whole minute. Maybe more.

Barry tambah tidak enak melihat keterkejutan saya. Dia pun bercerita panjang lebar. Ternyata, kepergiannya ke Finlandia bukan sekedar menjadi pembicara tamu, melainkan tanda tangan kontrakprofesorship¬†dengan University of Helsinski. Dia dapat tawaran untuk memulai program di¬†Development Studies. Bla, bla, bla… Bla, bla, bla…

“But… I came to Newcastle because of you,” ¬†celetuk saya.

“Well, I know…”¬†Barry terdiam dan tampak semakin tidak enak.

Seterusnya, persis seperti adegan sinetron (tanpa air mata, jeritan dan teriakan, untungnya…)

(Setelah sampai rumah, saya browsing tentang “ganti supervisor” dan mendapatkan tulisan kocak yang menohok:¬†changing supervisor is the academic equivalent of a divorce.¬†100% SE-PA-KAT!)

Atmosfer pertemuan hari itu betul-betul kelam dan membuat depresi (setidaknya, bagi saya). Lebih celakanya, itu terjadi beberapa pekan sebelum first year review! Alhamdulillah tugas semua sudah selesai, jadi kejutan besar itu tidak terlalu mengganggu.

Barry memberi saran, bahwa saya sebaiknya ikut James Piscatori ke Durham University. Langkah ini ia pandang lebih aman untuk kelanjutan studi saya, karena tidak ada profesor/dosen senior di Newcastle University yang menekuni tema saya (Well, there was one. His name was Barry K. Gills. Sigh…)

Alternatif kedua, tetap di Newcastle University dengan supervisor pertama entah siapa. James akan tetap jadi supervisor kedua.

Alternatif ikut ke Helsinski langsung saya coret tebal-tebal. Bayangan riweuh pindah ke UK membawa keluarga rasanya masih terlalu segar di mata.

Saya mencoba menjajagi alternatif kedua terlebih dahulu. Ini sangat terkait dengan status saya yang datang ke UK sebagai penerima beasiswa tertentu (You-Know-It). Berita dari teman yang pernah mengalami, proses pindah ini tidak gampang dan memakan banyak hal: waktu, biaya, energi, daaan… makan hati ūüėõ

Tapi seperti kata Barry, tidak ada seorang pun di Newcastle University yang mendalami minat saya. Saya bertemu Postgraduate Director dan dia menyarankan agar saya menggunakan acara (internal)Postgraduate Seminar untuk window-shopping, mencari-cari staf yang mau membimbing saya. Tapi ujungnya juga nihil.

Pas saya presentasi, semua lancar. Ketika masuk waktu tanya-jawab, masalah baru muncul. Adegan komik “semua terdiam” kembali terjadi.¬†Everyone just sat there for a whole minute, looking at me dumbly (or, maybe looking at me, the dumb one?). I could imagine that they asked each other in their mind: what the h*** is he talking about!?

When someone eventually raised her hand to ask a question, her question was totally not related to my topic. So did the second question. And the third question. [4]

Saya menghadapi sesi tanya-jawab dengan gagah berani. Selepas presentasi, saya menemui¬†Postgraduate Director¬†untuk meminta masukan. Dia bilang: “You have a good project and your work is solid. I don’t think you will have problems with the panel. But unfortunately, I am not an expert in your topic, so I can’t give you any specific inputs.

Oh well.

Ketika saya bertemu James di akhir pekan, dia telah mendengar tragedi kepindahan ini dari Barry. Saya juga bercerita tentang tragedi keheningan di Seminar lalu. Dia langsung mengajak saya untuk pindah ke Durham dengan ucapan: “Oh poor you… Just come to Durham with me. You belong with us.” Setelah itu, sambil bercanda, dia bercerita tentang awal kenapa dia bersedia menjadi¬†second supervisor¬†saya [2]. Meski belum mampu sepenuhnya mengusir galau di hati ini, tawaran James mampu menjadi seteguk air di tengah prahara hati…

First year review. Tidak ada yang istimewa di hari ini, selain saya pakai jas ke kampus dan mendapati para reviewer mengenakan sweater santai dan celana jeans.¬†Absolutely overdressed!¬†Proses interview berjalan lancar (karena para reviewer juga sepenuhnya tidak paham dengan apa yang saya teliti). Masukan reviewer pun cenderung “normatif”: tema masih terlalu luas, dasar teori masih harus diperkuat de el el, de es be, e te ce. Ya iyalah,¬†first year¬†gituuu!

