RSS

Tag Archives: viva

#1. Dimulai dari “Kenapa”

Pada artikel sebelumnya, saya menyampaikan tentang viva yang misterus dan tak terduga. Meski demikian, belajar dari pengalaman, nasehat supervisors dan buku-buku tentang viva (saya merekomendasikan How to Survive Your Viva), ada beberapa hal yang insya Allah akan umum dijumpai dalam proses viva (terutama di budaya akademik UK).

Pertama, viva biasanya akan dimulai dengan penguji bertanya: “Kenapa anda tertarik dengan tema ini?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan umum dan dimaksudkan untuk membuat sang kandidat merasa nyaman dan percaya diri. Bisa jadi selama (sekurangnya) tiga tahun menjalani proses PhD, kandidat sudah jenuh dengan pertanyaan ini. Namun, karena pertanyaan ini pasti ditanyakan maka saya menilai wajib bagi kandidat untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini dengan baik.

Ada beberapa alasan kenapa kandidat perlu menyiapkan jawaban yang baik untuk pertanyaan “ringan” ini. Pertama, jika kandidat menjawab mantap maka akan tumbuh rasa percaya diri. Kedua, examiners akan melihat kandidat mempersiapkan diri dan ini akan menjadi kesan yang baik. Kesan pertama begitu menggoda, demikian kata iklan. Ketiga, ini saya dapat dari nasehat Professor Piscatori, pertanyaan ini dapat menjadi sebagai sarana untuk menunjukkan pengetahuan sang kandidat dan menekankan kontribusi risetnya.

Ingat, seorang kandidat PhD dinilai berdasarkan kemampuannya menggali hal yang baru dan kontribusinya ke ilmu pengetahuan. Saat menjawab pertanyaan “kenapa” ini, seorang kandidat dapat menjelaskan posisi dirinya dalam peta pengetahuan yang sudah dikembangkan, keunikan risetnya dan kontribusi penelitian ini. Dengan kata lain, kandidat yang mengemas jawaban atas “kenapa” ini secara apik sehingga examiners memahami posisi dan kelebihan risetnya, sudah mencapai tujuan utama proses viva.

Misalnya, thesis saya berjudul Understanding the Umma as an Islamic “global society”.

Saya menjawab pertanyaan “kenapa” ini sebagai berikut:

“My interest in this theme is based on a mixture of personal and academic curiousity. On the personal side, I grew in Indonesia. By the end of the 90s, there was an Islamic resurgence in Indonesia which made Indonesian Muslims express their religion more assertively. They develop strong concern toward the wider Muslim society and often make calls toward the unity of the umma. This piqued my interest on the concept of the umma. It is an elusive concept, we don't have any tangible formulation of it in our contemporary period, yet it has strong power to pull people toward the idea.

On the academic side, I am interested in studying globalisation. When studying the history of globalisation, I read literatures on World System theory, which propose that our contemporary globalisation and global society are not necessarily unique. There had been other globalisation-like processes throughout our history which also produce societies transcending traditional borders.

The mixture of these two interests leads me to this theme. I am keen on observing the umma through the perspective of global society. I have two research questions that I seek to address in this thesis. First, how did the early Islamic society develop global consciousness? Second, how was the concept of the umma developed in relation to the concept of global consciousness and the concept and historical formation of global society?

My arguments are: first, the early Islamic society developed global consciousness through reflecting on the spiritual teaching of Islam and through intellectual networks, political institution and mystical orders. Second, this global consciousness solidified into a translocal society, but not truly global, which is known in Islamic terminology as the umma.

I believe that this thesis contributes in the development of several field of knowledge: first, global politics by focusing on the early Islamic society as a global political actor. Second, the study of globalisation and global society, by tracking the development of such ideas in the historical period of early Islamic society. Third, Islamic studies by correlating the umma, which is an Islamic terminology, with global consciousness and global society, which are social and political terminologies.”

Dengan penjelasan seperti di atas, dalam lima menit saya sudah menyampaikan posisi saya (Muslim, Indonesia, tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia), gambaran teoritik umum (World System theory dan “many globalities” yang diajukan pemikiran ini), research questions, hypothesis dan contributions. Dalam lima menit, examiners sudah paham dengan pembukaan thesis saya.