Selesai review, saya memulai perjuangan untuk pindah universitas. Ada beberapa hal yang harus saya urus: (1) mundur dari Newcastle University (dan siapa tahu mereka terlalu mencintai seorang Ganjar sehingga tidak mau melepaskannya!?); (2) mendaftar ke Durham University sebagai second year student; (3) mengurus izin pindah ke sponsor; (4) membuat visa baru.

Benar kata teman tadi; proses pindah universitas itu menguras waktu, uang, energi, darah dan air mata (No, I am not being hyperbolic here. Well, maybe I am. A little.) [5]

Alhamdulillah, berkat izin-NYA, doa orang tua dan dukungan banyak pihak urusan tarik diri dari Newcastle dan daftar ke Durham telah selesai. Urusan dengan sponsor 75% selesai, semoga yang 25% lagi juga bisa selesai dengan lancar, aamiin… Sekarang, tinggal menunggu visa. [6]

Pekan ini, saya resmi menjadi mahasiswa Durham University. Pekan ini pula, email Newcastle University saya resmi diblokir. Nama saya hanya tersisa di bagian¬†Postgraduate Research Project¬†(menariknya, ada di bagian “Recently Completed PGR Students” wkwkwk…).

Satu tahun di Newcastle University adalah satu tahun yang menyenangkan. Delapan bulan bekerja dengan Barry adalah delapan bulan yang sangat mencerahkan. Barry membuka wacana saya, mengenalkan saya pada beberapa konsep penting yang tidak saya ketahui sebelumnya.¬†He was a great teacher, and I really, really miss him,¬†hiks… Buku¬†Heaven on Earth: A Journey Through Shari’a Law¬†menjadi hadiah terakhir Barry untuk saya (hiks lagi…) [7]

Satu tahun di Newcastle University, hal yang saya rasakan cukup mengganggu di Newcastle University adalah “terasing”. Dari seluruh¬†postgraduate students¬†di Politics, Newcastle University, hanya seorang yang bukan kulit putih, asal Eropa. Namanya Ganjar Widhiyoga. Ada seorang mahasiswi dari China, tapi dia¬†missing-in-action. Di website ada beberapa mahasiswa dari Afrika, tapi saya belum pernah ketemu mereka.¬†Not even once.¬†Beberapa bulan silam ada tiga orang mahasiswa dari Kurdi masuk, namun mereka laksana¬†Three Musketeers¬†yang tidak menerima saya sebagai D’Artagnan. Lagipula, kantor kami beda gedung.

Yang paling menyiksa memang “keterasingan” intelektual, ketika tidak ada seorang pun yang paham tentang tema riset saya, sementara tema riset mereka saling terkait (sebagian besar mengambil tema “security” dengan anak-turunnya:¬†state security, human security, economic security, bio security, you name it; sebagian lain mengambil tema¬†comparative politics). Hanya seorang yang “nyempil”, mengambil tema konsep/filsafat/sejarah politik dan mencoba mengawinkannya dengan konsep/filsafat/sejarah Islam.¬†You know his name.

Satu pekan di Durham University merupakan awal yang menyenangkan bagi babak baru kehidupan ini. Tahun 2013 ini ada sekelompok PhD Students di¬†School of Government and International Affairs. ¬†Saya sudah bertemu empat di antaranya dan kami saling “nyambung”. Kami berlima memiliki latar belakang etnisitas yang berbeda:¬†British, Perancis, Italia, Kuwait dan Indonesia. Kami sama-sama sudah bekerja. Dua orang merupakan dosen, seorang¬†civil servant, dua orang aktivis LSM. Lebih mengharukan, mereka paham ketika saya bicara tema riset. Seorang bahkan memiliki tema yang hampir mirip. Ahhhh… selamat tinggal, adegan hening ūüėõ

Semoga benar kata James: I belong with Durham University. [8]

the-two

[1] Sampai sekarang, kami (saya, para supervisor, Postgraduate Director) masih belum tahu siapa yang menuliskan nama James Piscatori sebagai second supervisor di Offer saya.

[2] Setelah sekian lama, James akhirnya mengaku jujur: awalnya, dia enggan menerima tawaran menjadi¬†second supervisor¬†saya (mengutip James: “Who is he? I don’t know him! Why should I go to Newcastle for him!?“). James bersedia setelah dipaksa pihak Durham University yang mengira bahwa saya masuk dalam skema¬†North-east Doctoral Training Centre*¬†yang melibatkan Durham University dan Newcastle University.¬†Well, I am not.**

*North-east Doctoral Training Centre¬†adalah sebuah program pemerintah UK yang dikelola Durham University dan Newcastle University. Salah satu programnya adalah beasiswa PhD. Awalnya, PhD student dalam skema NDTC akan memiliki seorang supervisor dari Durham University dan seorang dari Newcastle University (persis seperti saya). Namun rencana ini dibatalkan karena dianggap terlalu merepotkan. ūüėõ

** Saat tahu saya tidak masuk skema NDTC, James sudah terjerat terlalu dalam sehingga tidak dapat membebaskan diri dari ikatan supervisi yang aneh ini #tertawa jahat.

[3] Dalam beberapa kasus, sang tokoh digambarkan dengan ekspresi dan dalam posisi yang sama di beberapa panel berurutan, dengan seekor burung (atau kumbang, atau apalah) lewat di dekat kepala. Atau ada tulisan “……” ¬†Atau ada gambar setetes air raksasa.¬†You get the point¬†lah.

[4] Rasanya campur-campur antara sedih (is my project not interesting enough?), ga PeDe (am I that bad in explaining my project?), gembira (hurray! no difficult question for me, yay!) dan lain-lain.

[5] Salah satu “harga” yang muncul dari “petualangan” berganti universitas ini adalah: selama Juni-Sept saya gagal menulis satu bab yang dipesan James. Harga lain adalah: uban. ūüėõ

[6]¬†I would like to use this opportunity to express my deepest gratitude to the Rector of my university for her unwavering support; to the Secretary of my department for her kindness; to Mr. Edi Miranto for his great, invaluable assistance; to my spiritual mentor (He-Who-Must-Not-Be-Named); to my friends who had prayed for me… And to many others, the director of the movie, my colleagues, my agent, my fans…¬†(Serasa menang Oscar ajah, lol. Abaikan kalimat terakhir!)

[7] Pas menyodorkan buku ini, Barry baru saja pulang dari luar negeri (lagi). Dia bilang:¬†I was in London and saw this book. I thought about you when reading this book. I hope this is useful.¬†(Hiks, hiks, hiks…)

[8] Satu hal yang berbeda di Durham University adalah, para staf dan pengajar di Durham (menurut saya) menampilkan sikap yang sangat formal. Saat saya di Newcastle University, jarang saya lihat staf dan pengajar di departemen saya yang mengenakan jas/busana resmi. Bahkan saat acara¬†induction¬†pun, paling kemeja plus rompi, atau bahkan mengenakan¬†sweater. Tapi di Durham University, di acarainduction¬†beberapa hari ini menampilkan sosok-sosok berjas rapi untuk yang pria, atau berbusana kerja resmi untuk yang perempuan. Kalau mahasiswanya mah sama saja… Anak master masuk kelas pakai kaos dan celana pendek pun ada ūüėõ

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2013 in Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Sang Guru (2)

Selain Barry, insha Allah beberapa tahun ke depan saya juga akan berguru pada Professor James Piscatori, dari Durham University. Kondisi saya cukup unik, karena memiliki dua orang supervisor dari dua universitas yang berbeda. Kedua supervisor ini pun orang-orang yang sangat kompeten di bidangnya. Jika sebelumnya saya sudah bercerita tentang Barry Gills, kali ini saya akan mengenalkan sosok James Piscatori, Sang Guru berikutnya.

James Piscatori adalah seorang ilmuwan senior dalam kancah akademik dunia. James menjabat sebagai Head of School di School of Governmental and International Affairs, Durham University. Minat riset beliau adalah Islam dan politik. Bukunya yang berjudul Moslems Politics merupakan salah satu buku yang banyak menjadi rujukan saat membahas dinamika politik umat Islam kontemporer. Profil lengkap James ada di sini.