Karena saya berlatih mengucapkan pembukaan ini selama berhari-hari, maka alhamdulillah saya dapat menyampaikannya dengan lancar. Examiners terkesan, saya pun merasa lebih percaya diri saat melihat respon positif mereka. Ketika saya selesai menyampaikan pembukaan dan examiners masuk ke pertanyaan, saya secara mental lebih siap menyambut pertanyaan mereka. Kesiapan mental ini menjadi penting saat pertanyaan yang diajukan examiners ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang saya dan supervisors perkirakan, yang akan saya kisahkan di artikel berikutnya!

 

 
 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,

#0. Viva yang Misterius

Dalam tradisi Inggris, perjalanan riset seorang PhD student akan diakhiri dengan viva voce. Viva voce, biasa disingkat viva, arti harfiahnya adalah “menggunakan suara”. Selama viva, student akan diminta untuk menjelaskan thesisnya kepada dua orang examiners (penguji). Para penguji kemudian akan bertanya dan menguji pengetahuan sang student, sampai akhirnya penguji akan memutuskan apakah student tersebut layak mendapat gelar Doctor of Philosophy atau tidak.

Nampaknya sederhana namun viva acap kali menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam diri para PhD students (termasuk dalam diri saya!). Setidaknya ada dua hal yang membuat viva nampak mencekam. Pertama, ini adalah kesempatan pertama thesis yang sudah dikerjakan dengan susah payah selama bertahun-tahun, penuh air mata, keringat dan darah itu akan dikritisi oleh pihak lain. Meskipun PhD students didorong untuk mengikuti conference dan menerbitkan jurnal [1], serta setiap akhir tahun ada evaluasi bersama panel, namun viva adalah pertama kalinya seluruh thesis itu dibaca, dibedah dan diobok-obok oleh orang lain, selain sang student dan para supervisors. Sebagaimana lagunya Joshua, kalau airnya diobok-obok, pasti ikannya mabok. Dalam hal viva, saat thesis mereka diobok-obok, maboklah para PhD students ini.

[1] terkait penerbitan jurnal, ada supervisor yang mendorong agar sang student menerbitkan jurnal, ada yang melarang dan meminta dijadikan buku saja. Pembimbing saya tipe kedua.

Alasan kedua kenapa viva nampak menakutkan adalah karena tidak ada aturan yang jelas. Secara umum, seorang PhD student harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang orisinal, menguji ide atau hipotesa dan memberikan sumbangsih pada pengetahuan. Viva bertujuan untuk menguji kemampuan tersebut secara lisan. Tapi, bagaimana pertanyaan yang akan muncul, bagaimana examiners menilai kemampuan sang kandidat dan bagaimana keputusan akhir diambil itu penuh misteri dan sangat tergantung pada banyak hal: bidang studi, tema yang diambil dan tentu saja, karakter pengujinya.

Karena itu, sebagian besar PhD students yang saya kenal akan menghadapi viva dengan H2C kuadrat. Harap-harap cemas standar tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Di satu sisi lega karena perjalanan panjang ini akan segera berakhir. Di sisi lain, cemas karena misteri viva yang penuh desas-desus ini. Di sisi lain lagi, ada harapan untuk meraih gelar doktor dan membuka babak baru kehidupan.

Di saat ini, peran supervisor menjadi sangat vital. Supervisor yang berpengalaman akan mampu membimbing student-nya menghadapi viva. Biasanya, supervisor sudah dapat menilai kelayakan thesis sejak awal dan bimbingannya akan membantu menutupi kekurangan-kekurangan thesis tersebut. Menjelang viva, supervisor juga akan membantu dengan melakukan latihan, yang biasanya disebut mock viva. Di mock viva ini, supervisor akan berperan sebagai penguji, menanyakan hal-hal yang mungkin ditanyakan dan memberikan masukan terkait cara student menjawab.

Saya beruntung memiliki supervisors yang penuh perhatian. Setelah Professor Piscatori, pembimbing utama saya, pensiun dari Durham University dan pindah ke ANU, beliau masih terus membimbing saya dengan telaten. Sepekan sebelum viva, beliau menelpon dari Australia dan kami menghabiskan waktu satu jam untuk melakukan mock viva. Pembimbing kedua, yang sekarang menjadi pembimbing pertama, Professor Clive Jones juga mengajak saya bertemu dan menyampaikan masukan terkait thesis. Di akhir mock viva, kedua supervisor menyatakan puas dengan performa saya. Meski demikian, mereka berpesan: viva is unpredictable. Be prepared but have faith in yourself.