Sebelum berkiprah di Durham University, James sudah malang-melintang di rimba persilatan. James pernah di Australia. Ia kemudian pindah ke UK, dan menjadi dosen di Oxford. Sejak 2010, James menjadi dosen di Durham University. Selain memiliki rekam jejak akademik yang mendunia, James juga memiliki jaringan yang global pula. James berteman dekat dengan banyak cendekiawan dan tokoh politik Muslim, salah seorangnya adalah Anwar Ibrahim. James juga pernah berkunjung ke Indonesia dan bekerja sama dengan beberapa akademisi Indonesia. He is quite familiar with Indonesia, including how shy we are *blush*

Berikut video saat James berbicara di depan Anwar Ibrahim dan pengurus partai di Malaysia:

 

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,

Scholarship Hunting (1): Beasiswa DIKTI

Jika anda seorang dosen ber-NIDN atau calon dosen yang bersedia menempuh ikatan dinas dengan DIKTI, maka anda memiliki peluang untuk mendapatkan Beasiswa DIKTI. DIKTI menyediakan beasiswa untuk program Master dan Doktoral dalam dan luar negeri. Saya alhamdulillah mendapatkan Beasiswa Luar Negeri (BLN) DIKTI untuk program doktoral saya di United Kingdom. Untuk BLN, beasiswa ini meliputi komponen sebagai berikut:

  1. Tuition fee/SPP (at cost)
  2. Monthly living allowance/Tunjangan hidup bulanan (besarnya sesuai standar DIKTI)
  3. Insurance cost/Biaya asuransi (at cost)
  4. Book allowance/Tunjangan buku (diberikan per semester, besarnya sesuai standar DIKTI)
  5. Settlement allowance/Tunjangan awal (besarnya satu kali monthly allowance)
  6. Ticket fare/Tiket Jakarta-kota tujuan (satu kali, tiket pulang diberikan di akhir beasiswa)

Beasiswa Luar Negeri (BLN) DIKTI berlaku untuk dua tahun untuk program Master dan tiga tahun untuk program PhD. Ada perpanjangan di semester ketujuh bagi program PhD, namun mekanisme perpajangan ini belum jelas sampai sekarang. BLN DIKTI juga secara eksplisit menyatakan tidak memberi tunjangan keluarga, tiket keluarga, asuransi keluarga dan lain-lain. Intinya, hal-hal yang muncul jika awardee memutuskan membawa keluarga menjadi tanggungan awardee sepenuhnya. Jka awardee harus pulang karena alasan apapun (bahkan pulang untuk melakukan penelitian atau ambil data), biaya tiket ditanggung oleh awardee. DIKTI hanya menanggung komponen-komponen di atas.

Untuk proses pendaftaran, bagi dosen mendaftar online melalui laman ini. Sementara, calon dosen dapat mendaftar melalui laman ini. Syarat-syarat lengkap BLN DIKTI dapat dilihat di dokumen resmi berikut.

Setelah anda mendaftar secara online, anda akan diminta untuk menghadiri wawancara. Sebaiknya, anda membawa semua dokumen yang anda gunakan unfuk mendaftar. Anda juga perlu membawa surat izin mengikuti wawancara dari Rektor. Jika anda dosen pegawai Yayasan (dosen swasta) maka anda perlu membawa surat izin mengikuti wawancara dari Kopertis. Untuk mendapatkan surat izin Kopertis ini, anda membawa surat pengantar dari Rektor ke Kopertis dan print out surat undangan dari DIKTI [1] [2].

Pengalaman saya, wawancara BLN DIKTI fokus pada:

  1. Kemampuan akademik anda: dibuktikan dengan transkrip pendidikan sebelumnya, aktivitas ilmiah (jurnal, research grant) dsb.
  2. Kemampuan bahasa: yang diukur memang bahasa Inggris. Sejak pendaftaran, nilai IELTS/iBT sudah menjadi syarat mutlak. Wawancara pun menggunakan bahasa Inggris. Mungkin tidak adil bagi pendaftar denga tujuan negara berbahasa selain Inggris, tapi menurut saya ini masih cukup wajar. Bagaimana pun juga, komunikasi di dunia akademik tingkat global lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.
  3. Universitas tujuan: anda perlu mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari universitas yang anda tuju. Daftar universitas yang disetujui DIKTI ada di dokumen resmi berikut. Harap diperhatikan bahwa DIKTI membutuhkan unconditional Letter of Acceptance, tanda bahwa anda sudah diterima di universitas tersebut tanpa syarat tambahan yang masih harus anda penuhi. Dokumen Letter of Offer (tanda bahwa anda mendapat tawaran tempat dari universitas) dan conditional Letter of Acceptance (pernyataan bahwa anda diterima namun masih harus melengkapi syarat tertentu seperti nilai IELTS harus diperbaiki dsb) tidak diterima DIKTI.
  4. Komunikasi dengan (calon) supervisor: jika anda calon mahasiswa PhD, anda perlu menjelaskan kenapa anda memilih beliau sebagai (calon) supervisor. Argumen anda akan bertambah kuat jika anda menggunakan buku/artikel (calon) supervisor sebagai landasan proposal riset anda. Anda juga perlu menunjukkan korespondensi dengan (calon) supervisor. Poin penting dalam korespondensi tersebut adalah:
    1. (Calon) supervisor setuju membimbing anda.
    2. (Calon) supervisor setuju, atau minimal bisa menerima, proposal riset anda.
Jika anda berhasil meyakinkan pewawancara, maka anda akan masuk daftar penerima BLN DIKTI. Anda perlu mengumpulkan dokumen resmi (berkas fisik), sesuai yang tercantum di surat pengumuman hasil wawancara. Pastikan berkas anda terkirim melalui pos tercatat, dan cek ke DIKTI jika anda belum mendapatkan guarantee letter dan/atau surat Setneg sampai pembekalan tiba [3].

Setelah mendapatkan GL dam surat Setneg, anda dapat mengurus visa. GL menjadi komponen penting pada saat mengurus visa karena GL adalah jaminan anda akan dibiayai oleh negara selama studi nanti. Tanpa GL, biasanya anda harus memiliki sejumlah besar uang (sekian untuk biaya hidup ditambah sekian untuk SPP). Jika visa sudah di tangan, maka anda tinggal satu langkah lagi menuju keberangkatan.

Selamat menempuh hidup baru! ^_^

[1] Bagi dosen swasta, semua tahap pendaftaran BLN akan membutuhkan surat pengantar dari Kopertis. Untuk mendaftar online pun harus melampirkan pindaian surat pengantar dari Kopertis.

[2] Pengalaman saya mengurus surat ini di Kopertis VI, surat bisa jadi dalam sehari asalkan pejabat yang berwenang untuk tanda tangan ada. Namun kakak saya mencoba mengurus di kopertis lain dan perlu waktu lebih dari sepekan. Your mileage may vary.

[3] Pengalaman pribadi: saya kirim dengan pos tercatat dan simpan resinya. Sebulan sebelum keberangkatan, saya belum mendapatkan guarantee letter dan surat Setneg. Ketika staf kampus datang ke DIKTI menanyakan itu, petugas mengatakan kalau saya belum mengirimkan berkas. Untung staf membawa resi pengiriman. Setelah dilacak, ternyata berkas saya “nyelip“. Sad, but true.

 
4 Comments

Posted by on October 29, 2012 in Beasiswa

 

Tags: ,

Sang Guru (1)

Penasaran siapa sosok yang akan menemani saya menjalani hari-hari penuh liku (baca: menyelesaikan PhD :D)?

Nama beliau adalah Professor Barry K. Gills. Beliau adalah salah seorang pakar tentang globalisasi dan world history. Salah satu karya beliau yang menarik saya adalah Globalisation, global histories and historical globalities. Artikel ini sangat pas dengan tema yang akan saya bahas. Buku-buku beliau yang lain pun menarik untuk dikaji. Profil lengkap Barry Gills ada di sini.

Pertama melihat profilnya di website, saya langsung jatuh hati ūüėÄ Setelah membaca beberapa karyanya, saya semakin mantap melamar beliau. Alhamdulillah, setelah mengirimkan email lamaran dan menunggu selama kurang-lebih 25 hari, beliau menerima saya sebagai murid.

Begitu tiba di Newcastle dan menyelesaikan urusan administrasi, saya pun menemui Barry. Sebagai anak Jawa yang lugu, saya memanggilnya “Profesor Gills”. Mungkin satu-satunya yang memanggil beliau demikian ūüôā Jangan khawatir, saya sudah minta izin Barry untuk memanggilnya “Professor Gills” kok ūüėÄ

Barry orangnya ramah dan menyenangkan. Kali pertama bertemu, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai dua jam. Beliau ternyata pernah ke Yogyakarta dan berkunjung ke Borobudur. Barry juga mengetahui kisah Mahabharata (versi India) dan kami membicarakan beda Mahabharata India dan Mahabharata Jawa yang sudah mendapat pengaruh Islam.

Bekerja dengan Barry sangat menyenangkan. Barry sangat menghargai pendapat saya, meski mungkin dalam hati gemas dengan saya yang culun banget dan pengetahuannya masih sangat cetek dalam bidang global society. Yang sangat menantang adalah, sekalinya berdiskusi, Barry bisa menyebutkan sepuluh lebih buku (dan semuanya dengan embel-embel: you should read it). Jadi reading list saya beranak pinak tak terkendali (T_T)

Alhamdulillah, saya bersyukur Allah SWT Mempertemukan saya dengan ilmuwan sekaliber Barry. Saya yang pandir ini mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari Sang Guru ūüôā

Berikut cuplikan wawancara Barry:

 

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2012 in Akademik

 

Tags: , ,

Mencari Jodoh Sehati

Ini bicara tentang jodoh, tapi bukan jodoh yang itu ūüėČ Tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana langkah saya mencari supervisor; sang calon Guru. Tidak berlebihan rasanya kalau menyamakan memilih supervisor dengan memilih jodoh di dunia akademik. Proses supervisi, interaksi supervisor-mahasiswa doktoral dan thesis [1] yang harus dihasilkan merupakan proses yang panjang, membutuhkan komitmen dan komunikasi lacar dari semua pihak yang terlibat. So, the academic equivalent of marriage it is [2].

Untuk menemukan jodoh sejati, tentu tidak mudah. Apalagi, belum pernah bertemu sebelumnya. Namun begitulah Takdir-Nya; bekerja dengan cara yang misterius ūüėČ

Berikut langkah-langkah yang dinasehatkan rekan, dan saya lakukan sepenuh hati saat itu:

  1. Tentukan negara mana yang ingin anda tuju.
  2. Carilah universitas yang cukup respectable di negara tersebut.
  3. Kunjungi website universitas tersebut. Lihat profil staf di Prodi/Jurusan/School yang sesuai dengan minat anda.
  4. Carilah di antara para staf siapa yang cocok anda lamar sebagai “Si Dia” calon Guru.
    1. Carilah yang memiliki research interest sesuai atau berhimpitan dengan minat anda. Semakin dekat research interest beliau dengan (calon) proposal penelitian anda, semakin bagus.
    2. Lihat publikasi beliau. Carilah calon Guru yang sudah memiliki publikasi di bidang yang sesuai minat anda. Semakin banyak publikasi semakin bagus.
      • Supervisor yang belum memiliki publikasi/hanya sedikit publikasinya bisa jadi belum memiliki banyak pengalaman menghadapi editor/examiner.
    3. Sebisa mungkin, carilah calon supervisor yang sudah memiliki jabatan akademik sekurangnya sebagai Senior Lecturer. Di UK, di atas Senior Lecturer ada Reader (setara Associate Professor), kemudian Professor.
      • Supervisor yang masih terlalu muda (secara usia akademik) bisa jadi belum memiliki asam garam kehidupan (akademik), atau belum “berhasil” dalam kehidupan akademiknya.
      • Supervisor yang sudah mapan secara posisi akademik biasanya cenderung menetap di universitas tersebut. Kemungkinan beliau pindah lebih kecil daripada yang masih meniti karir [3].
    4. Cari dan baca beberapa karya tulis beliau. Dari sana, anda akan dapat menilai apakah beliau memiliki ketertarikan yang cukup sama dengan anda.
    5. Jika ada di antara mahasiswanya yang berasal dari Indonesia, jangan sungkan untuk menghubungi mahasiswa tersebut untuk mengetahui bagaimana sifat beliau dan apakah beliau mampu membimbing mahasiswanya menjadi seorang PhD.
  5. Buat email untuk calon supervisor. Isi email bervariasi, namun setidaknya berisi hal-hal berikut:
    1. Subject email berisi hal yang menarik dan mencantumkan tema riset spesifik.
    2. Sapaan pembuka dan perkenalkan identitas anda.
    3. Jelaskan bahwa anda adalah kandidat penerima beasiswa XYZ, dan tertarik bekerja di bawah supervisinya.
    4. Jika sudah membaca jurnal/buku beliau, sampaikan secara singkat pendapat anda tentang jurnal/buku tersebut. Jika anda menggunakannya untuk referensi di proposal riset, jauh lebih baik!
    5. Tutup email dengan ucapan terima kasih dan anda menantikan jawaban beliau.
  6. Email sebaiknya panjang atau pendek? Ada rekan yang menyatakan pendek saja, karena para profesor ini sangat sibuk. Ada yang menyatakan jangan terlalu pendek, nanti tidak sopan. Saya ambil jalan tengah (cenderung panjang hee…). Upayakan email padat dan jelas, tanpa meninggalkan basa-basi dan sopan santun kepada orang yang lebih tua [4].
  7. Lampirkan proposal riset anda, CV dan rekomendasi dari dua orang dosen ke email tersebut.
  8. Kirim email melalui alamat email resmi (bukan alamat email gratisan semacam gmail atau yahoo!) [5]
  9. Anda dapat mengirim email ke beberapa profesor sekaligus.
  10. Kata teman-teman, jika tertarik, seorang calon supervisor akan menjawab dalam dua pekan. Lebih dari itu, lebih baik lupakan dan cari yang lain.
  11. Sabar menunggu. Jangan pernah membanjiri email calon supervisor dengan email harian. Tunggu sampai ada respon awal dari sang calon.