Hari H, detik D. Viva pun dimulai dan ucapan supervisors pun terbukti. Dari sekian banyak pertanyaan yang sudah kami latih, hanya satu yang ditanyakan penguji. Selainnya menguap entah ke mana, digantikan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya aneh, absurd, tidak ada kaitannya dengan thesis. Supervisor sempat berpesan, mungkin penguji akan membuka satu halaman dan menanyakan apa yang saya tulis di halaman itu. Nope, zilch, nada. Kedua penguji sama sekali tidak membuka thesis saya. Kedua penguji bersikap hangat dan ramah namun setiap pertanyaan mereka merupakan tantangan yang membuat saya harus memeras otak.

Waktu itu relatif. Tak terasa, viva berakhir dan saya pun keluar dari ruangan, menuju lobby tempat istri saya menunggu. Ketika duduk dan menengok ke jam dinding, masya Allah, ternyata viva memakan waktu dua jam! Padahal kata supervisor saya, kalau lancar, viva berjalan satu jam. Kembali H2C kuadrat muncul. Saya pun menyalurkan kegelisahan dengan menggerutu ke istri saya tentang proses viva yang menurut saya kacau, tidak terstruktur dan (ini alasan yang paling besar sih) di luar dugaan saya dan supervisors. Saya pun sudah menyiapkan diri dengan hasil yang tidak maksimal [2]; pass with major correction seakan sudah melambaikan tangan.

[2] Di Durham University, ada beberapa kemungkinan hasil viva: (1) pass with no revision; (2) pass with minor revision; (3) pass with major correction; (4) referral – thesis perlu diperbaiki besar-besaran dan di-submit ulang; (5) turun mendapat M. Phil; (6) tidak lulus.

Sepuluh menit berlalu. Dr. Jutta Bakonyi, staf pengajar di SGIA yang menjadi Chair muncul dan meminta saya kembali ke ruangan. Saya mencoba menerka apa keputusan para penguji dari raut muka Jutta tapi nihil. Wajahnya nampak datar. Dengan H2C pangkat sepuluh, saya pun membuka pintu. Di dalam ruangan, kedua penguji berdiri. Professor Paul Luft, honorary professor in Persian Studies dari Durham University, dan Dr. Mohammad Talib dari Oxford University.

Saya mendekat.

Keduanya mengulurkan tangan dan mengatakan: “Congratulations!”

Gamang, saya sambut uluran tangan mereka. Lambaian “major correction” yang di pelupuk mata membuat jabat tangan saya tidak sepenuh hati. Saya pun menoleh ke Jutta, kali ini melihatnya tertawa. “I am pleased to announce that you have passed the viva with no correction,” ujarnya.

Seketika saya berpaling ke para penguji. “Really? Are you serious?”

Ketika Professor Luft dan Dr. Talib mengangguk, baru hati ini rasanya lega. Saya pun terduduk di kursi, mengucapkan terima kasih pada para penguji dan Chair. Alhamdulillah, viva yang misterius itu kini tinggal kenangan.

Belakangan, saya menerima laporan pelaksanaan viva dari Research Office. Di dalamnya, kedua penguji menuliskan bahwa mereka puas dengan thesis saya. Jika hanya melihat thesis, saya sudah dinyatakan lulus. Performa ketika viva menguatkan penilaian itu sehingga beliau berdua memberikan keputusan pass with no correction. Ketika Professor Piscatori menelpon, menanyakan kabar selepas viva dan saya curhat tentang absurdnya proses viva itu di mata saya, beliau tertawa dan berucap, “That's what I mean by viva is unpredictable!”

Meski viva memang tak terduga, dari pengalaman kemarin ada beberapa tips yang saya dapatkan dan insya Allah akan saya tulis di artikel-artikel mendatang. Yang pertama: diawali dari “kenapa”.

kiri ke kanan: Dr. Jutta Bakonyi, saya, Dr. Mohammad Talib, Professor Paul Luft.

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2017 in Akademik

 

Tags: , ,