Setelah email anda kirim, langkah selanjutnya adalah berdoa. Namanya jodoh, kita tidak tahu mana yang akan nyangkut. Saya mengirim email ke empat profesor di Australia dan tidak seorang pun membalas. Saya kemudian mengirim ke tiga profesor di UK. Seorang dari York University membalas via asistennya; kata sang Profesor (via sang asisten), daftar saja secara resmi. Yay! Alhamdulillah! Setidaknya sudah dapat jaring pengaman ūüėÄ

Seorang lagi membalas dengan lebih personal, menyatakan ketertarikan pada tema saya. Namun, beliau sedang sibuk konferensi, jadi menjanjikan akan mendalami lagi proposal saya dua pekan kemudian. Eh tapi… dua pekan terlewati tanpa ada kabar. Ketika saya email lagi, beliau tidak respon. Belum jodoh nampaknya.

Profesor ketiga yang saya email adalah calon Guru yang sangat saya harapkan. Prioritas pertama. Tapi sudah dua pekan lebih beliau kok tidak membalas juga… Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan ūüė¶

Saat itu, saya sudah nyaris menggunakan tawaran profesor dari York University. Namun alhamdulillah, tiba-tiba email dari calon Guru prioritas utama tiba! Isinya pun sangat positif, mendukung rencana riset saya dan langsung menyarankan untuk mendaftar. Beliau juga langsung me-cc email tersebut ke Postgraduate Director. Saya sangat bersyukur. Namanya jodoh, tak akan lari ke mana ūüôā

 

 

 

[1] Di UK, hasil program S2 disebut sebagai dissertation, sementara hasil program S3 disebut sebagai thesis. It is a strange world, I know.

[2] Begitulah kata komik yang saya baca ūüėÄ EDIT: memang begitulah! Untuk kisah yang lebih mengharu biru, silahkan baca Anyer.

[3] Selalu ada pengecualian… Silahkan baca Anyer untuk kisah lebih lanjut *hiks.

[4] Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa profesor/dosen British, beliau-beliau itu seperti orang Jawa/Indonesia pada umumnya. Penuh tata krama, sopan dan halus.

[5] Saya pernah melakukan kekhilafan ini: mengirim empat email ke empat profesor di Australia menggunakan gmail. Tidak seorang pun membalas email saya hiks…

 

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,

Awal Perjalanan

The beginning of a journey. A small step to explore the limitless horizon.

Alhamdulillah, akhirnya segala keperluan untuk berangkat ke Newcastle telah siap. Insha Allah, saya akan memulai belajar di Newcastle University pekan depan. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, mengingat belum pernah sekali pun anak Yogya ini keluar negeri :p

Proses mendapatkan beasiswa ini membutuhkan waktu cukup panjang. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari supervisor. Membuka akun email, ternyata saya mengirimkan email pertama pada calon Guru pada 04 September 2011; bulan ini, setahun yang lalu. Beliau membalas pada 29 September 2011 [1].

Setelah mendapatkan email dari calon Guru, langkah kedua adalah mendaftar secara resmi. Saya memulai proses korespondensi dengan Postgraduate Director of Politics Program, Newcastle University [2]. Setelah itu, mendaftar online ke Newcastle University [3]. Proses pendaftaran dari mendaftar online sampai terbit Letter of Acceptance sekitar empat bulan [4]. Waktu yang panjang ini karena saya memasukkan berkas di akhir bulan Oktober sehingga harus menunggu winter vacation, Tahun Baru dan sebagainya.

Begitu mendapatkan LOA, saya langsung mendaftar beasiswa. Ini langkah ketiga yang sangat, sangat, sangat penting (kecuali bagi yang cukup beruntung mendapatkan Beasiswa Ayah Bunda/turunannya untuk mendukung kuliah :D). Saya mendaftar Beasiswa Luar Negeri DIKTI yang diperuntukkan bagi dosen dan calon dosen. Pilihan beasiswa lain ada banyak, dapat memilih sesuai panggilan hati nurani ūüėÄ [5]

Rasa bahagia kembali membuncah ketika pada bulan Mei 2012, sekitar delapan bulan dari pertama kali saya mengirim email ke calon Guru, nama saya tercantum sebagai penerima BLN DIKTI 2012 Gelombang II. Alhamdulillah, keinginan berangkat ke negerinya Harry Potter semakin dekat! [6] Hasil menggembirakan ini tentu tidak lepas dari doa restu Bapak dan Ibu, dukungan keluarga dan sokongan Bu Rektor dan rekan-rekan di Prodi HI Unisri.

Setelah pasti mendapatkan Guarantee Letter dari DIKTI, saya pun mendaftar visa. Ini langkah keempat, yang hasilnya saya dapatkan sekarang [7]. Di passport saya, sekarang sudah mejeng stiker dengan foto saya tersenyum malu-malu. Alhamdulillah, keluarga juga mendapatkan visa, sehingga bisa menemani petualangan ini.

Empat langkah yang panjang, memakan waktu satu tahun. Namun empat langkah ini hanyalah ingsutan kecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun mendatang saat menempuh studi; lebih lagi jika dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya, insha Allah.

It’s time to spread your wings, and fly, little one.

It is time for you to learn, tasting many winds blowing through the horizon.

[1] Saya ingat betapa galaunya hati ini saat sang calon Guru belum juga membalas email. Saya membuka email tiap hari, dan melakukan refresh tiap lima menit sekali. Sungguh. Masuk pekan kedua, harapan mendapat email dari calon Guru makin menipis, karena menurut teman-teman, batas waktu seorang profesor membalas adalah dua pekan. Lebih dari dua pekan, lupakan. Maka, betapa bahagia membuncah saat email dari calon Guru masuk inbox hampir sebulan kemudian.

[2] Sebenarnya, secara formal tidak perlu kontak Postgraduate Director untuk mendaftar formal, tapi komunikasi awal akan sangat membantu proses registrasi jika ternyata ada kendala di kemudian hari.

[3] Tip of the day: pastikan membaca terlebih dahulu laman petunjuk pendaftaran di situs universitas terkait. Siapkan dokumen yang diperlukan (scan passport, scan skor IELTS/iBT, scan ijiazah+transkrip dan scan terjemahannya, dll). Beberapa universitas meminta esay/jurnal dsb, beberapa yang lain tidak.

[4] Untuk lebih jelasnya lihat di sini,

[5] Untuk detail tentang beasiswa Dikti, dapat lihat di sini. Untuk beasiswa LPDP, bisa lihat ini.

[6] Ini mulai ketahuan niat sebenarnya apaaa XD

[7] Untuk proses pembuatan visa UK, silahkan baca sini.

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2012 in Perjalanan

 

Tags: , ,